Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ketika suami izin ingin menikah lagi, saya langsung setuju. Bahkan diam-diam saya membantu mencarikan calon pasangan untuknya. Abdi—suami saya—tidak tahu menahu soal upaya saya menjadi biro jodoh tak resmi untuknya; ia akan menuduh saya sedang mempermainkan keinginan sucinya untuk poligami.
Dari dulu saya bukan jenis perempuan yang penuh dengan berbagai macam gagasan tentang emansipasi. Saya punya guru sekolah dulu yang membaca banyak literatur feminisme lalu berusaha merecoki kepala kami dengan hal-hal yang akan membikin kami jadi perempuan pembangkang. Beberapa kawan perempuan terpengaruh. Tetapi saya tidak termasuk di antaranya. Malahan saya menikah di usia yang relatif muda lalu dengan sendirinya menjadi istri penurut—seolah ini bakat yang tak perlu dipelajari atau pun diajarkan. Maka saya tak mengerti kenapa Abdi masih merasa membutuhkan istri kedua. Seolah saya tak cukup.
Toh saya tetap menghargai keinginannya. Bahkan sudah saya katakan di awal tadi bahwa saya langsung setuju dan diam-diam mencarikannya pendamping baru.
Saya menemukannya—perempuan itu—hanya dalam waktu dua minggu. Tetapi perempuan waras mana yang akan mengiyakan tawaran menjadi istri kedua bagi seekor bandot yang belum pernah ia temui dan tawaran itu datang dari sang istri pertama sendiri? Dalam hal ini saya memang tidak butuh perempuan waras. Saya mencari calon istri kedua Abdi di Rumah Sakit Jiwa. Saya menyasar beberapa RSJ sekaligus. Seperti ucapan saya tadi, hanya dalam waktu dua minggu, pencarian ini berhasil. Kebetulan perempuan ini cantik dan cukup terurus meskipun jiwanya sakit. Kebetulan lagi, ia hampir tak pernah lagi dikunjungi oleh keluarganya, keluarga yang membikinnya muak lebih dari para perawat dan kepala RSJ sendiri. Ia ‘tidak terlalu’ gila, menurut beberapa perawat, ia hanya gila kambuhan, ...