Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dari Bukan Siapa-Siapa, Menjadi Lebih Berharga
Hari itu gue cuma pengen beli bakso di kantin. Tapi, ternyata gue malah jadi saksi pertengkaran pasangan yang terkenal populer di sekolah SMA gue.
"Gue capek, tau gak sama lo, Cuma gue sendiri yang excited dalam hubungan ini!" ucap Felicia, ketua OSIS cewek yang sangat berprestasi di sekolah gue.
"Kan gue udah kasih apa yang lo mau." Jawab Nathan yang dingin banget meskipun sama pacarnya. Dia emang terkenal dengan sikap cool, yang bikin orang terklepek-klepek sama dia.
Beberapa murid pun mulai menghampiri mereka yang bertengkar dahsyat itu, bahkan ada yang merekam mereka. Sementara gue, gabisa makan bakso dengan tenang karena kehebohan ini.
"Nathan, lo memang kasih apa yang gue mau, tapi lo cuek sama gue, sekali pun gaada tuh perhatian sama gue. Padahal gue ini pacar lo, Nat!" suara Felicia makin mengeras. Meskipun begitu, Nathan tetap santai, tidak ada terlihat takut di raut wajahnya, mendengarkan Felicia yang mengoceh sedari tadi.
"Kayaknya gue udah salah milih pacar. Gue salah udah nembak lo duluan! Maka dari itu--- KITA PUTUS!" teriak Felicia yang membuat murid-murid mendengar terkejut bukan main, karena mereka adalah pasangan yang cukup famous di sekolah. Pastinya ini akan menjadi berita paling hot di sekolah gue.
Nathan melihat di sekitarnya ada banyak murid menatapnya dengan sinis, dan terlihat penuh berbisik di antara mereka.
"Heh? Ngapain semua liatin gue? Bubar sana!" ucap Nathan dengan lantang menyuruh mereka untuk bubar, yang otomatis mereka pasti bubar karena takut dengan sikap Nathan yang walaupun cool tapi judes.
Sekarang, cuma tersisa dua orang di kantin, gue yang menikmati makan bakso, dan Nathan yang masih berdiri tegak di samping gue.
"Nama lo Linda, kan?" tanya Nathan yang membuat gue bingung, kenapa dia tanya nama gue? Biasanya dia kan gasuka tanya gini, apalagi sama cewek.
"Iya, nama gue Linda," jawab gue dengan sedikit tersenyum sambil memegang kacamata gue.
Entah kenapa, Nathan menatap gue terus pas gue lagi makan bakso. Gue pasti malu lah, muka gue langsung memerah kan, jadinya. Soalnya gue ga pernah ditatap kayak gini sama cowok. Gue hanya bisa pura-pura nunduk sambil menyantap bakso.
Akhirnya, Nathan pergi. Jantung gue sedikit lega karena itu, tapi bukan berarti gue suka ya sama Nathan. Siapa yang ga malu coba ditatap kek gitu sama cowok?
Beberapa menit pun, gue udah siap makan bakso. Kayak biasa, gue berjalan pergi ke perpustakaan untuk baca buku di sana. Gue emang kutu buku sih kata orang-orang, temen pun bahkan gaada. Gue udah terbiasa sendiri.
Pas masuk ke ruangan perpus, biasanya kalau jam segini, cuma gue yang ada sendiri di perpus. Tapi gue malah liat ada cewek yang duduk santai di kursi sambil baca buku. Ternyata, saat gue lebih mendekat ke arahnya, ternyata itu Felicia woy!
"Eh-- ada orang, masuk aja," ucap Felicia pelan. Dari raut wajahnya sih, terlihat dia masih kesal dengan kejadian tadi. Gue tersenyum tipis berniat sapa dia.
"Lo pasti liat kejadian gue tadi, kan?" tanya Felicia kepada gue dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Iya, tadi gue lihat,"
"Sebel banget deh gue sama Nathan, kadang gue malah benci sama sifat terlalu dinginnya itu," ucapnya melipat tangannya dengan muka yang cemberut mengerucutkan bibir.
