Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
Di Antara Luka Kehilangan
0
Suka
67
Dibaca

Jalanan kota Jakarta sangat padat saat diguyur hujan deras. Sahut-sahutan klakson kendaraan membuat Syauqi muncul ke permukaan setelah sangat lama tenggelam dalam duka yang mendalam. Perasaannya berkecamuk antara luka kehilangan yang masih terus merengkuh jiwanya dan kepanikan yang semakin merajai dirinya karena keretanya akan segera berangkat dalam waktu tiga puluh menit lagi. Bulir air sisa hujan yang baru saja reda menetes satu per satu di jendela taksi, memancing air mata Syauqi kembali berlinang. Hatinya sungguh lebih lembut daripada dandelion yang kapan saja bisa terbang tertiup angin.

Dua puluh menit berlalu. Taksi yang mengantarkan Syauqi dari bandara akhirnya sampai di stasiun. Dia segera keluar dari pintu belakang dan menurunkan kopernya dari bagasi.

“Terima kasih banyak, Pak.” Katanya tergesa-gesa mengabaikan luka-luka dalam hatinya.

“Sama-sama, mas.” Kata sopir taksi yang tak banyak bicara karena takut menyakiti perasaan Syauqi sejak tadi.

Syauqi berlari menuju peron lima setelah melakukan pengecekan tiket di loket. Dia segera masuk ke gerbong ketiga kereta yang sudah siap diberangkatkan. Tak ada suasana yang membuat hatinya nyaman kecuali ingin segera sampai di rumah. Dia bahkan mengabaikan telepon dan pesan dari kakaknya sejak sampai di Indonesia tiga jam yang lalu karena tak ingin suasana perjalanannya menjadi lebih buruk.

Nomor kursinya 6A sudah diduduki oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya wanita tersebut sudah berada di dalam kereta cukup lama, jika dilihat dari posisi duduknya yang melipat kaki kanan di bawah kaki kirinya, menyandarkan kepala ke dinding gerbong kereta, dan menutup kepalanya dengan syal berwarna biru garis-garis putih, sudah siap melakukan perjalanan panjang. Syauqi meletakkan kopernya di bagasi atas, disusul dengan tas ransel, mengambil ponsel dari dalam saku tas, pengisi daya, botol minum, dan headset. Dia pikir kegaduhannya akan membangunkan wanita yang mengambil kursinya tersebut. Ternyata tidak sama sekali. Syauqi mencoba sekali lagi menarik tasnya dan mengambil buku yang sedang dia baca selama perjalanan, namun sama saja. Wanita itu bergeming dalam posisi duduknya yang sudah sangat nyaman dan mengabaikan apa yang terjadi di sebelahnya.

Syauqi menyerah. Akhirnya dia duduk di kursi 6B. Tapi hatinya terus gelisah karena dia sengaja memilih kursi dekat jendela agar bisa meratap sepanjang jalan menuju pulang. Terlebih lagi, hujan akan menenggelamkannya jauh ke dalam isi kepala yang sedang tidak baik-baik saja.

“Permisi, Bu. Maaf, ini kursi saya.” Akhirnya dia tak bisa tinggal diam.

“Permisi, Bu. Maaf.” Syauqi mengulang membangunkan wanita itu karena tak ada tanggapan.

“Permisi, Bu. Maaf, ini kursi saya.” Yang ketiga kalinya, Syauqi menggoyangkan kaki wanita itu dengan lembut. Dia berusaha meluruhkan keresahan hatinya. “Kursi itu milik saya.” Katanya dalam hati.

“Oh iya, ada apa ya?” Wanita itu terbangun dan kaget. Dia membuka syal sambil menegapkan tubuhnya.

“Maaf, Bu. Nomor kursi saya 6A.” Kata Syauqi merasa tidak enak karena telah membangunkan seseorang yang lebih tua darinya.

“Oh, iya, kamu duduk di situ saja ya. Itu juga kursi saya. 6B” Wanita itu tak acuh mengabaikan Syauqi dan kembali pada posisi nyaman sebelumnya. Syauqi menyerah sekali lagi. Akhirnya dia kembali duduk di kursi 6B. Hatinya masih gelisah. Dia berdiri lagi dan mencari sesuatu di tasnya yang bisa dia gunakan untuk menutup wajahnya. Syauqi ingin menangis tanpa diketahui siapa pun. Termasuk wanita menyebalkan yang duduk di kursinya.

