Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Delapan Pahlawan
Suara Pertama: Orang di Warung Kopi
Oh, Pak Mul itu yang sendirian melawan korporasi tambang pasir itu, kan?
Saya ingat betul ceritanya. Waktu itu ada dua mobil boks hitam datang ke rumahnya malam-malam. Isinya preman semua, bawa tas koper hitam penuh uang tunai dua miliar rupiah. Dijatuhkan di atas meja tamunya. Syaratnya cuma satu: tanda tangani surat pelepasan lahan komunal warga desa. Tapi tahu apa yang dilakukan Pak Mul? Dia ludahi koper itu! Dia bilang, "Uang haram ini tidak bisa beli harga diri warga Pemali!"
Hebat, kan?
Saya dengar dia itu sebenarnya mantan intel atau tentara baret merah yang menyamar jadi guru SD. Makanya waktu rumahnya dikepung preman pabrik bulan berikutnya, dia bisa melumpuhkan tiga orang sekaligus cuma pakai gagang sapu ijuk. Katanya dia sempat ditangkap dan ditahan di markas tentara kota, tapi berhasil kabur lewat ventilasi udara malam hari.
Anaknya sekarang jadi pengacara top di Jakarta, kan? Yang sering masuk TV itu. Katanya mau nuntut balik perusahaan yang bikin bapaknya mati.
Soal kematiannya? Ah, mana ada mati karena ginjal kronis. Itu mah narasi bentukan orang-orang atas. Yang benar itu dia diracun racun arsenik halus di kopi warung, tiga bulan sebelum dia meninggal. Perusahaan mana mau rugi miliaran cuma gara-gara satu guru tua?
Eh, Mbak, kopinya tambah satu lagi ya. Sama gorengannya dua. Cerita kayak gini bikin tenggorokan cepat kering.
Suara Kedua: Aktivis yang Belum Pernah Bertemu
Pak Mustofa bin Saleh adalah martir agraria modern. Beliau adalah representasi paling murni dari gerakan bottom-up resistance di tingkat tapak.
Saya pertama kali mendengar nama beliau dua tahun lalu dari konsorsium pembaharu agraria di Jakarta. Waktu itu kami sedang menyusun laporan tahunan konflik lahan. Kisah seorang guru sekolah dasar di pelosok Bangka yang sendirian menggagalkan ekspansi tambang pasir silika seluas lima puluh hektar langsung kami jadikan case study utama di bab pembuka.
Saya memang belum sempat turun ke desanya. Belum pernah bertatap muka langsung dengan beliau, istrinya, atau warga terdampak. Tapi buat apa? Data sekundernya sudah sangat shahih. Artikel wartawan lokal dan testimoni di media sosial sudah lebih dari cukup untuk memvalidasi heroisme beliau.
Kalimat ikonik beliau—"Jika pulpen ini kugunakan untuk menjual tanah anak-cucu kita, maka tangan inilah yang pertama kali akan membusuk di neraka"—selalu saya pakai sebagai kutipan pembuka di setiap slide presentasi webinar, seminar nasional, bahkan kami cetak di kaos sablonan merchandise organisasi seharga seratus dua puluh ribu rupiah. Lumayan, hasilnya bisa untuk menambal kas operasional advokasi.
Ada kawan yang bilang kutipan itu sebenarnya bukan kata-kata asli Pak Mul, melainkan hasil gubahan dan estetika bahasa wartawan yang meliputnya.
Bagi saya itu tidak masalah. Pahlawan selalu membutuhkan mitologi yang kuat. Narasi perjuangan tidak boleh terlalu kering jika kita ingin membakar semangat generasi muda.
Suara Ketiga: Muridnya
Pak Mul pernah memukul saya pakai penggaris kayu satu meter. Yang tebal dan sudutnya sudah agak terkelupas itu.
Kejadiannya waktu kelas lima SD, pelajaran Matematika bab pecahan. Saya ketahuan menyontek jawaban LKS milik Rian yang duduk di sebelah saya. Sret! Penggaris itu mendarat tiga kali di telapak tangan kanan saya. Sakitnya bukan main, telapak tangan saya sampai memerah dan bengkak dua hari. Saya menangis sesenggukan di depan papan tulis, malu setengah mati dilihat teman-teman sekelas.