Gue hanya mengangguk pelan kepadanya seraya mencari buku yang mau baca di rak.
"Lo sering banget ke sini ya, Linda? Itu nama lo, kan?" tanya Felicia kepada gue yang masih aja mencari buku.
"Iya, nama gue Linda. Gue emang sering ke sini sendiri," balas gue dengan tersenyum cengir.
Akhirnya, gue udah nemu buku novel fiksi berwarna biru yang gue cari, terakhir gue baca di halaman 54. Gue lagi suka banget akhir-akhir ini novel fiksi, apalagi berbau angst. Gue pun berjalan mendekati Felicia sambil memegang buku novel itu.
"Sini, duduk samping gue," ajak Felicia terlihat juga membaca buku novel fiksi berwarna merah muda berlatar bunga sakura. Gue pun mengangguk perlahan kepadanya, gue duduk di sampingnya dengan senyum manis.
Ga nyangka gue! Bisa duduk samping ketos, padahal modal perpus doang. Gue juga gugup sih sebenarnya dekat dia.
Tiba-tiba, gue denger Felicia mendesah kesal. "Ini mah lebih baik cowok fiksi, daripada real. Jadi pengen deh punya cowok sebagai cowok fiksi kek gini," pintanya sambil berkhayal tentang cowok fiksi. Gue hanya tertawa kecil, memang gue akui sih, cowok fiksi memang loveable banget.
"Linda, lo juga baca novel fiksi?" tanya Felicia yang penasaran sambil melihat novel yang gue baca.
"Iya, gue suka novel fiksi akhir-akhir ini," jawab gue tersenyum lebar. "Lo juga suka ya?" lanjut gue bertanya, biar ga kaku banget obrolannya.
"Jelas suka dong. Liat nih, gue suka novel yang kayak gini. Romance terus ada komedinya yang bikin ngakak," balas Felicia dengan memperlihatkan buku novel yang ia pegang. Gue udah baca itu, ceritanya memang bikin kita salting tujuh keliling.
"Novel lo judulnya Langit dan Lautan? Kayaknya sedih deh, gue gasuka novel yang sedih gitu," lanjut Felicia melihat novel yang gue baca.
"Gue udah baca novel yang lo baca. Akhir-akhir ini gue emang suka novel yang berbau sedih gini," balas gue kepadanya.
Lama kelamaan, Felicia makin akrab sama gue, dia dari tadi curhat terus sama gue tentang dia, gue pun jadi ikut terbuka sama dia, sampai-sampai kami jadi lupa baca buku novel yang halamannya masih terbuka lebar.
"Linda. Makasih ya, gue terhibur berkat lo. Gue sebenarnya galau dari tadi karena kejadian itu. Karena itu lah gue menyendiri di perpus. Tapi karena lo ada, gue jadi happy dan melupakan semua itu." Felicia melontarkan kalimat itu dengan senyum manis kepada gue. Gue langsung tersipu malu dong. Selama di sekolah, gue cuma sendirian. Buku di perpustakaan menjadi hal yang menemani gue selalu di sekolah ini. Tapi, malah dapet sebuah kalimat manis dari seorang ketos sekolah. Duh.. hati gue serasa gembira ria.
Felicia pun pamit dari perpustakaan, gue hanya tersenyum gembira. Walaupun gue ga punya temen, gue bisa ngebahagiain seorang di sekitar gue.
Yes! Akhirnya pulang sekolah, inilah yang gue tunggu, gue bisa pulang ke rumah terus bisa rebahan deh. Gue pun bergegas keluar dari gerbang sekolah, lalu nunggu angkutan umum dekat sana. Gue emang pulang-pergi naik angkutan umum ke sekolah, bukan alasan ortu sibuk atau gimana, tapi emang keinginan gue pengen naik angkutan umum, biar ga ngerepotin orang tua. Rumah gue juga terbilang jauh sih, sekitar 3 kilometer.
Saat gue nunggu angkutan umum gue tiba, gue lihat ada mobil putih berhenti di depan. Kaca mobil depannya perlahan terbuka, dan ternyata itu Felicia, dan di sampingnya ada seorang lelaki yang menyetir, sepertinya itu supir pribadinya.
