Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
DI RANTAU, AKU MASIH AYAHMU
0
Suka
272
Dibaca

“DI RANTAU, AKU MASIH AYAHMU”

Karya: Prasetya

Puisi Pembuka :

“Di Antara Dua Nama yang Tak Pernah Padam”

Di kejauhan, angin memetik namamu,

menggugurkan rindu yang kupelihara dalam dada.

Dua nama tumbuh bagai pohon di musim kering—

tetap hijau meski hujan tak kunjung tiba.

Wahai anak-anakku,

kalian adalah dua cahaya yang kusebut dalam sujud,

dua sungai yang mengalirkan hidupku

walau aku kini hanya mata air

yang terpisah lembah dan bukit.

Jika kerinduan punya sayap,

maka ia telah terbang melintasi kota, batas, waktu, dan usia.

Namun jika kerinduan adalah luka—

biarkanlah aku memeluknya selamanya.

 

 

Angin yang Membawa Nama

Setiap pagi di kota rantau, sebelum matahari menampakkan wajahnya, Raka Iswara selalu terjaga lebih cepat dari jam weker yang ia setel. Bunyi motor, suara kaca kedai kopi dibuka, dan langkah kaki para perantau lain tidak pernah membuatnya benar-benar terbangun. Justru yang membangunkannya adalah nama.

Ardan.

Bagas.

Dua nama itu seperti rantai halus yang menahan jiwanya di antara dua dunia: dunia yang ia jalani dan dunia yang tidak lagi bisa ia sentuh.

Raka hidup di kamar kos berukuran empat kali tiga meter. Dindingnya lembab, jendelanya hanya sedikit bisa dibuka. Namun setiap pagi ruang kecil itu dipenuhi cahaya yang lembut, cahaya yang hanya bisa dimaknai oleh seseorang yang merindukan masa lalu.

Di atas rak kecil samping kasur, terdapat sebuah folder foto di ponselnya. Bukan folder canggih; hanya kumpulan gambar lama yang ia pindahkan dari ponsel ke ponsel, bertahun-tahun tanpa henti, seolah ia takut dunia digital bisa menghapus satu-satunya bukti bahwa ia pernah menjadi ayah di rumah yang kini hanya tinggal siluet.

Dulu…

Ardan memanggilnya “Ayah paling hebat sedunia.”

Dulu…

Bagas memanggilnya “Yah, lihat gambaranku!”

Sekarang?

Mereka mungkin memanggil laki-laki lain dengan sebutan “Pak” tanpa sadar bahwa di suatu tempat, ada seorang ayah yang masih menyebut nama mereka dalam doa.

 

Rumah yang Retak Tanpa Suara

Kerinduan tidak tumbuh dari kehampaan. Ia tumbuh dari sesuatu yang pernah utuh namun hancur begitu sunyi.

Dulu rumah mereka tidak megah, hanya rumah kecil dengan teras sempit dan ruang keluarga yang hangat. Namun rumah itu penuh suara: suara tawa anak-anak, suara Sari menyiapkan teh, dan suara Raka yang mengajari anak-anaknya mengeja huruf atau memasukkan layang-layang ke udara.

Hingga suatu hari, retakan kecil muncul.

Sari menjadi jauh. Pandangannya sering kosong. Ia sering memegang ponsel sambil mengusap air mata. Raka mencoba bertanya, tetapi setiap pertanyaan justru membuat Sari semakin menjauh.

“Tidak apa-apa,” jawab Sari. Namun nada suaranya seperti daun kering yang patah.

Raka mencintai Sari begitu besar. Terlalu besar hingga ia tidak mencurigai apa pun. Ia tidak menyelidik. Ia tidak menuntut. Ia hanya berharap badai itu akan berlalu dengan sendirinya.

Tetapi badai justru menelan mereka.

Sari menemukan pesan biasa di ponsel Raka, pesan dari rekan kerja perempuan, menanyakan soal laporan. Namun karena hatinya sudah terisi kecurigaan yang ia timbun sendiri, pesan itu menjadi bara. Itu bukan alasan tunggal. Retakan mereka lebih tua daripada pesan itu. Namun pesan itu menjadi percikan terakhir.

