Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Oleh : Fakhrurrazi M. Qasim
DARI KEJAUHAN
Bagaimana bila kau merasa terus diawasi? Bagaimanakah rasanya jika hari-harimu selalu tegang dan penuh rasa was-was? Apa yang harus kau lakukan jika pada tiap langkahmu terasa ada sepasang mata sedang memandangimu? Atau kau merasa ada seseorang yang lain sedang mengarahkan kameranya kepadamu? Atau sedang merekam segala adegan perbuatanmu?
Seperti sore ini ketika senja merah merona begitu indah. Orang-orang ramai berjalan kaki pulang dari kerja melewati trotoar kanan dan kiri. Sebagian menyeberangi jalan ketika lampu merah menyala. Kendaraan berhenti lalu para pengamen berdatangan menyanyikan lagu-lagu sumbang. Anak-anak senja duduk nongkrong di emperan-emperan kafe, menanti momen sunset yang lebih mereka kagumi daripada kekasih mereka sendiri. Para pengemis duduk diam seperti patung batu yang diterpa temaram. Saat satu demi satu lampu-lampu mulai dinyalakan, mataku menangkap sebuah bayangan yang melintas dari kejauhan, di antara kerumunan orang-orang yang lalu-lalang.
Dia bukan lagi hal asing bagiku semenjak beberapa bulan belakangan ini. Dia nampak seperti seorang pria, berkacamata dan memakai masker dengan kemeja kotak-kotak. Tubuhnya dibalut jumper hitam yang kupluknya menutupi kepala. Ia berdiri tak peduli dan diam di antara gerakan orang-orang. Dia memandangiku dari kejauhan dengan gelagat mengawasi. Setiap kali aku menoleh ke arahnya, seketika itu pula ia membuang pandangan ke arah lain yang jauh dariku.
Bukan sekali atau dua kali aku melihatnya. Hari ini, sejak pagi aku telah mendapatinya. Berdiri kedinginan memandangi jendela rumahku yang berembun. Siang tadipun aku melihatnya lagi. Berdiri menginjak jalanan aspal nan panas di samping halte sembari memandangiku menaiki bus. Hingga sore ini kembali aku mendapatinya. Duduk pada sebuah bangku kayu tua nan rapuh. Itu di taman tepi pantai saat aku tengah berolahraga.
Seperti inilah. Hari demi hari yang aku lewati. Aku merasa bosan pada keadaan. Aku jemu. Aku muak merasa terus dikuntit setiap saat. Dalam hatiku tak sudi lagi diperlakukan begini. Aku bertekad harus bangkit. Harus menghadapi semua ini dengan keberanian.
Ini adalah hari ke enampuluh. Aku telah berjanji pada hatiku. Aku harus menemuinya, laki-laki berkacamata dan memakai masker. Dengan kemeja kotak-kotak yang dibalut jumper hitam dan kupluknya menutupi kepala.
* * *
Siang ini begitu terik. Cahaya matahari seperti menggigit kulit. Angin panas bergulung debu bercampur aroma asap kendaraan. Suara para kenek bus yang berteriak-teriak menawarkan trayek seperti menyatu dengan alunan musik dangdut koplo yang mengalun entah dari arah warung mana. Aku melewati halte lalu berdiri. Berdiam di sisinya. Biasanya sepuluh menit lagi bus akan singgah. Namun kali ini entah mengapa terasa begitu lama. Cuaca terik nan kering disertai debu-debu yang terasa mengalungi leher. Aku makin tak tahan berlama-lama di sini. Cahaya matahari memantul dari kaca-kaca mobil yang melintasi jalanan. Menyilaukan mataku.
Kembali angin menerpa wajahku. Tiba-tiba kedua mataku menangkap sekelebat bayangan. Tak asing lagi. Laki-laki berkaca mata yang memakai masker. Berkemeja kota-kotak dibalut jumper hitam. Kupluknya menutupi kepala. Tanpa banyak berfikir aku bergegas berlari. Menuju bayangan itu. Mataku liar, kepalaku tegang, dadaku berat dan nafasku hampir sesak. Tapi aku memaksa berlari menyusuri lorong-lorong hingga menabraki beberapa pedagang asongan. Mereka membalasku dengan caci-maki menggunakan nama-nama hewan. Aku makin tak peduli. Saat kulihat sosok itu berlari menghindariku, kupacu pula kedua kakiku mencapai ujung gang yang ternyata buntu. Aneh dan sangat mengejutkanku. Ternyata tak ada siapapun di situ. Dalam lelah aku sempat bertanya; ada apa ini? Apa ini nyata ataukah hanya delusi?
