Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Denting Logistik
I
Aku tak tahu siapa yang pertama kali menggagas kerja harian sebagai bentuk kebebasan. Barangkali seorang cendekiawan yang hidupnya tak pernah berurusan dengan daftar hadir. Atau barangkali seorang pemilik modal yang menemukan siasat untuk membayar sesedikit mungkin, selama mungkin. Yang jelas, dalam dunia kerja hari ini, fleksibilitas, merupakan kata lain dari penghilangan tanggung jawab. Dan buruh-lah yang saban hari menanggung definisi kabur itu, dengan dada tertunduk, dan mata yang tak berani menatap jauh.
Tapi tak ada waktu mengeluh soal konsep. Yang ada hanya tubuh yang mesti terus bergerak supaya tidak tersingkir. Di jalanan, ide besar terganti urusan perut. Aku kembali berdiri di bawah terang.
Sore hari. Udara Jakarta bukan main gerahnya. Matahari menyengat, sinarnya menyelimuti di tiap permukaan kendaraan. Aspal mengembuskan panas yang menempel hampir sepanjang hari. Semilir lewat, membawa aroma besi dan sisa pembakaran. Tak ada pohon. Tak ada tempat duduk.
Aku berdiri di lahan parkir pusat distribusi. Truk-truk ekspedisi mesinnya dibiarkan menyala. Dari balik deru, samar terdengar teriakan pendek, kasar. Dua orang agaknya, cepat ditelan truk yang melintas barusan.
Seorang lelaki lewat seraya menyulut rokok. Asapnya mampir. Tatapannya tajam dan kepalanya mengangguk. Aku membalas. Tak ada ucapan. Dalam dunia yang ditentukan slip gaji dan data kinerja, komunikasi seringnya berupa embusan asap maupun tindakan-tindakan kecil lainnya. Kurasa cukup. Aku tetap bersandar di motor. Memandang truk, memandang para pekerja. Sebagian sibuk, beberapa seperti lelaki tadi, beramah tamah sekadarnya sambil melintas lalu.
Dari grup Telegram, seorang pengguna bagikan info: lowongan harian lepas di perusahaan ekspedisi! Aku lamar tanpa pikir panjang. Posisi: sortir paket.
Aku datang mengenakan celana chino khaki, dipasangkan kemeja putih lengan pendek, dan sneakers Puma berwarna serupa. Demi menghalau terik kugunakan sweeter merah maroon. Masih bersandar pada motor. Pandanganku menyapu pelan, mencari petunjuk
Kepada siapa aku mengajukan tanya?
Informasi lowongannya samar. Setelah isi Google Respons, pihak penebar tautan menghilang. Pesan pun tak dibalas. Awalnya kupikir ini loker omong kosong; bukan rekrutmen betulan, sekadar mengumpulkan data supaya jadi basis data. Sekiranya nanti, jika terdapat posisi kosong, baru disortir dari kumpulan data itu, biasanya kandidat akan dikabarkan berbulan-bulan setelahnya.
Sialnya, pencaker tidak pernah tahu kebenarannya. Satu-satunya yang dipunya mencoba kesempatan, pihak perusahaan sebagai pemegang kendali atas kebenaran informasi. Selalu ada lowongan palsu di antara yang asli. Adalah wajar cari kerja dianggap proses melelahkan: memakan waktu, uang, tenaga, membebani pikiran dan perasaan, serta ada potensi semua hanyalah kebohongan.
Sedih.
Sudah pengangguran bisa tertipu habis-habisan.
Rupanya ini lowongan betulan. Lima hari selepas melamar, aku dikabarkan supaya datang sore ini ke lokasi supaya segera kerja. Begitu katanya. Tapi kepada siapa aku harus menghadap? Sampai datang pun, kejelasan belum kudapat.
Kulepas sweeter merah maroon, menentengnya sambil menyeka keringat di kening. Kemeja putihku basah. Tak ada petunjuk jelas, kuanggap setiap orang berpotensi punya jawaban.
“Maaf.” Kuhentikan seseorang. Anomali melihat etnis Tionghoa berkeliaran di sini. Pekerja kerah biru: berkaus putih oblong, celana pendek, sandal jepit dilengkapi kaus kaki. Chitato–China tanpa toko kah dia? Namun dia berpotensi punya informasi yang kuperlukan. “Mau tanya lowongan sortir paket. Koko tahu?”
Aku menunjukkan iklan lowongan kerja dari Telegram, juga kukatakan proses yang sudah kulalui. Ia menyimak sekilas, menimbang-nimbang sebentar sebelum telunjuknya membimbing ke lelaki bertopi. “Ke sana, Mas.”
Ia minggat sebelum aku mengucap terima kasih.
Jalan aspal yang retak mengarah ke luar area parkir motor. Di kanan, pagar berlapis kayu berdiri tinggi, catnya pudar, penuh lumpur kering dan coretan spidol. Di kiri, kontainer kosong ditumpuk. Aku terus berjalan. Suara sepatu menyeret pelat logam. Setiap knalpot berderu parau, udara terasa pengap.
Mataku tertarik ke bengkel truk dekat bangunan pusat distribusi. Sebuah truk setengah terbongkar terparkir. Beberapa montir duduk di atas ban. Mulut mereka mengepulkan asap rokok. Dari dalam bengkel, lampu-lampu neon menyala redup, berpendar kuning keputihan, bergoyang pelan di langit-langit seng. Ada musik DJ dari speaker kecil di pojok: ritme cepat bising tak keruan. Beberapa montir mengobrol. Sesekali dentangan besi menyela, disusul obeng jatuh ke lantai. Tak ada yang menoleh.
Aku diam agak lama, memperhatikan kejauhan. Bagi pengangguran, tempat kerja selalu menarik perhatian. Mereka sudah jadi bagian dari sesuatu yang nyata. Tempat kerja berantakan juga berisik, dapat ditoleransi, karena ada arah. Bekerja. Itu poinnya. Sementara pengangguran, nasibnya belum tentu; menunggu kapan disuruh angkat barang, bersihkan gudang, sortir paket, keluarkan, masukkan lagi, tergantung di mana dapat kerja dan posisinya.
