Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ini merupakan lanjutan dari Aline sekaligus bagian penutup Aline Trilogy.
Setelah Alena mengakhiri hidupnya, Claudette membawa Aline untuk diserahkan kepada Clement sesuai permintaan terakhir Alena. Namun Claudette tidak mengetahui bahwa Clement sedang menjalani hukuman penjara. Ia mencari Clement ke berbagai tempat, tetapi tidak seorang pun mengetahui keberadaannya.
Pada saat yang sama, Prancis bersama sekutunya sedang memburu para Nazi dan sisa-sisa kelompok berideologi fasis. Kota Paris dipenuhi ketegangan. Pemeriksaan dilakukan di mana-mana, dan sedikit saja kesalahan dapat berakibat fatal.
Suatu hari, Claudette yang berjalan sambil menggendong Aline dihentikan oleh seorang polisi yang merasa curiga. Meski telah menjelaskan semuanya dengan jujur, polisi tidak mempercayainya karena bukti yang dimilikinya dianggap tidak cukup kuat. Claudette bahkan dituduh hanya memanfaatkan nama Alena, yang kala itu terkenal karena berbagai skandal sebelum bunuh diri.
Claudette memang tidak dipenjara, tetapi ia dipisahkan dari Aline dan dipulangkan. Sebelum berpisah, Claudette sempat menulis sepucuk surat yang kemudian diserahkan kepada polisi. Sebenarnya ia ingin mengantarkan sendiri Aline ke rumah keluarga Clement, tetapi polisi melarangnya. Sebagai gantinya, polisi berjanji akan mengantar Aline dengan selamat.
Ketika polisi tiba di rumah Clement, Lumier yang dahulu tinggal bersamanya telah tiada. Beruntung Bu Pier masih tinggal di sana dan bersedia merawat Aline. Polisi pun menyerahkan Aline beserta surat dari Claudette tanpa pernah membuka isinya.
Aline kemudian diasuh oleh Bu Pier yang kini telah lanjut usia. Suatu hari, saat Bu Pier mengajak Aline jalan-jalan, ia tiba-tiba pingsan di tengah jalan, kemudian meninggal dunia. Polisi segera mengamankan jenazahnya.
Seorang polisi bernama Leud memutuskan membawa Aline pulang dan menyerahkannya kepada istrinya, Rose, untuk dirawat. Namun Leud tidak ikut menyerahkan surat peninggalan Claudette. Ia berniat memberikannya ketika Aline dewasa, sehingga surat itu disimpan di dalam lemari.
Sayangnya, kesempatan itu tidak pernah datang. Leud tewas saat bertugas dalam operasi melawan kelompok yang masih mempertahankan ideologi fasis yang dibawa dari Italia. Pada masa itu, hubungan politik Prancis, Italia yang masih dibayangi fasisme, serta Rusia yang berada di bawah komunisme sedang memanas.
Rose kemudian membesarkan Aline dengan penuh kasih sayang hingga remaja. Namun ada rahasia besar yang disembunyikannya.
Rose ternyata merupakan anggota organisasi fasis bawah tanah, bahkan menjabat sebagai letnan jenderal dalam organisasi tersebut. Ia tidak memiliki darah Italia, tetapi sejak kecil didoktrin oleh ayahnya yang sangat mengagumi Benito Mussolini. Kekaguman itu diwariskan kepada Rose hingga ia bercita-cita menjadikan Prancis sebagai negara fasis.
Ironisnya, istri seorang perwira polisi yang selama ini dikenal berdedikasi memerangi kaum fasis justru menjadi salah satu tokoh penting organisasi tersebut.
Karena kesibukannya, Rose sering meninggalkan Aline sendirian bersama seorang pembantu bernama Anna. Anna mulai curiga karena majikannya kerap bepergian tanpa alasan yang jelas. Diam-diam ia melaporkan Rose kepada polisi agar diselidiki.
Namun polisi enggan bertindak karena Rose adalah istri mantan atasan mereka. Laporan Anna hanya disimpan tanpa penyelidikan lebih lanjut.
Sementara itu, aktivitas Rose semakin membahayakan negaranya sendiri. Ia bahkan tega membunuh adik kandungnya yang berprofesi sebagai polisi tanpa sedikit pun rasa belas kasih.
Puncaknya, Rose merencanakan pengeboman stasiun bawah tanah Paris. Beruntung salah seorang anak buahnya berkhianat, sehingga rencana itu berhasil digagalkan. Baku tembak pun pecah antara kelompok Rose dan polisi. Saat itu polisi akhirnya mempercayai laporan Anna.
