Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Dalam Pelukan Harapan
3
Suka
394
Dibaca


"Huuuffft…"

Daun-daun berputar beberapa kali sebelum akhirnya menyentuh tanah di taman kampus. Aku duduk di trotoar taman setelah memarkir motor putih yang masih dapat aku perhatikan dari jarak ini. Aku tidak memilih kursi dengan alasan menginginkan tempat yang lebih teduh dan damai. Perhatianku tertuju pada daun gugur yang kembali menyebar.

Bahkan dedaunan ini sebelum berakhir menjadi sampah, apa mereka semua pernah menggenggam takdir?

Beberapa daun kembali gugur setelah kalah bertarung dengan kekuatan angin pagi ini. Aku menampung dengan tangan kanan, berharap menangkap salah satu dari mereka sebelum menyentuh tanah.

Apa pohon merasakan kesedihan setelah daunnya gugur? Mungkinkah rasanya hanya seperti rambut rontok?

Bahkan sepertinya rambutku yang rontok di setiap hari itu juga terikat takdir yang sama seperti dedaunan ini.

"Plaakk!" Sebuah telapak tangan seseorang menepuk keras pundak kiriku. Tarikan napas panjang sebelum mengeluarkan suara yang familier, tentu saja manusia itu lagi.

"Kamu sedang apa? Sudahlah jangan berulah di pagi hari gimana kalau orang akan memberimu uang jika memakai kaca mata hitam seperti itu? Udah buruan masuk!" Kyra menarik tubuhku. Tidak, lebih tepatnya menyeretku memasuki gedung kuliah saat satu kata pembelaan dari mulutku belum sempat terucap, setelah ia berbicara cepat dengan satu kali tarikan napas itu.

"Heh, nggak bisa ya kamu bersikap lebih lembut lagi? Dan apa maksudmu aku sedang meminta-minta uang?" Aku melirik manusia yang hanya diam itu. "Lain kali berbicara pakai jeda ya. Otakku tidak paham apa yang kamu ucapkan." 

Aku kembali melirik manusia yang kini mulutnya komat-kamit itu, lalu ia berkata, "Kamu pasti tidak tahu di ruangan mana kita sekarang?"

"A14 lantai 2. Kamu pikir aku tidak tahu."

"Sudah aku duga kamu nggak tahu informasi terbaru kan?"

"Memang kita pindah kelas mana?"

"Aula atas lantai 3, karena kita gabung 4 kelas hari ini."

"Ha?"

"Hah apanya? Udah aku chat dari tadi untuk cari tempat duduk yang nyaman, kamu malah cosplay mengemis di trotoar taman."

"Aku hanya menampung daun yang gugur ya! Mulutmu ini cukup tidak ramah sekali."

"Ahh, Iya iya ya udah buruan ahh!" Kyra melepas tanganku dan menaiki anak tangga lebih dulu.

Aku melepas kaca mata hitam, menyimpannya ke dalam ransel, lalu menggenggam erat kedua talinya di pinggang. Memacu langkah agar lebih cepat. Menghindari beberapa orang yang naik maupun turun dengan hati-hati.

"KLAK!" suara benda jatuh di tangga.

Aku menoleh ke belakang. Di pertengahan anak tangga terlihat ponsel dan powerbank terhempas ke dinding. Seorang pria yang baru saja berpapasan sepersekian detik denganku tampak mengeluh terhadap apa yang sedang ia alami. Aku berhenti dan mengamati bahasa tubuhnya sesaat. Ia tampak kesal dan kacau saat ini. 

Deg! 'Tolong berhati-hati ya!’ Sebuah suara yang menyerupai suaraku.

Apa? Ada apa dengannya? Memang dia kenapa? suara hatiku setelah bisikan itu menyelinap di kepalaku.

"Rena! Ya Tuhan manusia ini leletnya." Kyra menarik pergelangan tangan kiri dan membantuku lebih cepat menaiki tiga anak tangga itu.

Setelah duduk tenang beberapa saat, tiba-tiba aku khawatir tanpa alasan. Beberapa kali aku mencoba menenangkan diri dengan menyingkirkan berbagai pemikiran yang seharusnya tidak aku pikirkan saat ini.

"Baik. Semua pemakalah silakan presentasikan di depan." Satu perintah dari mulut dosen menyadarkanku kembali ke dunia nyata. 

Beberapa mahasiswa bergerak mengambil posisi baru, mempersiapkan diri sebelum diskusi dimulai. Sepasang di antaranya—berada pada kelompok yang sama—tampak berdebat dengan suara kecil. Pandangan mereka bergantian tertuju ke arah pintu, ponsel, dosen serta saling menatap tajam. Ada kegelisahan yang tak terucap, seolah mereka menantikan sekaligus mengkhawatirkan sesuatu.

Presentasi makalah Teori Kepribadian itu dimulai. Semua berjalan semestinya. Ketenangan dan ketegangan hadir silih berganti.