Sungguh wajar pengangguran iri soal kepastian nasib. Bayangkan montir-montir itu, ada alat yang bisa dipegang, ada baut yang bisa dikencangkan. Tapi menjalani nasib sebagai tunakarya? Terasa bagai baut sisa. Belum tahu mesti dipasang di mana.
Di depanku kini berdiri gedung pusat distribusi. Proses bongkar-muat paket berlangsung di pelataran depan. Lampu jalan menyala, menebar cahaya putih ke sekitar. Para pekerja hilir-mudik. Semua tahu yang harus dilakukan. Orang-orang giliran siang, kurasa.
Derak troli logam terdengar sepanjang lorong sempit antar kontainer. Tim inbound dan outbound bekerja saling susul. Dorong satu troli, lalu di dalam gedung, tahapan selanjutnya berlangsung: bongkar dus, sobek plastik pembungkus, tarik barang keluar, tandai, terus ke paket berikutnya.
Aku berdehem pelan. Langkahku mendekati sosok yang dimaksud pria Tionghoa tadi. Ia berdiri, sedikit membungkuk. Topi lusuh menutupi sebagian wajahnya. Satu tangan menggenggam berkas absen, yang lain menulis. Nyamuk-nyamuk wara-wiri tak mau berhenti, sepasang sayapnya mendengung konstan. Sekali tepuk, seekor mati sekejap, menyisakan setitik merah di kertas. Ia tidak mengangkat kepala. Tulisannya terus berjalan.
“Maaf, Pak,” aku membuka pembicaraan. Ia bergeming. Aku menunggu kata-kata yang keluar dari mulutnya, rupanya tidak ada. Ingin menatap mukanya, sia-sia; nyaris seluruh mukanya tersembunyi di bawah topi. Sebaiknya aku tak perlu basa-basi lagi.
“Saya Agus. Saya dapat info dari grup Telegram, di sini butuh pekerja sortir paket. Saya mau melanjutkan lamaran.”
Aku merogoh tas, mengeluarkan berkas lamaran. Biasanya, untuk pekerja harian seperti ini, berkas tak diperlukan. Aku tetap membawanya, sekadar berjaga-jaga.
“Mungkin Bapak butuh melihat berkas lamaran saya,” kubuka amplop cokelat, mengeluarkan isinya, berharap ada respon. Seekor nyamuk hinggap di cuping telinganya, tangannya mengusir pengganggu bersayap itu.
Barulah ia menanggapi tanpa menatapku, “tidak ada posisi yang bisa ditawarkan,” sahutnya. “Tadi ada dua orang yang datang. Jawabanku tetap sama: tidak ada lowongan.”
Loh, kok infonya beda? “Tapi saya dapat info—”
“Amir!” Ia tiba-tiba berteriak. Jantungku berdebar. “Hei, Amir! Mana kau! Ke mari!”
Seseorang tergopoh-gopoh menghampiri. Pria kurus, pakaiannya lusuh. Usianya kutaksir belum genap dua puluh lima. Keringat menguar, keningku berkernyit.
“Ya, Pak,” jawabnya tergagap.
“Sudah saya bilang berulang kali jangan ceroboh bekerja! Ini lihat, catatan kinerjamu. Hitung berapa kali kau berbuat salah!” Mereka sibuk menatap lembaran kertas itu. Aku tetap di tempat, menunggu urusan mereka selesai.
“Awas sekali lagi kau sembrono! Besok jangan datang lagi! Aku bosan dititipi salam oleh pengawas!”
Bibirnya tetap terkatup menghadapi ancaman barusan.
“Sudah, sana! Bergabung sama yang lain! Dua jam lagi baru kerja!”
Amir pun pergi.
“Begini, Pak,” aku mencoba lagi. “Dari info yang saya dapat, saya tinggal ke sini.” Aku menunjukkan pesan dari ponselku dan dia memperhatikan isinya. “Saya berminat mengisi posisi lowong; sortir paket,” kutambah, “tadi pria Tionghoa bilang, saya mesti menemui Bapak.”
Ia menyerahkan ponselku, mengabaikan berkas lamaranku. “Itu kebiasaannya melempar pencari kerja ke saya. Padahal belum tentu butuh orang baru. Seperti yang saya bilang, tidak ada lowongan.”
Deru kencang knalpot menghentikan obrolan seketika. Asap hitam mengepul bersama hawa panas yang menyembur dari lubang knalpot.
Ia kembali menulis. Tak lama, tangannya mengibas, mengusir gerombolan nyamuk. Atau mengusirku?
“Kalau tidak ada, kenapa menayangkan loker?” tanyaku memancing.
“Kebiasaan, Mas,” seraya tersenyum. “Pekerja harian lepas datang dan pergi sesuka hati. Ini jenis pekerjaan fleksibel. Membuka lowongan sekadar cara termudah demi memastikan tenaga kerja selalu tersedia sesuai kebutuhan.”
Kulebarkan pandang, menyaksikan bangunan panjang membentang. Matahari semakin merendah, sinarnya melintang, membentuk garis-garis emas berisi debu-debu beterbangan. Setiap deret pintu dok menganga menghadap aspal. Beberapa menanti truk berikutnya, sebagian truk-truk pengangkut parkir di jalurnya.
Di sisi kananku, cahaya matahari terpantul dari atap, memaparkan silau sebelum terhalau awan-gemawan. Bayangan bangunan dan truk memanjang. Langit sudah dipulas jingga yang merambat dari barat. Sinarnya menerpa seluruh kontainer bercat merah, mengubah warnanya jadi tembaga tua. Udara berbau debu, oli, terpilin aspal hangus. Troli bergerak, palet bergeser, tim inbound dan outbound terus mengangkut karung demi karung paket. Gedung pusat distribusi rakus melahap setiap manusia berikut barang bawaannya. Aktivitas makin hidup seiring malam sebentar lagi turun: riuhnya kegiatan bongkar muatan, pekerja, orang-orang yang melintas, suara mesin teriring teriakan disertai pekikan.
Aku kembali menatapnya, pura-pura membersihkan tenggorokan. “Apa ada kesempatan lain hari?”
