Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku tidak tahu apa itu eksistensi. Tapi yang pasti, aku tidak memilikinya. Hal semengagumkan itu hanya dimiliki oleh mereka yang keberadaannya diakui oleh lingkungan.
Eksistensi yang kubahas adalah ketika seseorang berjalan di antara kerumunan manusia dan kerumunan itu menyadari keberadaannya, tersenyum, menatap, menyapa, melambaikan tangan, tertawa, bahkan meski tidak mengenalnya sama sekali.
Aku tidak memiliki itu. Tidak pernah sekalipun ada situasi di mana aku memiliki eksistensi di mata kerumunan itu. Aku mungkin serupa dengan udara di mata mereka, tak terlihat. Atau seperti seonggok benda mati, tak penting.
Suatu hari di sekolah, aku duduk di sudut kelas dengan buku cerita tebal yang kugenggam erat. Belum kuhabiskan, tapi aku selalu membacanya kapan pun aku berada di antara kerumunan yang tidak melihat keberadaanku.
Obrolan-obrolan ringan mereka terdengar oleh telingaku, pembicaraan tentang salon mana yang terkenal yang dibicarakan oleh gadis-gadis pemegang tahta kecantikan di kelas.
Atau sekelompok siswi nakal yang bicara tentang teman sekelompoknya yang ternyata mereka benci diam-diam.
Atau pembicaraan sekelompok siswa pemberontak yang diam-diam merokok di tangga darurat karena tidak mau ketah...