"Linda! Kamu nunggu jemputan kah?" tanya Felicia dengan suara yang lantang kepada gue.
Gue jawab, "Gue nunggu angkot di sini, Feli,"
"Nunggu angkot? Angkot mah lama tibanya. Mendingan gue anterin aja ya lo ke rumah," Tampaknya Felicia ingin ngajak gue untuk pulang bareng dia dengan mobil itu.
"Eh-- gausah Fel, gue pulang naik angkot aja, ngerepotin," gue menggelengkan kepala dan melambaikan tangan.
"Udah naik aja, gapapa kok, ga ngerepotin sama sekali," ucapnya yang bersikeras nyuruh gue untuk naik mobil dan anterin gue. Kalau gini juga ga enak nolaknya, jadi.. mau gamau gue pun naik ke mobilnya di bangku belakang.
"Ini juga sebagai tanda terimakasih gue tadi," ucap Felicia dengan tersenyum lebar menghadap ke arah gue di belakang, gue juga balas dengan senyum tipis.
Tak lama setelah itu, Pak supir bertanya kepada gue, "Mau diantar kemana, dek?" Gue pun menunjukkan arah rumah gue kepada pak supir.
Beberapa menit, gue pun sampai di tujuan, rumah gue. Gue ga lupa bilang makasih ke Felicia, soalnya gue ngerepotin dia.
"Sama-sama, jaga diri baik-baik ya. See you tomorrow."
Gue merasa kayaknya enak juga punya temen kayak Felicia. Udah cantik, ketos, pintar, baik hati lagi.
Keesokan harinya, gue memulai hari yang baru dengan semangat seperti biasa ke sekolah. Gue pun berjalan di koridor sekolah dengan menyandang tas ransel gue yang berwarna hitam polos.
Tetapi, gue merasa ada yang aneh dari orang-orang, mereka menatap gue sambil bisik-bisik, dan penuh senyuman manis. Ini orang-orang pada kenapa sih menatap gue? Perasaan penampilan gue gini-gini aja.
Beberapa pun ada yang tiba-tiba menyapa gue kayak "Hai Linda!" padahal gue sama sekali ga kenal sama mereka.
Hingga gue tiba di mading sekolah, terlihat ramai banget orang ngeliatin mading. Pas gue tiba, orang-orang malah menatap gue dengan senyum manis, langsung minggir dan menyuruh gue liat sesuatu di mading itu.
Ternyata! Itu tentang gue dan Felicia! Bahkan ada foto kalau gue naik mobilnya Felicia. Tapi, siapa yang motoin ya? Kayaknya salah satu murid di sini deh.
"Wah, hebat ya kak Linda. Dia kutu buku tapi bisa mengambil hati ketua OSIS," puji salah satu murid dekat gue.
Semua orang menatap gue dengan tersenyum manis. Muka gue memerah seketika, gue ga pernah jadi pusat perhatian orang ramai sebelumnya, dan sekarang malah gini.
Setelah itu, Gue lihat Felicia berjalan juga di koridor bersama perempuan di sampingnya, sepertinya itu teman Felicia. Dia pun menjadi pusat perhatian di sana.
"LINDA!" sapa Felicia dengan keras kepada gue, gue cuma tersenyum malu dengannya.
Gue pun berjalan menuju ke kelas dengan perasaan yang malu banget karena ini, bahkan muka gue sampai memerah padam. Tanpa sadar, gue ternyata berada di belakang Felicia dan temannya itu.
"Fel, lo beneran temenan sama si kutu buku itu?" tanya temannya itu kepada Felicia, ga sengaja gue mendengar percakapan mereka.
"Iyalah Sera, apa salahnya sih temenan sama kutu buku?" balas Felicia. Ternyata nama temannya Sera.
"Level lo tuh beda sama dia. Kalau gue sih gamau ya temenan sama kutu buku dekil kek gitu," ucap temannya, Sera yang menusuk hati gue.