Dalam amarah yang dipendam lama, Sari berkata, “Aku ingin bercerai. Aku tidak percaya lagi.”

Kalimat itu menghantam Raka lebih keras dari apa pun yang pernah ia alami. Ia ingin menjelaskan, ingin memohon, ingin menghapus salah paham itu, namun ia tidak ingin memperkeruh suasana. Ia pikir diam akan menenangkan.

Ia salah besar. Diam justru menjadi bukti dalam benak Sari bahwa ia bersalah.

Beberapa hari kemudian, Sari menyewa pengacara, seorang kenalan lama dari masa kuliahnya. Raka tidak marah, tidak curiga. Ia terlalu mencintai Sari hingga ia menerima apa pun yang diputuskan istrinya.

Perceraian mereka selesai dalam hitungan minggu. Sangat cepat. Terlalu cepat untuk cinta yang bertahun-tahun mereka bangun.

Dan luka itu tidak berhenti sampai di situ.

 

Sari yang Menikah Lagi dan Luka yang Berulang

Tidak lama setelah putusan itu, Raka mendengar kabar bahwa Sari menikah lagi. Dengan teman sekolahnya. Dengan lelaki yang dulu ia kira tidak lebih dari bayangan masa remaja Sari.Raka menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba tersenyum, meski hatinya terasa seperti diiris perlahan.

Tetapi kehidupan tidak berhenti pada ironi. Ia melanjutkan menuangkan pahitnya. Pernikahan baru Sari hanya bertahan setahun.

Di balik dinding rumah mertua yang dingin, sang suami baru menampar Sari karena alasan sepele: masakan kurang asin, rumah tidak tersapu, atau sekadar karena emosi yang naik. KDRT itu pecah berulang sampai akhirnya Sari kabur, wajahnya memar, hatinya hancur.

Saat kabar itu sampai ke telinga Raka melalui saudara jauh, ia tidak bahagia, tidak merasa menang.Yang ia rasakan justru getir. Ia pernah mencintai Sari. Ia pernah merindukan Sari. Dan meski Sari menghancurkan hatinya dengan perceraian yang sunyi dan cepat, Raka tidak pernah bisa benar-benar membenci. Manusia mencintai, bukan memusuhi.

Dan luka orang yang pernah dicintai, entah bagaimana, tetap terasa sebagai luka sendiri.

 

Ardan dan Bagas: Dua Lelaki yang Tak Lagi Kecil

Kerinduan Raka pada anak-anaknya adalah kerinduan yang tidak mampu diukur oleh kalender atau jam. Ardan, si sulung, kini berusia 25 tahun. Sejak kecil ia selalu serius, suka membaca, suka bertanya tentang hal-hal besar yang bahkan Raka tidak mengerti. “Ayah, dunia ini sebenarnya seperti apa?”

Kini mungkin ia bekerja di kantor yang rapi, memandang layar komputer, tidak tahu ayahnya masih memikirkan pertanyaan itu.

Bagas, si bungsu, berusia 24 tahun. Dulu ia anak yang ceria, suka menggambar mobil, robot, bahkan pernah menggambar ayahnya sebagai “pahlawan yang punya palu perbaikan super”. Kini mungkin ia membuat desain grafis, atau mungkin sudah lupa bagaimana dulu ia menganggap ayahnya pahlawan.

Setelah perceraian, dunia mereka dan dunia Raka terbelah dua. Dua rumah, dua jalan hidup, dua arah yang tidak pernah berpotongan.

Raka sering berdiri di depan toko mainan, melihat robot-robot kecil sambil tersenyum getir. Ia membayangkan Bagas kecil sedang melompat kegirangan. Namun ia tahu, masa itu sudah tiba di kejauhan yang tidak bisa dijangkau.

Ia sering melihat buku sejarah di pasar buku bekas dan bertanya dalam hati, “Apakah Ardan masih suka membaca?”

Namun ia tahu, ia tidak berhak bertanya.

Bahkan ketika Raka ingin mengirimkan hadiah kecil, jam tangan bekas yang ia perbaiki, buku catatan kulit, atau sekadar roti manis, ia selalu mengurungkan niat.