Sudah hampir satu jam sejak pekikan suara kereta menandai keberangkatan. Kereta berhenti lagi di stasiun lain untuk menaikkan penumpang. Suasana kembali riuh membuat Syauqi membuka jaket yang menutupi kepalanya. Begitu juga dengan wanita yang duduk di sebelahnya.

“Sampai mana ini?” Tanya wanita itu dalam keadaan setengah sadar.

“Ha? Oh, kurang tahu juga, Bu.” Jawab Syauqi kebingungan. Dia juga ingin memastikan di mana kereta berhenti, namun saat melihat ke arah jendela, kereta kembali mengaum dan pergi meninggalkan stasiun. Tak ingin melewatkan kesempatan, mata Syauqi melirik ke arah wajah wanita di sebelahnya. “Seumuran ibu kelihatannya.” Katanya dalam hati setelah menatap beberapa detik.

“Mbak, saya mau mi seduh dua ya.” Wanita itu tiba-tiba mengagetkan Syauqi lagi, memanggil petugas kereta api yang menawarkan makanan dan minuman.

“Baik, mau rasa apa ya, Bu?” Kata petugas kereta api dengan nada lembut.

“Yang biasa aja. Itu yang bungkusnya berwarna pink.” Kata wanita itu menunjuk tumpukan mi seduh di dalam rak dorong.

“Untuk kakaknya, mau rasa apa?” Petugas kereta api kembali bertanya. Syauqi terkejut berkali-kali. “Maaf, bukan saya.” Jawabnya seadanya.

“Samain, aja, mbak.” Kata wanita itu sambil melempar senyuman yang dibuat-buat. Transaksi jual beli terjadi di hadapan Syauqi. Wanita itu mengambil kedua mi seduh dan meletakkannya di jendela.

“Ini buat kamu. Kayaknya sudah matang.” Kata wanita itu memberikan mi seduh untuk Syauqi setelah tujuh menit. Syauqi berkali-kali dikagetkan dan enggan mengambil mi tersebut.

“Nih, ambil. Anggap saja sebagai tukar tambah kursi.” Wanita itu menyodorkan mi seduh tepat di depan wajah Syauqi. Dengan mata sembab tanpa riasan wajah, dia memberikan senyuman yang lain untuk Syauqi. Senyuman yang lebih tulus.

“Oh... Baik...” Syauqi tak bisa menolak. Dengan terpaksa, dia mengambil mi seduh dari tangan wanita itu.

“Ayo makan. Kalau kematengan jadi nggak enak.” Wanita itu mengangkat mi miliknya. “Iya. Bu,” dengan penuh tekanan, Syauqi membuka tutup wadah mi, mengaduk menggunakan garpu, dan memulainya dengan meminum kuahnya lebih dulu seperti biasanya.

“Saya Maria. Maaf ya, tadi nggak ada diskusi dulu buat nuker kursi. Soalnya saya tunggu-tunggu kok nggak datang-datang. Jadi, saya pikir kursi ini kosong.” Kata wanita itu mengenalkan dirinya kepada Syauqi dan menjelaskan alasan kenapa dia duduk di kursi Syauqi.

“Ini, kamu mau pindah ke sini?” Kata Maria, dia merasa iba kepada Syauqi. Teringat anaknya yang terlihat sebaya dengan Syauqi.

“Nggak usah, Bu. Di sini juga nyaman.” Jawab Syauqi tak ingin banyak bicara.

“Ya sudah, habiskan mi-nya, ya. Jangan buang-buang makanan, nggak baik.” Kata Maria, Maria terlihat sangat mengenal Syauqi dengan baik. “Iya.” Jawab Syauqi bingung dengan sikap Maria.

Setelah menghabiskan mi seduh, Syauqi kembali menutup wajahnya dengan jaket. Perutnya kenyang, namun hal itu tak bisa mengobati rasa gelisahnya. Dia memiringkan badannya ke kanan, lalu ke kiri. Kembali ke depan, menaikkan satu kaki, menurunkannya lagi. Rasanya tak ada tempat di dunia ini yang bisa membuat Syauqi beristirahat dengan tenang. Dia kembali membuka jaketnya, merasa kesal dengan situasi dan keadaannya saat ini.

“Kenapa, Nak? Gelisah banget kelihatannya.” Maria mulai pembicaraannya lagi.

“Oh, nggak apa-apa, Bu.” Syauqi merasa terganggu oleh orang asing. Dia semakin menunjukkan kepribadiannya yang tertutup di depan Maria.

