Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
### BAB 1: FILOSOFI ES CENDOL DAN PANGGILAN JIWA ###
Ketika dahaga lima kilometer bermuara pada senyuman semanis pasta gigi dan aroma tak terduga
Intisari: "Kalau hidup terasa pahit, tambahkan gula merah. Kalau masih pahit, tambahkan santan. Kalau tetap pahit, lidahmu yang bermasalah!"
Denol adalah seorang pemuda sederhana dari Desa Bojong Kenari yang memiliki satu kecintaan mutlak dan sulit disembunyikan dari peradaban manusia: Es Cendol.
Bagi kebanyakan orang di kecamatan, es cendol mungkin hanyalah butiran tepung hijau kenyal yang berenang di dalam genangan santan kelapa dan lelehan gula aren dengan bongkahan es batu yang berderak pelan. Namun bagi Denol, es cendol adalah kompas moral, teman berpikir saat malam sepi, pelipur lara di kala tanggal tua, bahkan alasan paling suci mengapa ia rela mengorbankan sepasang sandal jepit karetnya untuk menempuh perjalanan kaki sejauh lima kilometer menembus terik matahari siang.
“Kau ini tidak waras, Nol,” tegur Tarjo, kawan karibnya yang siang itu sedang asyik berteduh di bawah rindang pohon kersen sembari mengipas-ngipaskan selembar kardus mi instan. “Siang bolong begini, aspal jalanan saja sampai beruap seperti wajan penggorengan kerupuk, kau malah mau jalan kaki ke Pasar Gandaria cuma demi segelas air gula?”
Denol menghentikan langkahnya, membetulkan letak kerah kemeja flanelnya yang sudah pudar, lalu menatap Tarjo dengan tatapan penuh kebijaksanaan seorang begawan.
“Kalau hidup terasa pahit, Jo,” ujar Denol dengan nada bergetar penuh wibawa, “tambahkan gula merah.”
Tarjo mendengus, “Kalau masih pahit juga bagaimana?”
“Tambahkan santan kelapa yang kental dan gurih.”
“Nah, kalau sudah dikasih santan dan gula merah tapi hidupmu tetap pahit?” desak Tarjo dengan muka mencibir.
Denol menyipitkan mata, lalu mengetukkan telunjuknya ke kening. “Berarti bukan hidupmu yang pahit, Jo. Lidahmu yang memang bermasalah! Segera kumur-kumur air garam!”
Tarjo melempar kardus bekasnya ke tanah sembari mengumpat pelan, namun Denol sudah melenggang pergi tanpa beban. Baginya, panggilan jiwa tidak bisa ditunda. Kabar burung yang ia dengar semalam dari obrolan bapak-bapak di pos ronda menyebutkan bahwa di los timur Pasar Gandaria baru saja dibuka sebuah kios es cendol legendaris dengan kuah santan perasan pertama dan butiran cendol pandan wangi yang begitu lembut, hingga sanggup meluruhkan segala kepenatan duniawi.
Perjalanan lima kilometer itu ia lalui dengan penuh ketabahan. Menuruni jalan setapak berbatu, melompati parit irigasi sawah, hingga akhirnya kakinya menjejak aspal becek di gerbang Pasar Gandaria. Suasana pasar siang itu seperti biasa: hiruk-pikuk jeritan tukang sayur, decit gerobak dorong, deru knalpot motor bebek, serta percampuran aroma khas yang saling bertabrakan—mulai dari bau bumbu dapur, ikan asin peda, terasi udang, hingga minyak goreng bekas yang dipakai menggoreng bakwan jagung.
Namun, tepat ketika Denol melangkahkan kaki mendekati los buah dan sayur mayur, indra penciumannya yang terlatih menangkap sebuah anomali udara. Ada aroma wangi daun pandan dan legitnya nira aren, tetapi di lapisan belakangnya, terselip semilir aroma tajam menusuk yang sangat khas. Aroma yang sanggup membangkitkan selera makan sekaligus membuat kucing liar lari ketakutan.
“Waduh,” gumam Denol seraya menahan napas sejenak. “Ini aroma wangi surga berselingkuh dengan aroma apa ini?”
Belum sempat Denol mencari tahu sumber aroma purba tersebut, pandangannya langsung terpaku pada sebuah spanduk kain putih berukuran sedang yang dibentangkan di atas kios kayu sederhana. Tulisan di spanduk itu dibuat dengan cat semprot merah menyala:
---
ES CENDOL ASLI — SEGAR, MANIS, BIKIN NAGIH!
---
Tanpa buang waktu, Denol setengah berlari mendekati meja saji. Tenggorokannya yang kering kerontang sudah berteriak minta diselamatkan. Ia menepuk meja kayu warung dengan penuh semangat.
“Bang! Es cendol satu gelas besar, jangan pelit es batunya!” seru Denol penuh antusias.
Namun, bukan seorang abang-abang berkumis tebal atau bapak-bapak berkaos kutang yang muncul dari balik tirai bambu. Yang menyembul justru seorang gadis muda dengan paras ayu luar biasa. Kulitnya kuning langsat, matanya berbinar teduh, dan ketika bibirnya merekah membentuk senyuman ramah, deretan giginya tampak begitu rapi dan berkilau—persis seperti senyuman model perempuan di iklan pasta gigi televisi nasional yang sering Denol tonton di pos kamling.
“Es cendol satu, Mas?” tan...