Malamnya, sambil meringis, saya adukan kejadian itu ke bapak saya di rumah. Harapan saya, bapak bakal labrak Pak Mul ke sekolah besok pagi.
Tahu apa yang terjadi? Bapak malah mengambil sapu lidi dan memukul paha saya lebih keras daripada Pak Mul. Bapak bilang, "Guru memukulmu karena ingin kamu jujur! Kalau kamu mencuri jawaban orang, kamu cuma bakal jadi bangsat waktu besar nanti!"
Sejak malam itu, saya tidak pernah benci Pak Mul.
Dia memang guru yang galak dan tidak pernah tersenyum kalau di kelas. Kacamata minusnya yang tebal selalu melorot ke ujung hidung, dan kumis tebalnya bikin mukanya mirip algojo. Tapi pas saya sakit tipes selama tiga minggu dan tidak bisa ikut ujian semester, Pak Mul yang datang sendiri ke rumah saya naik sepeda ontel tua.
Dia membawa lembaran soal ujian yang dia ketik sendiri pakai mesin tik tua, duduk santai di teras rumah saya sambil minum teh celup gula batu buatan ibu saya. Beliau nungguin saya mengerjakan soal dari jam dua siang sampai jam empat sore tanpa mengeluh sedikit pun.
Itu yang selalu saya ingat sampai sekarang. Bukan soal ancaman preman, bukan soal tanah desa, bukan soal racun. Cuma soal seorang guru tua yang rela duduk di teras rumah saya yang bocor, nungguin muridnya yang bodoh ini selesai menjawab soal Matematika.
Kalau orang-orang kota bilang beliau pahlawan, saya ya ikut bangga. Tapi seingat saya, Pak Mul cuma ingin murid-muridnya tidak tumbuh jadi orang yang suka menyontek.
Suara Keempat: Sahabat Lamanya
Kami kenal sejak umur sepuluh tahun. Sama-sama mandi di sungai tanpa celana, sama-sama pernah mencuri mangga tetangga.
Mul itu tidak pernah punya bakat jadi pahlawan suci. Dan soal desas-desus dia diracun korporasi pasir itu... asli omong kosong bapak-bapak pos ronda yang kebanyakan nonton sinetron.
Mul itu kena penyakit ginjal kronis karena kebiasaan buruknya sendiri sejak muda: dia paling malas minum air putih dan punya kecanduan kopi saset kental rasa mocca. Setiap malam saat meriksa tumpukan LKS murid-muridnya, dua sampai tiga bungkus kopi saset pasti tandas. Air putihnya cuma satu teguk. Bagaimana ginjalnya tidak hancur di usia enam puluh?
Waktu masalah surat pelepasan tanah sekolah dan lapangan desa itu mulai panas, Mul datang ke rumah saya malam-malam. Kami duduk di gardu ronda sambil main catur—permainan yang tidak pernah berhasil dia menangkan dari saya sejak SMA.
Dia tanya ke saya, "Ji, menurutmu aku tanda tangani saja surat dari utusan pabrik itu atau bagaimana?"
Saya lihat tangannya memegang bidak catur sambil gemetar. Muka tua itu pucat. Saya bilang ke dia, "Kalau tanah itu tanah warisan komunal warga dan sarana sekolah, ya jangan kau jual, Mul. Tapi kalau nyawamu dan keselamatan anak-anakmu terancam, ya terserah kau. Kau yang pegang pulpen, kau yang jalani."
Mul diam lama sekali. Dia memandangi papan catur, lalu menumbangkan rajanya sendiri.
Dia memilih menolak tanda tangan bukan murni karena dia ingin jadi martir suci demi bangsa. Sebagian memang karena prinsip gurunya, tapi sebagian besar lagi karena Mul itu orangnya luar biasa keras kepala. Dia tidak sudi terlihat lemah atau dikendalikan oleh anak-anak muda berkemeja necis yang memandangnya remeh cuma gara-gara dia cuma seorang guru SD kampung berpangkat Pembina IV/a.