“Mau pesan kopi?” Maria bertanya lagi. “Oh iya. Nama kamu siapa, nak?”

“Nggak usah, Bu. Saya Syauqi.” Jawabnya singkat, tak ingin menimbulkan pertanyaan lain dari Maria.

“Kamu turun di mana? Syakui,” Maria gelisah. Dia tak suka dengan rasa kesepian yang dia tahan sejak awal keberangkatan.

“Surabaya, Bu. Nama saya Syauqi, Bu.” Tapi Syauqi juga tak suka dengan dialog-dialog yang Maria buat. Apalagi, Maria selalu salah mengeja namanya.

“Sama dong! Saya juga turun di Surabaya. Kamu lagi dalam perjalanan dinas? Atau pulang? Atau main?” Pertanyaan Maria yang semakin panjang membuat Syauqi semakin gelisah.

“Saya mau pulang ke rumah, Bu.” Jawab Syauqi singkat. “Maaf ya, Bu. Saya ngantuk. Saya istirahat dulu.” Syauqi menunjukkan penolakan untuk berbincang dengan Maria dengan menutup kembali wajahnya dengan jaket.

“Oh iya, silakan.” Kata Maria, kecewa. Dia berharap Syauqi bisa menjadi teman yang beberapa waktu bisa membuatnya lupa akan luka-luka karena kehilangan yang sedang dia rasakan.

Deru mesin kereta api terus melaju mengantarkan Syauqi, Maria, dan para penumpang kereta menuju tujuan masing-masing. Lima belas jam tersisa untuk sampai di stasiun terakhir. Maria gelisah karena rasa kantuknya hilang. Matanya dia paksakan untuk terpejam berkali-kali, namun pikirannya selalu menolak. Begitu juga dengan Syauqi yang sebenarnya sedang bersembunyi di balik jaketnya. Dia tak pernah tidur sama sekali. Syauqi hanya sedang melarikan diri dari Maria yang tak berhenti bicara.

“Mbak, kopi Aceh dua ya. Satu tanpa gula, satu gulanya sedikit saja.” Kata Maria kembali memberhentikan petugas kereta yang membawa rak dorong berisi makanan dan minuman.

“Syakui, ini buat kamu satu.” Kata Maria setelah menerima kopi dari petugas, menyenggol Syauqi dengan siku tangannya dan juga salah menyebut nama Syauqi sekali lagi. Syauqi bergeming dalam persembunyiannya.

“Udah nggak usah pura-pura. Ini ngopi bareng. Dasar anak-anak.” Maria mengulang menyenggol Syauqi dengan siku tangan.

“Nama saya Syauqi, Bu. Bukan Syakui.” Kata Syauqi, kesal sambil membuka jaket dari wajahnya. Maria tertawa terbahak untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

“Ini ambil. Panas lho... Tangan saya.” Kata Maria sambil mengerem tawanya.

Syauqi dan Maria sama-sama memegang kopi di tangannya. Meniup dan menyeruput pelan-pelan dengan harapan kopi yang panas bisa mendinginkan kepala.

“Kenapa matamu sembab, Nak?” Tanya Maria mulai dengan nada serius. “Kamu habis nangis? Nangis kenapa?” Maria melanjutkan seakan telah mengetahui apa yang terjadi dengan Syauqi.

“Enggak. Bu.” Saya cuma kelelahan.” Syauqi menjawab, menyembunyikan perasaannya.

“Naluri seorang ibu tak pernah salah. Kamu menangis berhari-hari.” Maria merasa pilu teringat anak-anaknya.

“Saya kelelahan karena perjalanan jauh. Barang-barang saya berat dan beberapa kali transit di bandara dan stasiun.” Syauqi berbohong. Dia tak ingin menunjukkan betapa rapuh dirinya kepada Maria.

“Anak bungsu saya meninggal tiga bulan yang lalu karena serangan jantung. Padahal pola hidupnya sangat sehat dan dia nggak pernah merokok dan nggak pernah macem-macem. Dia anak yang ceria dan aktif dalam kegiatan olahraga dan sosial.” Tiba-tiba Maria menceritakan sesuatu yang terus melukainya dan tak akan pernah sembuh. Dia tak ingin basa-basi lagi. Maria butuh tempat cerita yang asing. Dia tahu suami dan anak sulungnya juga terluka dan berduka. Maka dari itu, di dalam keluarganya, dia yang bertugas menguatkan meski dia sendiri butuh seseorang sebagai penguat hatinya.

