Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Dan Semua Orang Bertepuk Tangan
1
Suka
385
Dibaca

Kapal feri itu akhirnya tiba di Pelabuhan Noesawoefi, sebuah pulau di bagian selatan Jawa Timur. Badan kapal perlahan merapat ke dermaga dan para penumpang sudah bersiap untuk turun. Cahaya matahari sore memantul di permukaan laut, membuat kilau-kilau bak berlian yang seharusnya membuat siapa pun terpesona.

Amat mematikan rokok dan membuang puntungnya ke tempat sampah. Ia membetulkan posisi ranselnya dan tangannya menjinjing erat sebuah kotak berwarna hitam. Kotak yang menjadi sumber hidupnya, modalnya untuk bertahan hidup selama di Pulau Jawa.

Kapal benar-benar berhenti. Tangga diturunkan. Satu per satu penumpang turun dengan tertib sebab petugas berkali-kali mengingatkan mereka untuk tidak saling dorong dan memastikan barang bawaan mereka tidak tertinggal atau pun tidak diambil orang.

Amat menuruni anak tangga satu per satu. Tidak ada yang menjemputnya di pelabuhan. Namun, tidak masalah baginya jika harus mencapai kampungnya sendiri di Dusun Wufitengguli, beberapa kilometer dari pelabuhan. Ia akan memesan ojek daring untuk mencapai rumah ibunya.

Setelah menunggu sekitar 20 menit (sebelumnya, Amat mampir dulu ke sebuah warung, minum segelas kopi susu dan merokok), ojek yang dipesan Amat datang. Amat segera naik dan mereka segera meluncur ke Jalan Pelabuhan, meninggalkan pelabuhan dan kapal-kapalnya, serta permukiman di kawasan pantai yang bau asin laut bercampur asap knalpot.

Perjalanan dari pelabuhan menuju kawasan rumah Amat sempat tersendat macet. Langit mulai gelap ketika ojek yang ditumpangi Amat berhenti di sebuah rumah mungil yang diapit rumah-rumah mungil lainnya.

Amat berdiri di depan rumah itu. Diam sejenak mengamati catnya yang sudah kusam dan mengelupas. Ia membuka pintu pagar yang hanya cukup dilalui satu sepeda motor saja yang kebetulan tidak pernah dimiliki rumah ini.

Suara pintu pagar yang dibuka Amat rupanya membangkitkan rasa ingin tahu sang pemilik rumah alias ibunya Amat. Ia membuka pintu ruang tamu dan tertegun di sana.

“Amat!”

Amat segera menutup pintu pagar dan memeluk ibunya yang sudah hampir lima tahun hanya ia jumpai melalui video call. Itu pun kalau ia punya kuota internet yang cukup.

“Kok, nggak bilang kalau pulang?”

“Nanti ngerepotin ibu.”

Ibu Amat menyuruh anaknya masuk.

Tidak ada yang istimewa di dalam rumah ibunya. Bahkan, sofa lama yang usianya melebihi usia Amat kini sudah memperlihatkan busa di sana-sini. Cuma kayunya yang masih bertahan. Lemari perabot juga masih menyimpan barang-barang lawas: piring putih berhiaskan bunga-bunga kecil di bagian pinggirnya yang bergerigi, gelas duralek warna-warni, dan sebuah foto keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu Amat serta Amat dan mendiang adiknya yang meninggal ketika masih kecil lantaran demam berdarah.

“Ibu sama siapa di sini?” tanya Amat seraya melangkah menuju kamarnya.

“Kadang sendirian, kadang ditemani Nina. Itu, loh, anak Pak Husni,” jawab ibu Amat sambil membuka pintu kamar Amat. “Nina biasanya tidur di kamarmu biar nggak kosong terus.”

Amat melangkah masuk. Tampak kamarnya dari dulu tidak berubah. Sebuah kasur busa yang sudah kempes diletakkan begitu saja di atas tikar yang panjang, sebuah lemari pakaian, sebuah meja dan kursinya.

“Kamu bawa apa di dalam koper itu?” tanya ibu Amat. Rupanya sejak kedatangan anaknya tadi ia menyimpan rasa penasaran yang baru diungkapkan setelah Amat masuk kamar.

“Oh, ini alat-alat kerjaku, Bu.”

Ibu Amat duduk di kursi. “Kamu kerja apa, sih? Masih jadi buruh?”

Amat duduk selonjor di atas kasurnya. “Sudah lama nggak, Bu.”

“Terus apa? Tiap kali kamu telepon, ibu tanya soal kerjaan, kamu jawabnya ‘nanti aku cerita kalau sudah pulang’. Sekarang, kamu sudah di sini. Cerita sama ibu.”

Amat melepas jaketnya. “Baik, Bu. Tapi setelah makan, ya. Aku mau mandi dulu.”