Ia takut anak-anaknya melihat itu sebagai gangguan.

Ia takut dianggap mencampuri hidup mereka.

Ia takut mereka tidak mengenalinya lagi.

Namun yang paling dalam adalah:

Ia takut menatap mata anak-anaknya dan melihat kekecewaan yang tidak bisa ia tanggung.

 

Surat-Surat Tanpa Alamat

Ada sebuah kotak sepatu di bawah ranjang kosnya. Kotak itu berisi surat yang tidak pernah terkirim. Di halaman pertama sebuah surat, tertulis:

           “Ayah tidak meninggalkan kalian. Ayah hanya tidak tahu bagaimana mempertahankan seseorang yang sudah ingin pergi jauh sebelum Ayah menyadarinya.”

Surat lain berbunyi:

“Ardan, kamu bilang ingin jadi ilmuwan.Ayah masih menyimpan gambar roketmu.

Maaf Ayah tak ada di sana untuk melihat mimpimu tumbuh.”

Dan untuk Bagas:

“Nak, gambar robotmu masih Ayah simpan.

Kalau kamu melihatnya sekarang, kamu akan tertawa.

Ayah tidak tahu apakah kamu masih menggambar.”

Surat-surat itu seperti sungai yang tidak pernah sampai ke laut.Tertahan, mengendap, dan menjadi rawa-rawa doa.

 

Rindu yang Menjadi Doa

Di setiap malam, Raka duduk bersila di lantai kos yang dingin. Di sampingnya, termos kecil dan gelas mug. Di atasnya, langit-langit kusam yang tidak pernah diperbaiki. Ia menutup mata dan menyebut dua nama itu perlahan, seolah takut suaranya memecahkan malam.

Ardan.

Bagas.

Nama-nama yang menjadi doa, menjadi alasan hidup, menjadi satu-satunya harta yang tidak pernah ia lepaskan. Ketika hatinya paling hancur, ia berdoa seperti ini:

“Ya Allah… jika mereka tidak mengingatku, tidak apa. Asal Kau ingatkan aku pada mereka setiap hari. Jangan ambil kerinduan ini. Kerinduan inilah yang membuatku bertahan hidup.”

 

Pertemuan yang Tak Direncanakan

Pertemuan itu terjadi pada hari paling biasa. Tidak ada tanda-tanda dari langit.

Tidak ada hujan renyai seperti dalam drama.Tidak ada mimpi peringatan.

Raka hanya sedang menunggu kereta di stasiun kota, ingin pulang setelah memperbaiki motor pelanggan. Matanya lelah, tangannya bau oli, tubuhnya letih. Saat ia berdiri di peron, matanya tertarik pada dua lelaki muda yang berjalan berdampingan. Yang satu berwajah tegas, mirip dirinya.Yang satu matanya bulat dan hangat, seperti Bagas kecil.

Hatinya bergetar tanpa alasan. Ia mencoba mengalihkan pandangan, namun rasa itu terlalu kuat.Saat mereka mendekat, Raka hampir tidak bernapas.

Ardan.

Bagas.

Darahnya berhenti mengalir sesaat. Namun ia tidak bergerak.Ia tidak berani.Ia takut salah.

Ia takut berharap.

Hingga Ardan menoleh. Matanya tertumbuk pada Raka. Dan dunia berhenti. Bagas menatap ke arah yang sama. Dua detik yang terasa seperti dua dekade.Lalu Ardan berkata lirih, hampir seperti gumaman:

“…Ayah?”

Suara itu menghancurkan bendungan di dada Raka. Ia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil.Lalu air mata itu jatuh begitu saja, tanpa bisa ia tahan.

Bagas melangkah lebih dulu. Ia memeluk Raka dengan seluruh tubuhnya, seperti anak kecil yang menemukan rumahnya kembali. Ardan menyusul, memeluk ayahnya di sisi lain. Stasiun menjadi sunyi.Orang-orang berhenti berjalan.Dunia tetap bergerak, tetapi tiga orang itu seolah berada dalam dunia yang lain. Raka menangis seperti lelaki yang memikul gunung di punggungnya terlalu lama.Anak-anaknya menangis seperti anak-anak kecil yang merindukan ayah yang hilang.

Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan pelukan itu. Pelukan yang menghapus dua puluh tahun jarak.Pelukan yang menumbuhkan kembali sesuatu yang hampir mati.

 

Setelah Semua Tangis Reda

Mereka duduk di bangku stasiun. Ardan menatap ayahnya, suaranya serak:

“Ayah… kenapa pergi?”

Pertanyaan itu tidak bernada marah.Tidak bernada menuduh.Hanya suara seorang anak yang ingin tahu kebenaran. Raka menatap tanah. Ia menarik napas panjang, lalu berkata:

“Ayah tidak pergi, Nak.Ayah diusir oleh keadaan yang Ayah tidak mengerti. Ayah mencintai seseorang… dan Ayah tidak tahu bahwa dia sudah ingin pergi jauh sebelum Ayah menyadarinya. Ayah tidak tahu cara bertahan. Dan Ayah takut kalian terluka.”

Bagas menggenggam tangan ayahnya. “Ayah… kami yang terluka karena kehilangan Ayah.”

Air mata Raka pecah lagi. Ardan mengusap bahu ayahnya. “Kita mulai dari sini, Yah. Kita mulai dari hadir.” Kata-kata itu menjadi jembatan yang selama ini hilang.

 

Rindu yang Menemukan Rumahnya

Malam itu, ketika Raka kembali ke kos, ia menatap kembali folder foto lamanya. Namun kini, ada foto baru: Foto bersama dua anak lelakinya di stasiun. Foto itu buram, karena tangan mereka masih gemetar habis menangis, tetapi bagi Raka foto itu adalah kelahiran kembali.

Rindu yang lama memenjarakan dirinya kini menemukan rumahnya. Raka tidak tahu apa yang akan terjadi besok.Ia tidak tahu apakah ia bisa menjadi ayah penuh yang hadir setiap hari.Ia tidak tahu apakah luka-luka lama akan sembuh cepat atau perlahan.

Namun satu hal ia tahu:Ia tidak pernah berhenti menjadi ayah. Dan dua nama yang ia sebut dalam doa, kini kembali memanggilnya dengan cinta.

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
DI RANTAU, AKU MASIH AYAHMU
Prasetya
Komik
Bronze
One smash
ari saptori
Skrip Film
SENSITIF
Pitri Yanti
Flash
Bronze
BELAJAR IKHLAS
Rahmayanti
Flash
Kemenangan Dika
nirjana
Novel
Aku, Kamu, Kita Semua Harus Kuat!
C R KHAN
Novel
Bait Berondong
Sirius Pen
Skrip Film
DOKTER BURHAN
GRIANTO SABALI
Flash
Bronze
Kecupan Rere
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
si ayam jago dan permata
Ahmad Muhaimin
Novel
Black Pearl
Valencia Flavia
Novel
Bronze
Janji Sepasang Cincin ~Novel~
Herman Sim
Novel
Seberkas Kisah SMK
zahra riyadi
Novel
Bronze
Bioskop Bahagia
Herman Sim
Skrip Film
SENJA DI JENDELA MELUKIS HARAPAN
Muhammad Fadhel
Rekomendasi
Cerpen
DI RANTAU, AKU MASIH AYAHMU
Prasetya
Novel
BUKAN MAIN SAHAM
Prasetya
Novel
Santri di Jalan Khidmah
Prasetya
Cerpen
Bronze
Lintang Kembar di Langit Brantas
Prasetya
Novel
SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH
Prasetya
Cerpen
Bronze
Cangkul yang Tidak Pernah Merdeka
Prasetya
Novel
ANAK XT
Prasetya
Cerpen
Yang Tidak Ikut Mengalir
Prasetya
Novel
Cahaya Senja
Prasetya
Cerpen
Bronze
NAMAKU SETYOWATI
Prasetya
Novel
SANTRI DI BORNEO
Prasetya
Novel
Bintang Panjer Wengi
Prasetya
Cerpen
Bronze
JEJAK SUNYI DI TENGAH BISIK DUNIA
Prasetya
Novel
SANTRI PINGGIRAN
Prasetya
Novel
MARHAEN DI LANTAI BURSA
Prasetya