“Namanya Ethan. Dia baru saja menyelesaikan sidang skripsinya sebelum tiba-tiba drop dan meninggal. Kejadiannya sangat cepat tanpa aba-aba. Wisudanya baru akan digelar bulan depan di Jakarta. Rasanya, saya nggak bisa hidup lagi… Saya nggak bisa membayangkan berada di acara wisuda anak saya tanpa kehadiran dia.” Tatapan Maria kosong. Air matanya berderai lagi dan lagi. Mata Syauqi berkaca-kaca, namun dia enggan menyekanya karena tak ingin Maria melihat dirinya yang juga sedang hancur. Dia bukan satu-satunya orang yang sedang berduka. Bahkan takdir memberinya kawan berduka dalam perjalanan pulangnya.

“Anak saya dua. Kakak Ethan bekerja di Banjarmasin dan sudah tinggal bersama suaminya. Di rumah, Ethan adalah udara untuk saya dan suami saya bernapas. Dia bagai pohon yang menghasilkan oksigen untuk kita hirup setiap hari. Sekarang dunia ini terasa sangat sesak.” Maria melanjutkan dan berkali-kali mengusap air matanya yang tak berhenti berderai dengan syal.

“Ibu tinggal di mana?” Syauqi tak bisa menahan diri. Dia merasa kasihan kepada Maria seperti dia mengasihani dirinya sendiri.

“Saya orang Riau. Kami pindah dan tinggal di Jakarta sejak anak pertama saya masih kecil. Saya sangat mencintai kedua anak saya melebihi dunia dan seisinya. Tapi Tuhan Yesus mengambil anak bungsu saya begitu cepat.” Maria tersedu menjadi-jadi. Terisak, menahan suara tangisnya.

“Apakah ada seorang ibu yang tidak mencintai anaknya?” Kata Syauqi dalam hati. Dia takut salah bicara dan melukai Maria yang memang sudah terluka sama sepertinya.

“Lalu, ke Surabaya... Apakah ada keperluan bisnis atau...?” Dengan hati-hati, Syauqi menanyakan rasa penasarannya satu per satu. Rasa kesalnya terhadap Maria perlahan hilang.

“Saya pergi liburan. Saya mau ke Malang sebenarnya, tapi sengaja ke Surabaya dulu. Entah saya harus pergi ke mana agar hati saya sembuh. Jadi, saya pergi ke mana-mana,” jawab Maria sedikit lebih tenang. “Kamu sendiri, dari mana kamu pergi sampai lelahnya membuat matamu sembab?” Maria membuat dialog dua arah dengan Syauqi.

“Saya kerja di luar negeri Bu. Ibu saya baru saja meninggal tujuh hari yang lalu dan saya baru bisa pulang sekarang. Saya tak bisa menemani ibu saya di saat-saat terakhir dalam hidupnya.” Lukanya muncul, meremas jantung Syauqi begitu saja. Air matanya berlinang. Dia tak ingin kalah terluka dengan Maria.

“Ya Tuhan. Maafkan, Ibu, ya, Nak.” Maria menyesal duduk di kursi Syauqi. Dia sangat paham sekarang bahwa Syauqi butuh jendela ini untuk mengurai duka-dukanya dalam perjalanan.

“Tidak apa-apa, Bu. Minta maaf, tidak akan menghidupkan ibu saya. Jadi jangan meminta maaf.” Syauqi menggertak, namun tetap terlihat putus asa.

“Kamu masih muda, Syakui. Masa depanmu masih panjang. Ibumu pasti sangat bangga.” Maria meredam luka-luka dengan luka yang lain. Tak ada yang bisa memengaruhi perasaan duka karena kehilangan selain kematian.

“Untuk apa hidup jika ibuku tak ada? Ibu yang menyuruhku meraih mimpi setinggi-tingginya pergi. Untuk apa mimpi diraih jika harus dirasakan sendiri?” Syauqi menampakkan kehancurannya. Air mata Maria membanjiri pipinya. Hatinya tertusuk-tusuk oleh ucapan Syauqi. Mulutnya tak sanggup lagi berucap. Dia meratap sangat menderita sekarang. Suara tangisannya terdengar mengenaskan. Syauqi tak kalah terpuruknya daripada Maria. Sayatan duka di hatinya kembali teriris. Napasnya sesak menahan rasa sakit yang tak bisa dia sembuhkan.