Sekarang orang-orang membuatkan nisan megah dan menuliskan namanya di koran-koran nasional sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang berjiwa baja. Saya tidak akan membantah tulisan-tulisan itu di depan publik. Masyarakat memang butuh figur penyemangat.
Tapi buat saya, dia tetap si Mul yang suka ngambek kalau kalah main catur dan tidak mau mengaku kalau kacamata minusnya sudah harus diganti.
Suara Kelima: Tetangganya
Rumah kami cuma dipisahkan oleh jalan setapak tanah merah dan dua pohon rambutan. Dua puluh tahun kami bertetangga pintu ketemu pintu.
Orangnya sangat biasa. Tidak ada aura-aura pahlawan seperti di film-film. Setiap jam lima pagi dia sudah keluar rumah pakai sarung, menyiram tanaman suplir dan anggrek milik istrinya. Kalau saya lewat mau ke sawah dan menyapa, dia cuma mengangguk pelan sambil bilang, "Mari, Pak... Alhamdulillah sehat."
Soal urusan sengketa tanah lapangan desa itu, saya cuma tahu samar-samar dari gosip warga. Waktu rapat-rapat warga di balai desa sedang gawat-gawatnya, istri saya sedang sakit keras dirawat di puskesmas. Jadi saya tidak pernah ikut berkumpul atau ikut tanda tangan surat dukungan apa pun. Saya cuma rakyat kecil yang sibuk mengurus perut sendiri.
Tapi yang jelas, gara-gara Pak Mul bertahan tidak mau kasih tanda tangan persetujuan sekolah, tanah lapangan itu tidak jadi dipatok oleh pengembang. Sampai hari ini, anak-anak kampung masih bisa main bola di sana setiap sore, dan kami masih bisa menanam singkong di pinggirannya.
Pak Mul meninggal setahun setelah urusan tanah itu mereda. Waktu dia meninggal, saya datang takziah bawa beras lima kilogram dan bantu pasang terpal di halaman rumahnya.
Kalau ditanya apakah dia pahlawan? Ya pahlawan buat kampung kami. Tapi kalau boleh jujur, waktu masih hidup, beliau pernah meminjam cangkul baja milik saya untuk membetulkan saluran air rumahnya. Cangkul itu tidak pernah dikembalikan selama tiga bulan. Akhirnya saya sendiri yang datang mengambilnya ke belakang rumah beliau sambil tertawa.
Pahlawan juga manusia, kan? Suka lupa mengembalikan cangkul tetangga.
Suara Keenam: Warga yang Tanahnya Selamat
Tanah tempat rumah kayu saya berdiri ini adalah tanah warisan kakek saya yang tidak punya sertifikat resmi—cuma surat girik tua yang tintanya sudah pudar.
Waktu orang-orang pabrik dari kota datang membawa peta wilayah dan bilang kawasan kami masuk dalam zona pembebasan lahan industri pasir, kami semua sudah pasrah. Kami orang bodoh yang tidak mengerti hukum pertanahan. Kalau rumah kami digusur dan diganti rugi seadanya, kami mau pindah ke mana? Kami tidak punya simpanan uang di bank.
Pak Mul yang pasang badan. Beliau yang menolak menandatangani surat rekomendasi dari pihak sekolah dan desa. Karena tanah sekolah dan tanah warga itu satu hamparan, penolakan Pak Mul membuat seluruh berkas amdal korporasi itu macet total di tingkat kabupaten.
Saya pernah membawa dua ekor ayam kampung yang sudah dipotong dan dibersihkan ke rumahnya sebagai tanda terima kasih. Saya tidak punya uang, cuma itu yang saya punya.
Tahu apa yang dilakukan Pak Mul? Beliau marah besar. Mukanya merah padam. Beliau bilang, "Bawa pulang ayam ini untuk makan anak-anakmu! Aku mempertahankan tanah itu bukan supaya diupahi ayam atau uang oleh warga! Aku cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang pernah disekolahkan pakai uang rakyat!"
