Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Huuuffft…
Daun-daun berputar beberapa kali sebelum akhirnya menyentuh tanah di taman kampus. Aku duduk di trotoar taman setelah memarkir motor putih yang masih dapat aku perhatikan dari jarak ini. Aku tidak memilih kursi dengan alasan menginginkan tempat yang lebih teduh dan damai. Perhatianku tertuju pada daun gugur yang kembali menyebar.
Bahkan dedaunan ini sebelum berakhir menjadi sampah, apa mereka semua pernah menggenggam takdir?
Huuuffft…
Beberapa daun kembali gugur setelah kalah bertarung dengan kekuatan angin pagi ini. Aku menampung dengan tangan kanan, berharap menangkap salah satu dari mereka sebelum menyentuh tanah.
Apa pohon merasakan kesedihan setelah daunnya gugur? Mungkinkah rasanya hanya seperti rambut rontok?
Bahkan sepertinya rambutku yang rontok di setiap hari itu juga terikat takdir yang sama seperti dedaunan ini.
Plaakk!
Sebuah telapak tangan seseorang menepuk keras pundak kiriku. Tarikan nafas panjang sebelum mengeluarkan suara yang familiar, tentu saja manusia itu lagi.
"Kamu sedang apa? Sudahlah jangan berulah di pagi hari bagaimana orang akan memberimu uang jika memakai kaca mata hitam seperti itu? Udah buruan masuk!" Kyra menarik tubuhku. Tidak, lebih tepatnya menyeretku memasuki gedung kuliah saat satu kata pembelaan dari mulutku belum sempat terucap.
"Heh, gak bisa kah kamu bersikap lebih lembut lagi? Dan apa maksudmu aku sedang meminta-minta uang?" Aku melirik manusia yang hanya diam itu. "Lain kali berbicara pakai jeda ya. Otakku tidak paham apa yang kamu ucapkan."
Aku kembali melirik manusia yang kini mulutnya komat-kamit itu, lalu ia berkata, "Kamu pasti tidak tahu di ruangan mana kita sekarang?"
"A14 lantai 2. Kamu pikir aku tidak tahu."
"Sudah aku duga kamu tidak tahu informasi terbaru kan?"
"Memang kita pindah kelas mana?"
"Aula atas lantai 3, karena kita gabung 4 kelas hari ini."
"Ha?"
"Aku chat dari tadi untuk cari tempat duduk yang nyaman, kamu malah cosplay mengemis di trotoar taman."
"Aku hanya menampung daun yang gugur ya! Mulutmu ini cukup tidak ramah."
"Ahh, Iya iya ya udah buruan ahh!" Kyra melepas tanganku dan menaiki anak tangga lebih dulu.
Aku melepas kaca mata hitam, menyimpannya ke dalam ransel, lalu menggenggam erat kedua talinya di pinggang. Memacu langkah agar lebih cepat. Menghindari beberapa orang yang naik maupun turun dengan hati-hati.
KLAK!
Aku menoleh ke belakang. Di pertengahan anak tangga terlihat ponsel dan powerbank terhempas ke dinding. Seorang pria yang baru saja berpapasan sepersekian detik denganku tampak mengeluh dengan apa yang sedang ia alami. Aku berhenti dan mengamati bahasa tubuhnya sesaat. Ia tampak kesal dan kacau saat ini.
‘Deg... TOLONG untuk BERHATI-HATI ya!’ Sebuah suara yang meyerupai suaraku.
Apa? Ada apa dengannya? Memang dia kenapa? tanyaku dalam hati.
"Rena! Ya Tuhan manusia ini leletnya." Kyra menarik pergelangan tangan kiri dan membantuku lebih cepat menaiki tiga anak tangga itu.
Setelah duduk tenang beberapa saat tiba-tiba aku khawatir tanpa alasan. Beberapa kali aku mencoba menenangkan diri dengan menyingkirkan berbagai pemikiran yang seharusnya tidak aku pikirkan saat ini.
"Baik. Semua pemakalah silahkan presentasikan di depan." Satu perintah dari mulut dosen yang menyadarkanku.
Waaah! Aku melamun sejak tadi?
Beberapa mahasiswa bergerak mengambil posisi barunya. Mempersiapkan penampilan sebelum diskusi dimulai. Sepasang di antara mereka yang berada di kelompok yang sama tampak berdebat dengan suara kecil dengan pandangan ke arah pintu, ponsel, dosen dan saling menatap tajam secara bergantian.
Presentasi makalah Teori Kepribadian itu dimulai. Semua berjalan semestinya. Ketenangan dan kepanikan menjadi satu mereka tampilkan secara bergantian.