Ibu Amat baru sadar. Saking kangennya sama Amat, ia sampai lupa tidak menawarinya makan. “Ibu cuma punya ikan asin sama sambal. Mau, ya?”

Amat mengangguk. “Apa aja yang ibu masak, aku makan. Kangen masakan ibu.”

Ibu Amat tersenyum sambil beranjak ke dapur.

***

“Boneka?” Ibu Amat kebingungan ketika melihat Amat mengeluarkan beberapa boneka dari dalam koper. “Kamu jualan boneka?”

Amat ingin tergelak, tapi ia tahan. “Bukan, Bu. Boneka-boneka ini bukan untuk dijual.”

Kening ibu Amat berkerut, memperlihatkan garis-garis kerutannya dengan makin jelas.

“Aku… jadi pendongeng, Bu. Aku bikin pertunjukan boneka,” jelas Amat.

Melihat ibunya masih bengong, tanpa diminta, Amat pun menjelaskan. “Dulu aku memang kerja di pabrik tekstil di Surabaya, Bu. Capek, masuk pagi pulang sore. Tangan pegal. Upahnya cukup, tapi waktu dan tenagaku kayak diperas.”

Amat hanya bertahan dua tahun di pabrik tekstil. Ia tidak bercerita bahwa setelah berhenti bekerja sebagai buruh ia lantas mengamen dari lampu merah ke lampu merah, dari warung ke warung.

“Seorang teman menawariku manggung di kafenya. Kalau tidak manggung, aku bantu-bantu dia di dapur atau beres-beres kafe. Kerjanya lebih menyenangkan daripada di pabrik.”

Ibu Amat mendengarkan dengan saksama sambil membayangkan kehidupan anaknya di Pulau Jawa. Entah ia paham atau tidak dengan apa yang dituturkan anaknya.

Obrolan mereka berlanjut ke meja makan. Sambil menemani anaknya makan, ibu Amat bertanya, “lalu, bagaimana ceritanya kamu jadi pendongeng?”

Amat menelan makanannya lalu minum sebelum menjawab pertanyaan sang ibu. “Suatu hari, ada sebuah boneka yang tertinggal di kafe. Boneka kecil. Ditunggu berhari-hari, nggak ada yang ngambil. Kebetulan ada pengunjung yang bawa anak kecil. Dia menangis, nggak tahu kenapa. Kucoba menenangkan dia dengan memainkan boneka tadi. Anak itu diam.

“Sejak itu, kalau ada pengunjung yang bawa anak kecil, aku bikin pertunjukan tambahan. Pertunjukan boneka. Mereka semua suka dengan pertunjukanku.” Amat tersenyum, memamerkan giginya yang kuning akibat rokok. “Aku sampai keliling Jawa hanya berbekal boneka-boneka itu. Aku bikin pertunjukan di berbagai kota, Bu, dan semua orang suka.”

Ibu Amat tersenyum lebar. Matanya menyala dan berlinang air mata bahagia “Syukurlah, Mat. Kamu udah sukses di Jawa.”

Senyum Amat memudar. Bukan hanya karena ia melanjutkan makan, tapi juga kata “sukses” yang diucapkan ibunya.

Ia tidak pernah mengukur, apakah ia sukses dengan pekerjaannya, atau sebaliknya. Ia tahu, standar kesuksesan bagi orang-orang di desa ini adalah pulang dari perantauan dengan kekayaan: penampilan kinclong, kendaraan mewah, atau oleh-oleh yang melimpah. Sayangnya, Amat tidak punya semua itu. Ia pulang benar-benar hanya membawa badan.

***

Pagi ini, Amat bangun siang. Tidur semalaman membuat badannya pulih dari pegal-pegal setelah kemarin menempuh perjalanan dari Yogya menuju Noesawoefi menggunakan bus dan kapal feri. Namun, semalaman tadi ia juga berkali-kali bangun. Ada yang mengganjal di pikirannya, menghambat langkahnya ke alam mimpi.

Kata-kata ibunya, yang menganggapnya sudah sukses. Amat berpikir. Mungkin ia memang sudah sukses. Setidaknya, ia sudah lepas dari sistem kerja di pabrik yang tidak sesuai jiwanya.

Karir Amat sebagai pendongeng tidak diawali dengan mudah. Mula-mula ia mencicil perlengkapan pentasnya. Boneka pertama dibelinya dari pasar loak. Boneka kedua ia jahit sendiri dari kaus bekas. Kotak hitam ia dapat dari kenalan sesama pengamen yang bangkrut jadi pesulap. Semuanya dikumpulkan pelan-pelan, dengan uang receh dan tekad yang tidak pernah benar-benar diuji.

