Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aldo mengusap keringat yang bercampur debu di pelipisnya, lalu menatap ke depan. Aroma beton basah, baja yang dipotong, bercampur dengan bau oli mesin yang melekat di kulit seperti lapisan tak kasatmata. Suara dentuman baja beradu dengan suara alat berat, menciptakan simfoni monoton yang telah menemani hari-hari Aldo selama bertahun-tahun.
Di sisi lain lantai produksi, seorang pria muda berdiri tegap, wajahnya masih segar tanpa garis-garis lelah seperti pekerja lama. Tidak ada otot yang menegang, tidak ada tubuh yang membungkuk karena kelelahan. Hanya gerakan ringan tangannya yang seolah tanpa usaha, mengangkat peti logam seberat setengah ton dengan telekinesis.
Dulu, pekerjaan ini membutuhkan tim kecil. Harus ada operator crane, ada pekerja yang mengaitkan rantai, dan ada satu lagi yang mengawasi agar semuanya berjalan aman. Sekarang? Satu orang cukup. Satu orang dengan kemampuan yang melampaui batas manusia biasa.
Aldo menggigit bibirnya, bukan karena benci. Tidak, ia tidak membenci mereka yang memiliki kemampuan. Mereka tidak salah. Mereka hanya bekerja, sama seperti dirinya. Jika ia memiliki kekuatan seperti itu, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama. Tapi rasa perih di dadanya tidak bisa diabaikan.
"Lihat mereka." Suara Bayu terdengar di sebelahnya, rendah dan getir. "Buat apa masih ada kita di sini?"
Aldo tidak langsung menjawab. Ia tahu kemarahan Bayu bukan tanpa alasan. Orang-orang seperti mereka, pekerja keras yang telah mengabdikan hidupnya di tempat ini, semakin hari semakin kehilangan tempat. Manajemen tidak pernah berkata langsung, tapi semua orang tahu ke mana arah perubahan ini. Semakin banyak pekerja super yang dipekerjakan, semakin sedikit posisi untuk orang biasa.
Dan ketika satu-satunya hal yang bisa kau tawarkan adalah tenaga kerja kasarmu, lalu apa yang tersisa ketika tenaga itu tak lagi dibutuhkan?
"Aldo," panggil Bayu, suaranya lebih pelan sekarang. "Kita akan segera digantikan. Cepat atau lambat. Kau tahu itu, kan?"
Tentu saja ia tahu.
Namun, ada hal yang tidak bisa disangkal. Mereka yang memiliki kekuatan memang cepat, kuat, dan efisien, tetapi mereka bukan tanpa kekurangan. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian—kesabaran untuk memperhatikan detail kecil, memastikan bahwa setiap bagian telah dipasang dengan benar, bahwa setiap langkah telah dilakukan dengan presisi.
Orang-orang seperti Aldo mungkin tidak memiliki kemampuan luar biasa, tetapi mereka punya pengalaman. Mereka tahu bagaimana mesin ini bekerja, bagaimana setiap baut harus dikencangkan dengan tekanan yang tepat, bagaimana satu kesalahan kecil bisa menyebabkan seluruh sistem berhenti berfungsi. Para pekerja super bisa mengangkat sesuatu dengan mudah, tetapi sering kali mereka tidak cukup teliti untuk memastikan semuanya dalam keadaan sempurna.
Masalahnya, kepala proyek tidak melihat itu.
Baginya, angka adalah segalanya. Lebih sedikit pekerja berarti lebih sedikit biaya. Lebih cepat selesai berarti lebih cepat mendapatkan keuntungan. Pada dasarnya, orang-orang dengan kemampuan super juga bisa melakukan pekerjaan fisik, dan bagi kepala proyek, itu sudah cukup. Mereka tidak peduli bahwa tangan para pekerja sepertinya masih dibutuhkan untuk memastikan segalanya berdiri dengan kokoh.
Keesokan harinya, atmosfer di lokasi konstruksi terasa jauh lebih hening dari biasanya. Tidak ada percakapan ringan yang menghiasi pagi, tidak ada keluhan lelah yang biasanya menyelip di antara suara mesin berat dan dentuman baja. Para pekerja konvensional berkumpul di depan papan pengumuman di dekat kantor proyek, membaca selembar kertas yang baru saja ditempel. Aldo dan Bayu melangkah mendekat, firasat buruk semakin menekan dada mereka.
“Efisiensi tenaga kerja,” gumam Bayu setelah membaca beberapa baris pertama. “Kita tahu ini akan terjadi.”
Aldo menelusuri setiap kalimat dalam pengumuman itu. Manajemen akan melaksanakan "optimalisasi sumber daya manusia" dengan menggantikan sejumlah posisi pekerja manual dengan tenaga kerja super. Tidak ada pemecatan langsung yang diumumkan secara eksplisit, tetapi para pekerja yang terdampak akan dialihkan ke divisi lain atau ditawarkan "pelatihan ulang" untuk peran yang belum dijelaskan secara konkret. Namun, semua orang tahu apa arti sebenarnya dari keputusan ini—bagi mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri, ini hanyalah bentuk pemecatan terselubung.
