Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kafe Sweet & Beans bukanlah tempat yang akan kamu temukan di majalah wisata atau daftar “hidden gem” Instagram. Tempatnya kecil, lampunya hangat, dan sebagian besar pengunjung datang bukan untuk kopinya, tetapi untuk meja nomor 17.
Meja itu sebenarnya tidak beda dengan meja lainnya. Kayu cokelat, sedikit goresan di sisi kiri, dan kaki meja yang agak goyang kalau didorong terlalu keras. Tapi rumor beredar, siapa pun yang duduk di sana akan menemukan jawaban yang mereka cari.
Sebagai barista, Reno tidak pernah percaya hal itu. Reno seorang introvert kelas berat. Lebih jago menghafal suhu air yang sempurna daripada menghadapi orang asing.
Namun malam itu berbeda.
Karena meja nomor 17 diisi oleh pria yang tampak seperti karakter utama drama romantis yang ditinggal tunangannya pas hari pernikahan.
Pria itu duduk setengah membungkuk, memainkan cincin perak di jemarinya, seolah cincin itu punya tombol untuk mengulang masa lalu.
Reno menelan ludah.
Dia mengambil buku catatan pesanan, melangkah mendekat sambil berusaha terlihat profesional dan tidak canggung.
“Mas, mau pesen apa?” tanya Reno dengan suara selembut mungkin.
Pria itu mendongak. “Hm? Oh… kopi hitam. Yang paling pahit, ya.”
“Baik.”
Sederhana. Normal.
Sampai pria itu menambahkan:
“Biar rasa pahitnya bisa ngalahin hidup saya.”
Reno membeku dengan pitcher susu di tangan.
Oke, ini bakal jadi malam panjang.
Ketika Reno kembali membawa kopi, pria itu melihatnya lama. Seolah sedang menilai apakah pria berkacamata dengan apron cokelat itu layak menjadi saksi ceritanya.
“Kamu percaya nggak… bahwa hidup tuh suka bercanda?” katanya tiba-tiba.
“Kadang,” jawab Reno. Lebih sering daripada yang kamu kira, batinnya, tapi tentu tidak ia ucapkan.
Pria itu mengangguk dramatis. “Nama saya Ardan.”
Reno hanya mengangguk kecil sebagai balasan. Ia sudah hafal pola pelanggan sedih. Mereka memperkenalkan diri bukan untuk disapa balik, tapi untuk memastikan bahwa kesedihan mereka terdengar oleh seseorang.
“Dulu saya mau nikah,” kata Ardan, sambil memutar cincin itu lagi. “Tapi saya yang batalin.”
Reno mengerjap.
Skenario standar drama itu biasanya yang pergi pihak perempuan. Yang menangis pihak laki-laki.
Tapi Ardan dengan tatapan sayu dan kopi hitam pahit melanggar aturan itu.
“Biasanya kan yang pergi ceweknya.” Ardan tertawa hambar. “Saya yang bodoh. Saya yang pengecut. Saya yang pergi.”
Reno menarik kursi kecil dan duduk pelan. Kafe sedang sepi, bosnya tidak keberatan kalau ia nemenin pelanggan seperti ini.
“Kenapa?” tanya Reno, meski bagian introver dirinya sudah menjerit KENAPA KAMU NANYA?! INI SUDAH MELEBIHI JOBDESK BARISTA, RENOOOO.
Ardan menatap kopi hitamnya. “Saya takut dia akhirnya sadar bahwa saya tidak cukup.”
Kafe hening beberapa detik..
Jam dinding berdetak.
Di luar, seseorang menutup payung dan berlari menembus hujan.
Reno tersenyum tipis. “Sepertinya semua orang takut tidak cukup.”
Ardan menatap Reno seperti menemukan tembok yang bisa mengerti. “Kamu juga?”
Reno terdiam beberapa detik. “Saya selalu merasa semua orang bergerak cepat, sementara saya hidup pelan. Kadang saya merasa dunia akan ninggalin saya.”
Ardan terbahak kecil. “Kita cocok nih. Sama-sama rusak.”
“Lebih tepatnya… sama-sama manusia,” Reno membetulkan.
Dan entah bagaimana, meja nomor 17 mulai terasa seperti ruang konsultasi antara dua orang asing yang sama-sama tidak tahu bagaimana caranya mencintai diri sendiri.
Di tengah percakapan itu, tiba-tiba ponsel Ardan bergetar. Layar menyala.
Sebuah nama muncul.
Nama perempuan.
Ardan tersenyum pahit. “Lihat kan? Bahkan semesta masih iseng sama saya.”
Ia menggeser ponsel ke mode diam, lalu berkata, “Dia mau balikan. Tapi saya tidak berani mulai lagi.”
“Kenapa?” tanya Reno.
“Entahlah.” Ardan mengusap wajahnya. “Saya datang ke sini karena teman bilang meja 17 bawa keberuntungan.”
Reno menatap meja itu. “Meja ini cuma meja. Keberuntungannya bukan dari sini.”
“Lalu dari mana?”
Reno menatap Ardan lama sekali. Tatapannya turun ke tangan Ardan yang terus memutar cincin itu. Ritme gugup yang menyimpan banyak ketakutan.