Tanpa sadar aku tenggelam dalam ketegangan yang diciptakan itu sampai sesi diskusi berakhir dengan damai. Meskipun aku tidak aktif dalam diskusi. Namun ternyata cukup menguras emosi karena aku berdebat dengan diri sendiri. Sebenarnya aku sangat ingin ikut campur dalam diskusi ini sejak tadi, namun apalah daya mulutku ini yang tidak mampu menyerukan pemikiran dengan alasan terlalu banyak orang.
Kyra menyenggol pelan jemariku. "Makan yuk!"
Aku mengangguk beberapa kali tanpa meliriknya, karena fokus mengemasi barang.
"Dina! Rangga seharusnya masuk kelas ini kan?” Seorang pemuda dengan langkah cepat berjalan masuk menuju salah satu kelompok pemakalah di depan. “Rangga. Dia.. kecelakaan, sudah dua jam yang lalu, lukanya parah, bahkan tidak sadarkan diri." Kata demi kata yang pria itu ucapkan perlahan dengan berusaha tenang membuat semua kami membeku.
Aku menyimak informasi sambil tenggelam dalam pikiran sendiri.
"Laki-laki tadi ya?" gumaman pelanku tanpa sadar.
"Kamu kenal, Rangga?" Kyra bertanya heran.
Aku spontan menggelengkan kepala.
"Oh. Orang yang kamu senggol di jenjang tadi?" ucapnya seperti teringat sesuatu.
"Aku bahkan tidak menyentuhnya!" tegasku.
"Lalu kamu mengamati karena dia akan celaka?"
Aku terdiam, bingung menjawab pertanyaan yang diajukan. “Aku hanya kaget karena barangnya jatuh aja. Lagi pula memangnya dia, Rangga?” dalihku.
“Ya benar! Pria itu memang, Rangga!” ucapnya tegas dengan keyakinan yang sedikit menyudutkanku.
Aku hanya mengatur nafas, mengalihkan pandangan darinya.
“Aku ingat yang ini, Rangga!” Kyra menunjuk layar ponselnya.
Aku menatap ponselnya sesaat, kemudian melempar pandangan pada sekitar, membasahi bibir dengan nafas yang mulai terengah-engah.
“Kamu tau dia akan terluka kan?” tanya, Kyra setelah selesai mencari informasi dengan orang di sekitarnya.
“Bukankah kamu tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Mengapa tiba-tiba berubah?” Aku sengaja melontarkan pertanyaan agar dia tidak membahas lebih jauh.
“Karena itu selalu terjadi dan membuatku menjadi ragu jika hanya kebetulan saja! Aku bahkan sudah mengamatimu di beberapa kejadian.” Kejujurannya ini sungguh membuatku merasa tertekan.
“Sudahlah, lagi pula aku bisa apa?”
“Apa kamu benar tidak bisa memberitahunya?” dengan nada haru ia ucapkan yang membuatku tersentuh.
“Kamu pikir aku tahu semua yang akan terjadi padanya? Tentu saja…”
“HAH!! RANGGAAA…”
Ucapanku terhenti dengan teriakan mereka yang sedang membahas masalah itu sejak tadi.
“HA? APA?”
“SERIUS?”
“RANGGA MENINGGAL!” Kata yang tepat bersamaan dengan gema suara hatiku.
Aku tidak mengerti bagaimana menggambarkan situasi saat ini. Aku, Kyra dan orang-orang di sekitar kami hanya bisa saling menatap dengan pilu. Meskipun tidak mengenalnya sama sekali tentu saja tidak bisa menjadi alasan untuk menghentikan tetes air mataku saat ini. Aku tertunduk dengan nafas yang menyempit. DIAMLAH! Aku tidak ingin memikirkan apapun saat ini! Ku hentikan semua ucapan yang timbul di pikiranku yang semakin kalut.
“kamu benar tidak dapat mengatasinya sedikitpun?” tanya, Kyra dengan suara pelan.
Hal ini membuat nafasku semakin sesak. Entah mengapa aku menjadi tersakiti dan merasa bersalah mengenai ini.
“Aku juga manusia, kamu pikir aku bisa merubah TAKDIR!” Ku atur nafas beberapa kali lalu bergerak meninggalkannya.
Hari ini berlalu dengan begitu pilu, sesak, sedih, sakit, marah dan khawatir yang menjadi satu. Aku bahkan izin tidak mengikuti kelas siang karena tidak enak badan. Namun sepertinya kegiatan kampus juga menjadi tidak kondusif dengan berita kepergian, Rangga yang menggegerkan satu kampus.