Karena Rose dianggap memiliki nilai informasi yang sangat penting, pimpinan polisi memerintahkan agar ia dilumpuhkan, bukan dibunuh. Namun keraguan sesaat justru dimanfaatkan Rose. Ia berhasil membunuh polisi yang hendak menangkapnya dan melarikan diri bersama anak buahnya.
Sementara itu, Aline yang memiliki gangguan perkembangan sedang disuapi Anna ketika tiba-tiba diculik. Anna segera menghubungi polisi. Penculik itu ternyata adalah Rose sendiri.
Karena rasa sayangnya kepada Aline, serta iba melihat kondisi mental putri angkatnya, Rose memutuskan meninggalkan organisasi fasis dan memilih membesarkan Aline. Ia mengasingkan diri ke pinggiran Prancis sambil menolak semua pengawasan dari bekas anak buahnya.
Namun dosa-dosa masa lalunya membuat Rose menjadi buronan nomor satu kepolisian Prancis. Tanpa lagi memedulikan ideologi yang dahulu diperjuangkannya, Rose mencurahkan seluruh hidupnya untuk merawat Aline.
Ia menyuapi Aline, menidurkannya, menenangkan saat mengamuk, dan membesarkannya dengan kesabaran yang tulus. Bagi Aline, dunia hanya terdiri dari Rose dan beberapa mantan anak buah Rose yang secara sukarela ikut merawatnya.
Saat bersama Aline, mereka melupakan identitas mereka sebagai musuh negara, dan memperlihatkan sisi manusiawi yang penuh kasih sayang.
Melalui bagian ketiga trilogi ini, digambarkan bahwa sekejam apa pun seseorang, dan apa pun ideologi yang dianutnya, naluri untuk mengasihi tidak pernah benar-benar hilang.
Suatu hari Rose mulai bertanya-tanya dari mana sebenarnya Aline berasal. Merasa kasihan karena Aline tidak pernah mengenal orang tua kandungnya, Rose kembali ke rumah lamanya bersama beberapa anak buah setia. Ia menyandera Anna dan para pembantu lain, untuk mencari petunjuk mengenai asal-usul Aline.
Rose yakin mendiang suaminya pasti menyimpan sesuatu. Karena peristiwa itu, polisi semakin menetapkan Rose sebagai teroris paling berbahaya di Prancis. Namun semua pencarian itu sia-sia.
Rose tidak pernah menyadari bahwa surat peninggalan Claudette sebenarnya telah disembunyikan Anna di balik pakaian Aline agar tidak hilang.
Empat hingga lima tahun pun berlalu. Kondisi Aline justru semakin memburuk. Ia hanya mampu mengucapkan satu kata:
"Mama."
Rose tidak pernah mengizinkan Aline mengenal dunia luar. Aline hanya mengenal Rose dan orang-orang yang selama ini merawatnya.
Merasa masa depannya semakin tidak menentu, Rose akhirnya memutuskan menyerahkan Aline ke sebuah panti asuhan terbaik. Ia telah siap menerima apa pun risikonya, bahkan jika harus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Tanpa ditemani anak buahnya, Rose membawa Aline menggunakan kereta menuju panti asuhan. Tanpa disadarinya, surat peninggalan Claudette masih terselip di balik pakaian Aline.
Dalam perjalanan, kereta berhenti di sebuah stasiun. Tiba-tiba sejumlah polisi mengepung gerbong dan mencari Rose. Awalnya Rose bersembunyi demi memastikan Aline tetap aman. Saat hendak merapikan pakaian Aline, tanpa sengaja Rose menemukan surat yang selama ini ia cari.
Barulah ia mengetahui bahwa Aline seharusnya diserahkan kepada Clement, yang saat itu telah dikenal sebagai seorang sutradara pemula. Rose kemudian menyerahkan surat itu kepada polisi sebagai bukti dan memohon satu hal, Aline harus diserahkan kepada Clement.
Setelah membaca isi surat Claudette, polisi menyetujui permintaan tersebut. Sebagai gantinya, mereka memberi tahu bahwa Rose akan dieksekusi mati di stasiun berikutnya berdasarkan undang-undang baru, karena dianggap sebagai teroris yang sangat berbahaya. Rose menerima keputusan itu tanpa perlawanan. Semuanya demi Aline.
Saat kereta kembali melaju, Rose duduk di dalam gerbong, sambil memandangi Aline yang duduk diam, bersama dua orang polisi di peron.
Aline duduk di atas sebuah koper besar. Tatapannya kosong lurus ke depan. Rose terus memandang putri angkat yang sangat dicintainya, hingga kereta perlahan menghilang dari pandangan.
Bertahun-tahun kemudian Aline kembali ke peron yang sama bersama Clement. Untuk pertama kalinya wajah Aline diperlihatkan secara utuh.
Dialah wanita yang duduk bersama Clement, pada adegan penutup cerpen pertama.