Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Customer Service untuk Doa yang Tertunda
3
Suka
432
Dibaca

Selamat Datang di Divisi Retur Takdir

"Nomor antrean sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan! Silakan menuju loket empat!"

Suara itu melengking, bukan lewat pelantang suara merek China yang sering krak-krok di kantor kelurahan, melainkan bergaung langsung di dalam tempurung kepalaku. Aku mengerjap. Di depanku, seorang pria berseragam kemeja biru muda dengan id-card berkilau sedang sibuk memelototi monitor transparan.

"Maaf, ini di mana ya?" tanyaku linglung.

"Kantor Pelayanan Publik Lintas Dimensi, Unit Keluhan Doa yang Belum Terpenuhi. Nama?" Petugas itu tidak menoleh sedikit pun. Jemarinya menari di atas keyboard yang juga transparan.

"Mahendra. Tapi, saya tadi lagi tidur..."

"Semua orang ke sini lewat jalur mimpi, Mas Mahendra. Jangan merasa spesial. Data Anda sudah muncul. Mahendra bin Sukardi, alamat Bumi, sektor Indonesia, domisili kos-kosan gang sempit yang atapnya bocor kalau hujan? Betul?"

Aku tersinggung. "Ya nggak usah disebut detail bocornya juga, Mas. Tapi, ini beneran kantor CS doa?"

"CS Doa, Divisi Kurasi dan Filter. Saya Ariel. Bukan Ariel Noah, jangan berharap lebih. Ada keluhan apa? Cepat, antrean di belakang Anda ada tiga juta malaikat yang mau setor laporan harian."

"Saya mau protes! Saya sudah doa siang malam, dari zaman saya masih kurus sampai sekarang perut saya sudah kayak ibu hamil empat bulan, tapi kok hidup saya begini-begini saja? Mana janji 'Mintalah maka akan Kuberi'?"

Ariel akhirnya menoleh. Matanya merah, kantung matanya tebal. Sepertinya dia butuh kopi surgawi sebanyak satu galon.

"Mas Mahendra merasa doanya tidak didengar?"

"Bukan lagi! Dicuekin! Kayak nge-chat gebetan yang cuma di-read doang!"

Ariel menghela napas panjang, lalu memutar monitor transparannya ke arahku. "Oke, mari kita lihat log aktivitas Anda. Sebentar, saya cari dulu folder 'Mahendra_Ganteng_Banget_69'. Ini folder Anda, kan?"

"Itu... itu nama email saya zaman SMP. Kenapa masih dipakai?"

"Sistem kami sinkron dengan data digital paling memalukan dalam hidup manusia. Mari kita lihat. Dalam satu tahun terakhir, Mas Mahendra mengirimkan rata-rata empat puluh doa per hari. Isinya delapan puluh persen minta kaya, sepuluh persen minta jodoh yang speknya mirip idol K-Pop, dan sepuluh persennya lagi minta tetangga sebelah yang sombong itu kena diare."

"Lho, itu kan aspirasi jujur dari rakyat kecil seperti saya!"

"Mas, masalahnya bukan di isinya saja. Masalahnya adalah status doa Anda di sistem kami."

Ariel menunjuk sebuah barisan teks berwarna merah yang berkedip-kedip di layar. Aku mendekat, memicingkan mata untuk membaca tulisan yang ada di samping namaku.

"Apa tulisannya itu? Kenapa merah semua?"

"Statusnya: [SPAM DETECTED]."

"Hah?! Doa saya dianggap spam?"

"Iya. Dan kalau Mas mau tahu kenapa, silakan masuk ke ruang audit di sebelah sana."

"Tunggu, saya nggak bisa langsung dapat duitnya sekarang?"

"Mas Mahendra, Anda pikir ini ATM? Cepat masuk sana!"

"Tapi nanti saya balik lagi ke sini kan?"

"Nama Anda Mahendra, kan? Mari ikut saya ke ruang eksekusi... maksud saya, ruang klarifikasi."