Tanpa sadar, aku tenggelam dalam nuansa itu sampai sesi diskusi berakhir dengan damai. Meskipun aku tidak aktif dalam diskusi. Namun ternyata cukup menguras emosi karena aku berdebat dengan diri sendiri. Sebenarnya aku sangat ingin ikut campur dalam diskusi ini sejak tadi, namun apalah daya mulutku ini yang tidak mampu menyerukan pemikiran dengan alasan terlalu banyak orang.

Kyra menyenggol pelan jemariku. "Makan yuk!"

Aku mengangguk beberapa kali tanpa meliriknya, karena fokus mengemasi barang.

"Dina! Rangga seharusnya masuk kelas ini kan?” suara seorang pemuda dengan langkah cepat berjalan masuk menuju salah satu kelompok pemakalah di depan. “Rangga. Dia.. kecelakaan. Sudah dua jam yang lalu. Lukanya parah, bahkan tidak sadarkan diri." Kata demi kata yang diucapkan pria itu—perlahan, dengan usaha untuk tetap tenang—membuat kami semua membeku. 

Aku menyimak informasi itu sambil tenggelam dalam pikiran sendiri. "Laki-laki tadi ya?" gumamku pelan tanpa sadar.

"Kamu kenal, Rangga?" Kyra bertanya heran.

Aku spontan menggelengkan kepala.

"Ah, orang yang kamu senggol di jenjang tadi?" katanya, seperti baru teringat sesuatu.

"Aku bahkan tidak menyentuhnya!" tegasku.

"Lalu kamu mengamati karena dia akan celaka?" 

Aku terdiam, bingung menjawab pertanyaan itu.

“Aku hanya kaget karena barangnya jatuh saja. Lagi pula, memangnya dia Rangga?” dalihku.

“Ya benar. Rasaku itu Rangga!” balasnya sambil menatap tajam, penuh keyakinan yang sedikit menyudutkanku. 

Aku mengatur napas, mengalihkan pandangan darinya. 

“Aku yakin. Yang tadi itu Rangga!” ulang Kyra sambil menunjuk layar ponselnya—menampilkan foto pria tersebut.

Aku menatap ponsel itu sesaat, lalu melempar pandangan ke sekitar, membasahi bibir. Napasku mulai terengah.

“Kamu tahu dia akan terluka, kan?” Kyra lagi-lagi membuat napasku tercekat.

“Bukankah kamu tidak percaya hal seperti itu? Kenapa mendadak berubah?” Aku sengaja melontarkan pertanyaan agar dia tidak membahas lebih jauh.

“Karena itu selalu terjadi dan membuatku ragu jika hanya kebetulan. Aku bahkan sudah mengamatimu di beberapa kejadian.”

Kejujuran itu menekanku. “Sudahlah. Lagi pula aku bisa apa?”

“Apa kamu benar-benar tidak bisa memberitahunya?” ucapnya lirih. Nada haru itu mendadak menyentuhku.

“Kamu pikir aku tahu semua yang akan terjadi padanya? Tentu saja—” 

“Rangga!” 

Suaraku terpotong. Teriakan itu datang dari arah lain.

“Rangga meninggal!”

Kalimat itu jatuh bersamaan dengan gema suara hatiku.

Aku tidak mengerti bagaimana harus menggambarkan situasi ini. Aku, Kyra, dan orang-orang di sekitar kami hanya saling menatap—pilu dan tak berdaya. Meski tidak pernah mengenalnya, kenyataan itu tetap membuat air mataku jatuh tanpa izin.

Aku tertunduk. Napasku menyempit.

Diam. Aku tak ingin memikirkan apa pun saat ini.

Kuhentikan suara-suara di kepalaku yang semakin berkecamuk itu. 

“kamu benar-benar tidak dapat mengatasinya sedikitpun?” tanya Kyra lirih. 

Pertanyaan itu membuat napasku semakin menyempit. Entah mengapa aku merasa tersakiti dan bersalah.

“Aku juga manusia, kamu pikir aku bisa merubah takdir!”

Aku mengatur napas panjang, lalu pergi.

Hari itu berlalu dengan pilu yang bertumpuk—sesak, sedih, marah, khawatir, dan lelah menyatu di tubuhku. Aku bahkan meminta izin tak mengikuti kelas siang; rasanya tubuh ini tak lagi berdaya. Aktivitas kampus pun berjalan pincang, terseret kabar kepergian itu.

Setelahnya, segala hal kembali seperti biasa. Perlahan, kesedihan tergeser oleh berita lain, oleh kesibukan yang terus datang. Hari-hari berlalu, menutup duka kemarin. Semua orang kembali pada rutinitasnya. Aku juga—seolah telah melupakan kejadian itu dan kembali beraktivitas seperti semula.

"Kyra, aku mau ke toko buku. Kamu ikut?"

"Jam berapa?" sahutnya lemah dari balik ponsel.

"Jam satu, biar aku yang jemput."