Seletah itu semua berjalan seperti biasa kembali. Perlahan kesedihan mulai tergantikan dengan berita dan kegiatan lainnya. Hari belalu dan mengakhiri kesedihan pada hari sebelumnya. Semua orang kembali pada rutinitasnya. Aku juga sudah melupakan kejadian tersebut dan kembali beraktivitas seperti biasanya.
"Kyra, aku mau ke toko buku. Kamu ikut?"
"Jam berapa?" sahutnya lemah dari balik ponsel.
"Jam satu, biar aku yang jemput."
"Oke." Kyra mengakhiri panggilan suara itu dengan cepat.
Sepertinya aku tepat waktu menghubungimu. Apa lagi yang kamu hadapi kali ini.
Sebetulnya aku juga tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Setelah menghubunginya aku menyadari dia sedang tidak baik-baik saja. Padahal aku bermaksud untuk bersenang-senang hari ini. Namun sepertinya itu tidak berjalan sesuai harapanku. Mendengar sautan dari ponsel saja aku yakin masalahnya kali ini cukup berat.
Saat libur seperti ini, aku meluangkan waktu untuk mengumpulkan energi positif di tempat-tempat yang membuatku merasa nyaman. Kali ini aku memilih mengunjungi toko buku. Karena aku cukup suntuk dengan suasana kosan yang sepi senyap tanpa kehidupan ini.
Aku menyingkap gorden untuk memastikan kondisi cuaca. Semoga saja tidak hujan. Aku berharap dengan ragu setelah melihat awan gelap di beberapa tempat.
Aku kembali pada aktivitas menekan keyboard laptop untuk menyelesaikan cerita fantasi seperti biasa, duduk tegak di kasur lesehan dengan iringan suara musik relaksasi yang sengaja aku putar. Beginilah aku menghabiskan hari-hari di kosan seorang diri. Aku merasa kegiatan ini memberi ketenangan sendiri dan mengurangi kekhawatiranku.
Sampailah waktunya aku menjemput, Kyra di rumah putihnya yang berjarak sembilan kilometer dari area kampus. Aku memarkir motor putihku di depan pagar rumah besar yang sunyi itu. Kyra keluar setelah beberapa saat. Langkahnya yang seperti tidak berdaya dengan kepala yang tertunduk seakan dibebani oleh helm hitam miliknya.
"Kamu aman?"
"Amanlah. Memangnya aku kenapa?" jawabnya dengan tegar yang ia usahakan sambil duduk dibangku penumpang.
Mendengar celetukannya itu membuatku hanya menghela nafas dalam.
Selama perjalanan aku mencoba memancingnya untuk bercerita. Namun, Kyra masih enggan mengutarakan isi hatinya. Karena hal ini, aku hanya mencoba untuk membuatnya bahagia dengan mengalihkan pemikirannya sesaat. Aku mengajaknya berbincang mengenai hal-hal random saja.
Sampai di toko buku, suasana hatinya semakin membaik. Kyra perlahan kembali menjadi lebih hangat. Kami saling bercanda satu sama lain.
Kyra menyodorkan sebuah buku yang baru saja dibacanya. "Buatkan aku hal seperti ini, Rena!" sambil menunjuk bagian, "Mengenangmu dengan cara ini merupakan cara terbaik menurutku wahai sahabat."
"Memangnya kamu ingin aku ceritakan bagaimana?" aku melempar pertanyaan dengan ceria untuk mengganti suasana.
"Ceritakan aku sebagai pemeran utama yang hidupnya bahagia."
"Bahagia seperti apa yang kamu inginkan?" aku mencoba menggalinya dengan bercanda.
"Hidup tenang, damai dan punya banyak uang."
"Lalu?"
"Aku ingin duduk santai sambil menikmati kehidupan damaiku yang kaya raya."
"Oke baiklah, akan aku tuliskan besok."
"Benarkah?" Kyra menatapku dengan menyipitkan matanya, sambil mengkomat kamitkan mulut seperti biasa.
"Kenapa kamu tidak yakin. Bukannya kamu mau aku buatkan ini?" kembali aku tunjuk-tunjuk bagian tulisan di buku itu.
"Iya aku mau tapi tidak percaya kamu membuatnya, mempercayaimu seperti membohongi diriku sendiri aku tidak bisa berpura-pura seperti itu, kamu tahu aku kan?"
Aku tersenyum simpul mendengar celotehannya.
"Kamu memang tidak bisa berpura-pura. Karena terlalu pandai menutupinya jadi itu bukan pura-pura namanya, namun itulah dirimu yang sesungguhnya."
Kyra hanya menatapku dengan tajam.
"Aku tau kamu punya banyak teman. Setidaknya jadikan salah satu di antara mereka sebagai orang terdekatmu. Aku tidak masalah jika itu bukan aku. Aku hanya ingin kamu jujur pada salah satunya saja. Percayalah, itu akan membuat bebanmu lebih ringan." Sengaja aku katakan dengan santai dan tidak menatapnya.
