Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Di Dalam Tas Coklat, Ada Ibu
1
Suka
4
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Ada penyesalan yang datang terlalu lambat, dan aku hidup di dalamnya.

Rasa sakit terbesar dalam hidupku adalah kehilangan ibu, tepat ketika aku baru kembali ke sisinya setelah tiga tahun pergi jauh dan tanpa kabar. Aku pergi tanpa jejak, tanpa pesan, meninggalkan ibu dan kedua anakku begitu saja. Ketika akhirnya aku pulang, yang kutemukan justru kehilangan.

Sesak di dadaku terasa seperti hukuman atas kesalahan yang pernah kulakukan. Bahkan, ada saat-saat ketika aku merasa dosaku begitu besar hingga tak pantas mendapatkan pengampunan.

Tahun 2020, aku memilih pergi. Meninggalkan ibu dan kedua anakku demi seorang laki-laki yang kuanggap mampu mengisi ruang kosong di hatiku. Aku menutup mata terhadap cinta yang tulus, doa yang tak pernah putus, dan suara-suara kecil yang memanggilku, “Amma.”

Malam sebelum kepergianku, ibu sempat berdiri di depan pintu kamar.

“Kamu yakin dengan pilihanmu, Nak?”

Aku terdiam sesaat. Namun, egoku lebih besar daripada keraguan yang sebenarnya mulai tumbuh di dalam hati.

“Iya, Bu.”

Ibu tidak marah. Ia hanya mengangguk pelan.

“Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik.”

Aku melihat ibu berusaha menahan air matanya. Kalimat itu sederhana, tetapi kini justru menjadi salah satu kenangan yang paling menghantuiku.

Keesokan harinya, aku pergi tanpa menoleh. Egoku membutakan mata, hingga aku tak lagi memikirkan perasaan ibu maupun anak-anakku.

Aku masih ingat wajah kedua anakku saat kutinggalkan. Si bungsu menangis sambil memeluk kakaknya.

“Amma mau ke mana?”

Aku tidak menjawab. Aku melangkah pergi, memilih laki-laki yang saat itu kuanggap lebih penting daripada mereka.

Dan aku tidak kembali.

Tiga tahun telah berlalu.

Hingga suatu hari, kerinduan datang seperti gelombang besar yang menghantam tanpa aba-aba. Aku merindukan ibu, anak-anakku, dan rumah yang dahulu kutinggalkan begitu mudah.

Dengan tangan gemetar, aku memberanikan diri menghubungi ibu.

“Halo, siapa ini?” Suaranya masih sama. Lembut dan hangat. Justru itulah yang membuat dadaku terasa sesak.

“Ibu …” jawabku lirih.

“Anisa? Apa benar kamu?”

Air mataku jatuh.

“Iya, Bu.”

“Kamu di mana, Nak? Pulanglah. Ibu rindu.”

Tangisku pecah. Aku tak sanggup lagi menahan sesal yang selama ini kupendam.

“Ibu, maafkan aku. Aku ingin pulang.”

“Pulanglah. Ibu akan selalu menerimamu. Ibu menunggumu.”

Tak ada amarah. Tak ada pertanyaan tentang kepergianku. Hanya kerinduan dan cinta yang masih sama, seolah-olah pintu rumah itu tak pernah benar-benar tertutup untukku.

Lalu terdengar suara kecil yang membuat pertahananku semakin runtuh.

“Amma, pulang, ya. Aku sama Kakak kangen.”

“Amma akan pulang. Tunggu Amma, ya.”

Air mataku terus mengalir.

Mengapa aku harus meninggalkan mereka?

Mengapa aku mengorbankan cinta yang begitu tulus demi seseorang yang ternyata tidak pantas kuperjuangkan?

Lima hari kemudian, aku benar-benar pulang. Perjalanan panjang dari Sampit menuju Magetan terasa melelahkan. Dua hari perjalanan laut, disusul perjalanan kereta yang panjang, kulalui dengan satu tujuan: kembali kepada orang-orang yang kucintai.

Malam itu, pukul 19.30, aku berdiri di depan rumah kontrakan ibu.

Tanganku gemetar saat mengetuk pintu.

Apakah aku masih pantas untuk kembali?