"Oke." Kyra mengakhiri panggilan suara itu dengan cepat. Aku dapat merasakan ketidaknyamanan di hatinya saat itu.

Sepertinya aku tepat waktu menghubungimu. Apa lagi yang kamu hadapi kali ini. 

Sebetulnya aku juga tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi. Setelah menghubunginya, aku menyadari dia sedang tidak baik-baik saja. Padahal aku bermaksud untuk bersenang-senang hari ini, tapi sepertinya itu tidak berjalan sesuai harapanku. Mendengar sautan dari ponsel saja, aku yakin masalahnya kali ini cukup berat. 

Hari libur seperti ini, aku meluangkan waktu untuk mengumpulkan energi positif di tempat-tempat yang membuatku merasa nyaman. Kali ini aku memilih mengunjungi toko buku. Karena aku cukup suntuk dengan suasana kosan yang sepi senyap tanpa kehidupan ini. 

Aku menyingkap gorden untuk memastikan kondisi cuaca. Semoga saja tidak hujan. Aku berharap dengan ragu setelah melihat awan gelap di beberapa tempat. 

Aku kembali pada aktivitas menekan keyboard laptop untuk menyelesaikan cerita fantasi seperti biasa, duduk tegak di kasur lesehan dengan iringan suara musik relaksasi yang sengaja aku putar. Aku menghabiskan hari-hari di kosan seorang diri. Jadi kegiatan seperti ini memberi ketenangan sendiri dan mengurangi kekhawatiranku.

Sampailah waktunya aku menjemput Kyra di rumahnya yang dominan putih, berjarak sembilan kilometer dari area kampus. Aku memarkir motor di depan pagar rumah besar yang sunyi itu. Beberapa saat kemudian, Kyra keluar. Langkahnya tertatih, seolah tubuhnya sangat lelah. Kepalanya tertunduk, seakan dibebani oleh helm hitam miliknya.

"Kamu aman?"

"Amanlah. Memangnya aku kenapa?" jawabnya dengan tegar yang ia usahakan sambil duduk dibangku penumpang. 

Mendengar celetukannya itu membuatku menghela napas lebih dalam.

Selama perjalanan aku mencoba memancingnya untuk bercerita. Namun Kyra masih enggan mengutarakan isi hatinya. Karena itu, aku hanya mencoba untuk membuatnya bahagia dengan mengalihkan pemikirannya sesaat. Aku mengajaknya berbincang mengenai hal-hal random saja.

Sampai di toko buku, suasana hatinya semakin membaik. Kyra perlahan kembali menjadi lebih hangat. Kami saling bercanda satu sama lain. 

Kyra menyodorkan sebuah buku yang baru saja dibacanya. "Buatkan aku hal seperti ini dong, Ren!" sambil menunjuk bagian, "Mengenangmu dengan cara ini merupakan cara terbaik menurutku wahai sahabat."

"Memangnya kamu ingin aku ceritakan bagaimana?" aku melempar pertanyaan dengan ceria untuk mengganti suasana. 

"Ceritakan aku sebagai pemeran utama yang hidupnya bahagia."

"Bahagia seperti apa yang kamu inginkan?" mencoba menggalinya dengan bercanda.

"Hidup tenang, damai dan punya banyak uang."

"Lalu?"

"Aku ingin duduk santai sambil menikmati kehidupan damaiku yang kaya raya."

"Oke baiklah, akan aku tuliskan besok."

"Benarkah?" Kyra menatapku dengan menyipitkan matanya, sambil mengkomat-kamitkan mulut seperti biasa.

"Kenapa kamu tidak yakin? Bukannya kamu mau aku buatkan ini?" Kembali aku tunjuk-tunjuk bagian tulisan di buku itu.

"Iya aku mau tapi nggak percaya kamu yang bikin—percaya padamu seperti membohongi diriku sendiri, aku nggak bisa berpura-pura seperti itu, kamu tahu aku, kan?" colotehannya nyaris tanpa jeda seperti biasa. Aku tersenyum simpul mendengar itu.

"Kamu memang tidak bisa pura-pura, karena terlalu pandai menutupinya. Jadi, itu bukan pura-pura namanya, namun itulah dirimu yang sesungguhnya. Aku benar, kan?" 

Kyra hanya menatapku dengan tajam.

"Aku tahu kamu punya banyak teman. Setidaknya jadikan salah satu di antara mereka sebagai orang terdekatmu. Tidak masalah jika itu bukan aku. Aku hanya ingin, kamu jujur pada salah satunya saja. Percayalah, itu akan membuat bebanmu lebih ringan." Sengaja aku katakan dengan santai dan tidak menatapnya.

Aku berjalan menjauhinya mencari sesuatu yang aku butuhkan. Sesekali aku amati ia dari kejauhan. Kyra tenggelam dalam pikirannya sendiri, sementara tangannya meraba beberapa buku di hadapannya. Aku mengerti dia sedang mengalihkan kesedihannya saat itu.

Benar-benar sulit menggalinya ya.


