Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Daster Kuning Ibu
0
Suka
1
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Ini baru hari ketiga kau pergi, Bu, tapi sepertinya sudah  tiga tahun, atau tiga abad yang lalu. Rumah sepi. Aku berjalan dari depan, melongok ke luar pintu pagar, melewati teras, dan sesekali lewat pintu samping, tapi yang kurasa sunyi. Benar-benar sunyi. Tak ada bunyi. Tidak ada suara piring beradu dengan sendok ketika kita makan, tak ada lagi deru mesin cuci, tak terdengar suara wajan, atau gemericik air di kitchen sink.

Tapi yang lebih membuat batin pedih, tak ada lagi suaramu, ceritamu. Cerita tentang anak-anak yang sudah punya kehidupan masing-masing dan jarang pulang. Keluhan karena  halaman yang sudah penuh rumput dan Mang Ward, tukang taman langganan , belum juga datang. Cerita tentang cucu Mak Dira yang terjatuh dari motor, cerita tentang anak perempuan Bu Neng yang dapat beasiswa ke luar negeri.

“Kau tahu, Ben, Dulu Kak Fara juga dapat beasiswa ke Australia,” senyummu merekah, menceritakan anak pertamamu, Kak Fara. Cerita yang selalu kau ulang-ulang.

“Betapa bangganya kami, Ibu dan Bapak,” matamu menerawang, kulihat di sudut mata ada genangan air. Itu pasti ingatan yang sudah berbaur dengan rindu.

Kau menggeleng. ”Tahun ini, tahun kedelapan Bapak meninggalkanku,” kau mengelus kepalaku. “Sayangnya kau belum kenal dia, Ben.”

Ya, aku sudah membayangkan, andai aku sempat mengenal Bapak, pasti kehidupanku lebih sempurna, ada Ibu yang menyayangiku, ada Bapak yang melindungiku.

Cerita dan ingatan tentang Bapak biasanya akan jadi ‘penutup’ cerita. Semua berhenti di sana. Seringnya kau langsung memelukku.

Ceritamu membuat waktu begitu cepat berlalu. Aku biasa terkantuk-kantuk mendengarnya, lalu tersentak lagi tiap kali dirimu tertawa – menertawakan hal-hal remeh yang kadang tidak kumengerti, atau menceritakan orang- orang yang namanya tak pernah kudengar sama sekali.

-----

"Baju-baju ini harus sudah kita bagikan sebelum kita pulang, Na."

Kak Fara mengeluarkan baju-baju dari lemari Ibu, menatap sekilas kepada Kak Nana, anak Ibu yang paling kecil.

“Iya,” Kak Nana mengangkat kepala sedikit, ia kelihatannya sedang menulis sesuatu di ponselnya.

Ini hari ketiga kepergian ibu. Tadi malam sudah diadakan kenduri. Itu tradisi di lingkungan sini, ada kenduri tahlil malam ketiga, saat ada kerabat yang meninggal. Memanjatkan doa dan memohon ampunan bagi mendiang. Setidaknya itu yang kuketahui selama ini.

Malam tadi, rumah Ibu tumpah ruah dengan kerabat, tetangga, dan teman-teman Ibu. Ini bukan hal yang tidak diduga. Ibu yang baik, ibu yang ramah dan suka membantu, hampir semua orang mengenalnya. Wajar saat dia pergi banyak yang datang dan mendoakannya.

Kak Fara, mengangkat sebuah gamis warna biru muda. Dia menciumnya dan kulihat ada genangan air di pelupuk mata.

Aku baru bertemu kak Fara dua kali, sejak ibu membawaku ke rumah ini. Ia cantik. Dalam bayanganku, beginilah ibu ketika muda dulu. Wajahnya mirip Ibu. Kak Fara seorang arsitek.

"Dia mendesain gedung bertingkat dan hotel," ibu menyebut nama-nama gedung dan hotel yang gak pernah kutahu.”Fara memang arsitek yang hebat,” ibu menyambung. Seperti ibu-ibu yang lain ketika menceritakan anaknya, entah apa pun profesinya, selalu dengan nada bangga.