Dari muka gue yang memerah sambil senyam-senyum, kini berubah menjadi murung kusam. Gue merasa perkataan Sera ada benarnya juga, gue ga level sama dia. Sepertinya Sera dan Felicia tidak tau kalau gue di belakangnya.
Gue pun meletakkan tas ransel gue di kelas, lalu gue kayak biasa pergi ke perpus untuk menyendiri.
Tetapi, suasana perpustakaan terlihat ramai tiba-tiba, kenapa ya tiba tiba ramai gini? Padahal kan gue mau menyendiri dengan tenang.
"Eh-- itu ada Linda, kutu buku populer!" teriak salah satu dari mereka di perpustakaan itu.
"Hey Gengs! Kita ketemu si kutu buku populer di sekolah kita loh," ucap mereka sembari merekam gue di handphone.
Padahal gue lagi ga mood, gue pengen menyendiri baca buku di perpus, tapi nyatanya. Gaada lagi waktu dan tempat untuk menyendiri, gue hanya bisa tersenyum kecut dengan mereka.
"Wah, netizen pada banyak yang tanya nih. Boleh tanya gak, Lin?" gue hanya mengangguk pasrah aja.
"Bagaimana caranya kamu mengambil hati seleb ketua OSIS?" Tunggu bentar, jadi dia seleb? Pantesan gue bisa sepopuler ini.
"Itu, karena aku bisa menghibur dia," ucap gue yang singkat saja, gue bingung apa yang gue mau bilang lagi.
"Hah? Cuma itu kah caranya?" tanya mereka dengan sebelah alis yang terangkat, gue pun cuma meng-iyakan.
"Kak, boleh foto bareng ga kak?" tanya adekel di sana. Sebenarnya gue udah muak, tapi gue mengangguk pasrah aja.
Setelah foto sama adekel, orang-orang malah menghampiri gue dengan beribu perkataan. Tubuh gue udah keringat dingin karena ini semua. Ternyata jadi populer itu gak asyik! Felicia kok bisa ya ngatasin mereka ini?!
Gue pun gak bisa meladeni mereka, karena saking banyaknya. Gue pun pergi keluar perpus dengan perasaan yang cemberut, sebab itu gue gak bisa baca buku di perpus dengan tenang lagi.
Gue jadi bingung dan kesel sekarang, pergi ke mana lagi untuk menyendiri, kemana-mana gue selalu ditanya. Pikiran gue yang terlintas hanya di toilet, pasti gak akan ramai kan?
Gue berjalan menuju ke kamar mandi. Gak sengaja gue berpapasan sama teman Felicia, Sera yang kata-katanya menusuk hati gue tadi.
Terlihat Sera dari raut wajahnya sinis menatap gue, kayak benci gitu.Tapi, gue juga terlihat cemberut karena kata-katanya tadi.
Tau-taunya Sera malah nyenggol gue, membuat gue sampai jatuh tersungkur, kacamata gue pun sampai lepas dan jatuh. Dan gue yakin itu pasti sengaja.
"Ya ampun, maaf... gue ga sengaja," jelas banget! Ucapan Sera kesannya seperti dibuat-buat.
Gue berusaha cari kacamata gue yang lepas, tapi penglihatan gue buram, jadinya susah. Sementara Sera, dia ga nolongin gue apa pun. Dia cuma lihat gue yang kesusahan nyari kacamata gue.
Tiba-tiba, ada seorang lelaki berlari menghampiri gue. Gak nyangka gue, ternyata itu Nathan.
"Kamu kenapa, Linda?" tanya Nathan yang terlihat khawatir sama gue.
"Kacamata.. gue," balas gue yang masih tengah mencari kacamata gue itu.
"Ini, Linda. Kacamata lo," kata Nathan sambil membantu gue memakai kacamata di mata gue. Entah kenapa, jantung gue seakan berdebar saat itu. Kenapa sih?
"Sini, gue bantu lo bangkit," ucapnya mengulurkan tangannya ke gue. Ternyata cool gini suka menolong ya.
"Makasih ya, Nathan," ucap gue memegang tangannya, lalu bangkit berdiri dan memberi senyuman tipis.
