Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Di Bandara
0
Suka
12
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tidak pernah menyangka hal ini terjadi kepadaku, itu sungguh sesuatu yang membuatku berpikir bahwa dunia tentu memiliki caranya sendiri memperlakukan manusia yang sama sekali tidak pernah manusia pikirkan. Bukan maksud melebih-lebihkan, namun sesuatu itu membuat diriku merasa bahwa apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan harusnya lebih baik terjadi saja, namun pastinya jawaban yang aku temukan seringkali berbeda dengan apa yang terlintas di dalam kepalaku.

Ini terjadi sekitar beberapa waktu lalu, aku tidak tahu kapan dan tepat pada pukul berapa, tapi kurasa itu sama seperti waktu orang Inggris menyeduh tehnya. Bukan dalam waktu formal atau pertemuan, tapi dalam waktu kasual yang mungkin orang Eropa lakukan saat menyeduh teh di bawah parasol.

Di hari itu, pertama kalinya dalam aku hidup selama dua puluh dua tahun di tanah kelahiranku. Itu hampir sepertiga masa hidup atau harapan hidup manusia jika melihat bahwa harapan hidup manusia mencapai enam puluh tujuh tahun—tentu saja harapan hidup di negara tempat aku dilahirkan.

Aku masuk ke dalam sebuah bandara, tidak terlalu besar, tidak terlalu mewah, tapi sangat bersih jika dibandingkan dengan fasilitas umum yang pernah aku kunjungi. Tidak bermaksud mendiskreditkan fasilitas umum seperti itu, namun sungguh sangat bersih jika dibandingkan dengan bandara tempat aku berdiri.

Lantainya mengilap, ada bayanganku yang sangat jelas, koper yang berlalu-lalang dengan sibuknya, serta sebuah pamflet yang jatuh—aku mengambilnya.

Saat menyentuh ujung pamflet itu, aku baca dengan seksama. Itu adalah sebuah teknik pemasaran klasik dari sebuah mesin cuci otomatis. Pikirku, apa yang dilakukan oleh penjual mesin cuci di bandara. Apakah ada kemungkinan penumpang lupa mencuci pakaiannya saat menunggu pesawat? Aku kira itu cukup aneh, namun bagaimanapun juga, pemasaran harus dilakukan agar produk bisa dikenal.

Kembali ke pamflet itu. Aku membacanya, membawa, dan kembali duduk untuk menunggu penerbangan yang terasa sudah lama aku tunggu. Aku merasa bosan dengan memandangi jendela besar yang memperlihatkan banyak sekali pesawat berwarna, aku mengambil inisiatif untuk menghitung warna koper yang selaras dengan pesawat yang aku lihat, itu sungguh menyenangkan hingga seseorang menggangguku.

Ia bertanya, dalam bahasa yang aku tidak sepenuhnya pahami. Tapi, aku bisa mengerti bahwa ia bertanya tentang gerbang tunggu, terminal, atau sejenisnya—aku tidak terlalu mengerti karena ia berbicara dalam bahasa Jepang.

Gadis itu masih muda, seumuran denganku atau lebih muda lagi, aku tidak memedulikannya, dalam konteks bahwa aku tidak ingin terlalu mengusik privasinya. Ia kemudian duduk, membuka buku terjemahan bahasaku ke dalam bahasa Jepang. Aku memersilahkan dia, dengan menepuk bangku besi yang cukup dingin setelah tersentuh oleh telapak tanganku. Ia duduk dengan anggun, rambut panjangnya tergerai, hitam, dengan poni di depannya. Pikirku seperti sebuah standar wanita Jepang. Walau aku tidak pernah ke sana, aku ingin, suatu hari.

Ia duduk di sampingku, kembali membaca bukunya, ia bilang kalau pertama kali datang ke sini untuk melakukan studi hubungan internasional. Mungkin karena negara ini kaya akan budaya, negaraku, yang aku cintai walau terlalu banyak rayap di dalam konstitusinya.

Aku ingin mengamati cara bicaranya, gerak bibirnya, cara dia menyeka rambutnya, dan mungkin cara dia tersenyum tertawa karena salah mengucapkan sebuah kata—yang aku koreksi dengan baik. Di situ, di ruang tunggu yang dingin, aku merasakan sedikit kehangatan dengan orang asing.

Rasa hangat itu semakin memuncak, setelah ia menurunkan maskernya, mengungkap gigi gingsul yang ia miliki. Entah kenapa, saat ia tersenyum, itu lebih manis dari belasan ton batang cokelat yang dicuri di beberapa hari lalu. Aku sungguh tidak menyangka akan bertatapan dengan gadis setara aktris drama romansa yang biasa aku tonton di malam hari hingga aku menangis bukan karena sedih—namun karena iri—kapan aku bisa mengalaminya di kehidupanku.