Ia tidak menggubrisku. Detik berganti menit. Dua manusia keras kepala saling tunggu. Aku pihak pertama yang tak tahan.
“Maaf mengganggu,” ucapku pelan-pelan. “Satu keterangan saja. Apa ada kesempatan lain hari? Saya tertarik mengisinya.”
Ia mendesah, “saya tidak tahu, Mas. Hari ini butuh sekian pekerja, lain waktu berbeda atau sama. Tergantung situasi. Saya tidak bisa kasih janji.” Ia menggaruk-garuk kepalanya. “Coba tengok situasi perekonomian. Banyak perusahaan melakukan layoff karena efisiensi. Jumlah angkatan kerja jadi banyak. Persaingan sangat intens. Telat ambil kesempatan, sama saja mendapat kekalahan.”
“Makanya saya tanya–”
Belum sempat omonganku selesai, ia buru-buru berkata, “pokoknya, Mas mesti lebih cepat dari yang lain. Kalau mau, datang setiap hari. Siapa tahu, besok misalkan, kami butuh orang baru.”
“Boleh minta kontak Bapak?”
“Soal itu, tidak perlu. Datang saja langsung.”
Datang saja langsung. Yang melempar lowongan di grup Telegram juga bilang begitu. Jangan-jangan orang ini yang menayangkan lowongan kerja?
Kami mengobrol sejenak. Obrolan ala manusia yang sukarela membuang waktu: ringan, penuh keluhan sambil tersenyum kecut. Pembicaraan terus berlanjut. Kami sempat berspekulasi: berapa banyak sebenarnya mereka yang diam-diam kelaparan sambil tetap bersikeras hidupnya baik-baik saja? Angka pastinya jelas tak ada. Tapi kami sepakat, bila rasa malu dicopot, jalanan bakal penuh pengemis. Ada parade jujur: “Kami lapar, tapi terlalu gengsi buat bilang.”
“Oh, sekarang zaman sudah canggih. Pengemisnya pindah ke dunia berawan elektronik,” komentarku, santai.
Maksudku? Ya, tinggal unggah foto sendu, caption penuh haru, lalu biarkan netizen menebak mana sedekah dan mana drama. Kadang malah ada yang lebih sukses dari pekerja kantoran. Cuma butuh koneksi … internet.
Ia setuju. “Kondisi hidup terus memburuk. Demi Tuhan, kadang kalau nekat, bisa berbuat apa pun, yang terburuk sekalipun untuk bertahan.”
“Boro-boro bantu kerabat. Menyelamatkan diri bisa jadi kelimpungan.”
“Kadang beli token listrik pun belum tentu bisa.”
Aku tersenyum pahit, “Saya pernah mengalami. Memalukan. Tak becus memenuhi kebutuhan dasar.”
“Makanya tadi saya bilang, kita bisa jahat ke orang lain. Asalkan bisa terus hidup, caranya bebas.”
Suara kami lenyap, digempur debuman berkarung-karung paket yang keluar-masuk dari kontainer. Pembicaraan terhenti sebentar sampai situasi sedikit tenang.
“Begini saja, Mas,” ia melanjutkan pembicaraan. “Kalau mau, coba cari kesempatan di pusat distribusi lain, atau coba tanyakan ke vendor lain. Mungkin mereka buka kesempatan.”
“Saya mengerti,” balasku. “Bisa beri info tentang vendor yang disarankan?”
Aku mengangguk setiap vendor yang disebut olehnya.
“Yang patut diingat,” lanjutnya, “biarpun status pegawai buruh harian lepas, gaji tidak turun tiap hari. Tergantung vendor. Ada yang baru dikasih per dua minggu, ada pula baru cair sebulan sekali.”
“Kalau perusahaan ini, bagaimana?”
“Dua minggu sekali.”
Aku pamit setelah mengucap terima kasih. Tak ada lagi yang bisa diperbuat. Kuhela napas panjang. Haruskah pulang? Besok mencoba lagi? Atau cukup sampai sini?
Dia minta duit.
Aku kembali ke parkiran motor, bersandar lagi. Entah lelah atau malas pulang, memikirkan hal ini bikin malam bertambah gelap, harfiah maupun batiniah. Ketika asyik melamun, aku kembali bertemu lelaki Tionghoa itu.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Apanya?” Aku balik bertanya.
“Dapat kerja?”
“Tidak ada lowongan katanya.”
“Kasih aku gocap.”
“Ha?”
“Kau mendengarnya. Gocap. Kau bakal dapat kerja.”
Aku diam. Lima puluh ribu? Segitu besaran suap biar masuk kerja di gudang ini? Aku tidak berniat pergi. Nada bicaranya mencegahku melangkah. Aku berlagak bodoh, “buat apa uang itu?”
“Tiga puluh lima ribu buat bayar rompi. Kau butuh buat kerja–”
“Sebentar,” aku menyela. “Kau bisa jamin aku dapat kerja?”
“Dengar dulu.”
Aku betulan penasaran. “Lanjut.”
“Sampai mana tadi? Oh, uang rompi, ya. Lalu sepuluh ribu buat dia, si pemegang absen.”
“Masih sisa lima ribu,” kataku.
“Itu jatahku karena membantumu. Bagaimana?”
Kupastikan sekali lagi, “benar, aku dapat kerja?”
“Berani jamin,” katanya yakin. “Omong-omong, pakaianmu tidak sesuai. Kubuat besok saja, ya?”
“Aku tahu kerja di gudang ekspedisi,” sahutku. “Di balik celana panjang, aku pakai celana pendek tanpa kantung. Aku juga bawa kaus oblong.”
Wajahnya lega. “Mau kerja malam ini berarti?”
“Ya.”
“Mana gocapnya?”
Aku ambil dompet di saku belakang. Kuserahkan uang itu.
“Ayo ikut.”
Bersamanya, aku kembali ke pria bertopi. Saat mendekat, ia memberi isyarat aku berhenti. Ia sendiri yang maju menghadapi pemegang absen. Mereka berbisik-bisik, lalu uang lima puluh ribu berpindah dalam kecepatan mencurigakan. Satu detik ada di tangan si Tionghoa, detik berikutnya menghilang dari genggaman si pemegang absen, seakan ia punya trik menyulap uang jadi udara. Apa selanjutnya, Koh? Mengajakku main mahjong di bilangan Pasar Senen?