Beberapa menit suasana kembali hening. Tak seharusnya mereka saling melempar duka. “Saya minta maaf, Nak. Sungguh ampuni saya. Ampuni saya Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa memberimu hati yang lapang, ketabahan, dan kebahagiaan.” Maria meratap kepada Syauqi. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah perasaan menyakitkan untuk Syauqi.

“Siapa yang lebih menderita di antara kita, Bu? Seorang yang ditinggalkan anak, atau seorang yang ditinggalkan ibunya?” Syauqi membandingkan duka siapa yang lebih berat. Di antara kursi 6A dan 6B, ada luka kehilangan yang tak akan pernah sembuh kecuali dengan kematian itu sendiri. Di antara luka kehilangan, ada rindu-rindu yang setiap waktu mencabik-cabik hati, menyakiti jiwa mereka.

“Tidak ada yang bisa dibandingkan, Nak. Seorang ibu menunggu anaknya lahir dengan kecemasan. Melihat anaknya lahir, dia merasa bahagia hingga dia rela memberikan seluruh hidupnya agar anaknya bisa hidup dengan baik. Doa-doanya tak lagi tentang dirinya. Tapi tentang keselamatan anaknya. Seorang ibu tak pernah lagi punya mimpi selain mimpi anaknya. Anak adalah segalanya untuk ibu. Lebih dari dunia dan seisinya. Lebih dari dirinya sendiri.” Maria kembali meratap. Matanya semakin sembab karena air mata tak pernah berhenti berlinang. Suaranya merintih, seakan rasa sakit menjalar ke sekujur tubuhnya.

“Anak tak pernah meminta dilahirkan. Tapi saat pertama kali membuka mata, dia melihat wajah ibunya. Wajah ibunya menjadi kekuatan untuk tumbuh. Ibuku mengurusku lebih banyak daripada Bapak, karena Bapak sering pergi ke luar kota. Di rumah, ibu selalu memasak hatinya hingga habis agar aku besar hati saat tumbuh dewasa. Aku mendengarnya mengucapkan syukur setiap malam karena dia telah melahirkanku dan kakak. Aku melihatnya meratap dan menangis kepada Allah untuk keselamatan hidupku. Aku menyaksikan dia memberikan seluruh hidupnya untukku, lalu dia pergi begitu saja. Lalu untuk apa semua ini?” Syauqi telah memuntahkan luka-lukanya yang dia simpan sejak tujuh hari yang lalu.

“Semua yang dia lakukan adalah agar kau bisa menjalani hidup dengan baik, nak. Untuk masa depanmu.” Maria mencoba menenangkan Syauqi, meski dia tahu tak ada kalimat apa pun yang bisa menenangkan seseorang yang hidup dalam kedukaan.

“Dulu saat aku diterima kerja di tempat impianku, ibu memaksaku untuk tetap pergi meski dia sedang sakit. Dia bilang jangan khawatir dengan keadaannya. Dia akan sembuh jika aku bahagia. Dia bilang, mati tak harus menunggu sakit, tak harus menunggu tua, tak harus ada di rumah sakit, tak harus berada di atas ranjang. Dia selalu mendorongku agar aku mencapai semua mimpi-mimpiku, tapi dia meninggalkanku begitu saja. Bukankah seharusnya dia bertahan setidaknya sampai aku pulang dan membawa sesuatu yang berharga ke rumah?” Syauqi mengatakan semua yang dia rasakan. Semua yang ingin dia katakan kepada ibunya. Dia ingin menyelesaikannya malam ini juga sebelum dia sampai di rumah.

“Nak, minumlah…” Maria memberikan botol air minum kepada Syauqi setelah membukakan tutupnya. Syauqi yang sudah kewalahan menghadapi dirinya sendiri pun mengambil botol dari tangan Maria dan meminumnya.

“Maaf, Bu. Aku tidak bermaksud menggurui.” Kata Syauqi lebih tenang.

“Sini, nak.” Maria meraih kepala Syauqi dan memeluknya dengan air mata yang tak pernah berhenti berderai. Keduanya meratap, saling menguatkan meski tak bisa menyembuhkan luka-lukanya. Meski tak bisa menghilangkan rasa dukanya. Syauqi tersedu dalam pelukan Maria. Seandainya itu adalah pelukaan ibunya. Seandainya dunia ini adil bagi mereka.

