Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Refah Islami, 11 Februari 2045.
“Woy Lim, lo jadi ikut latihan nanti sore?” tanya seorang anak laki-laki berbadan tegap dan tinggi.
“nggak tau Fi, kuusahakan ikut.” Jawab Alim. Alim adalah salah satu anak basket Refah dari kelas 8.
“sebaiknya kamu ikut, soalnya besok kita mau sparring sama SMA Negeri.”
“siap Kahfi, akan kuusahakan kalau gitu.” Jawab Alim.
“Lim, ayo ke kantin.” Ajak Kahfi.
“ayo.”
Mereka berdua berjalan ke kantin, tak kurang dari semenit mereka sudah sampai di depan kantin.
“wah, nggak kayak biasanya kantin seramai ini, Fi.”
“ya.. mau gimana lagi Lim.”
“eh, itu ada Cahya sama Famad. Ayo ke sana Fi.”
“ayo Lim.”
“woi Cahya.” Sapa Kahfi dan yang disapa menoleh mencari sumber suara.
“udah lama duduk disini?” tanya Alim.
“mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu.” Jawab Cahya.
“daripada kalian berdiri mulu, mending duduk.” Ujar Famad sambil menarik kursi dari kolong meja. Tanpa berpikir lama Kahfi langsung duduk di samping Famad.
“lo nggak mau duduk juga Lim?”
kali ini Cahya yang menawarkan sambil menepuk pelan sandaran kursi yang ada di sebelahnya. Tanpa disuruh dua kali, Alim langsung menyambar kursi tersebut dan akhirnya mereka berempat tenggelam dalam percakapan.
“woi Fi, lo tau soal info terbaru hari ini?” tanya Famad.
“info apaan Mad?”
“katanya pelatih basket kita ganti.” Sahut Cahya.
“lah! Kan besok kita ada sparring. Dan dua hari lagi, kita ada sparring lagi sama SMK.” Ujar Alim tak percaya.
“bukan hanya itu, besok tanggal 20 kita akan meladeni SMA Swasta di final basket kejuaraan provinsi ( Kejurprov.) ” ucap Famad.
“jadi gimana menurutmu Fi, sebagai kapten basket, apakah kita bisa menang lawan SMA Swasta dengan pelatih baru?” tanya Alim.
“yang sama-sama kita ketahui, kita sudah pernah melawan SMA Swasta dua kali, dan semuanya kalah, mulai dari laga pertama dengan skor 31–64, sampai laga terakhir dengan skor 49–83. Tapi kita tidak akan tahu kejutan apa yang akan diberikan oleh pelatih baru kita nanti.” Ujar Kahfi.
“katanya pelatihnya mulai ngelatih nanti sore.” Kata Cahya.
“untuk seluruh santri segera menuju masjid, guna melaksanakan sholat Asar berjamaah. Sekali lagi, kepada seluruh santri, seluruhnya tanpa terkecuali segera berangkat ke masjid, guna melaksanakan sholat Asar berjamaah.” Pengumuman dari kantor sekolah mulai terdengar.
“cepet banget, perasaan baru jam 02:20.” Ucapa Alim sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan kanannya.
“ayo ganti baju dan menuju ke masjid, daripada kita telat,” ujar Kahfi sembari mulai beranjak dari tempat duduknya.
“ayo.” Sahut Famad yang juga mulai beranjak dari tempat kursinya.
Allahuakbar.. Allahuakbar.. adzan Asar mulai berkumandang, Alim dan yang lain sudah sampai di masjid sejak 15 menit yang lalu. Seusai sholat Famad menghampiri Alim.
“Lim, lo jadi ikut latihan?”
“jadi kayaknya Mad.’
“kalau begitu sebaiknya kita langsung ganti.” Ujar Famad.
“buru-buru amat, ada masalah?”
“nggak ada masalah Lim, cuman pelatihnya sudah datang.”
“mana?”
Alim mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru masjid. Lihat kanan, lihat kiri, depan, belakang tapi tak menemukan wajah yang baru di masjid itu. Kecuali petugas kebersihan yang baru mulai bekerja 2 hari yang lalu.
