Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
DEMI HATI
0
Suka
1,231
Dibaca

Kalau kita mencintai seseorang, benar-benar mencintai, kita akan menginginkan dia bahagia... sekalipun itu artinya merelakan dia pergi dari hidup kita, itu kata Mama sambil mengusap rambutku di pangkuannya, setelah aku memergokinya menangis diam-diam di hari kepergian Papa... beberapa tahun lalu....

Aku ingat... aku mendongak memandang Mama saat itu. Aku mungkin belum terlalu mengerti karena usiaku masih kecil saat itu, tapi satu hal yang kupahami... suatu hari nanti... kalo aku sudah besar, aku tak akan membiarkan orang yang kucintai pergi, kalau itu bisa membuatku sedih seperti Mama. Aku akan mempertahankan orang itu... terus di sisiku.

Tapi tahun-tahun berlalu... pemahamanku mulai bertambah. Aku mulai berpikir kalau cinta cuma berisi luka dan kesakitan, saat aku melihat satu demi satu gadis sebayaku patah hati dan menangis oleh cinta pertama mereka. Saat itu juga kuputuskan, aku tak akan pernah mengalami nasib seperti itu!

Dan satu-satunya cara supaya hatiku tetap utuh adalah... aku tak akan pernah jatuh cinta sekalipun!

Setidak-tidaknya, begitulah yang kulakukan. Aku berhasil menjaga hatiku... sampai... aku mengenal Ian. Mendadak dia masuk dalam kehidupanku yang sepi, lewat hal tak terduga. Kubilang tak terduga, sebab pertama kali aku melihatnya, itu kala aku duduk sendirian menyantap sepotong pizza dan coke dingin, ketika dia meluncur dari pintu masuk di hadapanku bersama seorang gadis mungil nan jelita.

Aku langsung terpesona melihat caranya memperlakukan gadis itu. Dan juga iri. Sampai-sampai tak bisa menahan diri untuk tidak terus mengawasi mereka. Sesuatu yang sulit, sebab kami terpaksa berbagi meja karena resto itu terlalu penuh dan tak menyisakan tempat bagi mereka berdua.

Kedua kalinya... surprise! Kami bertemu di rumahku. Mama yang mengenalkan kami. Baru kali itulah aku tahu siapa dia. Namanya Adrian. Tapi dia mengijinkanku memanggilnya ‘Ian’. Dia guru privat baru yang disarankan Mama untukku. Nilai akademisku memang memprihatinkan, padahal aku berniat masuk eksak. Ini gara-gara aku tertinggal karena terpaksa menginap dua bulan di rumah sakit, beberapa waktu lalu.

“Kenapa ingin jadi dokter?” tanyanya lembut suatu kali, kala mengetahui apa impianku.

Ough, kenapa sih Mama pake ember segala? keluhku dalam hati, antara kesal sekaligus senang. Kesal karena aku merasa sangat malu: apa pikirnya... cewek bego ini berani-beraninya bermimpi bisa pakai jas putih? Senang karena satu lagi hal yang diketahuinya tentang diriku. Rasanya kami selangkah lebih dekat lagi.

“Mamamu cerita, cita-citamu jadi dokter,” bebernya.

Tuh, kan! Dasar Mama!

Tapi bukannya menjawab, aku malah mengangkat bahu dengan sikap acuh. Sebenarnya jengah, karena aku tahu, kalau aku berani memandangnya, dia pasti tengah menatapku dengan mata abu-abunya (warna yang didapatnya dari nenek Inggris-nya dalam garis silsilah ibunya, cerita Ian lain waktu).

“Tara...!?”

“Nggak ada alasan khusus. Rasanya asyik aja bisa nolong orang,” jawabku akhirnya. Masih menunduk memandangi buku catatanku.

 “Begitu.”