Suara tangisan mereda. Deru mesin kereta lebih terdengar bising sekarang. Syauqi terlelap di pundak Maria. Maria menjatuhkan kepalanya di atas kepala Syauqi dan juga terlelap. Setidaknya, untuk sementara, kehadiran Maria bisa menjadi pelipur lara bagi Syauqi. Dan kehadiran Syauqi bisa menjadi obat rindu untuk Maria. Keduanya telah menumpahkan segala luka-luka dalam hati yang mereka bawa dalam duka. Keduanya asing, namun terasa begitu dekat karena memiliki perasaan yang sama. Di antara luka kehilangan yang mereka alami, tak ada yang bisa mengukur mana yang lebih dalam.

Kereta melaju melewati lorong malam yang pekat. Lampu-lampu di gerbong meredup. Stasiun demi stasiun dilewatkan begitu saja oleh Syauqi dan Maria yang lelap dalam mimpi-mimpi. Tiba-tiba, pemberitahuan dari pengeras suara membangunkan Syauqi dan Maria. Keduanya saling menatap dan tersenyum setelah beberapa detik mencerna.

“Kamu yang semangat ya, nak. Ibumu pasti sangat bangga punya anak yang sangat menyayanginya.” Suara Maria terdengar lebih tenang.

“Iya, Bu. Ibu juga harus semangat. Ibu punya anak yang lain yang masih ingin melihat ibu bahagia.” Syauqi sudah melunak. Hatinya lebih tenang meski rasa sakit masih bersemayam dalam tubuhnya.

Suara kereta kembali mengaum panjang. Tujuan akhir dari perjalanan ini telah sampai. Semua penumpang riuh mengambil barang-barang dan bersiap-siap untuk turun. Setelah keluar dari kereta, Syauqi menoleh ke belakang menunggu Maria keluar untuk berpamitan sekali lagi. Namun, Maria tidak keluar dari pintu yang sama dengan Syauqi. Maria tak ingin menangis lagi. Dia memakai syalnya untuk menutupi rambut, memakai kacamata hitam, dan pergi setelah menatap Syauqi dari jauh. “Semoga anak itu selalu dilimpahkan kasih sayang. Semoga selalu beruntung.” Maria mendoakan Syauqi dari kejauhan. Syauqi juga meninggalkan peron setelah semua penumpang kereta turun. Dia tak bisa menemukan Maria lagi di mana pun.

Keduanya bagai malaikat yang diutus untuk saling menenangkan dan tiba-tiba hilang. Langkah Syauqi sangat berat menuju rumah yang tak ada ibunya lagi di dalamnya. Sementara Maria memasang senyuman palsu untuk bertemu teman-teman perjalanannya yang lain. Tak ada yang istimewa. Hanya saja, berusahalah agar orang lain merasa beruntung saat bertemu denganmu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
Di Antara Luka Kehilangan
Mochamad Rozikin
Novel
Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan
Ezra Jo
Novel
Adi Karsa
E. Karto
Novel
Bronze
JANDA & THE TABLE
glowedy
Flash
Bapak Rumahan
Hans Wysiwyg
Flash
Sebuah pencarian untuk kembali
Asep Saepuloh
Flash
Langkah Kecil, Perubahan Besar
Penulis N
Novel
Setelah Diam Ada Langkah Baru
Asep Saepuloh
Cerpen
Tombol Setuju
Desto Prastowo
Novel
Bronze
AKU TAK PERNAH MEMBENCI DIRIMU
Muhammad Abdul Wadud
Novel
Bronze
Yang Terpilih
Kemala88
Flash
Bronze
Sisa Diriku di Cermin
Skyynna Fleurvynn
Cerpen
Hari Ini Aku Datang Lebih Awal
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
Dika & Sang Pengubah Takdir
Shinta Larasati Hardjono
Flash
Bronze
Setangkai Bunga Sedap Malam yang Tak Berbau Sedap
Silvarani
Rekomendasi
Cerpen
Di Antara Luka Kehilangan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Surat Yang Tak Pernah Selesai Ditulis
Mochamad Rozikin
Novel
Juli Selepas Senja
Mochamad Rozikin
Novel
THE WAY HOME
Mochamad Rozikin
Cerpen
Luka-luka Yang Disembuhkan Dari Perjalanan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kau Tinggalkan Saat Pergi
Mochamad Rozikin
Novel
Biru
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kubawa ke Mandalika
Mochamad Rozikin
Cerpen
Yang Kutinggalkan di Mengwi
Mochamad Rozikin
Cerpen
Rangkaian Duka Cita
Mochamad Rozikin
Cerpen
Tumbuh dari Patahan
Mochamad Rozikin
Cerpen
Perayaan Paling Sunyi
Mochamad Rozikin