“ituloh… diluar yang pakai jersey basket GSW.” Ujar Famad sambil menunjuk keluar jendela.
“wuuih, rajin bener pelatih baru kita.”
“yaudah ayo ganti baju, kasihan udah nunggu lama.” Lanjut Alim.
Setelah berganti pakaian, seluruh anggota tim basket berkumpul di lapangan untuk mendapatkan pengarahan pertama dari pelatih baru.
“Assalamualaikum, nama saya Aidin Puspa Negara, kalian bisa panggil kak Aidin atau Coach aidin. Hari ini saya ingin melihat kemampuan kalian dulu, coba setiap dari kalian lakukan three point 10 kali, lay up 10 kali dan dribble.”
Semua anggota basket dapat melakukan dengan baik tanpa terkecuali, mulai dari Kahfi sampai Rafi yang ahli three point.
“ternyata kalian semua sudah mahir tidak ada yang buruk, kalian semua bagus. Kalian sudah tau posisi kalian dimana?”
“sudah Coach!”
“siapa disini kaptenya?”
“saya Coach!” ujar Kahfi sambil mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin.
“siapa namamu?”
“Kahfi Coach.”
“saya dengar kalian besok ada sparring sama SMA Negeri?”
“Iya Coach.” Jawab seluruhnya kompak.
Setelah beberapa memilih akhirnya.
“tim inti sudah diputuskan. Point guard : Alim. Shooting guard : Cahya. Small forward : Kahfi. Power forward : Harmono, karena kamu punya defend yang paling baik. Center : Rafi.” Ujar Coach Aidin sambil menutup buku catatannya.
“Ok, sampai jumpa besok di SMA Negeri. Jaga kesehatan kalian, saya tutup wassalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“wuuih, gue nggak nyangka Lim, lo bakal keterima di tim inti.” Ujar Harmono.
“iya, biasanya kamu kan cadangan sama kita.” Althaf menimpali.
“ah sudahlah, mending kalian istirahat saja buat besok.” Ujar Alim berusaha mengalihkan topik.
“iya sih, mending kita istirahat.” Ujar Kamil.
Keesokan harinya pukul 01:30 pm. Di saat matahari sedang panas-panasnya, tim basket Refah tetap latihan tak kenal lelah, mereka berlatih 30 menit sebelum bertanding melawan SMA Negeri. Coach Aidin memberi taktik-taktik yang bagus dan rapi dan memotivasi para pemain.
“PRIIIT!”
Quarter pertama dimulai, cukup cepat basket Refah mencetak skor lewat lay up dari Kahfi dan three point dari Cahya. Namun, SMA Negeri cepat sekali membalikkan keadaan dan mampu menciptakan banyak peluang yang menambah keunggulan skor mereka, yang menjadikan mereka menang dengan skor 64-49.
Setelah pertandingan, di pinggir lapangan Coach Aidin memberikan apresiasi dan sedikit motivasi. Semuanya mendengarkan Coach Aidin dengan seksama, kecuali Alim, dia malah bengong sendiri.
“woy Lim kenapa?” Tiyaz datang memecah lamunan Alim.
“nggak ada apa-apa Yaz, cuma nyesel aja tadi banyak ngelakuin fouls.” Ujar Alim dengan pandangan yang tertunduk lesu.
“nggak usah sedih Lim, semua orang pasti melakukan kesalahan, tak ada yang sempurna disini. Yang sempurna hanya Tuhan seluruh semesta.” Nasihat Tiyaz membuat hati Alim bergejolak dan kini dia punya tekad untuk berlatih lebih keras.
“jangan lupa dua hari lagi kita akan melawan SMK, jadi jaga kesehatan kalian.”
“siap Coach.”
Kabar buruk terus berdatangan menjelang laga melawan SMK, mulai dari Cahya yang terkena cedera pergelangan kaki hingga Rafi yang sakit demam. Alhasil, ketika hari pertandingan mereka dilanda kebingungan sampai membuat Coach Aidin memutuskan untuk memasukkan Ajib dan Sarif.