Nathan ga jawab, dia malah natap gue dengan tersenyum manis. "Cantik, Eh--" gue sontak terkejut, maksud dia apa, bilang gue cantik.
"Maksud lo?"
"Oh, tadi gak ada apa-apa kok, gue pergi dulu ya," ucap Nathan yang terlihat dari raut wajahnya, menahan malu. Ia pun pergi begitu saja.
Gue bingung dengan satu kata Nathan yang gue denger tadi, Cantik. Apa Nathan..? Ah gak mungkin lah, gue cuma kutu buku gini.
Gue baru inget, Sera gak ada lagi di sekitar penglihatan gue, ia menghilang begitu saja. Sepertinya Sera memang sengaja, soalnya senggolannya keras banget sampai gue terjatuh.
"Linda, ternyata lo di sini," kali ini gue dicari sama Felicia. Untunglah, bukan mereka yang banyak nanya itu.
"Gue mau bicara sama lo," ucapnya kepada gue. Gue pun diajak duduk di koridor kelas.
"Lo, mau bicara apa?"
"Lo lagi deket ya, sama Nathan?" tanya Felicia, yang membuat mata terbelalak. Deket darimananya? Bertemu aja sesekali.
"Gak tuh, gue aja jarang ketemu sama dia," balas gue kepadanya, gue terlihat bingung dengan mengerutkan kening. Kenapa Felicia berpikir kalo gue sedeket itu sama Nathan?
"Beneran nih? Sebenarnya boleh aja sih lo deket sama Nathan, tapi jangan terlalu deket. Nanti lo sakit hati kek gue," ujarnya kepada gue, kayaknya dia khawatir sama gue.
Gue hanya mengangguk pelan mendengar ucapan Felicia. Terkadang gue bingung sama perasaan gue sama Nathan. Gue sebenarnya suka, kadang juga takut sakit hati karena nanti kayak Felicia. Di sisi lain, kadang gue juga ga percaya kalo Nathan gitu, soalnya baik banget sama gue. Pusing deh kepala gue pikirin ini.
Seminggu telah berlalu, gue makin populer di sekolah, bahkan udah dikasih julukan "Popular Bookworm." Gue sekarang bisa ngatasin mereka berkat bantuan Felicia. Gue pun makin akrab sama Felicia, kemana-mana pasti selalu berdua. Bahkan gue sekarang punya sosmed dan mulai aktif di sana. Gue ketularan Felicia jadinya.
Setiap istirahat sekolah, pasti gue sama Felicia ke kantin untuk menyantap bakso yang panas itu. Makanan kesukaan kami memang sama, yaitu bakso.
Lagi asyiknya berdua, Sera tiba-tiba muncul dari belakang dan menyapa, "Halo Felicia, gue boleh duduk di sini?" tanya Sera dengan Felicia.
"Duduk aja, Ser. Lo kan temen gue juga," ucap Felicia mengizinkannya, ia pun duduk di dekat Felicia. Gue entah kenapa setiap ketemu Sera, perasaan gue terus gak enak.
Sera pun mengajak Felicia untuk mengobrol dengannya, tapi gue gak diajak sih. Lambat laun, mereka berdua malah asyik banget ngobrol. Sampai lupa kalau ada gue di sebelah mereka.
Sera malah menatap gue dengan senyuman sinis. Ha? Apaan sih Sera?! Tiba-tiba gitu sama gue. Karena sikap Sera yang aneh, gue memutuskan untuk menghabiskan makanan bakso, lalu pergi menjauh dari sana. Gue gak langsung pergi, gue pamit dulu sama Felicia dan Sera, dan mereka membalas dengan anggukan saja.
Gue sebenarnya kesal sama Sera. Kalau ada Sera, Felicia malah lupa dan gak peduli sama gue. Tapi ya mau gimana lagi.
"AAAA!" gue dengar, ada suara teriakan lelaki di koridor seperti ketakutan dengan sesuatu. Dia makin mendekat ke arah gue, dan gue gak nyangka itu Nathan, yang terlihat ketakutan sampai berkeringat.
"Tolong gue, ada serangga di kelas gue!" ucap Nathan yang masih terlihat panik.