Setelah merasa cukup kami berencana pulang dan berjalan menuju parkiran.

"Sepertinya kita akan kehujanan." Kyra menatap langit yang menggelap. 

"Tenang, aku bawa dua mantel," sambil membuka jok motor membuktikan ucapanku.

"Kehujanan pun tidak masalah kok."

"Sesedih itukah kamu?" 

"Aku nggak sedih!" bantahnya tegas.

Aku menutup keras jok motor. "Sudahlah, aku muak dengan kebohonganmu. Rasanya kamu jadi aneh, Kyra."

Kyra diam tertegun. Aku mulai menjalankan kendaraan roda dua itu. Perjalanan itu jadi tidak begitu mulus karena hujan dan kawanannya yang menghadang. Aku memutuskan berhenti di salah satu warung kopi pinggir jalan. 

“Kenapa tidak kita lanjutkan saja?” tanyanya sambil berjalan mengikutiku.

Aku menarik kursi lalu mendudukinya. “Aku tidak mau sakit. Lagi pula aku kesulitan berkendara karena badainya terlalu kencang.” 

“Biar aku yang bawa.”

“Diamlah, Kyra.” Aku spontan berdiri. “Nikmati saja suasana ini.” Aku mengatur kembali intonasi. “Biar aku yang pesankan.”

Saat memesan minuman di kasir aku melihat, Bang Tama yang merupakan salah satu barista di sana. Kenapa bertemu di sini? Jika aku tahu, aku tidak akan berhenti di sini. Dengan sengaja aku menghindar agar tidak terperhatikan olehnya dan kemudian kembali duduk dengan tenang. 

Kyra menatap tenang ke arah taman. Aku teringat akan sesuatu. Mungkin karena bertemu, Bang Tama aku jadi tidak nyaman. Semoga saja bukan dia yang mengantar pesananku. Sambil menunggu aku bahkan berdo’a, namun tetap saja belum menghilangkan semua keteganganku. Bagaimana tidak? Manusia yang sengaja aku hindari, selalu saja memiliki titik temu dengan tema kebetulan berulang kali. Hal ini cukup membuatku frustasi.

“Hai, Rena.”

'Ya Tuhan'

“Ini pesananmu.” Bang Tama menyodorkannya dengan ramah. Senyumannya hangat, nyaris biasa, tapi entah mengapa membuatku kikuk. Aku membalasnya dengan senyum kecil yang tertahan. 

“Ini pertemuan yang kebetulan lagi ya?” Kyra beralih fokus padaku setelah Bang Tama meninggalkan meja kami. 

Aku hanya menjawab dengan anggukan pelan sambil menyandarkan tubuh ke kursi dan bernapas dengan tenang. 

“Menurutku semakin kamu menjauh maka akan semakin banyak kebetulan yang datang. Mungkin kalian memang ditakdirkan bersama,” sambungnya.

“Hal seperti ini bagiku merupakan takdir yang dapat aku pilih sendiri.”

“Kok kamu yakinnya begitu?”

“Entahlah, aku harap keyakinanku yang benar. Lagi pula untuk apa aku meladeninya. Aku sedang tidak ingin terikat hubungan apapun saat ini.” 

Jika pertemuan dengan Bang Tama memang tidak bisa aku hindari. Setidaknya hubungan kami tidak berlanjut lebih dalam lagi. 

Aku yakin hal ini bisa aku ubah. Meskipun aku juga tidak dapat menghindar. 

Aku masih mengingat jelas kejadian waktu itu, saat pertemuan pertama dengannya ketika masa orentasi kampus. Tiba-tiba hatiku berkata bahwa dia orangnya, mata kami saling beradu pandang pada kebetulan pertama itu. Aku juga dapat merasakan pertemuan kami saat ini sebetulnya cukup singkat, aku yakin setelah ini dia akan menghilang dari duniaku. Kini aku yakin sebentar lagi itu terjadi, karena ia sudah berada di tahun terakhirnya. Seharusnya tahun ini dia tamat, kemudian setelah itu kita tidak akan bertemu lagi kan?

Jadi karena alasan itu aku berusaha menghindari setiap pertemuan dengannya, meskipun alam selalu membantuku bertemu kembali dengannya. Aku juga berkali-kali mencoba menghindar, tapi semua percuma saja rasanya seperti hari ini. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengontrol perasaanku sendiri, agar tidak jatuh hati pada pria hangat itu.

Memikirkan hal ini, membuatku juga mengingat pertemuan dengan Kyra. Aku masih ingat jelas, pengamatanku saat ia tertawa bersama teman lainnya. Sementara saat itu aku duduk diam di sudut ruangan. Saat itu hatiku tiba-tiba mengatakan bahwa, Kyra tidak akan bertahan. Sejak saat itu aku mencoba mendekatinya, mengenalnya lebih dalam untuk mengetahui alasan apa yang membuatnya tidak bisa bertahan. Benar saja. Dia memiliki luka dan hancur perlahan dari dalam. Permasalahan keluarganya yang tiada henti itu selalu ia sembunyikan dengan rapi. 

