Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Di Atas Piring
1
Suka
19
Dibaca

Lampu jalanan mulai menyala, memantulkan cahaya pucat pada genangan air sisa hujan sore tadi. Bagi Karina, cahaya itu bukan penanda pulang, melainkan tanda bahwa "jam kantor"-nya dimulai. Di sebuah kamar kos sempit dengan baunya bercampur antara bedak murah dan kecoak mati, ia mematut diri di depan cermin retak.

Ia mengenakan gaun merah berbahan poliester yang ketat—warna yang ia benci, tapi warna yang paling disukai "pasar".

Tiga bulan lalu, Karina adalah seorang manajer di sebuah perusahaan Tekstil. Gajinya cukup besar, bahkan bisa untuk membiayai seluruh keluarganya di kampung. Tapi tiba-tiba dia dipecat tanpa alasan yang jelas, tanpa pesangon.

Di hari yang sama juga sebuah panggilan masuk dari keluarganya, Karina yang tengah duduk menatap kosong sisi ruangan sempit di hadapannya melihat sekilas ponsel yang ia genggam. Dengan rasa malas ia mengangkat panggilan itu, sedetik kemudian ia sedikit menjauhkannya dari telinga.

Tentu saja, suara memekakkan telinga yang tiba-tiba membuat telinganya berdenging hingga rasanya kepalanya yang sudah berat akan masalah semakin berat dengan teriakan dari sisi dunia yang jauh.

“Iya, Pak?” kata Karina dengan suaranya yang lemas.

“Kamu belum mengirim uang?” tanya lelaki yang disebut ‘Bapak’ itu.

“Uang gaji Ina kan udah Ina kasih sebagian, Ina tidak ada uang lagi, Pak,” ucap Karina dengan tenaga yang tersisa.

“Uang yang kamu kasih sudah habis, jualan ibu kamu juga lagi sepi!” suara itu semakin meninggi setiap kali Karina memberikan alasan untuk menolak. Bukan Karina tak ingin memberikan uang untuk keluarganya, tapi ia juga membutuhkan uang itu untuk tetap hidup dan bertahan di dunia yang seperti penjara.

Karina tidak menjawab lagi. Ia memutus sambungan telepon itu. Bukan karena berani, tapi karena tenaganya benar-benar sudah habis dikuras oleh rasa lapar dan tuntutan. Ia menatap layar ponselnya yang retak—sama seperti cermin, juga seperti hidupnya.

Karina tidak punya waktu untuk menangis. Entah kapan terakhir kali ia menitikkan air mata; hal manusiawi yang sudah lama sekali tak ia lakukan sejak segala yang berharga hancur dalam satu hari yang terkutuk itu.

Tiga bulan lalu, hari itu bermula dengan surat pemecatan dan berakhir dengan kehancuran total. Dengan sisa harapan yang rapuh, Karina sempat mendatangi sebuah rumah mewah. Ia ingin mencari sandaran pada lelaki yang selama ini menjadi tempatnya pulang, pria yang menjanjikan masa depan di sela-sela kesibukannya sebagai manajer.

Langkahnya terhenti di depan pintu jati yang sedikit terbuka. Alih-alih mengetuk, ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menelepon si pemilik rumah.

Namun saat ponsel berdengung, saat yang sama juga suara dering ponsel berbunyi sangat keras dari dalam rumah. tapi mampu memicu simfoni yang menghancurkan jantungnya. Dari dalam, ia mendengar dering ponsel yang ia kenal, disusul tawa renyah seorang wanita dan lenguhan yang membakar harga dirinya. Hal itu membuat dorongan kuat dari pikirannya hingga membawanya masuk dan melihat hal yang tak pernah ia pikirkan akan terjadi.

Karina mematung di depan ruangan dengan pintu tertutup, tapi menyisakan sedikit celah hingga ia bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.

Karina tidak melabrak. Ia hanya berdiri mematung, melihat sepasang sepatu hak tinggi merah yang asing tergeletak sembarangan di lantai marmer, berdampingan dengan jam tangan mewah yang pernah ia hadiahkan untuk lelaki itu. Di atas ranjang yang pernah menjanjikan kehangatan, ia melihat pengkhianatan telanjang yang membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.