Sepasang mata pemegang absen berbinar terang, hampir mengkilat-kilat. Mulutnya menyeringai lebar. Ia berbalik, berlari ke dalam, dan kembali membawa sebuah rompi. Tangannya melambai ke arahku.
Aku datang.
“Anda ingin kerja, ya?” tanyanya ramah. “Posisi sortir, benar?”
Aku mengangguk, tidak menjelaskan apa pun.
“Kami selalu membuka lowongan untuk pegawai harian lepas buat posisi itu. Anda pasti paham, orang Indonesia doyan belanja. Paket-paket menumpuk tak keruan, pekerjaan tak ada habisnya. Semakin banyak pekerja, cepat selesai.”
Ia berbicara cepat, penuh semangat, telah lupa sikapnya lain. Benar ternyata, uang bisa menyulap sikap.
“Tidak semua bisa mengisi lowongan,” lanjutnya. “Ada persyaratan tertentu untuk itu.”
Aku menunggu kalimat berikutnya, yang datang keluhan ini-itu.
“Jadi gimana? Mas Agus mulai malam ini atau besok? Kalau besok, absen tetap saya amankan.”
“Sekarang kalau bisa.”
Dia menyerahkan rompi dan kartu identitas. Lalu memasukkanku ke grup WhatsApp. “Kerja yang benar, ya,” katanya. Ia menoleh ke lelaki Tionghoa. “Yusuf, tolong bantu dia.”
Aku ke toilet, melepas celana panjang.
“Terima kasih,” kataku saat keluar.
Yusuf mengangguk. “Ayo, gabung sama yang lain.”
Dua jam setelahnya kami bekerja.
II
Jalur conveyor membentang. Pembuluh darah industri logistik yang berdenyut tanpa henti, mengalirkan paket dalam jumlah tak terbendung. Sabuk bergerak cepat, meluncurkan kiriman di atas roda-roda besi, berpindah-pindah dalam hitungan detik, dipandu sistem sortir yang presisi.
Langit-langit gudang setinggi enam meter, disangga pilar baja. Lampu LED menggantung rapat, menumpahkan terang yang menusuk dan panas yang menyebar. Nyaris nihil bayangan, nihil tempat diam. Aroma plastik, oli, dan debu kasar teraduk-aduk di udara.
Di antara jalur bergaris merah dan kuning, pekerja bergerak cepat, mata terpaku pada layar kecil berisi data pelacakan. Tak ada waktu berpikir. Setiap paket harus tepat urutan. Inbound menebar, sortir mengelompokkan berdasarkan wilayah, outbound mengangkutnya dalam karung. Semua bergerak sebagai bagian dari satu mesin besar. Di ujung lini, mesin penyegel berderak, mengunci paket sebelum meluncurkannya dengan kecepatan konstan.
Tangan-tangan bergerak: menarik, memindahkan, membopong, mengikat. Wajah-wajah menegang, tanpa senyum, tanpa sapa. Napas berat menguar bersama dentam langkah. Keringat mengalir, bercampur debu, melekat di kulit yang panas. Semua menahan diri untuk tidak berhenti. Satu detik diam berarti dua paket tertinggal. Dua paket tertinggal berarti teguran. Di tempat ini, sorotan berarti ancaman.
“Cepat! Jangan lambat!” Teriakan pengawas menghardik deru kerja. Ia pikir hanya dengan itu pekerjaan dapat dipercepat. Diam-diam aku menyebut mereka mandor romusha, tempat pekerja paksa hanya bisa patuh.
Waktu di sini ditentukan oleh laju paket. Aku tak tahu sekarang jam berapa; ponsel disimpan jauh dari jangkauan. Di pusat distribusi, waktu sepenuhnya milik sistem. Pekerja menjadi perpanjangan mesin, dinilai dari standar produksi. Kendali atas waktu lenyap; keyakinan bahwa hidup bisa diatur sendiri hanyalah ilusi.
Sesekali pengawas bertanya. Lama-lama, suara mereka larut di antara denting logam dan deru conveyor. Mungkin aku menjawab, mungkin tidak ada pertanyaan. Aku tetap berdiri, tangan bergerak: memilah, menumpuk, mengulang. Lelah, kram, mati rasa silih berganti. Tubuh menyesuaikan diri pada ketakterbatasan.
Di luar, situasi mudah berubah. Di dalam, gerak konstan satu-satunya kenyataan. Keteraturan mengambil alih; sistem menelan orang-orang. Wajah, nama, keluhan tak lagi penting; yang terpenting tetap bergerak. Entah sudah berapa karung kuselesaikan. Paket datang, paket pergi. Tangan bergerak, mata melihat.
Aku mabuk dalam alur yang monoton. Tak ada yang kupedulikan selain mengulang gerak yang sama. Pekerjaan menjadi gravitasi, mencengkeram kesadaran yang kian melonggar. Sesekali, keinginan mengambil alih. Gagasan beristirahat terasa membuai. Mewah, nyaris mustahil. Aku mencoba mengingat terakhir kali berdiam. Rasanya belum pernah.
Amir kena semprot barusan. Ribut sebentar. Dia jadi sasaran kekesalan. Ia berdiri dua pos dariku. Tak ada yang menoleh; semua tenggelam dalam tugas masing-masing. Lima menit untuk menyortir satu karung, terlambat sedikit, paket menumpuk. Itulah yang terjadi. Tempo kerja terganggu. Pengawas kembali berteriak, suaranya menyentak. Telingaku berdengung; gema itu mengendap, lama hilangnya. Amir bergeming.
Pikiranku perlahan menjauh. Suara di sekeliling mengecil. Denting logam tak lagi mengganggu. Hardikan datang samar, lalu menghilang. Tak ada pikiran utuh, tak ada kejelasan arah. Semuanya datar.
Yusuf berdehem keras. Aku tersentak. Tindakan remeh itu seketika menarikku kembali sadar. Aku tak sempat menoleh, tapi kurasa dia marah. Tubuh bergerak lebih dulu dari pikiran. Namun sesaat kemudian, pikiranku berbalik, menelusuri lagi sejak awal pertemuan.