Algoritma Tanpa Usaha

Aku berjalan melewati lorong yang dindingnya terbuat dari cahaya. Anehnya, suhu di sini pas, tidak panas dan tidak dingin. Di ujung lorong, ada sebuah ruangan dengan pintu kayu jati yang terlihat sangat mahal. Di pintunya tertulis: KEPALA DIVISI FILTERING - PAK TEJO.

Aku mengetuk pintu.

"Masuk! Nggak dikunci!" teriak suara dari dalam.

Aku masuk dan menemukan seorang pria tua dengan blangkon, tapi mengenakan headset gaming nirkabel. Dia sedang menyesap teh dari cangkir yang uapnya membentuk simbol dolar.

"Duduk, Hen. Mahendra, kan?"

"Iya, Pak Tejo. Saya mau tanya soal status spam itu. Ini fitnah atau gimana?"

Pak Tejo tertawa kecil, membuat kumis tebalnya bergoyang. "Fitnah katamu? Hen, sistem kami ini menggunakan AI—Artificial Ilahiah. Nggak mungkin salah. Kamu tahu kenapa doa minta kayamu masuk folder spam?"

"Ya karena saya butuh? Saya kan hamba yang meminta."

"Begini, Hen. Coba kamu ingat-ingat doa kamu tadi malam sebelum tidur."

Aku mengingat-ingat. "Ya Tuhan, hamba lelah miskin. Hamba pengen kaya raya, punya saldo ATM sembilan digit, punya mobil sport, tapi hamba nggak mau capek kerja. Hamba pengen uang jatuh dari langit sekarang juga. Amin."

Pak Tejo mengetuk-ngetuk meja. "Nah, itu dia masalahnya. Parameter 'tanpa usaha' itu otomatis memicu filter spam. Di langit ini ada protokol namanya Sunnatullah. Kamu minta hasil tanpa proses itu ibarat kamu minta kenyang tapi mulutmu dilakban. Sistem bingung mau naruh duitnya di mana. Masa mau kami jatuhkan satu brankas dari langit tepat di atas kepala kamu pas kamu lagi tidur? Yang ada kamu mati, bukan kaya."

"Ya kan bisa lewat menang undian atau apa gitu, Pak."

"Hen, kamu beli kupon undiannya saja nggak pernah. Mau menang gimana? Doa kamu itu cuma berisi permintaan, tapi variabel 'ikhtiar' di coding doamu itu nilainya nol."

"Tapi Pak, banyak orang yang doanya terkabul padahal mereka kayaknya nggak rajin-rajin amat."

"Itu namanya Istidraj, itu divisi lain, bagian 'Jebakan Batman'. Kamu mau masuk divisi itu?"

"Ya nggak sih... tapi masa satu pun nggak ada yang nyangkut?"

Pak Tejo membolak-balik berkas virtual di depannya. "Ada sih yang hampir lolos. Doa kamu minta supaya skripsi kamu cepat selesai. Itu hampir kami kabulkan."

"Terus kenapa batal?"

"Karena pas malaikat mau kirim inspirasi ke otak kamu, eh, kamunya malah sibuk main slot sambil nonton video kucing. Inspirasinya mantul lagi ke atas karena nggak ada slot kosong di otak kamu yang lagi penuh sama jargon 'gacor kang'."

"Aduh... tapi kan saya tetap berhak protes!"

"Protes silakan. Tapi coba lihat ini. Ini adalah alasan utama kenapa doa-doamu kami tahan."

Pak Tejo menekan sebuah tombol, dan muncullah grafik yang sangat rumit.

"Grafik apa ini, Pak? Kok naik turun kayak harga kripto?"

"Ini grafik kontradiksi keinginanmu. Coba jelaskan, kenapa doa Anda masuk folder sampah?"

Aku menatap grafik itu dengan bingung. Ada banyak garis berwarna-warni yang saling silang dan kadang saling menabrak hingga menimbulkan efek ledakan kecil di layar.