Gue termenung seketika. Serangga?! Apa Nathan takut serangga?
Tiba-tiba, ada kupu-kupu terbang mendekati gue, kupu-kupu itu terlihat cantik dan menawan. Warna sayapnya berwarna kuning keemasan membuat kesannya terlihat mewah.
"Nah, itu dia serangganya! Itu dia!!" teriakan Nathan makin keras. Dia malah sembunyi di belakang gue, terlihat tubuhnya gemetar karena ketakutan.
Sumpah! Ini beneran Nathan takut kupu-kupu?! Hewan secantik ini loh malah takut.
Tak lama, kupu kupu itu hinggap di tangan gue. Gue pun berniat bantu Nathan yang masih ketakutan dengan serangga cantik itu, dengan membawanya keluar dari sekolah. Kupu-kupu itu pun lepas dari tangan gue dan terbang bebas begitu saja.
"Linda, terima kasih banyak. Lo udah nolongin gue." tanpa aba-aba, Nathan memeluk gue dengan erat. Jantung gue langsung berdegup kencang, pelukan Nathan ternyata sangat hangat, sampai gue bukannya menghindar.
Nathan langsung melepaskan pelukannya, dengan mata yang terbelalak terkejut, "Sorry, Lin. Gue ga sengaja meluk lo."
Gue hanya tersipu malu, dengan muka yang memerah padam. Gue pun bertanya untuk memastikan kejadian tadi, "Lo takut sama kupu-kupu?"
"Iya, gu--gue takut," ucapnya tersenyum malu kepada gue.
Gue hanya tertawa kecil. Ga nyangka gue, seorang Nathan yang terlihat gak takut apa-apa. Ternyata malah takut sama seekor kupu-kupu yang sama sekali gak menakutkan di mata gue.
"Tunggu. Ada sesuatu di rambut lo." Nathan mendekati gue, ingin mengambil sesuatu di rambut gue. Deg-degan banget gue, soalnya badan gue sedeket ini sama dia. Kayaknya gue udah mulai jatuh cinta sama Nathan.
"Nah, udah." Nathan ternyata mengambil daun yang menempel di rambut gue.
"Makasih," ucap gue dengan singkat dengan senyum tipis, yang sebenarnya dalam hati gue salting tujuh keliling.
Ternyata, gue lihat Felicia dan Sera menatap gue sama Nathan tadi. Gue malah khawatir, Felicia marah gak ya? Karena tadi.
Gue mendekati Felicia dan Sera, gue lihat Felicia bukannya marah malah terlihat senyum yang manis.
"Cie! Lo ga bilang-bilang sama gue kalau lo udah jadian sama Nathan," ucapnya yang malah bercanda sama gue.
"Lo gak marah sama gue, Feli?" tanya gue heran dengannya.
"Gak lah. Gue gabisa maksa kalau lo memang suka sama dia. Kayaknya gue liat Nathan perhatian sama lo," kata Felicia tersenyum manis dengan mengusap bahu gue.
Ternyata Felicia gak cemburu atau marah sama gue, gue cukup senang mendengarnya. Bukannya Felicia, tapi Sera yang terlihat cemberut dengan mengernyitkan dahinya. Gue ga terlalu peduli dia sih, biarin aja.
"Tapi, gue ga jadian ya," ucap gue meluruskan kata Felicia tadi sambil tertawa.
"Halah! Bohong," balas Felicia dengan berniat bercanda sambil tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian, gue memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk cuci muka sebentar. Sera terlihat ada juga di sana. Gue lihat hanya gue berdua sama dia di kamar mandi itu.
"Linda, gue iri sama lo," ucap Sera dengan tatapan yang tajam sama gue. Perasaan gue langsung spontan gak enak karena dia mengucapkan itu.
"Lo udah rebut Felicia, bahkan lo lebih populer dari gue!" teriak Sera mendekati gue. Gue cuma bisa terdiam mematung dengan sedikit takut.
"Gara-gara lo, Felicia jarang bareng sama gue. Padahal gue temenan sama dia demi kepopuleran gue!" ternyata, Sera berteman dengan Felicia hanya karena kepopuleran. Bukan benar-benar tulus.
