Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di Antara Riak Air dan Nyala Api
Mereka bilang, menyatukan seorang Scorpio dan seorang Leo sama saja dengan menantang alam. Yang satu adalah samudera yang tenang namun menyembunyikan palung terdalam, sementara yang lain adalah matahari musim panas terang, membakar, dan ingin selalu diagungkan. Bintang-bintang di langit tidak pernah meramalkan mereka untuk sejalan. Namun, bagi Gibran dan Aurora, takdir tidak ditulis di atas rasi bintang, melainkan di atas lembar-lembar rasa yang mereka susun sendiri.
Pertemuan mereka terjadi di sebuah kedai kopi tua saat hujan di akhir bulan November. Gibran, dengan zodiak kalajengkingnya, duduk di sudut paling remang. Ia menyukai ketenangan, mengamati dunia lewat balik cangkir kopi hitam dan buku catatan bergaris. Sementara Aurora, sang singa betina yang lahir di bawah teriknya bulan Agustus, masuk dengan tawa yang berderai, mengibaskan payung kuningnya yang basah, langsung menghidupkan seluruh ruangan yang tadinya mati.
Ketika mata mereka bertemu, ada sebuah tarikan magnetis yang tidak masuk akal. Gibran yang biasanya menutup diri, entah mengapa membukakan pintu untuk Aurora. Dan Aurora, yang biasanya senang menjadi pusat perhatian dunia, mendadak hanya ingin menjadi pusat perhatian di mata teduh Gibran.
Perbedaan yang Menghangatkan
Hubungan mereka adalah sebuah tarian antara misteri dan kejujuran. Gibran adalah tipe pria yang mencintai dalam diam yang pekat. Ia tidak pandai merangkai kata-kata manis di depan umum, tetapi ia adalah orang yang akan memastikan Aurora memakai jaket tebal saat angin malam berembus, atau diam-diam membelikan novel langka yang sempat Aurora sebutkan sekilas dalam percakapan dua minggu lalu.
"Kamu terlalu banyak berpikir, Gib," ucap Aurora suatu sore, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Gibran. Mereka sedang berada di bukit, menyaksikan matahari terbenam. Aurora menyukai momen seperti ini saat dunianya yang bising diredam oleh kehadiran Gibran.
"Dan kamu terlalu banyak bertindak tanpa berpikir, Ra," balas Gibran datar, namun tangannya bergerak mengusap rambut Aurora dengan kelembutan yang amat sangat.
Aurora tertawa. Tawa yang selalu berhasil mencairkan gunung es di dada Gibran. "Tapi bukankah itu fungsinya kita? Aku membawamu keluar ke tempat yang terang, dan kamu menjagaku agar tidak terbakar oleh apiku sendiri."
Gibran tidak menjawab. Ia hanya menggenggam jemari Aurora lebih erat. Dalam hatinya, ia tahu Aurora benar. Kedalaman emosinya yang sering kali terasa menyesakkan, menemukan muaranya pada kehangatan Aurora yang tanpa batas. Aurora adalah perwujudan dari zodiak Leo-nya bangga, penuh gairah, dan memiliki hati seluas semesta. Sementara Gibran membawa intensitas Scorpio kesetiaan mutlak yang takkan goyah oleh badai apa pun.
Ujian dari Dua Keras Kepala
Namun, menyatukan air dan api tidak pernah menjadi perkara mudah. Ada hari-hari di mana ego mereka saling berbenturan. Sifat posesif dan cemburu Gibran yang tersembunyi kadang kala berpapasan dengan kebutuhan Aurora untuk tetap bersosialisasi dan dikagumi banyak orang.
Malam itu, setelah sebuah acara galeri seni, keheningan di dalam mobil terasa begitu mencekik. Aurora menatap keluar jendela, sementara rahang Gibran mengeras sambil menatap lurus ke jalanan yang basah.
"Kalau ada yang tidak kamu suka, katakan, Gibran. Jangan membuatku menebak-nebak lewat diammu itu," ujar Aurora, suaranya mulai meninggi. Keangkuhan Leo-nya merasa terluka oleh sikap dingin Gibran.
Gibran menarik napas dalam, menghentikan mobil di tepi jalan yang sepi. "Aku hanya tidak suka melihat bagaimana pria tadi menatapmu, Ra. Dan kamu seolah tidak keberatan."