"Maksudnya kontradiksi itu gimana, Pak Tejo?"

"Hen, kamu itu manusia paling egois yang pernah saya tangani minggu ini. Kamu tahu nggak, doa kamu itu seringkali membatalkan doa kamu yang lain dalam hitungan jam?"

"Mana ada! Saya konsisten kok pengen bahagia!"

"Bahagia versimu itu merusak sistem cuaca dunia, tahu!" Pak Tejo menarik satu baris data. "Lihat ini. Tanggal 15 bulan lalu, jam tujuh pagi. Kamu doa apa?"

Aku mengingat-ingat. "Oh, waktu itu saya mau jemur baju banyak banget. Saya doa: 'Ya Tuhan, panas se-panas-panasnya hari ini supaya jemuran saya kering'. Benar kan?"

"Betul. Tapi satu jam kemudian, kamu harus pergi ke interview kerja naik motor. Terus kamu doa apa?"

"Eh... 'Ya Tuhan, ademin dikit napa, jangan panas-panas amat, nanti saya keringetan pas interview, bau ketek saya bisa bikin HRD pingsan'."

Pak Tejo menepuk jidatnya. "Nah! Kamu pikir cuaca itu punya kamu sendiri? Malaikat pengatur suhu bingung, Hen! Baru mau muter keran panas, kamu minta dingin. Pas mau didinginin, kamu ngeluh lagi jemuran belum kering. Akhirnya apa? Malaikatnya kesel, terus kamu dikasih mendung nanggung yang bikin gerah tapi nggak hujan-hujan. Puas?"

Aku nyengir kuda. "Ya... namanya juga usaha menghindari bau badan, Pak."

"Belum lagi doa kamu yang tabrakan sama orang lain. Ini yang paling parah. Minggu lalu kamu jalan-jalan sama gebetanmu, kan? Kamu doa supaya hari itu cerah benderang, nggak ada hujan sama sekali biar bisa pamer motor baru."

"Iya, masa kencan kehujanan. Nggak estetik dong."

"Di saat yang sama, tepat di sebelah gang kosan kamu, ada Pak Haji Umar yang kebun cabainya sudah mau mati kekeringan. Beliau doa sambil nangis-nangis minta hujan supaya panennya nggak gagal dan bisa bayar sekolah anaknya. Kamu tahu apa yang terjadi di ruang pusat?"

"Apa?"

"Terjadi perdebatan sengit! Malaikat Mikail sampai pusing. Satu sisi ada petani yang nasib hidupnya bergantung pada hujan, di sisi lain ada anak muda bau kencur yang cuma mau pamer motor. Kamu pikir, secara logika surgawi, doa siapa yang bakal kami prioritaskan?"

"Ya... Pak Haji sih harusnya."

"Tapi kamu mintanya maksa! Pakai embel-embel 'Kalau tidak dikabulkan, hamba mogok salat'. Itu ancaman atau doa?"

"Ya itu... semacam negosiasi, Pak."

"Negosiasi gundulmu! Karena doa kalian berdua sama-sama kencang, akhirnya kami ambil jalan tengah. Di area Pak Haji hujan deras, tapi pas di atas motor kamu, hujannya cuma setitik-setitik tapi bau tanah. Akhirnya gebetanmu ilfil karena baju kamu kotor kena cipratan lumpur, dan Pak Haji cuma dapat air dikit."

Aku terdiam. Aku tidak pernah membayangkan kalau permintaanku yang sepele bisa berdampak pada sistem operasional langit dan hajat hidup orang lain.

"Tapi Pak, soal jodoh gimana? Masa minta jodoh yang cantik juga salah?"

"Nggak salah. Yang salah itu spek yang kamu minta. Kamu minta yang putih, tinggi, pinter masak, kaya, hafal 30 juz, tapi kelakuan kamu sendiri masih kayak admin akun gosip. Sistem filter kami langsung mendeteksi adanya 'Ketidakseimbangan Spesifikasi'."