Pertunjukan pertamanya sepi. Hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda. Kadang ia tampil di alun-alun, kadang di car free day, kadang di taman kota. Dongengnya selalu sama: kisah kura-kura dan burung, kisah anak yang mencari ayahnya, dan kisah-kisah lain tentang kehidupan dengan tokoh yang sama. Ia menghafalnya sampai ke intonasi jeda. Setiap selesai tampil, orang-orang bertepuk tangan.

Suatu ketika, sebuah sekolah dasar swasta di Jakarta mengundangnya menjadi pengisi acara tetap setiap Jumat. Bayarannya kecil tapi pasti. Dari situ, undangan lain berdatangan: festival seni, acara kebudayaan, perayaan hari anak. Ia keliling kota-kota besar—Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya—bukan sebagai pengamen lagi, tapi sebagai pendongeng.

Amat hidup berpindah-pindah dari kota besar ke kota besar di Pulau Jawa mengikuti pekerjaannya. Kontrakan demi kontrakan ia tempati. Kadang menunggak. Kadang makan sekali sehari. Rokok diganti lintingan tembakau murah. Tapi selalu ada kalimat yang ia ulang-ulang dalam kepala: yang penting bebas.

Dan kebebasannya itu tak hanya ia tampakkan melalui etos kerjanya yang semau dia, tetapi juga melalui drama boneka yang ia jalankan. Ia mengarang-ngarang cerita sesuai apa yang ia pikirkan. Penonton yang mayoritas adalah anak-anak (orang tua juga ada, karena mereka mendampingi anak-anak mereka menonton pertunjukan boneka tersebut; atau tenaga pendidik) duduk dengan membuat posisi setengah lingkaran mengitari Amat dan panggung bonekanya. Itu kalau pentasnya di skala kecil. Tapi kalau skala besar, Amat menempati panggung yang besar dan anak-anak selalu berebutan duduk di deretan depan.

Ketika pertunjukannya usai, mereka semua bertepuk tangan. Amat membungkuk, memberi hormat kepada para penonton sambil tak lupa mengucapkan terima kasih. Di sanalah ia merasa menemukan sesuatu yang selama ini ia cari: pekerjaan yang bebas, tapi dihargai.

Tetapi, seperti itukah standar sukses yang dimaksud sang ibu ataupun tetangga-tetangganya?

“Mat,” kata ibunya saat mereka sarapan, “biar orang-orang tahu kamu sudah sukses, bikin pertunjukan di alun-alun. Biar mereka juga tahu kerjaanmu,” katanya bangga.

Amat mengepulkan asap rokoknya. Berpikir. Ia tidak yakin orang-orang akan mengerti.

“Nanti ibu coba bantu bicarakan ke Pak RT. Pasti banyak yang menonton.”

Amat menggangguk saja. Mungkin bagi ibunya, apa pun komentar orang-orang, ia tetaplah sukses.

***

Hari itu, alun-alun penuh. Anak-anak duduk di depan, bersila rapi. Orang dewasa berdiri di belakang.

Amat membuka kotak hitamnya, menata boneka-boneka seperti biasa. Dongeng yang ia bawakan adalah dongeng lama, yang sudah ratusan kali ia ceritakan. Tentang seekor monyet yang merantau ke luar hutan dan jadi pedagang buah-buahan yang sukses, lalu pulang kembali ke hutan.

Di tengah cerita, seorang anak laki-laki mengangkat tangan.

“Om,” katanya ragu-ragu, “kalau monyetnya sudah sukses di luar hutan, kenapa dia pulang lagi?”

Amat terdiam sepersekian detik. Tangannya yang menggerakkan boneka monyet berhenti di udara.

Anak itu melanjutkan, lebih pelan, seolah takut salah, “Kalau sudah sukses, bukannya harusnya tinggal di sana terus?”

Amat tersenyum tipis. Senyum yang biasa ia pakai setiap kali lupa pada kalimat berikutnya.

“Menurut kamu kenapa?” ia balik bertanya.

“Soalnya di luar hutan dia sudah punya uang,” jawab seorang anak lain cepat.

“Kalau pulang, nanti jualannya sepi,” sahut yang lain.

Amat mengangguk pelan. “Bisa jadi.”

Ia menggerakkan kembali boneka monyet itu, melanjutkan cerita dengan nada yang sedikit lebih cepat dari biasanya, seperti ingin segera selesai.

“Monyet itu pulang karena merasa sudah cukup,” katanya, entah kepada anak-anak itu atau kepada dirinya sendiri.

Cerita pun ditutup. Gemuruh tepuk tangan membahana di alun-alun Desa Wufi. Lebih keras dari yang ia bayangkan.

Setelah orang-orang bubar, anak yang bertanya tadi mendatangi Amat bersama orang tuanya. Ia memegang salah satu boneka.

“Om,” katanya, “kalau Om bikin cerita baru, boleh nggak tokohnya bingung?”

Amat menatap mata anak itu. “Bingung? Bingung kenapa?”

