Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di ambang pintu, aroma hujan menguar bersama keramaian kafe. Langit mendung, dan aku masih di sini, di sudut yang sama dengan secangkir matcha latte yang sudah dingin. Setahun. Rasanya seperti baru kemarin kita duduk di sini berbagi cerita dan tawa merajut janji yang ternyata tak terikat.
Kamu bilang, "Tunggu aku, ya." Kalimat itu terngiang, jadi melodi sendu yang nggak pernah habis. Tapi, kamu pergi. Jarak ribuan kilometer jadi dinding tebal yang memisahkan kita. Setiap notifikasi di ponsel membuat jantungku berdebar, berharap itu kamu. Tapi selalu, itu hanya pesan grup yang ramai atau notifikasi media sosial yang nggak penting.
Kadang, aku melamun. Membayangkan kamu tiba-tiba muncul di hadapanku. Dengan senyum yang sama, tatapan mata yang penuh janji. Tapi bayangan itu perlahan pudar, digantikan realita yang pahit. Kamu tak akan pernah ada.
Sahabat-sahabatku bilang, "Move on, dong." Gampang banget mereka ngomongnya. Mereka nggak tahu rasanya. Rasanya hati ini udah jadi tanah tandus, dan satu-satunya yang bisa menyiraminya cuma kenangan tentang kamu. Aku nggak bisa. Rasanya ada sebagian diriku yang hilang dan hanya kamu yang bisa menemukannya.
Hari ini, di kafe ini, aku memutuskan. Aku akan berhenti. Berhenti menunggu, berhenti berharap. Tapi, saat aku bangkit dari kursi, pandanganku jatuh pada bayangan diriku sendir...