Aku mendongak mendengar komentarnya yang datar. Ups, tapi itu sebuah kesalahan! Senyum Ian begitu menyilaukan. Tenggorakanku terasa kering seketika. Aku mendegut ludah susah payah. Mestinya ada undang-undang yang melarang cowok ini tersenyum!

 “A-aku....”

Aku terbata, meraih buku diktatku di meja. Tapi kalah cepat, Ian lebih dulu menjangkaunya. Dia mengulurkan buku itu padaku.

“Makasih,” bisikku terpana.

Ian mengangguk.

“OK, balik ke soal matematika, soal nomer dua puluh itu mestinya dijabarkan begini....”

Sisa waktu setelah itu berlangsung serius... membuatku sempat mengira bahwa percakapan tadi cuma berada dalam khayalanku semata. Meski begitu satu hal kusadari, aku sudah melanggar aturanku sendiri... untuk tidak pernah jatuh cinta!!

                      *

Dua minggu kemudian Ian membawa beberapa buku tentang kedokteran. Anatomi manusia, penyakit dalam, dan entah apalagi. Aku cuma bisa bengong menerima buku-buku itu.

“Ini apa...?”

Ian mengangkat alisnya. “Katanya mau jadi dokter?”

Aku tergeragap. Ian ingat percakapan kami dua minggu lalu! Entah kenapa... hatiku mendadak menjadi hangat.

“I-iya, tapi ini....” Aku menatap buku-buku di tanganku dengan kebingungan. “Buat aku...?”

“Tara, kalo kamu mau jadi dokter bener-bener... kamu harus mulai persiapan dari sekarang. Baca-baca saja dulu....”

“Buku ini be...rat.”

Ian tergelak. Dia geleng-geleng kepala.

“Tara, Tara... tentu saja berat. Masuk kedokteran itu nggak gampang lho. Belum sekolahnya yang lebih lama dari kuliah lainnya. Tapi aku yakin...,” dia menatapku, “kamu pasti bisa!”

Aku langsung merasa jengah. O-o, pleasee deh, betapa noraknya aku. Cuma pujian kecil, tapi pipiku langsung hangat dan hatiku membengkak membesar puluhan kali hingga rasanya aku sanggup memindahkan Candi Borobudur di Jawa Tengah ke Jakarta. Aku jadi bertanya-tanya... mungkin begini perasaan Bandung Bandawasa sewaktu bertekad membangun candi Prambanan dalam waktu sehari untuk Roro Jongrang.

“Buku-buku ini... punya siapa?” tanyaku dengan suara sedikit melengking. Ya, ampuuun! Masa suaraku juga mengerikan begini? Seperti suara keledai yang terjepit longsoran batu.

Diluar dugaanku, Ian tertegun. Lama. Semula aku tidak menyadarinya karena sibuk dengan ketakutanku sudah meringkik mirip hewan yang menjadi ikon kebodohan itu. Dan terus terang saja, saat ini aku memang merasa mirip makhluk malang itu....

Kemudian aku jadi takut sendiri... Oh, Tuhan, oh, Tuhan... apa Ian juga berpikir aku mirip keledai??

“Teman...” Ian menghela napas. Wajahnya begitu murung.

Mendadak seperti ada genta berdentang di bagian belakang kepalaku... suara dentangnya begitu keras, seolah langsung memukul bagian depan kepalaku dan menerjang keluar. Aku terpaku. Jangan-jangan....

Sekelebat sosok mungil berambut cepak dalam memoriku, melintas....

“Oo...” Aku mengangguk. Tidak berani bertanya lebih lanjut, apalagi bertanya ‘teman apa?’.

Haa! Mau cari mati!?

Aku mungkin kurang memenuhi syarat sebagai calon dokter, tapi otakku nggak bego-bego amat untuk menangkap kalau si ‘teman’ yang dimaksud Ian bukanlah teman biasa. Dan mengetahui hal itu... entah kenapa membuatku mendadak sesak napas.