Orang tua anak itu tersenyum canggung. “Maaf ya, Mas. Anak saya kebanyakan nanya.”

“Tidak apa-apa,” jawab Amat pelan.

Amat berjalan pulang tanpa bicara. Pertanyaan anak itu berputar-putar di kepalanya. Jujur, polos, dan menyakitkan. Bukan karena ia tersinggung, tapi karena ia sadar bahwa selama ini ia hidup dalam dongeng yang sama: dongeng tentang kebebasan, tentang keberhasilan, tentang tepuk tangan.

Berhari-hari kemudian, Amat hanya duduk di rumah ibunya. Ia tidak menyentuh bonekanya sama sekali sejak menggelar pertunjukan di alun-laun tempo hari. Pun ia tidak mengarang cerita yang baru.

“Mat, kenapa?” tanya ibunya khawatir.

Amat menoleh. “Nggak apa-apa, Bu. Cuma bingung.”

Ibu Amat duduk di sampingnya. “Kenapa? Kamu nggak akan ke Jawa lagi?”

Amat tidak lekas menjawab. Baik mulut maupun tubuhnya diam saja.

“Kalau nggak mau, nggak usah dipaksakan. Kerja di sini aja. Nanti ibu bantu carikan.”

“Nggak usah, Bu. Biar Amat sendiri yang memutuskan mau apa.”

Ibu Amat meninggalkan anaknya untuk ke dapur. Sepagian tadi dan saban pagi, ia membuat beberapa nasi bungkus untuk dititipkan di warung-warung. Meski Amat sudah memberinya uang, perempuan itu tidak mau bergantung pada anaknya.

Sementara ibunya membereskan dapur, Amat berpikir. Ia mengingat semua tepuk tangan yang pernah ia terima. Ia sadar: tidak satu pun tepuk tangan itu menjamin dongengnya benar-benar dipahami. Mungkin orang-orang hanya menghargai usahanya berdiri di depan, bukan cerita yang ia sampaikan.

Amat memejamkan mata. Merasa bersalah. Ia telah menipu dirinya sendiri dengan percaya bahwa apresiasi selalu berarti kualitas.

Setelah berhari-hari merenung, pada suatu sore, Amat menulis cerita baru. Tentang seorang tokoh yang tidak tahu harus ke mana. Tidak ada akhir yang jelas. Tidak ada kemenangan.

Ia menggelar pertunjukan itu di dusunnya saja, tanpa panggung besar, tanpa MC. Anak-anak tetap duduk di depan. Orang-orang tetap bertepuk tangan di akhir cerita.

Amat berdiri, membungkuk pelan. Kali ini, ia tidak yakin apa arti tepuk tangan itu. Tetapi, untuk pertama kalinya, ia merasa jujur.

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Si Torang, Jenius Dari Rimba
Adlet Almazov
Skrip Film
BOK*P
Arienal Aji Prasetyo
Flash
Bronze
Gadis Berkalung Tasbih
Herman Sim
Flash
Bronze
Controlled.
Damia Nur Shafira
Cerpen
Dan Semua Orang Bertepuk Tangan
Rie Yanti
Novel
Sinar untuk Genta
Rika Kurnia
Novel
Ketika Ibu (Tak Lagi) Dirindukan
Wulansaf
Novel
RUMAH UNTUK BAPAK
SISWANTI PUTRI
Skrip Film
Tiga Cuan
Nurbaya Pulhehe
Cerpen
Bronze
Best Friend Forever
nooraya
Cerpen
Bronze
Dunia Sang Penjelajah
Elysiaaan
Cerpen
Namaku Luka
Foggy FF
Cerpen
Bronze
Negri Sonooharu
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
OKB yang Sombong
Refy
Novel
Menggapai Surga Cintamu
Hanachan
Rekomendasi
Cerpen
Dan Semua Orang Bertepuk Tangan
Rie Yanti
Cerpen
Laki-laki yang Menyukai Perempuan Berambut Pendek
Rie Yanti
Flash
Bronze
Memotret Hujan
Rie Yanti
Flash
Memotret Hujan (2)
Rie Yanti
Cerpen
Peringkat Palsu
Rie Yanti
Novel
Orasi di Balik Pelaminan
Rie Yanti
Cerpen
Sehari Sebelum Melati Masuk Sekolah
Rie Yanti
Flash
Bronze
Bolu untuk Awan
Rie Yanti
Cerpen
Standar Kenyang Indonesia
Rie Yanti
Cerpen
Ami Sakit Perut
Rie Yanti
Flash
Sepasang Kacamata di Ruang Tunggu
Rie Yanti
Cerpen
Seminggu tanpa Gawai
Rie Yanti
Cerpen
Balada Ikan Siap Goreng
Rie Yanti
Cerpen
Kakek yang Suka Duduk di Tepi Jalan
Rie Yanti