Bukan hanya itu, obrolan mereka semakin membuat Karina tak bisa menggambarkan lagi hancurnya dirinya. Obrolan mereka tentangnya—tentang betapa "bergunanya" uang Karina selama ini—menuntaskan hancurnya harga diri yang ia punya.

Kini, kenangan itu ia telan bulat-bulat bersama bau bedak murah.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia meraih tas kecilnya. Ia ingat betul rasanya menggenggam pulpen Montblanc saat menandatangani kontrak ribuan yard kain setahun lalu. Kini, jemari itu hanya akan menggenggam gelas plastik di bar remang-remang, menunggu pria asing menawarkan harga untuk sisa harga dirinya.

Saat kakinya melangkah keluar dari kamar kos, aroma hujan yang segar menyambutnya—ironi yang kejam bagi seseorang yang merasa dirinya baru saja membusuk. Ia berjalan menuju pangkalan, tempat di mana "Karina sang Manajer" mati, dan berganti menjadi nama baru yang lebih mudah diingat oleh lelaki hidung belang.

Lampu jalanan yang pucat kini tak lagi tampak seperti genangan air, melainkan panggung sandiwara tempat ia harus memainkan peran paling menjijikkan dalam hidupnya: menjadi mesin uang yang tak boleh rusak.

Lampu bar remang-remang menyamarkan retakan pada riasan wajah Karian, tapi tidak bisa menyembunyikan getar pada jemarinya saat seorang pria paruh baya duduk di depannya. Pria itu berjas rapi, tampak terhormat, namun tatapannya seolah sedang menelanjangi sebuah barang dagangan.

"Kamu Karina?" pria itu menyebut nama aslinya, bukan nama panggung yang baru saja ia ciptakan.

Karina tersentak. Wajah di depannya terasa familiar—salah satu investor di perusahaan lamanya. Harapan kecil sempat muncul; mungkinkah ini jalan keluar? Namun, harapan itu segera layu saat pria itu menyeringai, mengeluarkan selembar uang kertas dan membiarkannya jatuh ke lantai, sama seperti harga dirinya yang sudah jatuh.

"Saya tahu kamu dipecat karena menolak melayani bosmu yang dulu," bisik pria itu, suaranya sedingin es. "Dunia ini sempit, Karina. Dengan memakai gaun merah ini kamu jadi lebih terlihat ‘seksi’ di mata saya."

Karina terpaku. Lelaki di depannya bukan hanya ingin tubuhnya, tapi ingin menginjak-injak sisa martabat yang masih coba ia dekap erat. Pria itu mencengkeram lengannya dengan kasar, tarikan yang jauh lebih menyakitkan daripada makian bapaknya di telepon atau pengkhianatan kekasihnya.

Di saat yang sama, ponsel di dalam tasnya kembali bergetar. Satu pesan masuk dari Bapak.

 Bapak butuh uang besok. Jangan jadi anak durhaka!

Karina menatap ponselnya, lalu menatap pria kejam di hadapannya. Ia menyadari satu hal: di dunia ini, ia hanya punya dua pilihan—dihancurkan oleh orang yang ia cintai, atau dihancurkan oleh orang asing.

Perlahan, ia membungkuk, mengambil uang yang jatuh di lantai, lalu berdiri kembali dengan wajah tanpa ekspresi. Ia mematikan ponselnya, membiarkan layarnya gelap gulita.

"Apa yang bapak inginkan?" ucapan Karina yang datar dan sikapnya yang seakan tak menunjukkan penolakan membuat pria di hadapannya semakin lebar menyunggingkan senyumannya.

“Kamu tahu apa yang saya mau.”

Tanpa banyak bicara, Karina berjalan mengikuti pria itu menuju kegelapan di balik pintu belakang bar. Lampu jalanan di luar sana masih menyala pucat, tapi bagi Karina, cahayanya sudah lama padam. Di bawah langit yang tak lagi berhujan, Karina benar-benar telah selesai. Yang tersisa hanyalah sebuah mesin yang dipaksa terus berjalan, meski mesin itu sudah hancur rusak di dalam.

Pintu kamar itu tertutup dengan bunyi dentum pelan, mengunci suara bising suara bising di luar. Pria itu tidak membuang waktu. Ia tidak butuh nama, tidak butuh percakapan. Baginya, Karina hanyalah mesin yang sudah ia beli untuk beberapa jam ke depan.

