Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Bronze
Denol dan Es Cendol, Anak Juragan Jengkol
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

### BAB 1: FILOSOFI ES CENDOL DAN PANGGILAN JIWA ###

Ketika dahaga lima kilometer bermuara pada senyuman semanis pasta gigi dan aroma tak terduga

Intisari: "Kalau hidup terasa pahit, tambahkan gula merah. Kalau masih pahit, tambahkan santan. Kalau tetap pahit, lidahmu yang bermasalah!"

Denol adalah seorang pemuda sederhana dari Desa Bojong Kenari yang memiliki satu kecintaan mutlak dan sulit disembunyikan dari peradaban manusia: Es Cendol.

Bagi kebanyakan orang di kecamatan, es cendol mungkin hanyalah butiran tepung hijau kenyal yang berenang di dalam genangan santan kelapa dan lelehan gula aren dengan bongkahan es batu yang berderak pelan. Namun bagi Denol, es cendol adalah kompas moral, teman berpikir saat malam sepi, pelipur lara di kala tanggal tua, bahkan alasan paling suci mengapa ia rela mengorbankan sepasang sandal jepit karetnya untuk menempuh perjalanan kaki sejauh lima kilometer menembus terik matahari siang.

“Kau ini tidak waras, Nol,” tegur Tarjo, kawan karibnya yang siang itu sedang asyik berteduh di bawah rindang pohon kersen sembari mengipas-ngipaskan selembar kardus mi instan. “Siang bolong begini, aspal jalanan saja sampai beruap seperti wajan penggorengan kerupuk, kau malah mau jalan kaki ke Pasar Gandaria cuma demi segelas air gula?”

Denol menghentikan langkahnya, membetulkan letak kerah kemeja flanelnya yang sudah pudar, lalu menatap Tarjo dengan tatapan penuh kebijaksanaan seorang begawan.

“Kalau hidup terasa pahit, Jo,” ujar Denol dengan nada bergetar penuh wibawa, “tambahkan gula merah.”

Tarjo mendengus, “Kalau masih pahit juga bagaimana?”

“Tambahkan santan kelapa yang kental dan gurih.”

“Nah, kalau sudah dikasih santan dan gula merah tapi hidupmu tetap pahit?” desak Tarjo dengan muka mencibir.

Denol menyipitkan mata, lalu mengetukkan telunjuknya ke kening. “Berarti bukan hidupmu yang pahit, Jo. Lidahmu yang memang bermasalah! Segera kumur-kumur air garam!”

Tarjo melempar kardus bekasnya ke tanah sembari mengumpat pelan, namun Denol sudah melenggang pergi tanpa beban. Baginya, panggilan jiwa tidak bisa ditunda. Kabar burung yang ia dengar semalam dari obrolan bapak-bapak di pos ronda menyebutkan bahwa di los timur Pasar Gandaria baru saja dibuka sebuah kios es cendol legendaris dengan kuah santan perasan pertama dan butiran cendol pandan wangi yang begitu lembut, hingga sanggup meluruhkan segala kepenatan duniawi.

Perjalanan lima kilometer itu ia lalui dengan penuh ketabahan. Menuruni jalan setapak berbatu, melompati parit irigasi sawah, hingga akhirnya kakinya menjejak aspal becek di gerbang Pasar Gandaria. Suasana pasar siang itu seperti biasa: hiruk-pikuk jeritan tukang sayur, decit gerobak dorong, deru knalpot motor bebek, serta percampuran aroma khas yang saling bertabrakan—mulai dari bau bumbu dapur, ikan asin peda, terasi udang, hingga minyak goreng bekas yang dipakai menggoreng bakwan jagung.

Namun, tepat ketika Denol melangkahkan kaki mendekati los buah dan sayur mayur, indra penciumannya yang terlatih menangkap sebuah anomali udara. Ada aroma wangi daun pandan dan legitnya nira aren, tetapi di lapisan belakangnya, terselip semilir aroma tajam menusuk yang sangat khas. Aroma yang sanggup membangkitkan selera makan sekaligus membuat kucing liar lari ketakutan.

“Waduh,” gumam Denol seraya menahan napas sejenak. “Ini aroma wangi surga berselingkuh dengan aroma apa ini?”

Belum sempat Denol mencari tahu sumber aroma purba tersebut, pandangannya langsung terpaku pada sebuah spanduk kain putih berukuran sedang yang dibentangkan di atas kios kayu sederhana. Tulisan di spanduk itu dibuat dengan cat semprot merah menyala:

---

ES CENDOL ASLI — SEGAR, MANIS, BIKIN NAGIH!

---

Tanpa buang waktu, Denol setengah berlari mendekati meja saji. Tenggorokannya yang kering kerontang sudah berteriak minta diselamatkan. Ia menepuk meja kayu warung dengan penuh semangat.

“Bang! Es cendol satu gelas besar, jangan pelit es batunya!” seru Denol penuh antusias.

Namun, bukan seorang abang-abang berkumis tebal atau bapak-bapak berkaos kutang yang muncul dari balik tirai bambu. Yang menyembul justru seorang gadis muda dengan paras ayu luar biasa. Kulitnya kuning langsat, matanya berbinar teduh, dan ketika bibirnya merekah membentuk senyuman ramah, deretan giginya tampak begitu rapi dan berkilau—persis seperti senyuman model perempuan di iklan pasta gigi televisi nasional yang sering Denol tonton di pos kamling.

“Es cendol satu, Mas?” tan...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Bronze
Denol dan Es Cendol, Anak Juragan Jengkol
Amrullah Ibrahim
Flash
Bronze
Genre
FS Author
Flash
Bronze
Si Penulis Kwikku
Rere Valencia
Cerpen
Tahan Tawa Saat Boss Besar Jadi Meme Bergerak
cahyo laras
Cerpen
Bronze
Segelas Matcha di Siang Hari
Rizki Mubarok
Flash
Bronze
Gara-Gara Lady Gaga(L) Konser
Vivie Hardika
Flash
Bronze
TAK TAHAN DENGAN OMELAN ISTRI, SEORANG SUAMI NEKAT MENCOR KUPINGNYA SENDIRI
Ade Anugrah
Cerpen
Bronze
Liburan Villa Mewah
Mulyana
Flash
RINDU
awod
Cerpen
Jatuh Hati Pada Guru SD
cahyo laras
Flash
AWAS ADA ORANG
Tirani K. C.
Cerpen
Kisah Maling yang Tolol
Muhammad Ilfan Zulfani
Cerpen
Usual Day in the Office
razorstfx
Cerpen
Nyobain ilmu Pelet
cahyo laras
Komik
KISAH THORURA
Voni lilia
Rekomendasi
Novel
Bronze
Menggapai Ridho-Nya Melalui Ta'aruf
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Denol dan Es Cendol, Anak Juragan Jengkol
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
GETAR CINTA di MUARA ENIM
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Novel
Titik Temu
Amrullah Ibrahim
Novel
Keringat, Lelah, dan Tekad Membara
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Jarak di Ujung Nozzle
Amrullah Ibrahim
Novel
Akar di Sela Karang,
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Pernikahan via Perjodohan
Amrullah Ibrahim
Novel
Pulang ke Pelukan Rumah
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
ANGGUR HITAM
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Sang Kembang Desa
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Baiti Jannati
Amrullah Ibrahim
Novel
Menakar Waktu dalam Ridha-Nya
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Cuma Kamu
Amrullah Ibrahim