Dia muncul tepat waktu. Tenang, sedikit licik. Tak pernah menawarkan bantuan langsung, apalagi belas kasih. Semua bentuk transaksi. Dunia kerja bergerak seperti itu, yang kuat dan mampu bertahan adalah siapa paling paham bermain.
Aku berpikir ulang: pertolongan atau eksploitasi? Dia hanya membuka jalan. Keputusan tetap di tanganku. Semuanya ia susun rapi, bahkan pakaianku. Yusuf jelas telah terbiasa. Dia paham cara bertahan. Mungkin itu yang membuat pertemuan ini berkesan bagiku. Apa dia merasakan hal yang sama, bukan urusanku.
Dehemnya tadi tindakan kecil untuk mencegah kesalahan, menjaga alur kerja. Yusuf tahu satu kesalahan bisa merembet ke semuanya. Dalam hening dan isyarat samar, ia menyampaikan bahwa hubungan antarpekerja terjalin lewat transaksi halus; kode etik sunyi yang lahir dari tekanan yang sama: ketika satu mata rantai bergetar, yang lain ikut bergetar.
Dia mengingatkanku untuk tetap berada dalam sistem, menjaga irama, fokus, jangan melambat, jangan merusak alur tim. Setiap gerakan saling bergantung; setiap jeda bisa menjadi celah. Tak ada tempat bagi yang kehilangan irama. Harus konstan, tepat, cermat, agar bertahan dan tak menjadi beban. Sepanjang jam kerja, satu kalimat terus terngiang: ketika satu mata rantai bergetar, yang lain ikut bergetar.
Begitulah hari-hariku berjalan: kerja, kerja, kerja. Sesekali kena hardik. Sesekali berpindah posisi: inbound, outbound, kembali ke tim sortir. Dari ketiganya, inbound yang paling kusukai. Bukan masalah menghabiskan siang atau malam mengangkut paket hingga dua kontainer sendiri. Yang repot cuma harus pindah gudang mendadak. Selebihnya berjalan biasa. Lelah, penat ya pasti. Tapi pekerjaan apa yang tidak?
Oh, ada hal lain yang merepotkan. Bayangkan: kau sudah diterima, kartu identitas di tangan, bahkan sudah masuk grup WhatsApp. Jangan buru-buru senang. Belum tentu hari ini, besok, lusa, atau berhari-hari kemudian kau dapat giliran kerja. Semua bergantung pada siapa paling cepat isi absen. Slot terbatas dan diperebutkan. Jangan sakit. Jangan telat bangun. Kuota internet jangan sampai habis. Karena di sini, absensi pun kompetisi.
Perusahaan tak perlu repot mengatur jadwal. Biarkan pekerja berebut Penyaringan alami. Survival of the fittest, katanya. Manajemen tenaga kerja diserahkan pada seleksi alam. Pekerja saling sikut demi slot kerja. Grup WhatsApp berubah jadi Colosseum di era Revolusi Industri 4.0.
Beginilah nasib buruh gudang yang mengurus paket-paketmu, Kawan!
Bagaimana caraku dapat slot kerja? Jangan tanya; kau sudah tahu jawabannya. Nepotisme jadi hal lumrah. Secara moral berat, ya. Tapi lebih berat jadi pengangguran. Mencari kerja dengan cara baik-baik kini kian sulit. Tenaga kerja berlimpah; lamaran sering tersaring algoritma. Kurang sedikit saja dalam persyaratan, langsung kalah. Capek begitu terus. Jadi, aku terima apa yang ada.
Sebagai pekerja gudang pun sulit. Bukan berarti kubilang pekerja kantoran itu mudah. Orang-orang gudang kerjanya fisik. Tidak sedikit yang tumbang di tengah kerja sebab terserang kelelahan, entah sekadar muntah sampai pingsan. Belum lagi terkadang waktu kerja bisa tak pasti. Katanya jam sekian mulai kerja, rupanya molor sekian jam. Kinerja pun patut diperhatikan. Seharian kerjamu lambat, dan mengganggu ritme kerja tim, besok belum tentu dapat kesempatan meski kau menyuap. Amir buktinya. Ia sempat dapat libur panjang gara-gara kerjanya dianggap tak becus.
Apa yang terjadi padanya, aku tak tahu. Dan sejujurnya, aku pun ogah mencari tahu. Tenaga sudah habis terkuras kerja; tak ada ruang memikirkan orang lain. Barangkali ini memang lumrah dalam jenis pekerjaan seperti ini; buruh serabutan. Masing-masing sibuk bertahan. Gagasan tentang kebersamaan terasa mustahil, nyaris lelucon. Biar saja dia urus sendiri. Karena yang penting untukku, aku tidak mengganggu ritme kerja tim. Aku selalu ingat apa yang kudapat sewaktu pertama kerja: ketika satu mata rantai bergetar, yang lain ikut bergetar. Jangan sampai aku jadi pengganggu orang-orang.
Jadi ya, terserah seseorang bertingkah semaunya kepadaku. Selama aku masih belum keberatan, aku malas berpikir banyak-banyak. Segera kulupakan begitu kerja usai. Namun hari itu jadi lain.
III
“Cepat!”
“Hei! Cepat! Cepat!”
“Bongkaran masih panjang ini!”
Tongkat dihantam ke troli. Sekali lagi, lalu sekali lagi. Teriakan para pengawas, dentangan logam, sahut menyahut tanpa putus.
“Muka gila kalian semua!” hardik salah satunya.
Mulut tim sortir bungkam, kedua tangan terus bekerja. Menunduk hormat pada paket-paket yang selalu siap disortir. Memilah sesuai kode. Pengawas pura-pura lupa lambatnya kami disebabkan conveyor sempat ngadat.
Keringat bikin gatal kening, tapi tak ada waktu menyeka. Yang penting, jangan salah sortir.
“Hei babi! Lambat benar kau kerja!”
Seorang pengawas mendekat. Langkahnya cepat dan menghentak.
“Hei, dengar tidak!” pekiknya di belakang Amir. “Cepat kerjamu!”