Aku berjalan menjauhinya mencari sesuatu yang aku butuhkan. Sesekali ku amati, ia dari kejauhan. Kyra tenggelam dalam pikirannya sendiri dengan tangan yang meraba beberapa buku di hadapannya.
Benar-benar sulit menggalinya ya.
Setelah merasa cukup kami berencana pulang dan berjalan menuju parkiran.
"Sepertinya kita akan kehujanan." Kyra menatap langit mendung.
"Tenang, aku bawa dua jas hujan," sambil membuka jok motor membuktikan ucapanku.
"Kehujanan pun tidak masalah kok."
"Sesedih itukah kamu?"
"Aku tidak sedih!" bantahnya tegas.
Aku menutup keras jok motor. "Sudahlah aku muak dengan kebohonganmu. Rasanya kamu jadi aneh, Kyra."
Kyra diam tertegun. Aku mulai menjalankan kendaraan roda dua itu. Perjalanan itu jadi tidak begitu mulus karena hujan dan kawanannya yang menghadang. Aku memutuskan berhenti di salah satu warung kopi pinggir jalan.
“Kenapa tidak kita lanjutkan saja?”
Aku menarik kursi untuk duduk. “Aku tidak mau sakit. Lagi pula aku kesulitan berkendara karena badainya terlalu kencang.”
“Biar aku yang bawa.”
“Diamlah, Kyra.” Aku spontan berdiri. “Nikmati saja suasana ini.” Aku mengatur kembali intonasi. “Biar aku yang pesankan.”
Saat memesan minuman di kasir aku melihat, Bang Tama yang merupakan salah satu barista di sana. Kenapa bertemu di sini? Jika aku tahu, aku tidak akan berhenti di sini. Dengan sengaja aku menghindar agar tidak terperhatikan olehnya dan kemudian kembali duduk dengan tenang.
Kyra menatap tenang ke arah taman. Aku teringat akan sesuatu. Mungkin karena bertemu, Bang Tama aku jadi tidak nyaman. Semoga saja bukan dia yang mengantar pesananku. Sambil menunggu aku bahkan berdo’a, namun tetap saja masih gugup jadinya. Bagaimana tidak? Manusia yang sengaja aku hindari, selalu saja memiliki titik temu dengan tema kebetulan berulang kali. Hal ini cukup membuatku frustasi jadinya.
“Hai, Rena.”
'Ya Tuhan'
“Ini pesananmu kan.” Bang Tama secara tiba-tiba menghidangkan pesanan itu dengan begitu ramah. Senyumannya menyihirku, aku kikuk dibuatnya sehingga hanya senyuman kecil yang aku lakukan untuk membalas sapaannya.
“Ini pertemuan yang kebetulan lagi ya?” Kyra beralih fokus padaku setelah, Bang Tama meninggalkan meja kami.
Aku hanya menjawab dengan menyandarkan tubuh ke kursi sambil menghela nafas panjang.
“Menurutku semakin kamu menjauh maka akan semakin banyak kebetulan yang datang. Mungkin kalian memang ditakdirkan bersama,” sambungnya.
“Hal seperti ini bagiku merupakan takdir yang dapat aku pilih sendiri.”
“Bagaimana kamu begitu yakin?”
“Entahlah, aku harap keyakinanku itu benar. Lagi pula untuk apa aku meladeninya. Aku sedang tidak ingin terikat hubungan apapun saat ini.”
Jika pertemuan dengan, Bang Tama tidak bisa aku hindari. Setidaknya hubungan kami tidak berlanjut lebih dalam lagi.
Aku yakin hal ini bisa aku ubah. Meskipun aku juga tidak dapat menghindar.
Aku masih mengingat jelas kejadian waktu itu, saat pertemuan pertama dengannya ketika masa orentasi kampus. Tiba-tiba hatiku berkata bahwa dia orangnya, ketika mata kami saling beradu pandang pada kebetulan pertama. Aku juga dapat merasakan pertemuan kami saat ini sebetulnya cukup singkat, karena setelah itu dia akan menghilang dari duniaku. Kini aku yakin sebentar lagi itu terjadi, karena ia sudah berada di tahun terakhirnya. Seharusnya tahun ini dia tamat, kemudian setelah itu kita tidak akan bertemu lagi kan? Jadi karena alasan itu aku berusaha menghindari setiap pertemuan dengannya, meskipun alam selalu membantuku bertemu kembali dengannya. Namun berkali-kali aku mencoba menghindar, semua percuma saja rasanya seperti hari ini. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengontrol perasaanku sendiri untuk tidak jatuh hati pada pria hangat itu.