“Aku paham kamu sulit mengungkapkan beban yang kamu rasakan itu, Kyra. Tapi kalau kamu benar-benar tidak sanggup, aku harap—kamu tetap berpikir jernih. Jangan sampai melakukan tindakan yang tidak benar ya! Kalau kamu butuh tempat curhat, aku selalu ada kok. Aku nggak mau hal itu terjadi.”

Kyra tertunduk diam sesaat. “Memangnya hal apa yang terbesit di pikiranmu?”

“Ya... tindakan yang tidak baik saja. Aku hanya khawatir kamu tidak tahan dengan semua itu.”

“Apa kamu juga pernah mendapat firasat tentang aku?”

“Aa… enggak sih. Cuma… sebagai teman aku tentu khawatir.” Aku mengelak dengan menyeruput kopi latte yang menganggur sejak tadi.

“Kyra membuang napas dengan keras sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. “Kamu tahu, ayahku baru saja menjual rumah kami yang berada di kota lain—untuk membantu saudaranya yang sedang ditahan tanpa sepengetahuan ibuku. Padahal rumah itu dibeli dengan uang ibu. Mungkin sebentar lagi dia akan menjual aset lainya demi keluarganya. Kemarin kami bertengkar hebat. Ucapannya benar-benar—" mengatur napasnya sesaat. "Aku benci dan sakit hati.” Kyra berbicara pelan dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya. Aku mendengarkan keluhan itu sambil memberinya rasa aman, berharap dia bisa menumpahkan seluruh kesedihannya. Ia bercerita panjang mengenai kondisi keluarganya yang di ujung tanduk. Aku tidak tahu harus memberi solusi bagaimana, hanya mendengarkan dan menenangkan pikirannya yang dapat aku lakukan. 

Hujan deras menyamarkan isak tangisnya. Kyra mencurahkan isi hatinya dengan mencoba untuk tetap tenang. Perlahan menceritakan semua beban yang selama ini selalu ia tutup dengan senyuman itu. Jujur saja. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana mengatasi permasalahannya. Aku menyadari suara hatiku saat itu merujuk pada permasalahan yang tidak bisa dihindari dengan mudah. 

Kepalaku terasa berat, dadaku sesak seolah aku punya gangguan pernafasan. Aku tidak mampu membendung tetesan panas dari kedua bola mataku sendiri. Bagaimana aku menolongmu? Bagaimana caranya?! Tuhan… aku mohon jangan sekarang. Aku ingin berteman dengannya lebih lama. Aku mohon Tuhan.

Aku mencoba mengendalikan diriku agar kembali tenang. “Apapun yang terjadi, berjanjilah untuk tidak melakukan hal buruk, ya!” ucapku lirih berusaha tenang. 

Aku tidak ingin harapannya patah, namun saat ini sejujurnya akulah yang kehilangan harapan.


Setelah pertemuan itu aku menjadi semakin khawatir. Jadi aku selalu berdo’a agar Kyra baik-baik saja. Untungnya setelah itu, Kyra semakin terbuka. Namun beberapa hal yang ia hadapi merujuk pada situasi yang mengancam kesehatan mentalnya.

Beberapa kali aku melarangnya untuk melakukan sesuatu, yang mana saat itu suara hatiku mengarah pada tanda bahaya, jika ia tetap melakukannya. Seperti saat ia mengetahui bahwa, ayahnya bertemu diam-diam di jalan dengan asisten rumah tangganya sendiri. Aku melarang Kyra untuk tidak membawa motornya sendiri saat pergi ke kampus. Jadi aku menjemputnya saat itu. Benar saja, ternyata dalam perjalanan pulang, kami menyaksikan pemandangan busuk yang menjijikkan itu. Untung saja Kyra mau mendengar saranku. Kyra sebetulnya sangat marah, ia berusaha tetap menekan semua emosinya. Tiba-tiba ia memintaku memutar rute perjalanan pulang, berubah menuju pantai.

Saat itu dentuman ombak memecah kesunyian di antara kami. Kyra memandangi gelombang air yang berkali-kali mendekatinya dengan lamunan dan tatapan hening. Aku memutar arah duduk menghadap tubuhnya dari posisi sejajar sebelumnya. Aku hanya memandang wajahnya, berharap ia mengatakan sesuatu atau paling tidak menagis.

Tapi setelah itu Kyra malah tertawa kecil memandang arah laut. “Menurutmu, apa laut ini cukup dalam?” tanyanya setelah berkali-kali tertawa kecil sambil menoleh ke arahku. 

“Kamu ingin membenamkan diri di sana?” tanyaku pasrah memandang wajahnya yang memunculkan ekspresi aneh itu.

“Enggak. Hmm… Mungkin tidur di dalamnya akan terasa lebih tenang,” ucapnya yang mulai terdengar tidak rasional.

“Jika kamu seorang penyelam mungkin aku tidak akan khawatir.”