Saya pulang sambil gemetar karena takut. Tapi malamnya saya menangis di sujud salat saya.
Orang seperti Pak Mul itu langka di zaman sekarang. Kalau anak-anak saya bertanya seperti apa bentuk pahlawan itu, saya tidak akan cerita soal Pangeran Diponegoro atau Pattimura yang bawa pedang. Saya cerita soal Pak Mul. Guru tua yang kurus, yang cukup menolak memegang pulpen untuk menyelamatkan tempat tinggal puluhan keluarga miskin.
Saya selalu menyelipkan nama Mustofa bin Saleh di setiap doa selesai salat fardu saya. Sudah dua tahun beliau meninggal, dan doa itu tidak akan pernah saya hentikan sampai saya ikut menyusulnya ke liang kubur.
Suara Ketujuh: Wartawan yang Meliputnya
Saya yang menulis artikel fitur itu. Artikel yang kemudian viral nasional, dibaca ratusan ribu orang, dan dikutip oleh belasan media korporat besar di Jakarta.
Saya mewawancarai Pak Mul selama dua jam di teras rumahnya yang teduh pada pertengahan tahun 2008. Jujur saja, proses wawancaranya sangat menyiksa buat seorang jurnalis yang mengejar tenggat waktu. Pak Mul itu tipe narasumber yang datar, bicaranya pelan, terbata-bata, dan kalau menjawab pertanyaan panjang saya cuma merespons dengan satu-dua kalimat pendek yang sangat biasa. Tidak ada diksi dramatis, tidak ada gaya retorika yang meledak-ledak.
Kalimat terkenal yang menjadi headline artikel saya—"Jika pulpen ini kugunakan untuk menjual tanah anak-cucu kita, maka tangan inilah yang pertama kali akan membusuk di neraka"—jujur saja adalah hasil restrukturisasi dan pengayaan bahasa dari saya sendiri.
Pak Mul sebenarnya cuma bicara begini waktu itu: "Tanah ini kan milik sekolah dan warga dari dulu. Kalau saya tanda tangani surat itu demi uang, nanti saya jawab apa kalau dipanggil Tuhan di akhirat?"
Bahasanya terlalu lugu. Pembaca koran di kota tidak menyukai bahasa yang terlalu lugu. Mereka butuh dramatisasi. Mereka butuh kutipan yang tajam untuk dijadikan status atau materi perlawanan.
Saya juga sengaja menyunting dan membuang bagian di mana Pak Mul mengaku sempat ketakutan setengah mati waktu rumahnya diteror surat kaleng. Saya buang cerita di mana istrinya menangis-nangis menyuruhnya menyerah saja. Detail-detail kemanusiaan seperti itu akan merusak framing "Pahlawan Tanpa Celah" yang sedang saya bangun di lembar opini.
Apakah tindakan saya mengubah kutipan dan membuang fakta ketakutannya itu pelanggaran kode etik? Di atas kertas, mungkin iya.
Tapi coba lihat dampaknya. Setelah artikel itu terbit dan memicu gelombang simpati publik, sepuluh kepala desa di kawasan pesisir pulau kami berani menolak izin tambang serupa. Mereka menggunakan figur Pak Mul sebagai perisai moral.
Apakah kebohongan kecil dan polesan bahasa jurnalis seperti saya bisa dimaafkan jika ia berhasil memicu keberanian massal? Sampai hari ini, setiap kali saya memandangi piala penghargaan jurnalistik di meja kerja saya, pertanyaan itu masih terus menghantu pikiran saya.
Suara Kedelapan: Istrinya
Malam terakhir sebelum dia saya larikan ke rumah sakit kabupaten, dia minta dibuatkan nasi goreng.
Saya buatkan di dapur. Pakai telur satu biji dan sedikit kecap manis. Waktu piringnya saya taruh di meja, dia makan dua suap, lalu meletakkan sendoknya. Dia mengeluh, "Kenapa nasi goreng ini tawar sekali, Bu? Kurang asin."