Memikirkan hal ini membuatku juga mengingat pertemuan dengan, Kyra. Aku masih ingat jelas pengamatanku saat ia tertawa bersama teman lainnya, sementara aku duduk diam di sudut ruangan. Saat itu hatiku tiba-tiba mengatakan bahwa, Kyra tidak akan bertahan. Sejak saat itu aku mencoba mendekatinya, mengenalnya lebih dalam untuk mengetahui alasan apa yang membuatnya tidak bisa bertahan. Benar saja! Dia memiliki luka dan hancur perlahan dari dalam. Permasalahan keluarganya yang tiada henti itu selalu ia sembunyikan dengan rapi.
“Aku paham kamu sulit mengungkapkan beban yang kamu rasakan itu, Kyra. Tapi kalau kamu benar-benar tidak sanggup, aku harap kamu tetap berpikir jernih. Jangan sampai melakukan tindakan yang tidak benar ya! Kalau kamu butuh tempat curhat aku selalu ada kok. Aku gak mau hal itu terjadi.”
Kyra menunduk diam sesaat, kemudian menarik nafas dalam. “Memangnya hal apa yang terbesit di pikiranmu?”
“Ya… tindakan yang tidak baik saja. Aku hanya khawatir kamu tidak tahan dengan semua itu.”
“Apa kamu juga pernah mendapat firasat tentang aku?”
“Aa… enggak sih. Cuma… sebagai teman aku tentu khawatir.” Aku mengelak dengan menyeruput kopi latte yang menganggur sejak tadi.
“Kyra membuang nafas keras sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. “Kamu tahu… ayahku baru saja menjual rumah kami yang berada di kota lain untuk membantu saudaranya yang sedang ditahan tanpa sepengetahuan ibuku. Padahal rumah itu dibeli dengan uang ibuku. Mungkin sebentar lagi dia akan menjual aset lainya demi keluarganya. Kemarin kami bertengkar hebat. Ucapannya benar-benar…” Kyra mengatur nafas sesaat. “Aku benci dan sakit hati.” Kyra berbicara pelan dengan air mata yang menetes terjatuh dengan pelan di pipinya. Aku mendengarkan keluhannya sambil memberinya rasa aman untuk meluapkan emosi. Ia bercerita panjang mengenai kondisi keluarganya yang di ujung tanduk. Aku tidak tahu harus memberi solusi bagaimana, hanya mendengarkan dan menenangkan pikirannya yang dapat aku lakukan.
Hujan deras menyamarkan isak tangisnya. Kyra mencurahkan isi hatinya dengan tenang. Perlahan ia menceritakan semua beban yang selama ini selalu tertutup senyumannya. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana mengatasi permasalahannya. Aku menyadari suara hatiku saat itu merujuk pada permasalahan yang tidak bisa dihindari dengan mudah.
Kepalaku terasa berat, dadaku sesak seolah aku punya gangguan pernafasan. Aku tidak mampu membendung tetesan panas dari kedua bola mataku sendiri. Bagaimana aku menolongmu? BAGAIMANA CARANYA?! Tuhan… aku mohon jangan sekarang. Aku ingin berteman dengannya lebih lama. AKU MOHON TUHAN…
“Apapun yang terjadi, berjanjilah untuk tidak melakukan hal buruk ya!” ucapku lirih berusaha tenang.
Aku tidak ingin harapannya patah, namun saat ini sebetulnya akulah yang kehilangan harapan.
Setelah pertemuan itu aku menjadi semakin khawatir. Jadi aku selalu berdo’a agar, Kyra baik-baik saja. Untungnya setelah itu, Kyra semakin terbuka. Namun beberapa hal yang ia hadapi merujuk pada hal yang mengancam kesehatan mentalnya. Untung saja semua itu dapat ia lewati dengan baik. Beberapa kali aku melarangnya untuk melakukan sesuatu yang mana saat itu suara hatiku mengarah pada tanda bahaya jika ia tetap melakukannya. Seperti saat ia mengetahui bahwa ayahnya bertemu diam-diam di jalan dengan asisten rumah tangganya sendiri. Aku melarangnya untuk tidak membawa kendaraan roda dua yang selalu ia gunakan untuk menempuh perjalanan ke kampus. Ternyata dalam perjalanan pulang ia menyaksikan pemandangan busuk yang menjijikkan itu. Untung saja, Kyra mau mendengar saranku, sehingga ia menjadi penumpang di motornya sendiri. Tentu saja setelah itu emosinya sangat labil. Ia bahkan memintaku untuk memutar rute perjalanan pulangnya berubah menuju pantai.