Kyra tertawa pilu dan aku yakin kedua pipinya itu basah karena air mata. 

“Aku benci. Aku sangat ingin mengutuknya! Namun, di dalam darahku. Bahkan ada darah miliknya! Aku lelah Rena. Aku lelah!”

“Luapkan saja apa yang kamu rasakan. Lautannya sangat luas, mereka bisa menampung semua beban beratmu itu.”

Kyra menangis begitu dalam. Isakan tak terbendung itu seakan memberitahu dunia bahwa dirinya begitu hancur. Hatinya begitu sakit. Harapannya lenyap tanpa jejak. 

Aku membiarkan angin laut yang menghiburnya. Suara ombak yang menenangkannya. Pelan-pelan ia kembali tenang dengan sendirinya.

“Terimakasih untuk hari ini, Rena.”

“Aku akan membantu. Jadi jangan sungkan jika sewaktu-waktu kamu butuh aku.”

“Padahal aku nggak mau membagi kesedihan dengan siapapun.”

“Tenang, kamu tidak terlihat buruk karena hal ini. Sekali-kali jujur pada dunia mengenai perasaanmu adalah hal baik.”

“Aku nggak mau dianggap lemah.”

“Siapa yang bilang kamu lemah?”

“Situasi ini membuatku jadi terlihat lemah.”

“Ini hal wajar, selagi masih bernapas.”

Kyra tersenyum. “Aku ingin menjadi kuat!”

“Ya. Kamu harus jauh lebih kuat dari saat ini.”

“Menurutmu aku sanggup?”

Keraguan manusia yang biasa tertawa di hadapan dunia itu tidak membuatku lelah untuk meyakinkannya lagi dan lagi. “Tentu saja sanggup, bukankah kamu harus menjadi lebih kuat untuk ibumu.”

“Benar juga, aku harap aku cukup kuat untuk ibuku.” Kyra menatap ombak dengan lebih tenang saat itu.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa semua berjalan baik. Namun setidaknya, memberinya ruang untuk bernapas sedikit lebih lega. Permasalahan yang terus berlanjut hampir dua semester itu menjelma menjadi beban. Sementara itu, aku tetap menjadi pendukung di belakangnya. 

Sampailah saat perkuliahan tahun ketigaku dimulai. Seperti biasa, karena kosanku dekat dengan kampus. Jadi aku sering menunggu Kyra di taman kampus, jika cuaca aman seperti pagi ini. 

Tapi kenapa firasatku tidak enak ya sejak libur ini. Padahal aku selalu bertukar kabar dengannya. Apa karena hal lain? Tapi apa?

Aku menunggu lama. Setelah itu aku putuskan untuk masuk kelas lebih dulu. Sampai kelas berakhir, Kyra tetap tidak ada kabar. Aku sudah berusaha menghubunginya berkali-kali.

Mungkin dia sedang sakit.

Begitulah pemikiranku saat itu.

Kemudian setelah semua perkuliahan hari ini berakhir. Aku memutuskan istirahat ke kos. Entah mengapa aku ingin menangis saja. Secara acak otakku memutar ulang semua kejadian yang pernah terjadi, membuat air ini mengalir tak terbendung. Otakku tidak berhenti memutar banyak kejadian. Seperti mengingat kembali, bagaimana aku tidak mampu menyelamatkan kucing kesayanganku yang berakhir tragis, teman kelas yang celaka, orang di sekitarku yang meninggal dan masih banyak lagi. Terakhir otakku memutar kenangan mengenai Bang Tama. 

Pada akhirnya aku bahkan tidak bisa menjaga hatiku untuk tidak menyukainya. Kini ia menghilang. Entah kapan ia akan kembali, atau mungkin tidak kembali. Mungkin semua kisahnya sudah berakhir dengan keadaan hatiku yang mendambakannya. Dia menghilang seakan lenyap ditelan bumi. Bahkan, di acara wisudanya saja aku tidak bertemu. 

Begitukah takdir pertemuan kami habis? Saat mencoba bertemu pada hal yang wajar saja, aku tidak dapat menemuinya lagi. Benar-benar lucu sekali. 


Sebuah pesan masuk menghentikan air mataku. Aku membukanya dan membaca pelan-pelan.

Pesan dari Kyra.

Maaf ya, Ren. Sebenarnya aku nggak lanjut kuliah karena beberapa alasan. Sekarang aku masih tinggal di kampung sama ibu. Kayaknya aku nggak bisa balik ke rumah. Aku netap di sini ke depannya. Makasih ya udah banyak bantu dan jadi teman baikku selama kuliah. Maaf, aku nggak bermaksud bohongin kamu, Ren.

Pesan singkat itu membuat jantungku seakan meledak. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri—menerima kenyataan yang tak sempat kupersiapkan.

Deg, sebentar lagi waktunya!

Aku terdiam dengan pikiran kosong beberapa saat. 