"Maksudnya?"

"Istilah gampangnya: Sadar diri, Hen! Doa itu harus kompatibel sama kapasitas diri. Kamu minta spek bidadari, tapi kamu sendiri jarang mandi. Itu namanya pemaksaan kehendak, bukan permohonan."

"Wah, Bapak pedes banget ya kalau ngomong."

"Saya ini CS, Hen. Tugas saya jujur. Sekarang, lihat folder terakhir ini. Ini yang paling bikin kami geleng-geleng kepala."

"Folder apa lagi itu?"

"Folder 'Doa Tanpa Titik Komma'. Isinya komplain semua. Hujan atau panas, Mahendra? Kamu mau yang mana sebenarnya?!"

Filter Spam dan Surat Kaleng

Pak Tejo mengajakku keluar dari ruangannya, menuju sebuah aula raksasa yang isinya ribuan lemari arsip setinggi gedung pencakar langit. Di sana, banyak petugas yang mirip Ariel tadi sedang memilah-milah tumpukan surat cahaya.

"Ini adalah arsip doa yang statusnya Pending," kata Pak Tejo. "Coba kamu ambil satu secara acak di laci namamu."

Aku membuka laci bertuliskan 'MAHENDRA - JANUARI 2024'. Aku mengambil satu surat cahaya dan membacanya.

“Ya Tuhan, semoga bos saya besok sakit perut biar nggak masuk kantor, soalnya saya belum ngerjain laporan.”

Aku langsung melipat surat itu dengan malu. "Oke, saya akui itu agak jahat."

"Bukan cuma jahat, Hen. Itu namanya 'Doa Surat Kaleng'. Kamu mencelakakan orang lain demi menutupi kemalasanmu. Kamu tahu apa balasan sistem untuk doa macam itu?"

"Apa?"

"Doa itu mantul. Bos kamu nggak sakit perut, malah dia makin sehat dan masuk kantor lebih pagi buat nagih laporanmu. Kamu malah yang kena diare karena stres."

Aku melongo. Pantas saja waktu itu aku bolak-balik ke toilet sampai lemas. Ternyata itu 'efek pantulan' dari doaku sendiri.

"Hen," Pak Tejo berhenti di depan sebuah mesin penghancur kertas yang terlihat sangat futuristik. "Banyak manusia menganggap Tuhan itu kayak jin di lampu Aladin. Gosok sedikit, minta apa saja, langsung ada. Padahal doa itu adalah komunikasi dua arah. Kamu minta, kamu juga harus kasih sesuatu."

"Kasih apa? Tuhan kan nggak butuh uang saya."

"Memang nggak butuh uangmu. Tapi sistem butuh 'Ketulusan' dan 'Usaha' sebagai bahan bakar pengiriman doa. Doa-doa kamu selama ini isinya cuma tuntutan. Kamu kayak nasabah bank yang saldonya nol tapi marah-marah mau tarik tunai satu miliar."

"Jadi saya harus gimana, Pak? Masa saya berhenti doa?"

"Bukan berhenti. Tapi diperbaiki filternya. Kamu tahu kenapa doa seorang ibu itu ampuh banget?"

"Karena keramat?"

"Karena isinya hampir nggak pernah buat dirinya sendiri. Isinya buat anaknya, buat orang lain. Itu namanya 'High Quality Prayer'. Tidak ada ego di dalamnya. Sedangkan doa kamu? Isinya 'Aku, Aku, dan Aku'. Sistem kami bosan dengarnya."

"Tapi kan saya lagi susah, Pak."

"Susah itu relatif. Kamu merasa susah karena kamu membandingkan diri dengan orang di Instagram. Kamu tahu nggak, di bawah laci kamu ada laci orang yang doanya cuma satu?"

"Apa isinya?"