                        *

Seharusnya... aku memikirkan tekadku, atau setidaknya... terus mengingatnya, tapi seiring waktu yang kuhabiskan bersama Ian... semakin kurasakan janji masa kecilku itu menjauh di belakang... mengabur. Seolah itu bagian dunia yang lain, yang tidak kujalani sekarang....

Setiap detik bersama Ian, membuatku terpesona. Seolah-olah duniaku yang dulu berwarna suram... kini memudar hingga warna cerahnya bisa terlihat. Mama bilang dia senang melihatku sekarang lebih banyak tertawa. Dan aku cuma bisa tersipu sambil berlari keluar... menyambut kemunculan Ian yang datang menjemputku.

Bisa dibilang... aku yang memaksa Ian untuk sesekali mengganti tempat belajar kami, tidak di rumahku terus. Sebagai variasi supaya aku tak bosan.

OK, aku akui, itu memang cuma alasanku saja... untuk keluar bersamanya. Tapi untunglah Mama setuju dan mengijinkannya. Mungkin karena nilai-nilaiku membaik setelah Ian menjadi guru privatku, atau mungkin... seperti kata Mama, dia senang melihat aku lebih sering tertawa. Sesuatu yang terasa begitu alamiah kulakukan jika bersama Ian.

Kelar belajar di suatu cafe, aku menyeret Ian ke toko musik yang ada di mall itu juga. Aku sedang asyik mendengarkan musik lewat earphone sambil bersenandung kecil ketika Ian tiba-tiba menoleh dan mengamatiku. Tatapannya memakuku.

Aku mulai gemetar....

Saat kukira aku akan pingsan sebentar lagi, mendadak Ian tersenyum... membuatku lemas seketika. Dia menunjuk earphone-ku.

“Lagunya enak??” tanyanya.

Aku masih terpana.

“Tara?”

“O-eh... iya.” Aku tergeragap. “Nih, coba dengerin!”

Entah darimana keberanianku berasal, mendadak aku mencopot satu earphone dan memasangkannya ke telinga Ian. Ian tertegun sedetik— sedetik yang membuatku pias: oh, Tuhan, bagaimana bisa aku selancang itu??— sebelum detik berikutnya Ian menyambutnya dan tersenyum.

Senyum yang membuatku diam-diam menghela napas lega. Syukurlah dia tak marah....

“Hmmm...,” gumam Ian dengan mata terpejam, menikmati lagu itu. Aku memandanginya diam-diam. Menyadari aku ingin seperti ini terus bersamanya....

“Adrian!!??”

Mendadak suara terkejut menyeruak ke tengah kami... membuat kami berdua tersentak. Aku sontak menoleh dan melihat seorang gadis. Gadis yang pernah kulihat bersama Ian saat pertemuan pertama kami dulu!

Gadis itu tampak shock. Dia menggelengkan kepala tak percaya. Sorot matanya dipenuhi bias luka, ketika tiba-tiba dia berbalik dan... menghambur keluar... 

“Gitaaa...!!”

Adrian buru-buru mengejarnya. Aku termangu. Diam menunggu Ian. Tapi... sampai dua jam kemudian Ian tak kunjung datang, terpaksa... kulangkahkan kaki pulang. Menahan desakan hangat yang membanjiri mataku. Sementara hatiku terasa begitu sakit. Membuatku bertanya-tanya... beginikah rasanya patah hati!??

                      *

Bahkan setelah hari itu... aku masih juga mendapati diriku menyambut gembira kedatangan Ian. Syukurlah, aku masih bisa melihatnya.

Gilakah aku, senang menyakiti diriku sendiri begini!?

Tapi saat melihat hari demi hari... Ian semakin tak bersemangat, meskipun dia berusaha menyembunyikannya, aku bertanya-tanya lagi... apakah waktu itu dia tak berhasil mengejar gadis itu?? Putuskah mereka??