Untuk apa aku punya kemampuan seperti ini? Apa gunanya jika tidak dapat membantuku? Untuk apa tahu lebih awal sesuatu yang akan terjadi? Kenapa Tuhan? Kenapa mengujiku dengan ini? Apa gunanya kemampuan ini ada padaku, Tuhan…

Kepalaku memanas, tubuhku terhempas lemah ke atas kasur. Rasanya tulang-tulangku remuk, tak berdaya. Pertanyaan bertubi-tubi memenuhi benakku—aku ingin menyalahkan diri sendiri, bahkan sempat menyalahkan Tuhan.

Segalanya terasa kalut. Aku seperti kehilangan arah dan tujuan, menjadi hampa, kosong. Berhari-hari aku berusaha menenangkan diri, tapi yang tersisa hanya frustrasi. Aku merasa kehilangan terlalu banyak hal sekaligus.

Aku tidak siap menerima semua ini. Hingga satu minggu berlalu, barulah aku mampu membalas pesan Kyra, saat pikiranku mulai menemukan kejernihannya kembali.

Aku mengirimkan pesan panjang padanya. Menceritakan alasan mengapa aku tiba-tiba mendekatinya kala itu. Aku utarakan firasat dan kekhawatiran yang aku simpan selama ini.

Aku tidak punya pilihan lain. Kini aku tak lagi berada di sisinya. Karena itu, aku berharap kata-kataku bisa membantunya—setidaknya agar ia lebih berhati-hati dalam melangkah. Aku mengerti hidupnya tidak mudah untuk dijalani. Ia membutuhkan pertimbangan dan keputusan yang matang untuk menghadapi hal-hal jahat yang berkeliaran di sekitarnya.

Harapanku sederhana, hanya ingin ia baik-baik saja, dan mampu bertahan sedikit lebih lama lagi.

Kyra membalas pesanku, mengabarkan kondisinya yang lebih stabil. Namun kabar baiknya masih belum mampu menghempas kekhawatiranku. 

Delapan bulan kemudian, ia memberi kabar duka mengenai kepergian ibunya. Kyra tidak mengangkat telponku, hanya membalas beberapa pesan.

Kyra menyampaikan kondisi dirinya yang sangat terpuruk kala itu.

Pada akhirnya, ibunya meninggal karena depresi. Begitulah aku menyimpulkan kondisi yang ia gambarkan.

Kini sudah tidak punya siapapun di sisinya. Ia hanya bisa memeluk lukanya sendirian. Aku bahkan tidak lagi dapat menemaninya dalam situasi ini. 

Aku pikir sebelumnya Kyra akan sedikit tenang meski dengan kondisi yang tidak begitu menguntungkan. Apalagi beberapa hari sebelumnya, ia mengabariku tentang kesibukan barunya—menjadi kasir di sebuah toko bangunan. Ternyata ketenangannya itu tidak berlangsung lama. Karena hal ini, selama satu bulan dia masih belum mampu bangkit dari depresinya. 

Aku sangat khawatir dengan kondisinya. Untung saja ia masih mau menghubungiku sesekali. Pelan-pelan hatinya kembali pulih. Semangatnya kembali muncul. Menurutku dia semakin dewasa menyikapi setiap ujian yang menghampirinya.

Aku berencana mengunjunginya suatu saat nanti, setelah aku menyelesaikan perkuliahan atau mungkin saat aku sudah cukup mandiri. Bagaimanapun, aku hanyalah perantau, tidak cukup berani untuk menempuh perjalanan jauh sendirian. Saat ini aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya. Aku hanya berusaha menenangkan hati dan pikirannya saja. Benar-benar tidak ada yang bisa aku lakukan selain itu. Kenyataannya, semua ini hanya kata-kata tanpa tindakan.

Waktu berlalu begitu cepat. Kyra menyibukkan dirinya dengan bekerja di beberapa tempat. Sementara aku fokus untuk menyelesaikan pendidikan. Kami mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Komunikasi kami masih cukup baik, hanya saja sudah mulai jarang karena keadaan.

Aku selalu menyempatkan diri untuk membalas setiap pesan yang aku dapatkan darinya. Tapi balasan dari pesan-pesan itu semakin lama, makin jarang aku dapatkan. Sampai pada waktu di mana aku tidak lagi mendapatkan balasan pesan darinya. Aku sangat panik, namun lagi-lagi keadaan tidak memberiku kesempatan.

Aku yang saat itu berada di tahun terakhir perkuliahan. Banyak kendala yang juga aku hadapi sendiri. Setiap harinya aku berharap, Kyra membalas pesanku. 

Setelah cukup lama tidak mendapat kabar dari Kyra, aku mencari cara lain untuk menghubunginya. Aku mencoba menelusuri mahasiswa yang berasal dari kampung halamannya.

Bagiku, melakukan hal ini sangat sulit karena aku tidak terlalu pandai bersosialisasi. Setelah usaha panjang, akhirnya aku menemukan seseorang yang bisa memberiku informasi tentangnya. Namun, aku tetap belum berhasil menemuinya.

