Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Cerita pendek romantis keluarga tentang perjodohan, perjalanan pulang, dan cinta yang tumbuh dari sebuah pertemuan tak sengaja.
Tokoh utama: Daffa Ar Rimbai Latar: Bandar Lampung dan Palembang Genre: Romansa, keluarga, religi, drama ringan Sudut pandang: Orang pertama (aku)
Bab 1 — Anak Petani Kopi dari Bandar Lampung
Namaku Daffa Ar Rimbai.
Aku lahir di Palembang dan besar di Bandar Lampung, sebuah kota yang menjadi tempat tumbuhnya mimpi-mimpiku. Di kota inilah aku mengenal arti perjuangan, belajar tentang kesabaran, dan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Usiaku dua puluh lima tahun.
Orang-orang yang mengenalku sering mengatakan bahwa aku adalah lelaki yang beruntung. Wajahku tampan, kata mereka. Kulitku bersih, tubuhku cukup tinggi, dan senyumku mudah membuat orang merasa nyaman. Namun, ibuku selalu mengingatkan bahwa ketampanan tidak akan berarti jika tidak diiringi akhlak yang baik.
Aku berusaha memegang nasihat itu.
Sejak kecil, aku dibesarkan dalam keluarga yang sederhana, tetapi berkecukupan. Ayahku, Haji Ar Rimbai, adalah seorang petani kebun kopi yang sukses. Kebun kopi milik keluarga kami berada di daerah perbukitan Lampung Barat, diwariskan oleh kakekku dan kemudian dikembangkan oleh ayah dengan kerja keras bertahun-tahun.
Meskipun kami berdomisili di Bandar Lampung, ayah hampir setiap bulan pergi ke kebun. Ia mengurus para pekerja, memeriksa hasil panen, dan memastikan kualitas kopi tetap terjaga.
Kopi adalah darah dalam keluarga kami.
Dari hasil kebun itulah ayah membiayai pendidikanku hingga perguruan tinggi. Aku menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas terbaik di Bandar Lampung dengan hasil yang cukup membanggakan. Aku dikenal cerdas oleh teman-temanku, terutama dalam bidang bisnis dan pengelolaan usaha.
Setelah lulus, aku membantu ayah mengembangkan pemasaran kopi keluarga melalui internet. Aku ingin kopi kami tidak hanya dijual kepada pengepul, tetapi juga dikenal oleh masyarakat luas.
Dalam beberapa tahun, usaha kami berkembang.
Ayah memiliki beberapa mitra usaha di luar daerah. Bahkan, sebagian kopi kami dikirim ke Jakarta dan beberapa kota besar lainnya.
Namun, di balik semua keberhasilan itu, ada satu hal yang sering membuatku merasa tidak nyaman.
Keluarga besar dari pihak ibu.
Ibuku, Muthmainah, berasal dari Sumatra Selatan. Ia lahir dan tumbuh di sebuah daerah yang tidak terlalu jauh dari Palembang. Setelah menikah dengan ayah, ia ikut merantau ke Lampung.
Pada awalnya, hubungan keluarga kami dengan saudara-saudara ibu masih cukup dekat. Namun, karena kesibukan, jarak, dan berbagai persoalan kehidupan, komunikasi itu perlahan berkurang.
Hingga akhirnya, bertahun-tahun berlalu tanpa ada kunjungan berarti.
Aku bahkan hampir tidak mengenal sebagian besar keluarga dari pihak ibu.
Termasuk seorang paman yang kelak akan mengubah jalan hidupku.
Namanya Pak Mahmuddin.
Ia adalah adik kandung ibuku.
Pak Mahmuddin tinggal di Palembang bersam...