“Seseorang cuma bisa berubah kalau dia berhenti duduk di masa lalu.”
Ardan membeku. Tatapannya kosong beberapa detik.
Dan di saat itulah telepon berbunyi lagi.
Lara (Calon Istri).
Ardan tidak mengangkat.
Ia justru menunduk dalam-dalam.
“Saya takut,” bisiknya. “Kalau dia tanya kenapa saya pergi… saya nggak punya jawaban yang dia pantas dapat.”
“Kalau kamu terus kabur,” jawab Reno, “kamu nggak akan pernah punya jawaban apa pun.”
Ardan tertawa getir. “Kenapa kamu jadi bijak begini? Ini efek kopi ya?”
“Saya barista, bukan dukun,” gumam Reno.
Tapi Ardan menatapnya lama. Seolah ingin menambahkan sesuatu. Seolah ingin mengaku bahwa mungkin, kata-kata Reno barusan adalah hal paling masuk akal yang pernah ia dengar selama berbulan-bulan.
Ketika malam semakin larut, kafe berubah menjadi pulau kecil di tengah hujan yang mulai meredup. Ardan menatap cangkir kopinya yang sudah dingin. Suaranya muncul pelan, seperti cerita yang ia simpan terlalu lama.
“Sebenarnya saya ke sini bukan cuma karena rumor meja ini.”
Ia menatap Reno.
“Calon istri saya dulu sering datang ke kafe ini.”
Reno yang sedang membersihkan meja di sampingnya berhenti mengusap kain. Tidak ada komentar. Tidak ada respon dramatis. Hanya sunyi yang memberi ruang.
Ardan melanjutkan dengan suara yang sedikit serak, “Dia bilang, meja 17 itu tempat favoritnya. Katanya kalau duduk di sini, dia merasa masa depan lebih mungkin.”
Kini Reno mengerti.
Meja 17 bukan tempat Ajaib pembawa keberuntungan.
Meja 17 adalah tempat orang berharap tanpa takut ditertawakan.
Ardan menghela napas panjang. “Malam sebelum saya pergi… dia duduk di sini, dan bilang kalau dia yakin saya akan jadi suami yang baik. Tapi justru itu yang bikin saya takut… apa dia salah lihat? Apa saya bakal mengecewakan dia? Apa saya bakal hancurin hidup dia? Apa saya bakal jadi alasan dia menyesal?”
Reno perlahan duduk kembali, menggenggam kain lap di pangkuannya. “Semua orang takut mengecewakan orang yang mereka sayang.”
Ardan mengepalkan tangan. “Saya ingin kembali. Tapi saya sudah menyakiti dia terlalu dalam.”
“Kamu akan menyakitinya lebih dalam kalau kamu tidak kembali.”
Ardan menunduk. “Kamu benar.”
Suara itu bukan pengakuan. Lebih seperti seseorang akhirnya berhenti lari setelah sekian lama.
Tiba-tiba Ardan bangkit dari kursinya. “Mas… saya mau telepon dia.”
Reno tersenyum kecil. “Silakan.”
Ardan melangkah ke luar.
Hujan mulai turun ringan.
Dari balik kaca, Reno melihat Ardan berbicara sambil menunduk… lalu menangis… lalu tertawa kecil… lalu menutup telepon dengan wajah yang baru.
Wajah seseorang yang akhirnya memilih sesuatu.
Atau seseorang.
Atau dirinya sendiri.
Ardan kembali masuk. Matanya merah, tapi bebannya seperti menguap.
“Saya… balik sama dia,” katanya, bergetar.
Reno tersenyum. “Kabar baik.”
“Ternyata sejak dulu… dia cuma nunggu saya ngomong jujur tentang ketakutan saya. Dia bilang dia nggak butuh saya sempurna. Dia cuma butuh saya berhenti lari.”
Ardan menatap meja 17. “Apa meja ini benar-benar bawa keberuntungan?”
Reno ikut menatapnya.
Meja itu tetap… hanya meja.
“Keberuntungannya bukan dari meja itu,” kata Reno.
“Tapi dari orang-orang yang akhirnya duduk di sini dengan jujur. Yang berani bilang apa yang sebenarnya mereka takutkan. Itu yang bikin masa depan terasa mungkin.”
Ardan tertawa. “Kalimatmu terlalu puitis. Cocok jadi penulis buku.”
“Tidak. Saya cuma barista yang ketemu terlalu banyak orang patah hati.”
“Terima kasih,” kata Ardan tulus.
Ardan akhirnya pergi, menutup pintu dengan bunyi kecil yang seperti titik akhir dari bab yang panjang. Hujan di luar sudah berubah menjadi suara rintik yang teratur, seolah mengiringi langkahnya menuju seseorang yang ia pilih kembali.
Begitu Ardan menghilang dari pandangan, Reno mengambil lap dan mulai membersihkan meja 17.
Bekas kopi yang sudah mengering. Tisu yang diremas gugup. Jejak tangan seseorang yang akhirnya memilih masa depan daripada ketakutannya sendiri.
Ia mengelus permukaan kayu itu.
Bukan meja yang membawa keberuntungan, pikirnya.
Sebelum mematikan lampu kafe, Reno sempat berbisik pada meja itu.
“Besok… bantu seseorang lagi, ya.”
***