Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aroma Kimchi dan Janji di Balik Kanvas
Siang itu, udara di ruang tamu rumah Hana terasa berat, bukan karena terik matahari, melainkan karena selembar surat yang baru saja mereka baca. Surat itu datang dari Pak Han, Kepala Sekolah SMA Gyong-Sakon. Isinya bukan sekadar undangan, melainkan sebuah mandat hidup dan mati bagi sekolah mereka.
"Bagaimana ini?" Ha-Yoon bertanya dengan suara bergetar. Wajahnya pias. "Sekolah kita punya utang besar pada SMA Baek-Chang. Kalau kita tidak ikut lomba memasak kimchi ini, sekolah akan ditutup."
Hana melipat surat itu dengan jemari yang kokoh. "Kita bisa melakukannya, Ha-Yoon. Pak Han sudah mempercayakan nasib sekolah pada kita."
"Tapi lawannya Yura dan Yurin!" bantah Ha-Yoon putus asa. "Mereka juara bertahan. Mereka jago masak."
"Mereka juara masakan Barat, bukan masakan lokal," potong Hana cepat. "Kita memang belum pernah juara, tapi kita punya waktu dua hari untuk berlatih lebih giat. Demi Gyong-Sakon!"
Melihat binar di mata Hana, keraguan Ha-Yoon perlahan luruh. "Ayo! Demi Gyong-Sakon!"
Dukungan dan Bayang-Bayang Masa Lalu
Dukungan mengalir deras di rumah Ha-Yoon. Ayah dan Ibunya memberikan semangat penuh, mengingatkan Ha-Yoon betapa berbakatnya dia sejak kecil saat membantu di dapur. Namun, pemandangan berbeda terjadi di rumah Hana.
"Tidak. Ayah tidak mengizinkanmu," ucap Ayah Hana dingin setelah mendengar rencana putrinya.
"Tapi Ayah, ini demi sekolah! Jika kami menang, utang sekolah lunas," pinta Hana.
Ayah Hana berdiri, menatap putrinya dengan tatapan terluka. "Dua tahun lalu, ibumu meninggal saat sedang memasak. Penyakit jantungnya kumat di dapur. Ayah tidak mau hal yang sama terjadi padamu, Hana. Kau punya penyakit jantung yang sama dengan ibumu. Kau adalah satu-satunya yang Ayah miliki."
"Ibu meninggal karena takdir, Ayah, bukan karena memasak!" Hana membalas dengan air mata menggenang. "Ibu tahu mimpiku jadi chef, tapi Ayah malah memaksaku jadi pelukis demi ambisi Ayah sendiri."
Suasana menjadi hening. Ayah Hana terdiam, menyadari egonya yang terlalu besar. Setelah perdebatan panjang, sebuah kesepakatan pahit tercipta. Ayah mengizinkan Hana ikut lomba, namun dengan satu syarat: setelah lomba selesai, Hana harus pergi ke Italia untuk sekolah melukis dan meninggalkan mimpinya sebagai chef.
Demi menyelamatkan sekolahnya, Hana mengangguk lemah. "Baik, Ayah. Aku akan mengikuti kemauanmu."
Persaingan di Supermarket
Keesokan harinya, Hana dan Ha-Yoon berlatih di taman, membagikan kimchi buatan mereka kepada pejalan kaki untuk meminta kritik. Namun, saat membeli bahan di supermarket, mereka berpapasan dengan Yura dan Yurin.
"Oh, jadi ini lawan kita?" cibir Yura sambil menatap keranjang belanja Hana. "Kudengar sekolah kalian akan ditutup kalau kalian kalah. Aku sangat menantikannya."
Hana tidak mundur satu langkah pun. "Juara masa lalu bukan jaminan untuk hari esok. Cerita baru akan dimulai besok di lapangan."
Pertarungan Terakhir
Hari perlombaan tiba. Lapangan SMA Baek-Chang penuh sesak. Pak Kim, Kepala Sekolah Baek-Chang, menegaskan kembali taruhan besar di depan semua hadirin. "Jika Gyong-Sakon kalah, sekolah mereka ditutup hari ini."
Peluit berbunyi. Waktu hanya 10 menit untuk membuat Bossam Kimchi.
Hana dan Ha-Yoon bekerja dengan sinkronisasi yang luar biasa. Mereka merebus tulang corvina untuk kaldu, menyaringnya dengan teliti, dan mencampur bumbu dengan penuh perasaan. Di sisi lain, Yura dan Yurin tampak percaya diri, namun dalam ketergesaannya, Yurin melakukan kesalahan fatal: dia tidak menyaring rebusan kaldu dan langsung mencampurnya ke dalam mangkuk.