Aku melirik sambil kerja. Amir dan pengawas sama-sama tegang. Masing-masing menunaikan tugas: Amir menyortir, pengawas memaki.
“Kebanyakan makan kau ya?” sembur pengawas. “Mestinya banyak kerja, bukan banyak makan!”
“Memang babi dia!” teriak kawanannya dari jauh. “Kerjanya makan saja dia! Pemalas!”
Cacian itu disambut tepukan dan sorak-sorai pengawas, bersambung dentangan logam melengking nyaring.
“Tak kuat? Keluar saja!” seru yang lain.
“Jangan kasih kesempatan kerja lagi!”
Tangannya terus bergerak, memindahkan paket satu per satu ke karung yang tepat. Wajahnya datar, matanya tak berpaling dari aliran bingkisan. Ejekan dan cacian masih gema riuh. Amir bergeming.
Mereka ini betulan mandor romusha, umpatku diam-diam. Aku menyortir paket, pisau isinya. Berani mencercaku, kutusuk dia.
Seekor nyamuk hinggap di kening. Saat-saat begini, ada saja yang menambah amarah. Kudiamkan beberapa detik, lama-lama tak tahan juga. Aku menepuknya.
“Hei! Kerja! Jangan bengong!” Giliran aku yang kena damprat. Matanya melotot.
Aku menatap balik, tanpa takut. Terbayang paket berisi pisau barusan; nomor tiga dari atas, karung sebelah kiri. Bungkusnya agak longgar. Sekali sobek, sebilah benda tajam mencuat.
“Apa!” sergahnya. Masih galak. Aku tak gentar.
“Kerja! Kau dengar tidak? Kerja!”
Banyak bacot. Kubuat kau bungkam. Ia merasa bebas menindas, tapi lupa sistem penindasan, sekuat apa pun, punya celah. Setiap penindas yakin memiliki otoritas formal kekuasaan untuk memaki dan mengintimidasi, tapi tak punya kendali atas pikiran-pikiran dan informasi yang dikuasai oleh mereka yang tertindas.
Aku tahu ada pisau di karung sebelah kiri, ia tidak.
Tanganku bergerak ke arah karung.
“Bang, Bang, setop, Bang!” Yusuf ikut campur. Keluar dari pos kerjanya.
Kami menoleh bersamaan.
“Dia belum lama kerja. Biar saya urus nanti.”
Pengawas menunjuk-nunjuk wajahku. “Awas, ya!”
Dia pergi. Memukul tiap troli yang dilewatinya.
Aku hampir tersenyum.
“Lanjutkan kerjamu,” perintah Yusuf pelan.
Aku patuh. Menunduk. Bekerja.
Di luar, gelap sebentar lagi tersapu terang, dan setiap pekerja giliran malam ingin cepat berbondong-bondong pergi. Tak sabar menanti datangnya jadwal pergantian, saat pekerja pagi mengambil alih pusat distribusi. Ritme kerja mengalir kacau dalam struktur yang teratur dan terorganisir. Kecepatan-kecepatan kerja yang tampak tak selaras menjadi keselarasan baru.
Kami mudah tegang menjelang akhir jam kerja. Kesalahan sepele memicu keributan. Makian-makian pelan berebut keluar dari mulut kami atas kesalahan yang diperbuat sendiri. Segala muram pun tampak: suntuk, kelelahan fisik dan mental, serta linglung.
Aku keluar setelah mengambil barang-barangku di loker penyimpanan. Jam empat pagi. Bangunan putih pusat distribusi tampak pucat di bawah penerangan seadanya. Truk-truk terparkir rapi di muka gedung, kontainer merahnya memuntahkan paket-paket yang langsung ditangani tim inbound.
“Awas!” seru seorang petugas outbound sambil mengangkat sekarung paket yang telah disortir tanpa memperlambat langkah, lalu memasukkannya ke kontainer.
Rutinitas kerja terlihat hingga ujung pandang. Tak ada suara selain gesekan sepatu, helaan napas, dan gemerincing troli. Beberapa pekerja-pekerja giliran malam memilih pulang, sisanya bertahan, menyebar ke segala arah.
Kuikuti aliran kecil manusia sambil mendengus. Tubuhku berbau kardus apak, aroma yang akan terus melekat selama bekerja di sini. Aku ke toilet, bertemu Amir. Kami tidak saling memperhatikan, tak juga bicara. Setelah mengenakan kembali celana panjang, kuganti sandal dengan sepatu di luar. Dia hebat, kuakui. Melawan dalam diam, tetap bekerja di tengah makian. Amir tegas menolak menyerahkan kekuasaan psikologis pada mereka.
Sikap Amir yang tak patah, sikapku yang tak gentar, pengetahuanku tentang pisau meski batal kugunakan, kesadaran ada senjata potensial sebagai modal perlawanan, dan Yusuf yang cepat menangkap potensi bahaya. Saat dia memintaku kembali bekerja, itu bentuk solidaritas antar-pekerja. Halus, tidak terang-terangan. Strategi saling melindungi dalam sistem yang menindas. Walau ya, dia juga manusia transaksional.
Mana dia? Katanya mau urus aku?
Kupendam dulu pemikiran tentang Amir dan penindasan yang mengikutinya. Ada tugas mendesak: berburu Yusuf. Aku celangak-celinguk mencari pemuda etnis Tionghoa. Serasa punya utang besar dan mesti dibayar segera.
Ia tak ada di lorong, pun di pintu masuk gedung pusat distribusi. Masih kerja kah dia? Dasar orang Tionghoa! Macam tak ada yang diperbuat selain kerja, kerja, kerja! Pantang foya-foya sebelum kaya. Setiap hari pun makan bubur, tak apa-apa. Sebaiknya aku mati saja kalau jalani hidup seperti mereka.
Mesin-mesin truk dibiarkan menyala. Udara pengap sumbernya area parkir. Di sana, sekelompok orang berkumpul. Aku mendekat. Syukurlah, Yusuf ada di tengah mereka.
Aku menepuk pundaknya.
“Oh, kau rupanya,” komentar Yusuf singkat. Menoleh pun tidak. Sopan betul.
“Apa yang kau perhatikan?”
“Matamu buta ya?”