Pintu terbuka. Seorang perempuan tua berjilbab abu-abu berdiri di hadapanku. Tubuhnya tampak lebih kurus daripada yang kuingat.

“I … Ibu.”

Aku memeluknya erat. Seketika, air mataku tumpah. Aku bersimpuh di hadapannya, memohon ampun atas segala kesalahan yang telah kulakukan.

“Maafkan aku, Bu. Maafkan semua kesalahanku.”

“Iya, Nak. Yang penting kamu sudah pulang.”

Hanya itu yang ibu katakan. Tidak ada kemarahan, tidak ada tuntutan agar aku menjelaskan ke mana saja aku pergi. Ia justru memelukku seolah-olah ingin memastikan bahwa anaknya benar-benar telah kembali.

Tangis kami pecah bersamaan.

Anak-anakku memelukku. Adik-adikku menyambutku. Malam itu, aku kembali merasakan hangatnya keluarga yang pernah kutinggalkan demi mengejar kebahagiaan yang salah.

Sejak saat itu, aku berjanji kepada diriku sendiri: aku tidak akan pergi lagi.

Namun, kebahagiaan yang baru saja kutemukan kembali ternyata tak berlangsung lama.

Setelah Lebaran, kesehatan ibu mulai menurun. Tubuhnya sering lemas, ia kerap mual, dan tenaganya semakin berkurang. Aku bersama adik bungsuku segera mengantarnya ke rumah sakit.

Sebelum berangkat, ibu sempat berpesan.

“Tolong ambilkan tas cokelat Ibu, Nak.”

Aku mengambil tas itu. Tas kecil berbahan kain yang selalu dibawanya ke mana-mana, seolah-olah ada bagian dari hidupnya yang tak pernah bisa dipisahkan dari benda sederhana tersebut.

Di rumah sakit, ibu menjalani pemeriksaan demi pemeriksaan. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar hemoglobinnya turun drastis sehingga ia harus menjalani transfusi darah.

Aku berdiri di samping ranjang, menatap tiga kantong darah yang masuk ke tubuhnya. Ada ketakutan yang tak mampu kuungkapkan, tetapi aku berusaha tetap tegar. Aku baru saja kembali. Aku belum ingin kehilangan ibu.

“Ibu enggak apa-apa, Nak,” katanya sambil tersenyum lemah.

Aku mengangguk, meski tahu senyum itu mungkin hanya caranya menenangkan hatiku.

Belum genap satu minggu setelah transfusi pertama, kondisi ibu kembali memburuk. Kami membawanya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

Kali ini, dokter menyampaikan sesuatu yang membuat duniaku seolah berhenti berputar.

“Ibu Anda mengidap limfoma, yaitu kanker kelenjar getah bening.”

Aku terpaku. Kata-kata itu terdengar begitu asing, tetapi ketakutan yang menyertainya terasa nyata.

Di sampingku, ibu justru berusaha tetap tenang.

“Pengobatan apa yang harus saya jalani, Dok?” tanyanya.

Dokter menjelaskan bahwa ibu perlu menjalani kemoterapi. Kondisinya cukup kompleks karena ia juga memiliki riwayat penyakit jantung dan diabetes, serta mengalami penurunan fungsi ginjal. Limfoma merupakan kanker yang menyerang sistem limfatik, sehingga penanganannya berbeda dari kanker yang membentuk benjolan padat.

Dokter menjelaskan berbagai hal mengenai pengobatan dan risiko yang perlu diperhatikan. Aku berusaha mendengarkan, tetapi pikiranku terasa kacau. Dari semua penjelasan itu, hanya satu hal yang terus terngiang di kepalaku: ibu sedang sakit, dan perjuangannya tidak akan mudah.

Kemoterapi pun dimulai.

Pada awalnya, ibu masih mampu bertahan. Namun, perlahan-lahan tubuhnya semakin lemah. Rambutnya rontok, nafsu makannya menghilang, dan tubuhnya kian kurus. Hingga suatu hari, ia tak lagi sanggup berjalan sendiri.

Setiap melihat kondisinya, hatiku terasa semakin teriris. Aku ingin menggantikan rasa sakitnya, tetapi aku tahu aku tak mampu.

Suatu malam di rumah sakit, ibu memanggilku.

“Nak …”

“Iya, Bu?”