“Mereka akan memindahkan kita ke bagian administrasi atau sekadar menjadi asisten teknis,” ujar salah seorang pekerja di samping Aldo. “Atau lebih buruk, kita akan dibuat merasa tidak nyaman sampai akhirnya kita sendiri yang memilih pergi.”
Aldo mengepalkan tangannya. Bertahun-tahun ia bekerja di bidang konstruksi dengan dedikasi penuh. Setiap luka di tangannya, setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai kerja, kini seolah tak lagi memiliki nilai di hadapan kebijakan efisiensi dan otomatisasi yang terus merajalela.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Wajah-wajah cemas menyelimuti para pekerja lama, mereka yang kini harus menghadapi kenyataan bahwa pengalaman mereka mungkin tak lagi cukup untuk bersaing di era baru. Mereka yang telah terbiasa mengandalkan tenaga fisik kini dipaksa beradaptasi dalam sistem yang semakin mengutamakan kecepatan dan presisi.
Di sudut area proyek, terdengar suara tawa ringan. Beberapa pekerja super berbicara dengan santai, tampaknya tak terganggu oleh suasana muram di sekitarnya. Salah satu dari mereka mengangkat balok beton dengan telekinesis, seakan perubahan ini sama sekali tidak relevan bagi mereka.
“Lihat mereka,” kata Bayu dengan suara rendah, nadanya getir. “Seolah ini bukan masalah mereka. Seolah kita bahkan tidak ada.”
Aldo tetap diam. Ia tidak bisa menyalahkan mereka. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam situasi ini, tetapi sulit menyingkirkan perasaan ditinggalkan oleh sistem yang terus bergerak maju tanpa melihat ke belakang.
“Aku dengar proyek di distrik sebelah sudah mulai mengurangi tenaga kerja manusia,” ujar seorang pekerja lain yang berdiri tak jauh dari mereka. “Mereka menggunakan sistem modular yang bisa dirakit oleh segelintir tenaga super dan robot otonom. Tidak butuh mandor, tidak butuh tukang pasang, hanya butuh sistem yang bisa berjalan sendiri.”
Bayu menghela napas berat. “Lalu, kita ini apa? Sisa-sisa masa lalu yang menunggu untuk dilenyapkan?”
Aldo menatapnya sejenak, lalu kembali mengamati ekspresi para pekerja lain. Ada yang marah, ada yang pasrah, dan ada pula yang tampak seolah masih mencari jawaban dari kebingungan ini.
Dari kerumunan, seorang pekerja tua yang selama ini diam akhirnya bersuara. “Dulu, aku ingat saat proyek mulai menggunakan crane otomatis. Orang-orang juga bilang pekerjaan kita akan hilang. Tapi ternyata, tetap ada yang harus memastikan crane itu dioperasikan dengan benar. Tetap ada yang harus memahami cara pemasangan struktur yang sesuai. Aku rasa, hal yang sama bisa terjadi lagi.”
Beberapa kepala menoleh ke arahnya, seolah baru menyadari bahwa mungkin masih ada ruang bagi mereka di tengah perubahan ini.
“Tapi sampai kapan?” sahut Bayu, frustrasi. “Berapa lama sebelum kita benar-benar tidak lagi dibutuhkan?”
Aldo menunduk, lalu mengarahkan pandangannya ke papan pengumuman sekali lagi. Matanya tertuju pada daftar posisi yang akan dihapus. Operator alat berat, tukang perakitan struktur, tim inspeksi keamanan—semua peran yang selama ini dilakukan dengan tangan manusia, kini dipandang sebagai sesuatu yang bisa digantikan.
Namun, di antara ketidakpastian itu, mulai muncul percakapan baru. Pekerja tanpa kemampuan super memang kehilangan tempat mereka dalam pekerjaan berat, tetapi ada celah baru yang mulai terlihat. Apalagi "tim inspeksi keamanan" seharusnya tetap ada.
“Kurangnya pengawasan membuat banyak struktur jadi bermasalah,” kata seorang mantan mandor. “Bangunan yang didirikan pekerja super memang cepat, tapi apakah mereka benar-benar memahami bagaimana material itu bekerja? Bagaimana distribusi beban? Kita mungkin tidak bisa bersaing dalam tenaga kasar, tapi dalam presisi dan ketelitian? Itu masih milik kita.”
Aldo mendengar percakapan itu dan mulai memahami. Dunia konstruksi sedang berubah, tetapi itu tidak berarti pekerja manusia akan lenyap sepenuhnya. Akan selalu ada peran bagi mereka yang memiliki pengalaman dan pemahaman yang lebih dalam. Jika tenaga manusia tak lagi digunakan untuk mengangkat dan memasang, mungkin mereka bisa menjadi pengawas, inspektor, atau teknisi yang memastikan bahwa segalanya tetap berjalan sesuai dengan standar keselamatan.
Tidak semua orang akan bertahan, itu jelas. Beberapa mungkin memilih pergi, mencari pekerjaan lain, atau bahkan menyerah. Tapi sebagian lainnya? Mereka akan menyesuaikan diri, menemukan cara untuk tetap relevan di dunia yang terus berubah.
Aldo tidak tahu apakah ia akan menjadi bagian dari mereka yang bertahan atau yang tersingkir.