Saat itu dentuman ombak memecah kesunyian di antara kami. Kyra memandangi gelombang laut yang berkali-kali mendekatinya dengan lamunan dan tatapan begitu dalam. Aku memutar arah duduk menghadap tubuhnya dari posisi sejajar sebelumnya.
“Menurutmu, apa laut ini cukup dalam?” ucapnya setelah sebelumnya berkali-kali tertawa kecil sambil menoleh ke arahku.
“Kamu ingin membenamkan diri di sana?” tanyaku pasrah memandang wajahnya yang memunculkan ekspresi aneh itu.
“Tidak. Hmm… Mungkin tidur di dalamnya akan terasa lebih tenang,” ucapnya yang mulai terdengar tidak rasional.
“Jika kamu seorang penyelam mungkin aku tidak akan khawatir.”
Kyra tertawa pilu yang aku yakin kedua pipinya itu basah dengan air mata.
“Aku benci. Aku INGIN MENGUTUKNYA! Namun… di dalam darahku. Bahkan ada darah miliknya! Aku lelah, Rena...”
“Luapkan saja apa yang kamu rasakan. Lautannya sangat luas, mereka bisa menampung semua beban beratmu itu.”
Kyra menangis begitu dalam. Isakan tak terbendung itu seakan memberitahu dunia bahwa dirinya begitu hancur. Hatinya begitu sakit. Harapannya lenyap tanpa jejak.
Aku membiarkan angin laut yang menghiburnya. Pelan-pelan ia kembali tenang dengan sendirinya.
“Terimakasih untuk hari ini, Rena.”
“Aku akan membantu. Jadi jangan sungkan jika sewaktu-waktu kamu butuh aku.”
“Padahal aku tidak ingin membagi kesedihan dengan siapapun.”
“Tenang, kamu tidak terlihat buruk karena hal ini. Sekali-kali jujur pada dunia mengenai perasaanmu adalah hal baik.”
“Aku tidak ingin dianggap lemah.”
“Siapa yang mengatakan kamu lemah?”
“Situasi ini membuatku terlihat lemah.”
“Ini hal yang wajar selagi masih bernafas.”
Kyra tersenyum. “Aku ingin menjadi kuat!”
“Ya. Kamu harus jauh lebih kuat dari saat ini.”
“Menurutmu aku sanggup?”
“Tentu saja sanggup, bahkan kamu harus menjadi lebih kuat untuk ibumu.”
“Benar juga, aku harap aku cukup kuat untuk ibuku.” Kyra menatap ombak dengan nafas yang lebih stabil saat itu.
Aku tidak bisa mengatakan semua berjalan baik. Namun cukup lega saja. Semua permasalahan ini berlanjut selama hampir dua semester. Waktu yang singkat itu terasa berat karena banyak rintangan yang dihadapi, Kyra. Sementara aku tetap menjadi pendukung di belakangnya saja.
Sampailah saat perkuliahan tahun ketigaku dimulai. Seperti biasa karena kosanku dekat dengan kampus jadi aku sering menunggu, Kyra di taman kampus jika cuaca aman seperti pagi ini.
Tapi kenapa firasatku tidak enak ya sejak libur ini. Padahal aku selalu bertukar kabar dengannya. Apa karena hal lain? Tapi apa?
Aku menunggu lama. Setelah itu aku putuskan untuk masuk kelas lebih dulu. Sampai kelas berakhir, Kyra tetap tidak ada kabar. Aku sudah berusaha menghubunginya berkali-kali.
Apa dia sakit?
Kemudian setelah semua perkuliahan hari ini berakhir aku memutuskan istirahat ke kos. Entah mengapa aku ingin menangis saja. Secara acak pikiran tentang kejadian-kejadian yang sudah terjadi membuat air mataku tak terbendung. Otakku memutar banyak kejadian. Seperti mengingat kembali bagaimana aku tidak mampu menyelamatkan kucing kesayanganku yang berakhir tragis, teman kelas yang celaka, orang di sekitarku yang meninggal dan masih banyak lagi. Terakhir otakku memutar kenangan, Bang Tama.
Pada akhirnya aku bahkan tidak bisa menjaga hatiku untuk tidak menyukainya. Kini ia menghilang. Entah kapan ia akan kembali, atau mungkin tidak kembali. Mungkin semua kisahnya sudah berakhir dengan keadaan hatiku yang mendambakannya. Dia menghilang seakan lenyap ditelan bumi. Bahkan di acara wisudanya saja aku tidak bertemu.
Begitukah takdir pertemuan kami habis? Saat mencoba bertemu pada hal yang wajar saja aku tidak dapat menemuinya lagi. Benar-benar lucu sekali.
Sebuah pesan masuk menghentikan air mataku. Aku membuka dan membacanya pelan-pelan.