Dan entah kenapa, melihatnya begitu... membuatku tercabik di antara perasaan senang sekaligus sedih. Aku nggak munafik, aku senang mereka putus. Karena itu artinya... aku punya kesempatan menjadi kekasih Ian. Tapi juga sedih... karena aku tak mau Ian menderita. Dan yang terakhir itu— tak kukira— jauh... jauh lebih tak tertanggungkan buatku.

“Dia tak mau mendengar penjelasanku sama sekali...,” jelas Ian saat aku menanyainya soal kejadian waktu itu, “kalo kita tak punya hubungan seperti itu.”

Tak punya hubungan. Aku menggigit bibir, menahan sakit yang tiba-tiba menusuk hatiku. Kami terdiam lama, sampai Ian mengangkat wajahnya dan menatapku memohon.

“Tara... kita ngomongin yang lain aja, ya,” pintanya.

Aku tercekat. Kepedihan di dalam mata itu, lebih dari sekadar menusukku... dia meremukkanku. Menghancurkan kecambah harapan yang kusadari semakin tumbuh sejak aku mengenalnya.

Aku mengangguk lesu. Diam-diam mengeluh dalam hati, apalagi yang bisa kulakukan selain memenuhi permintaannya??

                       *

Dari tempatku sembunyi, aku melihat Ian mendekat dan tertegun kaget melihat siapa yang ada di tempat janjian kami.

Begitupun gadis itu, dia merentak bangkit begitu menyadari kehadiran Ian... karena yang sejak tadi ditunggunya adalah aku (aku berhasil membujuknya di telpon untuk bertemu denganku).

Tapi seperti sudah kuduga, Ian langsung menangkap lengannya, menahan gadis itu pergi.

Melihat itu... sekali lagi kurasakan rasa sakit menusuk hatiku. Tapi aku tau, aku harus menahannya... jadi kubiarkan mataku tetap melahap pemandangan di depan, sekalipun tiap detiknya berarti siksaan buatku....

Sesaat gadis itu tampak berontak dalam cekalan Ian. Tapi lambat laun... seiring dengan usaha Ian membujuknya, perlawanan gadis itu melemah. Dia tergugu....

Tepat ketika lengan Ian merengkuhnya dengan penuh kasih, aku berbalik. Memejamkan mataku. Membiarkan desakan air mata yang kutahan sejak tadi merembes keluar....

Sudah kulakukan... apa yang harus kulakukan.

Aku membuka mataku dan menarik napas. Ternyata aku mengambil pilihan yang sama seperti Mama. Tapi aku tak menyesal. Karena akhirnya aku mengerti....

Aku tersenyum dan mulai melangkah pergi.

Mama benar, aku jauh lebih menginginkan kebahagiaan Ian, sekalipun itu artinya membiarkan dia pergi dari hidupku....

*The end*

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Adaku Lengkapi Adamu
Salmah Nurhaliza
Novel
Bronze
DI kejar Dosa Masa Lalu
Pricilia Zhany
Cerpen
DEMI HATI
Raha Kurnia
Novel
If We Never Met
Viani Toda
Novel
ARRA
Alvina Yosefi
Novel
Bronze
Dear Editor, My Heart Is Yours
Nurul Adiyanti
Novel
Unless
Gita Karmani
Flash
bisikan hati di balik topeng
Lukitokarya
Novel
After Broken
Diana Mahmudah
Novel
Bronze
Akhirnya Jadian
Rahmatika Yuniarti
Novel
Bronze
Narcissus
Jeanlizt
Novel
Bronze
Cinta Tak Perlu Tanda Baca
sri ulang sari
Novel
Gold
Saat Kita Jatuh Cinta
Republika Penerbit
Novel
Bronze
Bersua
Chika Manupada
Novel
R2 : AKU • DIA
PinkGreen_0718
Rekomendasi
Cerpen
DEMI HATI
Raha Kurnia
Cerpen
Escape From The Blizzard
Raha Kurnia
Cerpen
BAGAI ILALANG KERING
Raha Kurnia
Cerpen
Malaikatku
Raha Kurnia