Aku merasa, detik ini, Tuhan telah memberikan jawaban atas doa-doa yang aku panjatkan di sepanjang hari. Walau aku sedikit optimistik akan kemungkinan yang terjadi di kepalaku, mengingat dia hanyalah orang asing yang kebetulan mampir sekejap kedipan mata. Namun sungguh, taring kirinya yang berbaris tidak pada tempatnya itu menurutku sungguh manis lebih dari apapun, aku rela digigit leherku dan menjadi vampir saat ini juga. Ia benar-benar sudah menyedot darahku dan aku benar-benar lemas di depannya, seperti orang yang telah digigit oleh vampir sungguhan. Ia menatapku tajam, matanya seperti galaksi, dengan pupil lubang hitam yang seakan menyedotku masuk ke dunianya.

Guratan iris cokelat gelap itu bak awan kosmik di jajaran rasi bintang, itu pemandangan yang tak tergantikan dibanding observatorium di kota metropolitan tempat aku tinggal. Apalagi ketika ia menceritakan pengalamannya memandangi indahnya pantai di daerah pesisir di negaraku, katanya sungguh indah dan sejuk—sedikit hangat dibanding negara tempatnya bertumbuh. Membuatku membayangkan ketika aku melihatnya berlari mengukir garis pantai menggunakan ranting panjang. Rambutnya tergerai indah tertiup angin dari selatan, seraya ombak mengaum memperindah pemandangan seperti sebuah wallpaper komputer di laboratorium kampus tempatku menimba ilmu.

Aku benar-benar rapuh, aku ingin mengenalnya lebih dekat, tapi akan merepotkan jika tiba-tiba menanyakan akun media sosial di tempat ini dan saat ini juga. Maka aku membuat rencana lain, aku akan menanyainya apakah ia akan kembali ke negaraku atau tidak.

Dengan tawa selembut sutra dan gestur tangannya yang reflek menutupi keindahan lesung pipinya, gadis itu bilang bahwa masa studinya sudah habis dan ia akan pulang kembali ke Jepang, tidak ada probabilitas ia akan kembali karena memang tidak ada tujuan lain jika harus kembali. Itu seakan menamparku dengan dentuman ribuan tenaga kuda, aku tahu ini bodoh ketika aku bilang bahwa aku akan mengajaknya berkeliling negaraku jika ia bisa kembali—seperti pemandu tur wisata yang tidak diundang dan juga tidak dibayar.

Ia menerima ajakanku, walau ia tak yakin akan kembali. Karena masalah yang ia sendiri tidak ingin bicarakan, apalagi pada orang yang ia kenal beberapa menit lalu. Itu menurutku adalah sebuah jawaban yang sangat masuk akal, siapapun juga berpikir ratusan kali jika diajak orang tidak dikenal, kecuali orang bodoh yang tidak punya akal sehat untuk berpikir dengan jernih.

Gadis itu akhirnya berdiri, ia mengucapkan terimakasih padaku. Ia berbalik, menarik kopernya, dan menghilang di antara kerumunan. Aku kembali duduk, mengelus pamflet yang entah bagaimana masih aku pegang, serta menatap mesin cuci dengan harga diskon di situ. Aku berpikir, aku sungguh orang yang benar-benar lebih konyol dari seseorang yang diajak oleh orang tidak dikenal. Di dalam beberapa menit terakhir, aku jatuh cinta pada pandangan pertama; kepada seseorang yang aku sendiri lupa menanyakan namanya. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Good Girl Problems
Donquixote
Novel
Bronze
Fallen Angel
Naftalia Satra
Novel
Bronze
Remaja 26
A.Ariny Syahidah
Novel
Gold
Sweet Misfortune
Mizan Publishing
Novel
Sound Good
Jonem
Novel
Bronze
Isekai Everywhere
Nuel Lubis
Skrip Film
Threads of Silence
Dayana Quiins
Cerpen
The Famtrip Flores
Tourtaleslights
Cerpen
Di Bandara
Heinrich Schantzfeuer
Novel
Cherry Blossom Bridge
Yessi Rahma
Novel
Gold
Anne of Avonlea
Mizan Publishing
Novel
Wanitaku
karlina s
Novel
RAHARA
penanine
Novel
Bronze
Selepas Hujan
Abidin
Flash
Bronze
Jeda Yang Tak Pernah Usai
lidia afrianti
Rekomendasi
Cerpen
Di Bandara
Heinrich Schantzfeuer
Cerpen
Cintaku Padamu akan Selalu Bersemi
Heinrich Schantzfeuer
Cerpen
Surat dari Penggemar
Heinrich Schantzfeuer