Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
Damai Yang Pergi
0
Suka
18,080
Dibaca

Setelah memberi salam, Pak Acep langsung berdiri dan melempar sejadah merahnya ke kursi rotan yang terletak tidak jauh dari tempatnya menunaikan fardu Isya. Dia tidak berzikir, apa lagi berdoa! Dia ingin cepat! Pukul delapan malam nanti siaran lansung debat terbuka pasangan calon (paslon) bupati dan calon wakil bupati segera dimulai!

“Menonton bersama warga pasti seru!” bisik hati kecil Pak Acep. Dia langsung mengganti kain sarung yang dipakainya menunaikan fardu Isya dengan celana panjang hitam. Kemudian dia mengambil kunci motornya yang tergantung di sebuah paku. Setelah itu dia perlahan-lahan mendorong motornya keluar dan melepasi pagar. Dia ingin menonton bersama di Warkop Azam! Warkop Azam adalah warung kopi terbuka yang menjadi tempat warga menonton pertandingan sepak bola bersama menggunakan proyektor. Setelah menghidupkan motornya, Pak Acep memanggil Pak Yono dan mengajaknya pergi bersama.

“Pak Yono!” panggil Pak Acep yang telah berada di atas motornya.

“Ya!” sahut Pak Yono sambil membuka pintu rumahnya.

“Mari kita ke Warkop Azam! Ndak (tidak) perlu bawak motor. Naik be (saja) motorku,” ajak Pak Acep. Dia pun membelokkan motor itu ke pintu pagar Pak Yono.

“Terima kasih Pak Acep. Kalau begitu saya naik motor Pak Acep saja malam ini. Rugi tidak ikut nonton bersama,” balas Pak Yono sambil menutup pintu pagar rumahnya.

“Ayo naik. Kita sudah terlambat,” ajak Pak Acep.

Kemudian, dua tetangga yang bersahabat baik itu meredah gerimis menuju Warkop Azam yang terletak tidak sampai seratus meter dari rumah mereka. Di warung itu, Awin sedang memasang sebuah proyektor dan layar lebar. Awin adalah ketua karang taruna desa mereka. Beberapa warga desa sudah berada di sana lebih awal. Ada di antara mereka yang sedang minum kopi dan teh, ada yang sedang makan nasi goreng dan mie rebus, ada yang hanya minum air putih, ada yang sedang bercanda, dan ada yang sedang bermain catur.

Tepat pukul delapan malam, debat terbuka itu pun dimulai dan ia berlansung dalam beberapa segmen. Pertama, paslon memaparkan visi-misi, kedua menjawab pertanyaan panelis, seterusnya menyampaikan komitmen untuk mewujudkan kabupaten yang maju, sejaht...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp2.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Ten Years Later
Nurmala Setianing Putri
Novel
FaThin
Nurusifah Fauziah
Novel
Bronze
MENOLAK LUPA
Mae Takata
Novel
Bronze
MY WAITING LIST : THE ORIGIN
Axel Bramasta
Cerpen
Bronze
Damai Yang Pergi
Marniati
Novel
Dear AS[Abun Sungkar]
Nur Fitriani
Novel
Gold
Hwaiting . . . ! From Seoul to Beijing
Mizan Publishing
Novel
Lipstik ~Novel~
Herman Siem
Skrip Film
JODOH YANG TERTUNDA
Rahmayanti
Skrip Film
No Marriage Agreement
Herman Siem
Novel
Rahasia Vidya (Who Am I)
MR Afida
Flash
Kopi dan Kata
Riska Irmayadi
Flash
Ruang Tersendiri
Zii
Novel
Bronze
Cinta Yang Tak Terbalaskan
Fatmawati
Novel
Rara
Hai Ra
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Damai Yang Pergi
Marniati
Cerpen
Bronze
Elang yang Terbang
Marniati