"Dia hanya rekan kerja, Gib! Kamu selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang paling gelap," balas Aurora kecewa. "Kenapa kamu tidak bisa mempercayaiku sepenuhnya?"
"Aku mempercayaimu, Aurora!" suara Gibran naik satu oktav, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Aku hanya takut. Kamu begitu terang, begitu memikat. Aku takut suatu hari nanti, seseorang yang lebih terang dariku akan membawamu pergi, dan aku akan kembali ke kegelapan."
Mendengar pengakuan jujur itu, kemarahan Aurora runtuh seketika. Di balik topeng Scorpio yang kuat dan misterius, ia melihat kerapuhan Gibran yang begitu mendalam. Gibran tidak sedang marah; ia sedang merasa tidak aman karena teramat sangat mencintainya.
Aurora menggeser duduknya, meraih wajah Gibran dengan kedua tangannya. Ia memaksa sepasang mata elang itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya.
"Dengarkan aku, Kalajengking bodoh," bisik Aurora, matanya berkaca-kaca namun suaranya penuh penekanan yang agung. "Matahari mungkin menyinari seluruh bumi, tetapi ia hanya memberikan seluruh hangatnya pada bumi yang ia tuju. Di dunia ini, ada banyak orang yang mengagumiku, tapi hanya kepadamu aku menyerahkan hatiku yang paling rapuh. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Air mata yang jarang sekali keluar, menetes di pipi Gibran. Ia menarik Aurora ke dalam pelukannya. Sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, jiwanya akan ikut melayang. Di dalam pelukan itu, air dan api tidak saling mematikan, melainkan melebur menjadi uap yang menghangatkan malam yang dingin.
Rumah di Antara Rasi Bintang
Tahun-tahun berlalu, dan ramalan zodiak yang mengatakan mereka tidak cocok menjadi sebuah lelucon yang sering mereka tertawakan di meja makan. Mereka belajar bahwa hubungan yang mendalam tidak dibangun dari kesamaan, melainkan dari keberanian untuk saling menerima ruang-ruang gelap di diri masing-masing.
Kini, mereka tinggal di sebuah rumah kecil dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke arah timur. Rumah itu merepresentasikan mereka dengan sempurna: penuh dengan tanaman hijau yang dirawat Gibran dengan ketelatenan airnya, dan dipenuhi cahaya matahari serta pernak-pernik estetik berwarna emas pilihan Aurora.
Pada suatu malam perayaan hari jadi mereka yang kelima, Gibran mengajak Aurora ke atap rumah. Ia telah menyiapkan sebuah teleskop kecil dan dua cangkir cokelat hangat. Langit malam itu sangat bersih, bertabur jutaan berlian mini yang berkilauan.
"Lihat ke sana," kata Gibran, mengarahkan teleskop ke satu titik di langit utara.
Aurora menempelkan matanya pada lensa. Di sana, ia melihat rasi bintang Leo yang gagah. Kemudian Gibran menggeser sedikit lensa tersebut ke arah selatan, memperlihatkan rasi bintang Scorpio yang anggun dengan bintang Antares yang kemerahan di jantungnya.
"Mereka berjauhan di langit, Ra," ucap Gibran, memeluk Aurora dari belakang, menumpu dagunya di bahu wanita itu. "Secara astronomi dan astrologi, mereka jarang bertemu di titik yang sama."
Aurora berbalik, mengalungkan tangannya di leher Gibran. "Lalu?"
Gibran tersenyum sebuah senyuman tulus yang hanya diciptakan khusus untuk Aurora. "Lalu aku sadar, kita telah mematahkan hukum langit. Kita membawa dua rasi bintang yang berbeda itu turun ke bumi, dan menjadikannya sebuah rumah."
Aurora tersenyum lebar, matanya berbinar lebih terang daripada bintang Antares di atas sana. Ia mengecup bibir Gibran perlahan, sebuah kecupan yang membawa seluruh kehangatan musim panas ke dalam dinginnya malam November.
Di bawah saksi bisu semesta yang mahaluas, mereka tahu bahwa cinta mereka telah melampaui apa yang tertulis di bintang-bintang. Mereka tidak perlu menjadi sama untuk bersatu. Karena pada akhirnya, Scorpio-nya yang sedalam samudera telah menemukan Leo-nya yang sehangat mentari, dan di antara perbedaan rasi bintang itu, mereka menemukan keabadian yang paling estetis.
Ezra Jo