Saya tatap muka tuanya yang sudah makin tirus. Saya bilang dengan suara agak keras, "Dokter sudah wanti-wanti, Bapak itu sudah ginjal stadium lanjut! Tidak boleh lagi makan garam banyak-banyak!"
Dia diam saja. Matanya yang kabur menatap piring nasi goreng itu sebentar. Lalu tanpa membantah lagi, dimakannya nasi goreng tawar itu sampai licin tidak tersisa satu butir pun.
Orang-orang di luar sana, wartawan-wartawan kota itu, bicara soal dia seolah-olah dia itu manusia besi yang tidak punya rasa takut sedikit pun.
Mereka tidak tahu apa-apa.
Mereka tidak tahu kalau suami saya itu takut setengah mati sama kecoa. Serius. Sudah umur enam puluh tahun lebih, kalau ada kecoa terbang di dalam kamar mandi, dia bakal teriak menceret panggil nama saya seperti anak kecil. Saya yang harus masuk bawa sapu untuk mengusir binatang itu keluar.
Dan soal surat pelepasan tanah sekolah yang bikin heboh itu... orang-orang cuma tahu keteguhannya. Mereka tidak tahu kalau malam setelah orang-orang pengembang itu datang membawa ancaman, Pak Mul duduk menangis sesenggukan di pinggir kasur kamar kami.
Waktu itu rumah kami diteror orang. Kaca jendela samping pernah dilempar batu sampai pecah. Saya ketakutan setengah mati. Saya pegang tangannya, saya memohon-mohon sambil menangis, "Pak, tanda tangani saja surat itu... Kita ini orang kecil. Kalau Bapak kenapa-napa, kalau rumah kita dibakar, bagaimana nasib kita? Hidup tenang saja di masa tua..."
Pak Mul menatap saya dengan mata merahnya. Dia bilang, "Kalau aku tanda tangan sekarang demi rasa aman kita, seumur hidupku aku tidak akan pernah bisa berdiri di depan anak-anak muridku lagi tanpa merasa jadi penipu."
Saya marah besar malam itu. Saya merasa dia lebih mementingkan harga dirinya daripada keselamatan istrinya sendiri. Kami tidak saling sapa selama dua minggu penuh. Dia memilih tidur di atas kursi kayu yang keras di ruang tamu tanpa selimut.
Ternyata pada akhirnya dia yang benar. Tapi waktu itu, saya cuma seorang istri yang ketakutan setengah mati.
Sekarang, setelah dia sudah tidak ada, orang-orang berpakaian necis datang ke kuburannya membawa karangan bunga besar dan spanduk penghormatan. Rumah kami yang pudar ini mendadak ramai oleh tamu-tamu takziah dan pejabat lokal. Saya sibuk di dapur sendirian, memasakkan nasi goreng untuk orang-orang yang datang tahlilan.
Nasi goreng yang sama. Tanpa banyak garam.
Masih kurang asin, kata orang-orang itu waktu mengunyahnya.
Mustofa bin Saleh. Guru SD Negeri 04, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka. Pensiun tahun 2009. Meninggal dunia di rumah kediamannya pada hari Rabu, 14 Maret, pukul 03.17 WIB.
Sebab kematian medis: Gagal ginjal kronis (Chronic Kidney Disease).
Tidak pernah menjadi anggota TNI atau Kepolisian RI. Tidak pernah ditangkap atau kabur dari tahanan. Tidak pernah diracun oleh korporasi mana pun. Tidak memiliki anak yang bekerja sebagai pengacara di Jakarta.
Beliau hanyalah seorang lelaki tua yang takut pada kecoa, mengidap ginjal karena hobi minum kopi saset, keras kepala luar biasa, dan menolak menorehkan tanda tangan di atas selembar kertas HGU.
Itu saja.
Jogja, 2006--Belitung 2026. Cerita ini dimulai dua puluh tahun lalu, baru diselesaikan bulan Juli.
Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH, Kumpulan Cerpen"