"Jadi selama ini, lo manfaatin Felicia demi kepopuleran?" tanya gue dengan memberanikan diri.
"Iya. Kenapa? Lo mau kasih tau? Ga semudah itu," ucapnya dengan tatapan yang terlihat menyeramkan sama gue.
"Sahabat Felicia itu cuma satu, dan itu gue. BUKAN LO!!" pekik Sera, lalu dia mendorong gue keras ke bilik toilet yang kecil, menutup pintu dan mengunci gue di sana. Gue cuma bisa teriak minta tolong sama siapa saja yang nolongin gue.
Tiba-tiba, gue terdengar suara yang terlihat marah dengan Sera, "Apa yang lo lakuin, sama Linda?!" dan itu adalah suara Felicia.
"Gue gak nyangka lo bisa sejahat itu ya Ser!" ucapnya, lalu terdengar membuka kunci dan pintu di bilik toilet, tempat gue terkunci tadi.
"Linda, lo gapapa kan?" tanya Felicia khawatir sama gue, dan gue balas dengan anggukan.
Felicia pun menghampiri Sera dengan tatapan tajam dengannya.
"Fel, ini semua ga seperti yang lo pikir--"
"Diam! Gue udah tau semuanya, ternyata lo manfaatin gue demi kepopuleran. Lo ga tulus sahabatan sama gue!" potong Felicia kepada Sera yang belum selesai bicara dengan lantang.
Wajah sera terlihat memucat, terlihat ketakutan dari raut wajahnya, "Maafin gue, Fel,"
"Gue Maafin lo kok. Tapi KITA GAK AKAN SAHABATAN ATAUPUN TEMENAN LAGI!" teriaknya dengan keras kepada Sera. Lalu menarik tangan gue dan pergi meninggalkan Sera yang terlihat masih pucat. Kata-kata Felicia menyakitkan banget sih buat dia, tapi dia pantas dapat itu semua.
"Lo beneran? Gak sahabat atau temenan lagi sama Sera?"
"Gak, untuk apa sahabatan sama orang yang gak tulus," jawabnya dengan mengibaskan rambutnya yang lurus panjang, "Mendingan, gue sahabat sama lo aja," lanjutnya kepada Linda. Membuat gue jadi terharu dengannya.
"Jadi kita sahabat?"
"Yes! Best friend forever." Karena ucapan itu, gue langsung memeluk Felicia dengan erat dan hangat. Gue dan Felicia udah resmi jadi sahabat, terlihat beberapa murid di sana mulai merekam gue yang berpelukan sama Felicia. Gue berpikir pasti ini akan jadi berita hot di sekolah.
Beberapa hari kemudian, gue mulai deket sama Nathan. Pulang pun sering dianterin sama dia. Gue sama Felicia udah kayak sahabat yang gak akan terpisah.
Gue merasakan jatuh cinta sama Nathan, karena perilakunya yang sangat perhatian sama gue meskipun masih temenan. Felicia, mantannya sekaligus sahabat gue pun dukung cinta gue ini, karena dia yakin Nathan berubah kalau sama gue. Satu lagi, gue yakin banget Nathan pasti cinta juga sama gue. Gue menunggu dan berharap Nathan akan menyatakan perasaan di depan gue. Gue ga seberani Felicia, yang mau menyatakan perasaannya duluan sebelum cowok.
"Udah deket, tapi masih belum jadian nih ye," ledek Felicia kepada gue sambil tersenyum cengengesan.
"Gue nunggu aja deh, gue malu kalau tembak duluan Nathan," ucap gue terkekeh kepada Felicia.
"Gue berharap, Nathan secepatnya ya nembak lo. Biar bestie gue ini ga friendzone terus," ucapnya dengan tersenyum cengir. Gue pun ikut tersenyum dengannya.
Pukul sudah 3 sore, bel pun telah berbunyi menandakan waktu pulang. Gue pun mulai berjalan keluar dari ruangan sekolah. Tapi tiba-tiba, geng Nathan alias temannya mendorong Nathan ke arah gue. Gue lihat si Nathan memegang karangan bunga di tangannya. Gue sontak gugup, jantung gue berdebar-debar. Apa gue mau ditembak?