“Tapi sudah tiga minggu Fara gak nelepon," ibu mengeluh. "Katanya seminar ke Jepang, apa itu bagian perancangan bangunan tahan gempa, entahlah,” suatu hari Ibu mengeluh.  Aku tahu itu bukan keluh, itu rindu.

Aku selalu senang mendengar cerita tentang Kak Fara yang merancang gedung dan hotel. Tapi mungkin ia lupa membangun jembatan, ia mulai jarang berkomunikasi dengan ibu.

“Baju ini aku yang belikan,” Kak Fara meletakkan gamis biru muda itu ke dadanya.

Kak Nana mengangkat kepala, meletakkan ponsel. “Lebaran tiga tahun yang lalu kan?” tanya Kak Nana. Ia, perempuan yang cantik, modis. Aku kurang mengerti profesinya, ibu bilang Kak Nana content creator, ia punya banyak penggemar, follower atau apa, aku gak ingat. Suka membuat video, pernah merekam aku dan Ibu.

Kak Nana sudah punya dua anak – sama dengan Kak Fara- bedanya, Kak Nana kata Ibu sudah cerai.

“Suaminya bahkan sudah menikah lagi, Ben,” cerita Ibu padaku di satu siang, sesaat setelah Mak Nuti mengantar kue talam. Kata Ibu, kue talam adalah kesukaan Kak Nana. “Nikah dengan teman Nana juga, teman dekat malah,” Ibu menggeleng, muram. “Di dunia ini yang sering main berantem-beranteman anak laki-laki, tapi seringnya anak perempuan yang saling menyakiti.”

Kak Fara menatap Kak Nana. “Ya, tiga tahun yang lalu, kau  masih ingat ya, Na.”

“Itu tahun Kak Fara gak pulang lebaran,” suara Kak Nana terdengar mengandung ironi. “Padahal Ibu memakai baju gamis ini di lebaran pertama, mulai salat ied di lapangan. Baju yang kubelikan dari butik perancang ternama itu malah dipakai di hari ketiga pas lebaran ke rumah Wak Nardi.” Kak Nana agak ngambek.

“Ya, aku lebaran di Mekah kan, Na, sama keluarga Mas Ilham,” bela Kak Fara, menyebut nama suaminya. “Seharusnya aku bawa Ibu juga sekalian umroh waktu itu ya,” ada sesal di suaranya. Ia membayangkan, andai dulu membawa Ibu umrah akhir Ramadan dan lebaran di Mekah.

“Jadi maksudnya, kalau Ibu ikut Kakak lebaran di Mekah, aku mau pulang ke mana? Lebaran sendiri di rumah Ibu?” Kak Nana mendengus, dia mulai ikut memilah-milah baju yang dikeluarkan Kak Fara tadi.

Alah…kau pulang juga karena mau buat konten,” Kak Fara gantian mendengkus. “Juga karena kau sudah gak punya mertua lagi. Sebelumnya kau pulang ke rumah Ibu setelah seminggu lebaran. Lebih memilih lebaran dengan keluarga Danu.”

“Ya, Danu brengsek!” Kak Nana menyambar ucapan itu, menyebut nama mantan suaminya. “Lelaki gak tahu diri!” suara Kak Nana meninggi.

“Kau yang gak bisa menjaga suami!” Kak Fara juga meninggikan suara.

“Aku?” Kak Nana menunjuk hidungnya. “Ini gara-gara perempuan itu. Pelakor!”

Sebuah langkah mendekati pintu kamar. Itu Bang Firman, anak kedua Ibu, satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini. Ia melirikku, dan mengelus punggungku sambil tersenyum. “Ben…” sapanya.

“Ada apa ini?” Bang Firman menatap Kak Nana dan Kak Fara. “Ibu baru berpulang, kalian ribut terus.” Laki-laki tampan itu –anak kesayangan ibu, pastinya, anak laki-laki harapan, tempat bersandar, menatap Kak Fara dan Kak Nana bergantian.