"‘Ya Tuhan, terima kasih hari ini saya masih bisa bernapas’. Dan kamu tahu? Doa sesingkat itu justru yang paling cepat sampai ke server pusat tanpa perlu lewat meja saya."

Aku terdiam cukup lama. Ada rasa sesak di dadaku yang bukan karena asma, tapi karena rasa malu yang amat sangat. Semua komplain yang aku siapkan sejak dari Bumi mendadak menguap begitu saja.

"Pak Tejo, berarti selama ini saya cuma nyampah di sini ya?"

"Bisa dibilang begitu. Tapi tenang, kami belum memblokir akunmu. Kami masih kasih kesempatan."

"Caranya?"

"Baliklah ke duniamu. Perbaiki cara komunikasimu. Jangan cuma minta barang, tapi minta bimbingan. Dan yang paling penting, berhenti minta hujan kalau kamu lagi pengen jalan-jalan tapi orang lain lagi butuh air."

"Jadi, Anda masih merasa Tuhan tidak adil?

Aku menatap Pak Tejo, lalu menatap ribuan lemari arsip di sekelilingku. Dunianya terasa begitu luas, sementara aku selama ini merasa dunia hanya berputar di sekitar kegagalanku, kemiskinanku, dan keinginan-keinginanku yang dangkal.

"Pak," kataku pelan. "Boleh saya minta satu hal terakhir sebelum saya bangun?"

Pak Tejo menaikkan alisnya. "Apa? Mau minta nomor lotre? Jangan harap ya."

"Bukan. Tolong hapus semua doa spam saya tadi. Semuanya. Biar lacinya kosong dulu."

Pak Tejo tersenyum tipis. "Kenapa? Sayang lho, ada doa minta jodoh spek Jennie Blackpink di situ. Siapa tahu sistem lagi error terus dikabulkan."

Aku menggeleng. "Nggak usah. Saya mau mulai dari awal. Saya mau isi laci itu dengan sesuatu yang lebih... yang lebih pantas disebut doa."

"Bagus," Pak Tejo menepuk bahuku. "Itu namanya Reset Akun. Tapi ingat, setelah ini, jangan berharap hidupmu langsung berubah jadi di film-film. Kamu tetap harus kerja, tetap harus kena macet, tetap harus benerin atap bocormu sendiri."

"Iya, Pak. Saya paham. Setidaknya sekarang saya tahu, kalau doa saya belum dikabulkan, mungkin karena saya lagi rebutan jatah matahari sama petani cabai."

Pak Tejo tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelegar seperti guntur, tapi anehnya terdengar sangat menenangkan. "Nah, itu baru namanya Mahendra yang naik kelas. Oh ya, satu tips lagi: kalau mau doa, jangan pakai bahasa yang terlalu 'puitis' tapi hati kamu nggak nyambung. Pakai bahasa jujur saja. Tuhan itu bukan juri lomba baca puisi."

"Siap, Pak Tejo. Makasih banyak ya."

"Sama-sama. Sekarang, silakan menuju pintu keluar. Dan tolong, bilang ke teman-temanmu di bawah sana, jangan sering-sering doa minta kiamat cuma gara-gara diputusin pacar. Admin divisi bencana alam sudah kewalahan bikin simulasi!"

Aku tertawa. Aku berjalan menuju pintu cahaya yang tadi aku lalui. Rasanya tubuhku menjadi sangat ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini kupikul di pundak—beban berupa tuntutan dan rasa iri—sudah aku tinggalkan di kantor CS ini.

Tiba-tiba, pandanganku kabur. Suara bising kantor perlahan menghilang, digantikan oleh suara tetesan air yang ritmis.

Tess... tess... tess...

Aku membuka mata. Dingin.

Hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit kamarku yang kusam. Sepercik air jatuh tepat di hidungku. Sial, hujan deras di luar, dan atapku bocor lagi.