Pesan dari Kyra. “Maaf ya, Ren. Sebenarnya aku gak lanjut kuliah karena beberapa alasan. Sekarang juga aku masih tinggal di kampung dengan ibu. Kemungkinan aku gak bisa balik ke rumah. Aku akan tinggal di kampung ibu untuk ke depannya. Terimakasih sudah banyak membantu dan menjadi teman baikku selama kuliah. Maaf aku udah bohongi kamu, Ren.” Begitulah isi pesan singkatnya yang membuat jantungku seakan meledak. Aku coba untuk menenangkan diri menerima kenyataan yang terjadi.
Deg, sebentar lagi waktunya!
Aku terdiam dengan pikiran kosong beberapa saat.
Untuk apa aku punya kemampuan seperti ini? Apa gunanya jika tidak dapat membantuku? Untuk apa aku mengetahui lebih awal tentang hal yang akan terjadi? Kenapa Tuhan? Kenapa mengujiku dengan ini? Apa gunanya kemampuan ini ada padaku, TUHAN…
Begitu banyak pertanyaan di benakku. Rasanya aku ingin menyalahkan diri sendiri atau bahkan menyalahkan Tuhan. Begitu kalut tidak karuan rasanya. Aku bagaikan hilang arah dan tujuan. Aku menjadi hampa dan sangat kosong rasanya. Berhari-hari aku coba untuk menenangkan diri. Namun tetap frustasi rasanya. Aku merasa kehilangan banyak hal sekaligus. Aku tidak siap menerima semua ini. Hingga satu minggu lamanya baru aku bisa membalas pesan, Kyra. Saat otakku mulai berpikir jernih.
Aku mengirimnya pesan panjang. Memutuskan untuk memberitahunya mengenai alasan aku mendekatinya tiba-tiba kala itu. Aku katakan semua kekhawatiran yang aku simpan selama ini tentang dirinya. Semua itu karena aku tidak lagi berada di sisinya. Jadi aku harap hal ini bisa membantunya untuk berhati-hati dalam bertindak. Bagaimana pun aku paham jika kehidupannya sulit dan tidak mudah dia lewati. Semua butuh pertimbangan dan keputusan yang matang. Kyra berhadapan dengan makhluk-makhluk jahat yang tidak terhitung jumlahnya. Harapan sederhanaku hanya ingin dia baik-baik saja dan yang terpenting dia mampu bertahan lebih lama lagi.”
Kyra membalas pesanku mengabarkan kondisinya yang lebih stabil. Namun kabar baiknya masih belum mampu menghempas kekhawatiranku.
Delapan bulan kemudian ia memberi kabar duka mengenai kepergian ibunya. Kyra tidak mengangkat telponku, hanya membalas beberapa pesanku. Kyra menyampaikan kondisi dirinya yang sangat terpuruk itu. Pada akhirnya ibunya meninggal karena depresi. Begitulah aku menyimpulkan kondisi yang ia gambarkan. Kyra sudah tidak punya siapapun disisinya. Ia hanya bisa memeluk lukanya sendirian. Aku bahkan tidak lagi dapat menemaninya dalam situasi ini.
Aku pikir sebelumnya ia akan sedikit tenang meski dengan kondisi yang tidak begitu menguntungkan. Apalagi saat sebelumnya ia mengabariku tentang kesibukan barunya, yaitu menjadi kasir di sebuah toko bangunan. Namun ternyata ketenangannya itu tidak berlangsung lama. Karena kehilangan ini, selama satu bulan, Kyra masih belum bisa bangkit dari kesedihannya.
Aku khawatir dengan kondisinya. Untung saja ia masih mau menghubungiku. Pelan-pelan hatinya kembali pulih. Semangatnya kembali muncul. Menurutku dia semakin dewasa menyikapi setiap ujian yang menghampirinya. Aku berencana mengunjunginya suatu saat nanti, setelah aku menyelesaikan perkuliahan atau mungkin saat aku sudah cukup mandiri. Bagaimana pun aku hanyalah perantau yang tidak punya keberanian untuk menempuh perjalanan jauh sendirian. Saat ini aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya. Aku hanya dapat mendukungnya, menenangkan hati dan pikirannya saja. Benar-benar tidak ada yang lain selain itu. Lebih tepatnya, semua itu hanya berupa kata-kata saja.