“Kalau Ibu sembuh nanti, kita ke pasar lagi, ya.”

Aku tersenyum, berusaha menyembunyikan air mata yang mendesak keluar.

“Iya, Bu. Nanti aku yang bawa tas cokelatnya.”

Ibu tersenyum kecil.

Aku menggenggam tangannya erat, berharap janji sederhana itu benar-benar bisa menjadi kenyataan.

Saat itu, aku belum tahu bahwa perjalanan ke pasar yang kami bicarakan tak akan pernah terlaksana.

Bulan demi bulan berlalu.

Memasuki kemoterapi ketujuh, kondisi ibu semakin lemah. Ia hanya mampu mengonsumsi susu dan jus. Tubuhnya yang dahulu bisa bergerak ke sana kemari kini terbaring rapuh di ranjang rumah sakit.

“Ibu harus kuat, ya,” bisikku.

Ibu hanya mengangguk pelan.

Aku ingin percaya bahwa semuanya akan membaik. Aku ingin membayangkan ibu kembali berjalan, kembali tersenyum, dan kembali mengajakku pergi ke pasar. Aku ingin menebus waktu yang pernah kusia-siakan.

Hingga tiba saatnya kemoterapi kedelapan.

Hari itu, kondisi ibu mendadak memburuk. Napasnya sesak, tubuhnya menggigil, dan para tenaga medis segera memberikan penanganan.

Aku berdiri di samping ranjangnya, menggenggam harapan yang terasa semakin rapuh.

“Ibu, kuat, ya. Aku di sini, Bu.”

Ibu mengangguk lemah. Air mataku tak lagi bisa kubendung saat melihatnya berjuang untuk sekadar menarik napas.

Tak lama kemudian, seorang perawat menghampiriku.

“Maaf, Mbak. Kami akan terus berusaha memberikan penanganan terbaik. Namun, melihat kondisi Ibu yang semakin menurun, sebaiknya keluarga mulai mempersiapkan diri.”

Aku terdiam. Butuh beberapa saat untuk memahami maksud perkataannya, meski hatiku seolah sudah lebih dahulu mengetahui apa yang mungkin terjadi.

Perawat itu melanjutkan penjelasannya. Kondisi ibu terus menurun meskipun telah menjalani beberapa kali kemoterapi. Tubuhnya semakin lemah, berbeda dengan harapan kami ketika pengobatan pertama kali dimulai.

Aku menunduk. Tak ada kalimat yang sanggup kuucapkan selain, “Terima kasih.”

Dengan langkah berat, aku kembali ke ruang ibu dirawat.

Ibu terbaring lemah. Wajahnya pucat, sementara tangannya terasa dingin saat kugenggam.

Aku duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa saat, aku bahkan tak mampu menangis. Seolah-olah seluruh air mataku tertahan oleh kenyataan yang belum sanggup kuterima.

Dunia terasa sunyi.

“Ibu …” bisikku akhirnya. “Kita jadi jalan-jalan ke pasar, ya? Ibu harus kuat. Ibu harus sembuh.”

Suaraku bergetar.

“Maafkan aku, Bu. Aku belum sempat membahagiakan Ibu. Aku baru saja pulang. Aku masih ingin bersama Ibu.”

Air mataku jatuh membasahi tangan ibu yang kugenggam.

Perlahan, napasnya berubah. Semakin lemah, semakin jarang.

Dan tepat pukul 01.10 dini hari, napas itu berhenti.

“Ibu sudah berpulang,” ucap perawat yang menanganinya.

Aku membeku. Kalimat itu seperti meruntuhkan seluruh dunia yang baru saja berusaha kubangun kembali.

Ibu telah pergi.

Ketika selimut menutupi wajahnya, tangisku pecah dalam pelukan mantan suamiku. Aku tak lagi peduli pada siapa pun yang melihatku menangis. Di dalam dadaku hanya ada kehilangan dan penyesalan yang tak mungkin kuperbaiki.

“Ibu, maafkan aku. Aku terlambat …”

Aku memeluk tubuh ibu untuk terakhir kalinya. Tubuh yang dulu menggendongku, merawatku, dan tetap menerimaku meski aku pernah meninggalkannya begitu lama, kini tak lagi membalas pelukanku.