“ Ada apa?” suaranya kini lembut, seperti sedang menanyakan apa keluhan pasiennya. Ia seorang dokter. Dokter yang baik dan jempolan, puji ibu selalu. Sayangnya, seperti Kak Fara dan Kak Nana, Bang Firman juga tidak pulang kalau tidak lebaran atau…karena ibu meninggal, seperti sekarang. Ia lupa menanyakan ‘adakah ibu baik-baik saja?’

“Gak ada, Fir,” Kak Fara menyahut, lalu tangannya menunjuk tempat tidur Ibu, di mana baju –baju ibu dikumpulkan dari lemari. “Kamu mau pilih buat Dinda?”

Dinda adalah istri Bang Firman, kali ini tidak ikut pulang karena sedang hamil tua dan menunggu lahiran. Anak pertama, anak yang ditunggu setelah pernikahan memasuki tahun ketujuh. “Entah ibu bisa menggendong anak Bang Firman entah tidak, Ben,” beberapa waktu yang lalu, sepekan sebelum Ibu mengeluh dadanya sakit, ibu menerawang jauh.

Ia menatapku, mengelus kepalaku. “Tapi doa Ibu tetap untuk keselamatan anak dan ibunya,” ibu mengusap sudut matanya yang berair. “Katanya anak cowok, USG-nya begitu, Ben.” Ibu tampak bahagia. Ia bahkan tidak mengeluh lagi, sudah berapa lama Bang Firman tidak meneleponnya.

Ibu memang tidak akan pernah melihat anak Bang Firman. Ibu berpulang tiga hari yang lalu. Ibu terjatuh di kamar mandi, tidak ada yang tahu. Aku sedang keluar dan ketika kembali kulihat rumah ramai. Mak Dira yang datang –hendak mengembalikan cetakan kue bolu yang dipinjamnya- yang menemukan Ibu pertama kali.

Sejak itu aku tak berhenti menangis, bahkan sampai Ibu dimakamkan.

---

Semua baju sudah dibagi-bagi, maksudnya, sudah disisihkan untuk dibagikan. Kak Fara mengambil kembali gamis biru muda hadiahnya dulu. Kak Nana mengambil dua potong gamis terbaik ibu dan Bang Firman mengambil dua gamis, satu warna biru tua dan warna krem, dan sebuah sarung. “Untuk anakku,” katanya sambil mencium sarung warna cokelat itu.”Kenangan dari Nenek yang tak sempat dikenalnya.” Aku ingat, itu sarung yang biasa dipakai ibu untuk salat.

Baju-baju lain sudah disisihlan untuk dibagi-bagi. Ini untuk Mak Dira, ini untuk Bu Neng. Yang ini untuk Nek Arfa, itu untuk ustazah Maimunah dan sebagainya. Aku merasakan kesedihan yang dalam, seolah semua tentang Ibu sudah  habis dibagi-bagi. Tak tersisa.

“Daster Ibu!” Kak Nana bangkit. Dia melihat ke gantungan baju dekat pintu. Ya, daster kuning itu, aku mengikuti gerakan Kak Nana yang menurunkan daster dari gantungan. “Ini baju dinas Ibu.” Ada tawa kecil namun mengandung kesedihan di suaranya. “Selama ibu pakai ini, hari harusnya indah.” Ia tiba-tiba menatapku.”Ini baju yang paling sering dipakai Ibu kalau di rumah,”

“Tinggalkan itu untuk Ben!” Tiba-tiba Kak Fara menatapku juga.

Kak Nana mendatangiku dan meletakkan daster kuning Ibu di badanku. “Warisan untukmu, Ben!”  Ia tersenyum kecil. “Dari Ibu!”

Ya, seperti kata Kak Nana, ini adalah baju dinas Ibu. Aku mencium aroma ibu. Menciumnya berarti mengenang hari-hari bersama dengannya, mengingat tawanya, mengingat dengkuran halusnya saat tidur. Elusannya, juga senandung lirihnya. Kami bersama hampir sepanjang waktu. Hanya kami berdua. Aku merindukan ibu.