* * *
“Jangan lepas, Raka! pegang kuat!” Seruku kepada Raka yang menggantung di ujung tebing. Kedua kakinya tak lagi menginjak cadas. Tangan kanannya berpegang pada salah satu tonjolan batu di bawah tubuhku. Tangan kirinya erat menggenggam tangan kananku yang mulai keringatan. Aku merasa tak kuat lagi. Namun aku tak boleh menyerah. Aku harus menahannya. Jika tidak maka nyawa sahabatku sebagai taruhannya. Keringatku semakin banyak bercucuran hingga lengan. Terasa licin. Kurasakan genggaman Raka mulai bergeser lembut. Aku kian cemas. Mataku sibuk mencari carabiner yang terkait dengan harness miliknya, berharap semoga sempat kukaitkan ke descender yang terlilit tali karmantel di tubuhku ketika tiba-tiba...
“kraak!” Tonjolan batu di bawahku meretak lalu lepas seketika bersama jatuhnya tubuh Raka ke jurang.
“Bi, bimaa...!!” Teriaknya menjadi dengan wajah pucat pasi. Matanya menatapku ketakutan.
“Rakaa...!!” Aku terkesiap tiba-tiba menatap langit-langit kamar yang putih dan bersarang laba-laba. Aku mencoba mengatur nafas. Mimpi kali ini membuatku benar-benar merasa lelah. Ini bukan hanya sekali. Belakangan ini semakin sering. Apalagi pada dua bulan terakhir.
Aku bangkit dari ranjang. Melangkah untuk minum. Hari masih pagi. Kilau surya mulai mencuat dari kejauhan dan terekam oleh mataku di sudut kanan atas jendela. Terbayang-bayang kembali mimpiku. Terlintas kembali wajah Raka. Hatiku seperti teriris. Ada relung kosong besar nan perih di dalam dada membuat kepalaku terasa migren.
Kubuka lemari kecil di sudut kamar, kupandangi kemeja flanel kotak-kotak dan jumper hitam yang telah terlipat rapi dan tersimpan di situ selama dua belas tahun. Itu pakaian terakhir Raka sebelum ia meninggal.
Aku masih memikirkan Raka yang jatuh. Mengenang tatapan matanya yang ketakutan. Tatapan itu menusuk pada kedua kornea mataku, meninggalkan adegan yang mustahil kuhapuskan. Entah apa yang terjadi menjelang kematiannya? Entah bagaimana rasa sakit yang dirasakannya ketika tubuh lelahnya meluncur membentur karang gunung nan keras? Apakah dia mengerang kesakitan ketika kulitnya tergores bergesekan cadas-cadas yang bercampur kerikil-kerikil tajam? Ataukah dia masih hidup ketika tengkorak kepalanya menabrak tebing demi tebing nan terjal?
Entah sampai kapan aku terbayang-bayang kenangan buruk ini. Sudah dua belas tahun dan ini masih terus membayangiku. Aku tak bersalah. Tak berhutang apapun pada Raka namun entah mengapa rasa bersalah selalu membayangiku?
Keringat, iya! Keringat di lenganku yang membuat Raka jatuh ke jurang dan tubuhnya hancur lebur. Keringat itu milikku, artinya memang aku yang bersalah. Aku bersalah hingga kami menemukan jenazahnya keesokan harinya. Bersalah saat kami mengevakuasinya. Bersalah saat memakamkannya dua puluh empat jam kemudian. Dan bersalah hingga hari ini.
Aku menatap cermin. Menyeruput kopi dan meletakkan gelasnya di atas bupet lalu kembali melihat rasa bersalah di wajahku. Apakah Raka sudi melihatku hidup sementara dia harus mati?
Tapi ini semua bukan pilihanku. Bukan pula pilihannya. Lantas mengapa harus aku yang bersalah? Apa aku pernah memilih untuk jadi seseorang yang bersalah? Tidak! Bahkan jika aku meminta agar aku saja yang jatuh ke jurang saat itu, tetap jua takdir tak bisa merubahnya. Ini sudah terjadi.
Aku harus menerima bahwa akulah yang masih hidup. Harus menerima bahwa akulah yang harus menanggung beban. Beban? Ataukah aku sendiri yang selama ini suka membebani diri? Ya...! Aku memang telah mengambil semua luka. Tak menyisakannya. Padahal aku bukan pahlawan. Bukan jagoan yang harus dibebani oleh berbagai tanggung jawab. Di luar kemampuanku.
Bukankah aku hanya air yang mengaliri rongga kehidupan? Hanya mengalir. Aku tak kuasa menentukan. Entah ke mana tujuanku, aku tak tahu muara dari semua ini. Benar! Aku hanyalah air. Atau seperti air. Tak berwarna. Tak bersalah. Aku tak bersalah!