Pedas mulutnya.
Aku sempat ingin balas. Kurang ajar. Bukannya kau tadi janji akan urus aku? Ini aku datang, ayo urus aku! Tapi Yusuf khusyuk mengamati aktivitas di depannya. Aku turut memperhatikan. Tujuan awal mencarinya melayang lenyap.
Kami berdiri di depan truk yang bermasalah berat. Beberapa mekanik mengelilingi kap mesin yang terbuka. Seorang dari mereka tangannya mondar-mandir di antara mesin, wajahnya serius. Seorang lagi membuka kotak peralatan. Telapak tangan mereka belepotan oli.
Sulit dijelaskan, ada sesuatu dalam diri lelaki yang biasanya, otomatis tertarik hal-hal teknis. Melihat mesin dibongkar menimbulkan antusias. Rasanya seperti nonton Discovery Channel versi langsung. Atau mungkin itu naluri, ingin mengerti, ingin memastikan semuanya beres. Jadi mengamati sambil berpikir, sambil berkomentar, “oh, begitu caranya”, “jangan-jangan salah pasang tuh,” biarpun jarang disuarakan. Kupikir juga lelaki cepat terhubung dengan mengamati sesuatu bersama-sama. Siapa pun yang larut tetap akan sigap membantu saat diminta. Tak banyak tanya.
Aku mengangguk sesekali, serasa paling paham soal mesin truk yang rusak.
“Tahu-tahu ngadat,” kata salah satu mekanik. Keringatnya mengucur.
Semakin lelah yang bekerja, semakin puas yang menonton. Kehadiran penonton memberi dukungan moral. Agaknya.
Kukeluarkan rokok dan kutawarkan ke Yusuf. Ia ambil sebatang. Bungkus rokokku lalu berpindah dari tangan ke tangan. Semua mekanik kebagian. Habis sudah. Tak ada yang menyulut rokoknya. Kami tetap fokus pada tugas masing-masing.
“Hmm… radiatornya kena,” kataku. “Tuh, lihat cairannya tumpah ke mana-mana.”
Yusuf menyilangkan tangan, “tutup tekanannya juga kena,” sahutnya. Matanya tetap serius menatap selang bocor.
Kita sok tahu, Suf!
Dua pekerja giliran malam mendekat. Ada Amir. Kepalanya basah. Baru sekarang aku bisa melihat dia lebih saksama. Tubuhnya pendek; kurang seratus enam puluhan. Ia tampak kecil dibanding manusia lain. Tanpa bicara, mereka ikut mengamati. Amir menjepit rokok di bibir, hanya dia yang merokok. Asap putih-kebiruan bergulung-gulung, jadi selubung misterius sebelum naik sampai jauh. Pekerja satunya sempat berjongkok, memperbaiki tali sepatu, setelahnya tetap begitu sambil memeluk betisnya. Tak ada yang bicara. Semua mata tertuju pada truk yang rusak.
Sejalannya waktu, banyak orang ikut menonton, berbisik-bisik, mengeluarkan opini masing-masing. Aku terpaku, mencoba menebak apa yang sebenarnya membuat kerumunan ini berkumpul, dan apa yang sedang mereka saksikan. Setan pun bingung kalau ditanya.
Seorang satpam penasaran dengan keramaian.
“Ada apa ini?” tanyanya tegas.
“Truk ngadat, Pak.”
“Bocor radiatornya,” sambung seseorang.
Satpam mendadak paham.
Ia berdiri, menambah jumlah penonton.
“Thermostat-nya rusak,” cetus seseorang yakin.
“Bisa jadi,” sahut suara lain.
“Bahaya kalau thermostat rusak. Mesin bisa overheat. Kalau parah, bisa kebakaran!” tambah satu lagi.
“Minggir! Minggir!” Seseorang berteriak. Kerumunan langsung terbelah. Bisik-bisik menyebut dia Fleet Maintenance Supervisor.
“Kenapa radiatornya bocor?” teriaknya.
“Belum tahu pasti, Pak,” jawab mekanik. “Tapi kelihatannya cukup parah.”
“Siapa pakai truk ini?” teriak Fleet Manager, suaranya tetap lantang. “Ayo mengaku!”
“Saya, Pak,” seorang supir truk maju dari kerumunan. Di belakangnya, kenek mendekat, wajahnya sama-sama tegang.
“Bagaimana bisa sampai rusak begini? Kapan terakhir kali Anda cek air radiatornya?” tanya Fleet Maintenance Supervisor.
Jawaban sang supir tenggelam di tengah asumsi yang beterbangan:
“Selang bocor.”
“Tutup tekanan rusak.”
“Thermostat bermasalah.”
“Overheat.”
“Mesin terbakar.”
Aku melihat sekeliling. Kerumunan membesar, tak terbendung. Di ujung sana, tim outbound shift pagi sampai berjinjit. Keingintahuannya sangat jelas. Beberapa pengemudi truk menonton, bersandar di kendaraan masing-masing.
“Ada apa sih?” tanya seorang.
“Truk ngadat,” jawab seorang.
“Kenapa?”
“Gara-gara sopir kebut-kebutan, bikin radiator rusak!”
“Hei! Siapa bilang itu?!” sang sopir langsung menyanggah. Merah mukanya. “Saya selalu patuhi batas kecepatan!”
“Alasan! Supir truk kan doyan ngebut!”
“Jangan asal tuduh!” bela sopir lain. “Kalau kami mengebut pun, karena tim inbound dan outbound lambat kerjanya!”
“Kami lambat gara-gara siapa!” timpa yang dituduh.
“Tim sortir!” sebuah suara menyahut. “Coba tanya kejadian semalam!”
“Tanya pekerja giliran malam!” komentar lain ditambahkan.
Aku melirik Amir, lalu Yusuf.
“Conveyor semalam macet 20 menit,” pegawai sortir membela. Ia lantang berkata. “Bagaimana mendukung kecepatan kerja kalau alatnya sendiri bermasalah?”
“Boro-boro dapat dukungan, dihardik pengawas iya!” Pekerja tim sortir lain menambahkan.
“Kita semua dituntut hasil,” seorang pengawas bertopi menanggapi. “Kalian pikir manajemen mau dengar alasan atau hasil?”