Waktu berlalu begitu cepat. Kyra menyibukkan dirinya dengan bekerja di beberapa tempat. Sementara aku fokus untuk menyelesaikan pendidikan. Kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Komunikasi kami masih cukup baik, hanya saja sudah mulai jarang karena keadaan. Aku selalu menyempatkan diri untuk membalas setiap pesan yang aku dapatkan darinya. Tapi balasan dari pesan-pesan itu semakin lama makin jarang aku dapatkan. Sampai pada waktu di mana aku tidak lagi mendapatkan pesan darinya. Tentu aku khawatir, namun lagi-lagi keadaan tidak memberiku kesempatan. Aku berada di tahun terakhir perkuliahan. Setiap harinya aku berharap, Kyra membalas pesanku.
Karena tidak lagi mendapat kabar apapun dari, Kyra. Aku mencari cara lain untuk menghubunginya. Aku mencari tahu mahasiswa yang berasal dari kampung halaman yang sama dengannya. Melakukan hal ini rasanya sangat sulit bagiku yang tidak terlalu pandai bersosialisasi. Setelah usaha panjang itu akhirnya aku menemukan cara untuk mengetahui kabarnya, namun aku tetap masih belum bisa menemuinya.
Lima tahu kemudian - Rumahku
Setelah menutup pagar rumah, aku kembali duduk di mobil yang sejak tadi aku panaskan. Aku bersiap memulai perjalanan. Aku mengendarai mobil sambil mengamati rute jalan di ponsel yang memperlihatkan jarak tempuh dua ratus tujuh puluh kilometer. Dengan tenang aku duduk dibangku kemudi sambil sesekali memandang keindahan setiap tempat yang aku lalui. Sesekali aku atur nafas agar tidak terlalu tegang. Aku juga memutar musik relaksasi yang terhubung dengan ponsel supaya tidak terlalu hening saja.
Setelah perjalanan panjang yang aku lalui sendirian itu akhirnya sampai pada tujuan. Aku berhenti dengan memarkir mobil di salah satu rumah warga. Kemudian berjalan sekitar dua menit di jalan setapak menyusuri tempat yang samar-samar di ingatanku. Sebelumnya aku sudah pernah satu kali melewati jalan ini.
Tak! Bunga mawarnya terlepas dari tanganku. Aku kembali memungutnya dan berjalan maju. Aku mulai mengatur nafas saat mendekati tempat tujuan itu.
Aku tersenyum mendekatinya. Begitu rindu rasanya setelah sekian lama tidak berjumpa.
“Kyra, apa kabar? Aku yakin kali ini kamu pasti sudah tenang, kan?” ucapku saat mendekati pusara yang bertuliskan nama Aurelia Kyra Callista yang telah wafat tiga tahun lalu itu.
“Pasti udah damai ya sekarang? Kamu menjadi sangat tenang, namun ini terlalu hening untukku, KY…RA” lirihku dengan air mata yang bercucuran tidak terbendung.
Sahabat baikku ini meninggal karena sakit pendarahan di lambung yang dia derita. Dia sudah sangat kuat untuk bertahan sejauh ini. Aku yakin semua ini dia lalui dengan tidak mudah. Meskipun pada akhirnya, Kyra tetap tidak bertahan, namun ia sudah sangat hebat melalui semua ini sendirian. Aku sangat bangga padanya.
Aku berbincang sendiri sambil membersihkan makamnya, kemudian aku penuhi dengan bunga mawar segar yang aku bawa. Aku juga menyentuh makan di sebelahnya yang merupakan makan ibu, Kyra, untuk melakukan hal yang serupa.
Huuuffft… Angin berhrmbus dengan lembut.
Aku menegadahkan wajah ke arah langit. Tersenyum simpul menyaksikan daun dan bunga berguguran dari pohon-pohon di sekitar pemakaman.
Indah sekali gugurnya.
Aku menampung dengan kedua tanganku. Berharap menangkap bagian yang gugur itu. Senyumanku terasa pahit setelah memperoleh daun dan bunga yang gugur di kedua telapak tanganku. Air mataku semakin jatuh berderai.
Tuhan, terimakasih atas semua hal yang aku miliki saat ini. Kemampuan ini ternyata baik untukku. Jika bukan karena kemampuan yang Engkau berikan, bagaimana mungkin aku dapat berteman baik dengan sahabatku ini. Aku percaya setiap takdir yang ditetapkan adalah yang terbaik.
Beberapa hal memang dapat berubah, namun lembar takdir yang telah Engkau pilih seperti kematian, ujian dan ketetapan lainnya merupakan pilihan terbaik untuk setiap makhluk di dunia ini. Tidak dapat dihindari bagaimana pun caranya menghindar. Namun kita masih bisa memilih dengan jalan seperti apa saat menerima takdir tetap itu. Jalan yang baik atau tidak tergantung pribadi masing-masing.
Aku banyak belajar dari kehidupan, Kyra. Aku bahagia bisa menemaninya walau hanya sebentar saja.
Sampai bertemu lagi, Kyra…