* * *
“Sekarang bagaimana perasaannya, Pak Bima?” Tanya Dokter Frida yang selama dua bulan ini menjadi tempat konsultasiku. Dokter berwajah cantik, berkacamata dengan kulit putih dibalut jilbab abu-abu yang menutup hingga bagian perutnya. Ia duduk di kursi kerja berlapiskan kulit sintetis berwarna cokelat kopi susu. Sebelah tangannya mengutak-atik keyboard laptop. Tangan lainnya yang menggenggam pena bersandar di atas buku catatan yang telah terbuka.
“Alhamdulillah, saya baik, dokter. Tapi orang itu masih tetap mengawasi.” Jawabku yang duduk di bangku pasien tepat di hadapan Dokter Frida. Kutegakkan punggungku sambil menghadap padanya.
“Lantas, apa yang Pak Bima lakukan?”
“Saya mengejarnya, Bu, saya tidak takut, saya kejar dia hingga ujung lorong tapi dia hilang.” Aku merasa bersemangat menjelaskan pengalamanku kemarin padanya. Ruangan yang dindingnya bercat putih tulang dengan plafon putih bersih dan lantai keramik putih ini seharusnya terasa dingin karena menggunakan AC. Namun tubuhku malah terasa hangat saat menceritakan pengalamanku kemarin.
“Saya kok penasaran sama orang ini, Pak Bima. Tapi saya bersyukur sudah ada perubahan pada Pak Bima.”
“Iya terimakasih Bu Dokter, semangat dan nasehat Ibu berhasil saya amalkan.”
“Iya, alhamdulillah, Pak Bima. Oya saya punya usul untuk kedepannya, Pak.”
“Apa itu Bu Dokter? Katakan saja, semoga saya bisa lakukan.”
“Gini Pak, bagaiamana kalo nanti Pak Bima ketemu sama orang itu lagi, abaikan saja. Anggap dia orang gila atau pengemis yang sedang nyari perhatian. Pak Bima tentu enggak punya waktu melayaninya, kan?”
“Hm..., iya sih, kayaknya idenya menantang juga, Bu Dokter. Baik, akan saya coba.” Jam tanganku menunjukkan pukul 21.30 malam ketika konsultasi berakhir. Aku pamit pulang meninggalkan ruangan dengan lampu yang kurang terang mirip lampu di kafe-kafe itu. Aku pun tak juga memberitahukan kisah tentang Raka pada Dokter Frida. Memang aku tak ingin dia tahu.
* * *
Fajar baru saja berlalu. Rona gelap masih bersisa banyak di langit yang mungkin mendung. Dingin subuh mungkin masih menusuk pada belulang. Rerumputan di sekitar kuburan yang dipijak Bima melumerkan cairan embun yang membasahi telapak sepatunya. Lelaki paruh baya berwajah tampan. Brewok tipis di sebagian wajahnya tampak berembun karena cuaca yang dingin. Ia melangkah mendekati kuburan tua yang tak terawat. Rerumputan liar, alang-alang dan tanaman rambat menumbuhi bagian atasnya.
“Sudah dua belas tahun kawan..., tiap ke sini aku tuh ngerasa kalau kamu masih hidup. Masih jalan-jalan di luar sana... Tiap lihat nama kamu, aku selalu ngerasa kalo kamu lagi mandangin aku dari jauh tapi enggak berani dekatin aku. Tiap kali itu terjadi aku pasti ngerasa kosong lagi dan sadar kalo kamu emang benar-benar udah pergi. Maafin aku. Aku enggak mampu nyelamatin kamu, aku enggak mampu narik kamu waktu itu biar selamat. Maaf yah, Raka...” Bisik Bima serak dan lirih pada udara kosong di depan makam Raka yang ditumbuhi rerumputan liar. Lama dia duduk termenung di depan kuburan itu. Kini nampak beberapa aliran bening dari kedua matanya yang memantul dikilaui matahari pagi.
Bima bangkit dengan pandangan yang terus tertuju pada kuburan Raka. Tak lama kemudian ia berbalik melangkah masuk dalam mobilnya. Ia duduk bersandar pada jok mobil ketika hawa dingin dari luar ikut terbawa masuk ke dalam. Udara bertambah dingin disebabkan AC mobil yang memang dingin. Bima menghirup semuanya dengan hati yang tak lagi dingin. Walau kedinginan ini seperti dinginnnya rasa bersalah dan dinginnya kenangan. Ia telah memaafkannya, memaafkan dirinya sendiri. Memaafkan hatinya yang tak mampu memilih. Memaafkan sisi lemahnya sebagai manusia. Memaafkan karena memang semua orang hanya mampu memaafkan. Terutama untuk dirinya sendiri.
Tanpa disadarinya, dari kerumunan pepohonan di utara, sepasang mata sedang menatapnya. Dari kejauhan.
* * *
Poso, 04 Januari 2025