"Selesai!" teriak Yura dan Yurin di menit kelima. Mereka tersenyum meremehkan ke arah Hana yang masih teliti menggulung daun kubis.
Hana mengabaikan tekanan waktu. Di menit-menit terakhir, dia menyiramkan cairan corvina rebus ke dalam toples, sebuah teknik kunci untuk mengunci rasa. "Selesai!" seru Hana tepat saat waktu habis.
Kemenangan yang Pahit
Penilaian juri dimulai. Wajah ketiga juri berubah masam saat mencicipi masakan Yura dan Yurin. "Kematangannya kurang," kritik Juri 1. "Rasanya tidak jelas karena tidak disaring," tambah Juri 2.
Namun, saat mencicipi kimchi Hana dan Ha-Yoon, mata para juri berbinar. "Ini kimchi terenak yang pernah saya makan," puji Juri 2.
"Pemenangnya adalah... SMA Gyong-Sakon!"
Sorak-sorai pecah. Teman-teman mereka menyerbu ke lapangan, mengangkat Hana dan Ha-Yoon bak pahlawan. Sekolah mereka selamat. Utang mereka lunas. Hana tersenyum lebar, meski di sudut hatinya, dia tahu ini adalah hari terakhirnya sebagai seorang koki.
Perpisahan Tanpa Kata
Pagi berikutnya, Ha-Yoon menunggu Hana di kelas dengan perasaan suka cita. Namun, Hana tak kunjung datang.
Di saat yang sama, di rumah Hana, segalanya telah dikemas. "Kita berangkat sekarang, Hana. Tiket sudah siap. Ayah sudah mengirim surat pengunduran diri ke sekolahmu," ucap ayahnya tegas.
"Tapi Ayah, aku belum berpamitan..."
"Tidak sempat lagi. Pesawat berangkat satu jam lagi."
Di sekolah, Pak Han membacakan surat dari ayah Hana dengan suara bergetar.
"Hana... tidak akan datang lagi," ucap Pak Han pelan, memegang sebuah amplop cokelat.
"Apa maksud Bapak? Dia mungkin terlambat karena kelelahan," sahut Ha-Yoon tak percaya.
"Ini surat pengunduran dirinya. Ayah Hana membawanya ke Italia pagi ini untuk sekolah lukis. Mereka sudah berangkat ke bandara satu jam yang lalu."
Dunia Ha-Yoon seolah runtuh. Ia berlari keluar kelas, mengabaikan teriakan guru-guru. Ia berlari menuju rumah Hana, berharap semua ini hanya lelucon. Namun, sesampainya di sana, gerbang rumah itu sudah digembok. Tidak ada jemuran di halaman, tidak ada aroma masakan dari dapur.
Ha-Yoon menggedor pintu kayu itu hingga tangannya memerah. "Hana! Keluar! Kita belum merayakan kemenangan kita! Kau berjanji akan menjadi chef bersamaku!"
Hening. Hanya suara angin yang menyapu dedaunan kering di halaman.
Ha-Yoon terduduk lemas di depan pintu. Di sana, ia menemukan sebuah bungkusan kecil yang tertinggal di dekat pot bunga. Di dalamnya ada sebuah sketsa kecil bergambar mereka berdua yang sedang memasak, dan secarik kertas bertuliskan:
"Jagalah Gyong-Sakon untukku, Ha-Yoon. Maaf, aku harus melukis masa depanku di kanvas yang berbeda. Simpan aroma kemenangan kita selamanya."
Ha-Yoon memeluk sketsa itu, menangis tersedu-sedu di depan rumah yang kini telah kosong. Kemenangan yang mereka raih kemarin terasa begitu manis, namun perpisahan ini menyisakan rasa asin yang lebih pekat dari garam kimchi manapun.
Di Atas Langit
Pesawat mulai lepas landas. Hana duduk di dekat jendela, menatap daratan Korea yang perlahan mengecil. Di bawah sana, ada SMA Gyong-Sakon yang berhasil ia selamatkan. Dan ada mimpi besarnya untuk menjadi koki yang kini harus ia simpan rapat-rapat di dalam koper.
Ia membuka buku sketsanya. Di halaman pertama, ia tidak melukis pemandangan Roma yang dijanjikan ayahnya. Ia melukis sebuah toples Kimchi dengan latar belakang sekolah mereka yang sederhana.
- SELESAI -