Ia melempar pandang kerumunan. “Kalau ada bukti conveyor rusak, kenapa tidak bikin berita acara, jangan baru ngoceh di tengah massa!”
Suara dari belakang menanggapi, “jadi selama ini laporan lisan kami kalian anggap angin lalu?”
“Minta bukti segala! Alasan taik!” seru salah tim sortir lain, suaranya meninggi. “Kita tahu mustahil mendokumentasikan, ponsel dilarang masuk ke dalam pusat distribusi!”
“Diam! Diam! Saya bilang diam!” bentak Fleet Maintenance Supervisor, berusaha mengambil alih situasi.
“Diam? Apa maksud Anda menyuruh diam? Mau bungkam suara kami?!”
“Saya tidak berniat membungkam, saya cuma bilang—”
“Lihat! Pejabat mulai menindas!” potong seseorang, nadanya menyulut.
“Tidak! Saya tidak—”
“Pembungkaman itu penindasan! Biarkan kami bersuara! Dengarkan suara kami!”
Situasi meledak. Kerumunan mendidih seiring matahari yang meninggi. Suara saling menyalahkan melayang dari satu kelompok ke kelompok lain. Suhu debat naik. Orang-orang kehilangan arah, terjebak dalam pusaran tudingan dan terbakar kemarahan.
“Tolong! Cukup!” Suara keras meredam gaduh. Semua menoleh. “Saya Manajer Pusat Distribusi! Saya mohon dengan sangat, rekan-rekan kembali kerja. Lihat jam! Bagaimana nasib paket-paket kalau kita semua berhenti kerja?”
Alih-alih menenangkan, ucapannya membakar pergolakan baru.
“Ha? kita? Memangnya Anda ikut kerja?!”
“Omongan siapa itu barusan?! Anda provokator, ya?” bentak Manajer. “Satpam! Mana satpam?! Bubarkan kerumunan sekarang. Tadi saya lihat ada satu di sini!”
“Biarpun Anda orang besar, Anda tak berhak membubarkan!” suara lain menantang. “Dengarkan suara kami!”
Massa liar tak terkendali. Tubuh-tubuh saling dorong.
“Hei, jangan dorong!”
“Anjing! Jangan dorong kubilang!”
Amir nyungsep. Aku buru-buru menolongnya. Wajahnya meringis, kakinya terinjak. Oleh siapa, tak tahu.
Ia geram, “Setan! Dia menginjakku! Kubalas dia!”
Seorang di dekatnya mendengar, mewartakan ke kerumunan, “Ada yang terinjak, Kawan!”
“Siapa?” seru seorang.
“Orang kecil!” jawab Amir ketus.
Pasukan satpam datang tergesa, sadar terlambat.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya salah satunya, bingung melihat kekacauan.
“Orang kecil terinjak-injak!” teriak seseorang.
Setengah geli, setengah pedih menyebar di dadaku. Aku berbisik ke Yusuf, “kau dengar barusan? ‘Orang kecil terinjak-injak’, persis pengumuman revolusi, ya?”
Yusuf menyengir lebar, “penasaran, apa yang terjadi setelahnya.”
“Saya mohon, beri jalan! Di mana yang terinjak-injak itu? Tolong menyingkir! Dengarkan saya!” teriak seorang satpam.
“Kita ini orang kecil! Pasti terinjak! Anda jangan sok besar!” suara menyahut dari kerumunan.
“Diam! Jangan memperkeruh keadaan!” balas satpam lain.
“Hei! Jangan sikut! Karena saya orang kecil, Anda berani seenaknya?” Aku tak terima dikasari.
“Tak mau disikut? Jadilah orang besar!”
Aku mempertimbangkan harus tersinggung atau tidak: aku memilih tersinggung.
“Anjing!”
Dorongan kembali pecah. Suasana makin kisruh. Bentakan, sumpah serapah, dan tubuh saling beradu dalam gelombang massa yang semakin hilang arah.
“Diam! Diam! Diam!” Manajer Pusat Distribusi kembali berteriak. Wajahnya yang merah nyaris biru. “Belum pernah saya lihat orang-orang sekeras kepala ini! Kalian semua menyusahkan! Bubar sekarang, atau kalian menyesal! Tak patuh? Besok kalian tak perlu masuk kerja!”
Sontak massa menyoraki, sebagian mencaci, sebagian diam. Perlahan, kerumunan mengempis. Kurang setengah jam, situasi mereda. Orang-orang kembali bekerja, seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Tak satu pun benar-benar tahu apa pemicu kericuhan singkat itu. Semua kabur dalam benturan suara dan ego yang bersaing.
Perusahaan ekspedisi akhirnya angkat bicara:
“Kami belum dapat memastikan penyebab kericuhan. Namun kami berkomitmen melakukan penyelidikan menyeluruh. Terkait keluhan-keluhan dari karyawan, manajemen akan membuka ruang dialog dan mencari solusi terbaik.”
Sore harinya, kami bertiga duduk di atas palet kosong, memandangi truk-truk yang kembali hilir-mudik seperti biasa.
“Perusahaan akan menyelidiki dan mencari jalan keluar,” kutirukan pernyataan resmi yang kubaca siang tadi. “Manajemen akan membuka ruang dialog dan mencari solusi terbaik.”
Yusuf tertawa pendek. Amir menyambung lebih lebar setelah membaca pesan dari perusahaan vendor: meminta, tidak, bukan meminta, memperingatkan, supaya setiap pekerja jangan berbuat ulah. Aneh rasanya mendapat pesan tersebut. Tidak ada yang berulah; pergolakan subuh menjelang pagi tadi terjadi begitu saja. Para pekerja mungkin telah lama memendam kekecewaan, berawal dari momen konyol, menyaksikan perbaikan truk, kekecewaan itu tumpah. Serasa, ia menemukan jalannya sendiri.
Kami tertawa bertiga.
Mungkin kami tahu bahwa, minggu depan, bulan depan, bisa terjadi lagi. Setelah tawa reda, tak ada yang bicara. Yang tersisa hanyalah denting logistik di bawah langit sore yang biasa.
TAMAT