Pertandingan berlangsung dengan sangat sengit dan musuh lebih unggul dulu. Tapi Sarif tidak menyerah, dia berhasil mengantongi 3 three point yang membuat semangat pemain Refah kembali terbakar. Tapi, apalah daya tanpa bantuan sang maha kuasa, Refah kembali menelan kekalahan, tipis.. 83–81.
“Ah! Kalah lagi, kalah lagi. Masa puasa kemenangan kayak Nottingham.” Ujar Famad Ketika perjalanan pulang.
“mending Nottingham daripada Liverpool.” Ujar Althaf tak terima.
“kalian ini habis kalah kok malah debat sepak bola. Mending kalian pikirin cara biar bisa menang lawan sekolah Swasta.” Ujar Abdur.
“iya betul tuh, lagian finalnya bertepatan di bulan Ramadhan.” Ucap Alim yang ikut nimbrung.
“bener tuh kata Alim, finalnya pas puasa ini agak sulit.” Sahut Kahfi.
17 Februari 2045. Shalat terawih pertama dilaksanakan dan seorang ustadz memberikan sebuah khutbah.
“Ramadhan itu termasuk waktu dimana doa-doa itu mustajab.”
Hmm… doa-doa mustajab? Batin Alim dalam hati. Tiba-tiba Alim punya ide, gimana kalau gue doa aja biar menang waktu lomba. Maka selesai sholat Tahajud dia tak henti-henti memanjatkan doa sembari menyebut dzat yang Maha Kuasa.
“ya Allah. Semoga engkau berikan kesehatan dan kesembuhan untuk Cahya dan Rafi, dan berikan kami kemenangan atas SMA Swasta.” Begitu doa Alim sampai 2 hari kedepan.
“Hadirin sekalian. Mari kita saksikan pertandingan final antara Refah Islami dan SMA Swasta.” Sapa host di partai final itu.
Sekolah Swasta, kami akan menang! Teriak Alim dalam hati. Semangatnya lagi bergelora,karena satu doanya sudah dikabulkan. Kesembuhan Cahya dan Rafi.
“PRIIIT!”
Gemuruh suara sorak-sorakan dari penonton membuat venue pertandingan ini beda dari yang lain. Kendali bola dipegang SMA Swasta sampai berbuah lay up cantik di ring Refah, tapi Rafi langsung membalas dengan three point yang berkelas.
Pertandingan berjalan sangat ketat, hingga pada quarter terakhir kunci kemenangan masih dipegang oleh SMA Swasta. Namun Rafi tidak ingin Refah kalah, ia melakukan shoot jauh yang menghasilkan three point penyama kedudukan yang hingga bertahan sampai akhir babak. 115-115.
Skor yang sama itu memicu babak tambahan. Pertandingan semakin alot dan keras, jual beli serangan terjadi dan point yang terus kejar-kejaran. Hingga babak tersisa waktu satu menit.
“Fokus! Fokus!.” Teriak Coach Aidin memberikan interuksi dari pinggir lapangan.
Namun kejadian nahas terjadi. Ketika waktu kurang 10 detik. Pemain basket SMA Swasta berhasil keluar dari penjagaan pemain basket Refah dan melakukan lay up sebagai penambah skor, angka di papan skor berganti 145–143, Refah kalah. Coach Aidin terduduk lesu di kursi, semua pemain basket Refah menatap kosong kearah pemain SMA Swasta yang sedang merayakan kemenangan mereka yang sudah di depan mata. Tapi tidak dengan Alim, dia berhitung tinggal lima detik tersisa, dia meminta bola pada Rafi dan tanpa pikir panjang melempar bola dari depan ring wilayahnya sendiri.
5 detik.
4 detik.
3 detik.
JLEB! Bola masuk pas ke dalam keranjang SMA Swasta. Three point untuk Refah. Seluruh penonton berseru tidak percaya, begitu juga para pemain yang ada di lapangan. Refah menang dramatis pada lima detik terakhir dengan skor 145–146.
Setelah 20 tahun basket Refah didirikan, ini pertama kalinya Refah menjuarai event lomba basket. Berkat opsi heroik Alim dan tentu saja atas pertolongan dari yang di atas.