Lima tahu kemudian — Rumahku


Setelah menutup pagar rumah, aku kembali duduk di mobil yang sejak tadi aku panaskan. Aku bersiap memulai perjalanan. Aku mengendarai mobil sambil mengamati rute jalan di ponsel, menunjuk jarak tempuh dua ratus tujuh puluh kilometer. Dengan tenang, aku duduk di bangku kemudi, sesekali memandang keindahan setiap tempat yang aku lewati. Sesekali aku menata napas agar tidak terlalu tegang, memutar musik relaksasi yang terhubung ke ponsel agar lebih hidup. 

Perjalanan panjang akhirnya membawaku ke tujuan. Aku berhenti, memarkir mobil di halaman salah satu rumah warga. Kemudian berjalan sekitar dua menit di jalan setapak yang samar-samar tersimpan di ingatanku. Aku sudah pernah melewati jalan ini, satu kali sebelumnya.

“Tak!”

Buket mawar terlepas dari genggamanku. Aku membungkuk untuk memungutnya, lalu melangkah perlahan, menata napas seiring mendekati tempat itu.

Aku tersenyum mendekatinya. Begitu rindu rasanya setelah sekian lama tidak berjumpa. 

“Kyra, apa kabar? Aku yakin kali ini kamu sudah tenang, kan?” ucapku saat duduk di samping pusara yang bertuliskan nama Aurelia Kyra Callista yang telah wafat tiga tahun lalu itu. 

“Pasti sudah damai ya sekarang? Kamu menjadi sangat tenang, tapi... ini terlalu hening untukku, Ky…Ra.” lirihku pecah, air mata tumpah begitu saja tak terbendung. 

Sahabat baikku ini meninggal karena sakit pendarahan di lambung. Dia sudah sangat kuat untuk bertahan sejauh ini. Aku yakin selama ini, dia sudah bertahan dengan tidak mudah. Meskipun pada akhirnya tubuhnya menyerah, tapi Kyra sudah sangat hebat, melalui semua ini sendirian. Aku sangat bangga padanya.

Sambil membersihkan makamnya, aku mengucapkan beberapa kata. Lalu, aku menebarkan kelopak bunga mawar segar di atas tanah yang sedikit melambung itu. Di makam di sebelahnya—makam ibu Kyra—aku melakukan hal yang sama, menyingkirkan rumput liar dan menebarkan bunga dengan hati-hati. 


"Huuufff" Angin berhembus dengan lembut menyentuh wajahku.

Aku menegadahkan wajah ke arah langit. Tersenyum simpul menyaksikan daun dan bunga berguguran dari pohon-pohon di sekitar pemakaman. 

Indah sekali gugurnya.

Aku menampung dengan kedua tanganku. Berharap menangkap bagian yang gugur itu. Senyumanku terasa pahit setelah memperoleh daun dan bunga yang gugur di kedua telapak tanganku. Air mataku semakin jatuh berderai. 

Tuhan, terimakasih atas semua hal yang aku miliki saat ini. Kemampuan ini ternyata baik untukku. Jika bukan karena hal ini, bagaimana mungkin aku dapat berteman baik dengan sahabatku, Kyra. Aku percaya setiap takdir yang ditetapkan adalah yang terbaik.


Beberapa hal memang dapat berubah, namun bagian takdir yang Tuhan pilih seperti kematian, ujian dan ketetapan lainnya adalah pilihan terbaik untuk setiap makhluk di dunia ini. Tidak dapat dihindari, selalu akan bertemu, bagaimanapun caranya menghindar. Namun kita masih bisa memilih cara menyambutnya. Jalan yang baik atau tidak, pada akhirnya, bergantung pada diri kita sendiri. 

Aku banyak belajar dari kehidupan Kyra. Aku bahagia bisa menemaninya walau hanya sebentar saja.

Sampai bertemu lagi, Kyra…

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Dalam Pelukan Harapan
BerryLly
Cerpen
Bronze
Submerge
Faisal Susandi
Cerpen
Bronze
Konten Cinta Tanpa Cinta
Saifoel Hakim
Cerpen
Tetangga Depan Rumah
ken fauzy
Cerpen
Bronze
UANG IURAN KELUARGA
N. HIDAYAH
Cerpen
Bronze
NURAGA
SIONE
Cerpen
Satu Hari di 2010
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
Jas Hujan Biru
aksara_g.rain
Cerpen
Burung di Luar Sangkar
zain zuha
Cerpen
Narasi Perempuan
Meilisa Dwi Ervinda
Cerpen
Bronze
The Untold Truth
blank_paper
Cerpen
Pending Apologize (Sintas Universe)
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
Toko Bunga Bernama Luka
Saskia Azzahra
Cerpen
Bronze
Arini
Imajinasiku
Cerpen
TIGA LUKA TARI,
Indira Raina
Rekomendasi
Cerpen
Dalam Pelukan Harapan
BerryLly