Aku keluar dari kamar, daster kuning itu masih membalut tubuhku. Aku tahu aku mau kemana. Aku ke makam ibu. Sejak ibu dimakamkan tiga hari yang lalu, entah sudah berapa kali aku mengunjunginya.

----

Cit….cit….gebrak!

Mak Dira, wanita  enam puluh tahun itu hampir menutup pintu rumah ketika ia mendengar suara motor yang direm mendadak. Belum begitu sore, tapi Mak Dira sudah malas duduk di teras, tak ada lagi teman ngobrol sejak Lestari, tetangganya, meninggal tiga hari yang lalu.

Astaghfirullah, apa itu?” Mak Dira menindak langkahnya. “Nugi!” ia berteriak, memanggil nama cucu laki-lakinya.

“Ya, Nek.” Tak berapa lama seorang remaja laki-laki berdiri di samping Mak Dira, tampak kurang senang, ia tadi tengah bermain game online sebelum sang nenek memanggilnya.

“Coba lihat itu di jalan, motor siapa yang jatuh!”

Nugi bergegas ke jalan aspal di depan rumahnya.

Dia melihat seorang laki-laki dewasa  dengan helm yang masih menutup kepalanya, sedang berjongkok. Motornya yang berwarna merah masih terbalik, melintang di jalan.

Nugi mendekat, dan ketika sampai di sana ia menutup mulutnya. “Astagfirullah, ya ampun!”

Laki-laki, pengendara motor, membuka helmnya dan mengangguk ke Nugi, lalu menggeleng dengan wajah menyesal.

Nugi berbalik ke rumah. “Nek…Nek…” ia nyaris tak bisa bicara.

Mak Dira mendelik. “Ada apa? Siapa yang jatuh?”

“Itu, Nek, Bentol, kucing Wak Tari, ditabrak dan…mati, Nek! Bentol memakai …membawa daster kuning yang…biasa dipakai Wak Tari, Nek!” Anak remaja itu bergidik. Ia seolah tak percaya bahwa kucing putih dengan sebagian bentol hitam itu sudah mati. Ia melihat tubuh Bentol penuh darah.

Innalillahi. Ya, ampun Ben…Bentol!” Mak Dira mencari sandalnya. “Kamu nyusul Ibumu ya, pantes aja beberapa hari ini aku lihat kamu ke kuburan Tari!”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Daster Kuning Ibu
Risna Dabliyuti
Novel
SIGRAH
metanoia
Novel
JEJAK RAGA
Dyah
Komik
Bronze
Hidden Feelings
Nami Taki
Novel
Gold
Cloudy Charcoal
Mizan Publishing
Flash
Bronze
ANGGREK
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Flash
Bronze
Si Penengah
Singkat Cerita
Flash
Semua Untuk Anya
Farah Maulida
Novel
Bronze
Mamah, Panda Ingin Sehat
Imoetzdw
Skrip Film
KOMA
Kris Halomoan Simanjuntak
Cerpen
Yang Berjuang dan Terbuang
tang rusata
Cerpen
Bronze
Bertahan, Sehari Lagi
Lilith
Novel
Bronze
My 25 Days Corona Diary
Eunike Mariyani
Novel
MetaMorphoo
Jeni Octavitaloka
Flash
Dreamcore Room
Lail Arahma
Rekomendasi
Cerpen
Daster Kuning Ibu
Risna Dabliyuti
Skrip Film
JANJI RIO
Risna Dabliyuti
Flash
Bronze
Oleh-oleh
Risna Dabliyuti
Skrip Film
SISA KEMARIN
Risna Dabliyuti
Cerpen
Last Call dan Hantu Masa Lalu
Risna Dabliyuti
Flash
Bronze
GHOSTING
Risna Dabliyuti
Novel
Bronze
Perempuan-Perempuan Sam
Risna Dabliyuti
Flash
Teh di Cangkir Kopi
Risna Dabliyuti
Cerpen
Last Call dan Hantu Masa Lalu-Part2
Risna Dabliyuti
Cerpen
Segelas Kopi Buat Istri (sekuel Last Call dan Hantu Masa Lalu)
Risna Dabliyuti
Flash
Tamu Untuk Alex
Risna Dabliyuti