Sepanjang malam, Karina melatih otaknya untuk pergi ke tempat lain. Ia membayangkan hamparan sawah di kampungnya, aroma sambal terasi buatan ibunya, dan tawa adiknya. Setiap rasa sakit yang menghujam tubuhnya, ia hitung sebagai angka-angka rupiah yang akan segera masuk ke rekening Bapak. Ia menjadikan dirinya martir di atas piring kerakusan dunia.

Pukul empat pagi, pria itu pergi setelah melempar beberapa lembar uang tambahan di atas nakas—sebagai "bonus" karena Karina tidak banyak mengeluh saat diperlakukan kasar.

Dengan tubuh yang terasa remuk dan sendi-sendi yang kaku, Karina meraih ponselnya. Ia ingin mengirim pesan pada Bapak, memberi tahu bahwa uang akan dikirim pagi ini juga. Ia ingin mendengar satu kata saja: Terima kasih. Atau mungkin, Pulanglah, Nak.

Namun, saat layar ponselnya menyala, sebuah notifikasi pesan dari grup WhatsApp keluarga muncul. Ada sebuah foto yang dikirim oleh adiknya satu jam lalu.

Foto itu memperlihatkan Bapak sedang tertawa lebar di sebuah meja makan penuh makanan mewah—ayam goreng, udang, dan beberapa botol minuman soda. Di bawah foto itu, adiknya menulis:

‘Terima kasih kirimannya yang kemarin, Pak! Bapak hebat bisa menang judi lagi. Kita makan enak malam ini, lupakan saja jualan Ibu yang sepi.’

Tangan Karina gemetar. Jantungnya seolah berhenti berdetak lebih sakit daripada saat ia melihat perselingkuhan kekasihnya. Uang yang ia kirim minggu lalu—uang yang ia dapat dari menjual harga diri pertama kalinya—ternyata bukan untuk menyambung nyawa, melainkan untuk meja judi Bapaknya.

Setitik air mata, yang ia pikir sudah kering selamanya, jatuh mengenai layar ponselnya. Tepat di atas wajah Bapak yang sedang tertawa.

Karina meletakkan ponsel itu di samping uang kertas di atas nakas. Ia berjalan menuju cermin retak di pojok kamar. Di sana, ia melihat wanita dengan gaun merah poliester yang koyak di bagian bahu. Ia melihat monster yang diciptakan oleh kasih sayang yang salah alamat.

Ia meraih lipstik merahnya yang patah, lalu menuliskan sesuatu di permukaan cermin yang retak itu, menutupi bayangan wajahnya sendiri:

Sajian hari ini: Habis.

Karina tidak pulang ke kosnya. Ia berjalan menuju jendela, menatap lampu jalanan yang mulai padam ditelan fajar. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: ia telah memberikan segalanya untuk orang-orang yang bahkan tidak peduli jika ia mati saat melakukannya.

Pagi itu, di atas piring kehidupan, Karina tak menyisakan apa pun. Bahkan dirinya sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Di Atas Piring
Cindy meilana
Cerpen
Liburan Juga Bermanfaat
LISANDA
Cerpen
Bronze
Memulung Murung
hidayatullah
Cerpen
Bronze
Cinta Santri Putri
Rani Rosdiana
Cerpen
Batas Pacuan
Kopa Iota
Cerpen
Bronze
Detektif Kaiden Shadow : Detektif Di Balik Uap Kopi
muhamad jumari
Cerpen
Bronze
Ruth Pergi Sendiri ke Surga
Johanes Gurning
Cerpen
Bronze
Journey
Ika nurpitasari
Cerpen
DUA PULUH HARI YANG TERLEWAT
ibupertiwi
Cerpen
Meletus Sebelum Januari
Muhammad Irsyad
Cerpen
Bronze
Sungguhan Teman?
Glorizna Riza
Cerpen
Bronze
Masjid Pensiunan
Muram Batu
Cerpen
Dendam Sofia
hyu
Cerpen
09 Halaman Kosong
Bima Kagumi
Cerpen
Who Let The Dog Out
Yuna Thrias
Rekomendasi
Cerpen
Di Atas Piring
Cindy meilana
Flash
Bronze
Parasit
Cindy meilana
Flash
Bronze
SERUPA
Cindy meilana