Saat itulah aku benar-benar memahami bahwa tidak semua penyesalan datang ketika kita masih memiliki waktu untuk memperbaiki kesalahan.

Setelah pemakaman, aku masuk ke kamar ibu. Aroma yang kukenal masih tertinggal di sana. Seolah-olah ibu hanya sedang pergi sebentar dan akan kembali kapan saja.

Aku merebahkan diri di tempat tidurnya. Tangisku pecah tanpa bisa kutahan. Semua kenangan tentang ibu datang silih berganti, termasuk malam ketika ia mengizinkanku pergi dan hari ketika ia menyambutku pulang tanpa mengungkit kesalahanku.

Lalu pandanganku tertuju pada tas cokelat yang tergantung di samping pintu kamar.

Tas yang selalu ibu bawa ke mana-mana.

Aku meraihnya dan membukanya perlahan. Di dalamnya tersimpan barang-barang sederhana: buku tabungan, kartu-kartu, lipstik, parfum, serta beberapa benda kecil yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya.

Di antara barang-barang itu, kutemukan foto ibu.

Aku menatap wajahnya lama sekali sebelum akhirnya memeluk tas itu erat-erat. Air mataku kembali mengalir.

Tas kecil berbahan kain itu bukan lagi sekadar benda bagiku. Ia menjadi saksi perjalanan hidup ibu, perjuangannya melawan penyakit, dan cinta yang tak pernah berubah, bahkan setelah aku berkali-kali mengecewakannya.

Di dalam tas itu, tersimpan jejak kehidupan ibu. Ada benda-benda sederhana yang mungkin tak berarti bagi orang lain, tetapi kini terasa begitu berharga bagiku.

Aku tak bisa memutar waktu. Aku tak bisa menghapus tiga tahun ketika aku memilih pergi. Aku juga tak bisa mengucapkan semua kata yang terlambat kusampaikan kepadanya.

Namun, aku masih bisa belajar dari cinta yang ibu tinggalkan.

Kini aku mengerti, warisan ibu bukanlah harta yang bisa dihitung atau dibagi. Warisannya adalah cinta yang tetap tinggal, bahkan setelah pemiliknya pergi.

Sampai saat ini, tas cokelat itu masih kusimpan.

Dan setiap kali melihatnya, aku selalu teringat satu hal: aku pernah pulang, tetapi waktu bersamaku dan ibu ternyata begitu singkat.

“Bu, seandainya waktu bisa kuulang, aku ingin lebih lama berada di sisimu. Aku ingin menemanimu ke pasar, membawakan tas cokelatmu, dan membahagiakanmu dengan cara-cara sederhana yang dahulu tak sempat kulakukan.” Gumamku lirih.

Namun, waktu tak pernah bisa kembali.

Kini, yang tersisa hanyalah kenangan, doa, dan tas cokelat yang masih kusimpan.

Di dalamnya, ada jejak ibu yang akan selalu kubawa dalam hidupku.

 

 

 

 

 

 

 

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Di Dalam Tas Coklat, Ada Ibu
Difa Jagga
Cerpen
Bronze
Ini tentang Cinta; Mati
YK-Andriyana-RBD
Cerpen
Bronze
Aku Dan Ariadne
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Ucup Si Programmer
Saputra
Cerpen
Bronze
Ibu Jangan Tinggalkan Adek
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Mata Cekung Mbah Kukung
Nabil Jawad
Cerpen
Bronze
YANG TERSISA DARI HUJAN
Miradevoncho
Cerpen
Kartini dan Sekolah Terbaiknya
Sucayono
Cerpen
Bronze
Tak Sekemilau Emas
Dewi Fortuna
Cerpen
Perspektif
Nidaul Ainiyah
Cerpen
Bronze
Perjalanan
Fatimah Ar-Rahma
Cerpen
CAHAYA DI TENGAH BADAI
sangberuangtidur
Cerpen
Bronze
Menunggu Petang
spacekantor
Cerpen
Bronze
Pelajaran dari Ban
Nuel Lubis
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh Part-5
Munkhayati
Rekomendasi
Cerpen
Di Dalam Tas Coklat, Ada Ibu
Difa Jagga
Novel
Bayanganku Di Jalanku
Difa Jagga
Novel
Kunang-Kunang Hitam
Difa Jagga