"Halo Linda." Gue menghela nafas dalam-dalam, supaya gue ga terlalu gugup. Gue pun membalas dengan mengangguk dengan tersenyum manis.
"Gue... Sebenarnya suka sama lo dari awal kita deket sampai sekarang," ucapnya menyatakan perasaan. Hati gue langsung bergembira ria ketika ucapan itu keluar dari mulut Nathan.
"Lo mau, jadi pacar gue?" ucapnya dengan mengulurkan karangan bunga ke tangan gue.
Beberapa murid melihat kejadian itu. Bahkan bersorak untuk suruh gue terima, termasuk Felicia. Gue gugup untuk menjawabnya, gue berusaha menarik nafas dalam-dalam supaya tidak gugup.
"Iya, gue mau!" ucap gue dengan mengambil karangan bunga di tangan Nathan. Semua orang langsung bersorak ria, bertepuk tangan, dan melompat kegirangan. Nathan juga terlihat kegirangan sampai memeluk gue dengan erat dan hangat. Akhirnya, gue telah resmi menjadi pacar Nathan.
"Selamat ya!" ucap Felicia kepada Nathan dan gue, yang membuat Nathan kikuk karena Felicia adalah mantannya sendiri.
Felicia pun menatap gue dengan tersenyum dan membisikkan sesuatu ke telinga gue, "Mungkin gue memang ditakdirkan tak berjodoh dengannya. Tapi kamulah yang ditakdirkan berjodoh dengannya," kata-kata Felicia membuat gue sedikit terharu dengannya.
"Bisikin apa tuh Felicia ke elo, Lin?"
"Yang penting bukan tentang lo kok," balas gue tersenyum lebar.
"Heh! jangan pakai elo-gue dong, aku-kamu biar kesannya romantis," ucap Nathan dengan tersenyum cengengesan dengan gue.
Gue pun tertawa kecil melihat Nathan yang terlihat senang kegirangan. Sumpah! Hari ini adalah hari spesial buat gue.
Beberapa hari pun telah berlalu, gue resmi jadi pacarnya Nathan. Pastinya tambah terkenal dong gue di sekolah ini karena itu.
Gue di kantin kayak biasa menyantap bakso. Pastinya sama bestie gue, Felicia.
"Kenapa sih lo makan bakso masih aja sama gue? sama boyfriend lo lah," ucap Felicia yang menyuruh gue berduaan terus sama Nathan.
"Gak mungkin kan, sama pacar gue terus. Gue luangin waktu juga dong buat bestie gue ini," balas gue kepadanya, Felicia hanya tertawa kecil kepada gue.
Tiba-tiba, pacar gue malah nongol dekat gue dan menyapa gue pakai panggilan sayangnya lagi. Kan gue malu ada sahabat gue di sebelah.
"Heh! Jagain ya bestie cantik dan imut gue gini, awas aja ya lo kalau sakitin dia!" gertak Felicia kepada Nathan dengan memegang bahu gue.
"Tenang! Mantan gue, santai aja. Gue akan selalu sayang sama pacar gue yang cantik dan menggemaskan," ucapnya sambil mencubit pipi gue dengan lembut.
"Masih aja lo sebut gue mantan. Heh! sebelah lo ini pacar lo sendiri! Dia cemburu lah kalau lo masih inget mantannya, gimana sih lo?" gerutu Felicia yang masih saja mengoceh kepada Nathan dengan niat bercanda sebenarnya.
"Udah, Fel, udah," ucap gue tersenyum manis. Sementara, Nathan tertawa terbahak-bahak sama gue dan Felicia. Karena itu, Felicia malah ikut ketularan tertawa juga.
Gue hanya tersenyum, betapa gak nyangka gue hidup gue bakal gini. Gue kira hidup gue bakal menyendiri dan kesepian terus. Nyatanya, hidup gue ditemani oleh dua orang yang bikin gue gapernah merasa kesepian.
End