Aku bangkit, mengambil ember untuk menampung air bocoran itu. Biasanya, aku akan langsung menggerutu, menyalahkan keadaan, lalu mulai merapal doa komplain kepada Tuhan tentang betapa tidak adilnya hidup ini bagi seorang pria bernama Mahendra.

Tapi kali ini, aku diam. Aku mendengarkan suara hujan yang menghantam atap seng kosanku. Aku teringat Pak Haji Umar dan kebun cabainya.

Mungkin hujan yang bikin bocor atapku ini adalah jawaban dari doa seseorang yang sedang menangis karena kekeringan. Mungkin kenyamanan kecilku yang terganggu ini adalah berkah besar bagi orang lain.

Aku duduk di pinggir tempat tidur, melipat tangan, dan memejamkan mata. Tidak ada daftar keinginan. Tidak ada tuntutan saldo ATM sembilan digit. Tidak ada spek jodoh yang muluk-muluk.

"Tuhan," bisikku lirih. "Makasih ya buat hujannya. Maaf kalau kemarin-kemarin saya agak rewel. Hari ini, saya cuma minta... kasih saya tenaga buat benerin genteng besok pagi."

Aku tersenyum. Rasanya ada sesuatu yang hangat mengalir di dadaku. Tidak ada suara dari langit, tidak ada kilatan cahaya. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa doaku benar-benar 'terkirim' tanpa masuk folder spam.

Tiba-tiba, ponselku di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Aku meraihnya dengan malas, mengira itu hanya pesan promosi pinjol atau operator seluler.

Ternyata pesan dari bosku di kantor.

“Mahendra, laporanmu yang kemarin saya baca. Sebenarnya masih berantakan, tapi saya hargai kejujuranmu di bagian kesimpulan. Besok pagi temui saya, kita bahas posisi supervisor yang kosong. Tapi tolong, jangan telat lagi karena alasan jemuran!”

Aku melongo. Aku menatap langit-langit yang bocor, lalu tertawa sendirian seperti orang gila.

"Wah, Pak Tejo... ini responnya cepat juga ya?" selorohku.

Tiba-tiba, sayup-sayup aku mendengar suara Ariel si petugas CS di telingaku, entah hanya halusinasi atau sisa mimpi tadi.

"Heh Mahendra! Itu bukan keajaiban, itu karena kamu akhirnya kerja beneran, tahu!"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Customer Service untuk Doa yang Tertunda
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Jual Beli Nasib di Keranjang Kuning
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Pria Pencari Pintu Kamar Mandi
Titin Widyawati
Flash
Bronze
ASTRONOT OGAH KEMBALI KE BUMI. NASA: BELIAU TERLILIT UTANG PINJOL.
Ade Anugrah
Komik
Bronze
Personal Inverse
Fahmi Maulana
Flash
Penulis Paling Berbakat di Dunia
Rafael Yanuar
Flash
Sulitnya Mencintai Tuan
Fazil Abdullah
Flash
Kejarlah Daku Kau Kutangkap
Steffi Adelin
Flash
Bronze
Brandal yang tersakiti
penulis kacangan
Komik
AdVentuRama
khusnul rahmawati
Cerpen
Bronze
Istriku dan Anjingnya
Cicilia Oday
Cerpen
Kabur
Fazil Abdullah
Flash
Runyam
BANYUBIRU
Flash
Petak Umpet
Suci Asdhan
Cerpen
Maaf Hanya Bisa Ngasih Ini
cahyo laras
Rekomendasi
Cerpen
Customer Service untuk Doa yang Tertunda
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Jual Beli Nasib di Keranjang Kuning
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Donor Ingatan dari Pasien Kamar 404
Prasetya Catur Nugraha
Novel
Bronze
Menjahit Retak di Langit-Langit
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Toko Penjual Waktu Luang
Prasetya Catur Nugraha
Novel
Bronze
Bunga Hitam di Bumi Para Dewa
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Melupakanmu di Setiap Matahari Terbit
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Surat dari Masa yang Belum Terjadi
Prasetya Catur Nugraha