Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hari itu aku sedang duduk di teras rumahku sambil menikmati secangkir teh hangat, dan tak sengaja aku melihat seorang laki-laki yang amat asing di mataku. Dia tersenyum ramah kepadaku, tapi aku tak memperdulikannya karena aku sedang asik dengan hobi ku membaca novel yang sangat aku sukai.
Pada hari berikutnya aku bertemu lagi dengannya, tak aku sangka dia menyapaku lebih dulu.
“Selamat pagi.” sapa dia.
“Pagi,” jawabku sambil tersenyum ramah kepadanya.
Dalam hatiku diam-diam aku mengagumi orang itu. Wajahnya tegas dan teduh, terlihat sangat ramah dan tenang. Pakaiannya sangat rapi.
Aku pun masuk ke dalam rumah dan bertanya pada Mama ku. “Ma siapa sih, orang yang setiap pagi aku lihat di rumah yang ada di depan rumah kita?”
Mama ku menjawab dengan tersenyum. “Dia itu tetangga baru kita Vel, baru kemarin pindah ke sini.”
Aku pun mengaggukkan kepala mengerti, langsung berjalan ke kamarku yang berada di lantai dua.
Aku duduk di balkon kamarku sambil melihat bintang yang indah. Tapi ada yang aneh di pikiranku. Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan orang itu. Wajahnya terbayang-bayang, bau parfumnya jelas terekam di indra penciumanku, senyumnya manis sekali. Aku baru sadar setelah mama memanggil untuk makan malam.
“Vely, ayo makan dulu sayang.”
Aku kaget, suara mamaku menyadarkan lamunanku. buru-buru kusingkirkan apa yang baru saja terlintas di pikiranku.
“Iya Ma, sebentar lagi Vely ke situ.”
Setelah makan malam aku kembali ke kamar untuk menulis sebuah cerita, selain hobi membaca aku juga hobi menulis. Tulisanku tidaklah bagus-bagus amat, hanya sekadar hobi untuk mengisi kejenuhan.
Aku sedang asik melihat televisi, karena acara kesukaanku tayang. Orang tuaku saat itu tak ada di rumah, tiba-tiba pintu rumahku ada yang mengetuk, Aku takut pada awalnya. Namun sesaat kemudian terdengar salam dari luar.
“Assalamualaikum, apa ada orang di dalam?” suara itu sepertinya pernah aku dengar.
Aku pun beranjak membuka pintu dengan keberanian yang aku punyai, tidak lupa aku menjawab salam tadi.
“Waalaikumsalam!” aku mendorong daun pintu dengan penuh keberanian.
Akhirnya aku dapat melihat orang yang berdiri di depan pintu, ternyata dia, laki-laki yang menjadi tetangga baruku. Aku bengong sesaat, tidak percaya, dalam hatiku berkecamuk, “ada apa dia di sini malam-malam.”
Dia langsung bicara apa maksud dia malam-malam datang ke rumahku.
“Selamat malam, maaf mengganggu aku ke sini disuruh mamaku nganterin makanan sebagai tanda perkenalan.”
Aku masih bengong.
“Halo, kamu tidak apa-apa kan?”
Suara laki-laki itu menyadarkanku. Cepat-cepat aku mengucapkan terima kasih dan menerima bingkisan itu. Cowok itu langsung berpamitan pulang. Aku pun langsung masuk ke rumah karena di luar dingin. Dalam hatiku berbicara, “ bodoh sekali kamu, Vel. Kamu malu-maluin!”
Hari-hari berlalu aku pun mengetahui nama laki-laki yang selama ini selalu ada dipikiranku. Aksara namanya. Nama yang indah menurutku. Seiring waktu berjalan, lama-kelamaan keluarga kita semakin dekat, terutama aku dengan ibunya. Kita pun sering sering ngobrol bareng. Tanpa aku sadari, aku dan Aksara juga semakin dekat, entah apa nama hubungan ini. Hari minggu aku diajak Aksara jalan bareng, aku diajak makan di sebuah restoran ternama di Jakarta, ketika kita ngobrol aku merasa gugup. Aku merasa salah tingkah dan malu sendiri. Tentu saja aku terlihat kikuk, makan bersama orang yang aku sukai. Meski aku tidak tahu apakah dia punya rasa yang sama.
Rasa itu semakin tumbuh, aku sadar aku sangat menyukai dia, itu berawal saat kami sering ngobrol lewat pesan, dia mempunyai visi dan misi hidup yang kuanggap cukup hebat. Aku semakin kagum melihat dia bekerja keras setiap hari. Tapi aku tak berani mengungkapkan rasaku padanya. Aku takut kalau dia tak memiliki rasa yang sama seperti apa yang aku rasakan. aku hanya bisa menunggu karena aku tak mampu mengungkapkan rasa itu. Waktupun berlalu begitu saja.
Saat itu aku pergi liburan dengan keluargaku, di saat itu juga dia pergi. Setelah aku pulang aku ingin sekali bertemu dia dan mengungkapkan semuanya, tapi apa yang ku dapat saat aku ke rumahnya, rumah itu kosong tak berpenghuni hanya ada seorang pembantu yang dapat aku temui di sana. Pembantu itu memberikan sebuah surat kepadaku, aku pun langsung membacanya. Air mataku meleleh, dadaku sesak. Surat berisi permohonan maaf dari dia karena pergi tanpa berpamitan kepadaku. Dia harus buru-buru terbang dengan orang tuanya karena kakeknya sakit keras.
Aku memahami alasan itu, aku pun memutuskan untuk menunggu dia, aku percaya dia akan kembali. Aku menjalani hari-hari ku dengan perasaan kosong, namun aku tetap berusaha untuk selalu terlihat baik-baik saja. Mamaku tahu aku lebih banyak murung semenjak kepergian tetangga depan rumah kami. Namun, Ia tak pernah menanyakan hal itu. Ia selalu mencoba menghiburku. Mamaku sepertinya cukup tahu, dan tidak akan membahasnya lebih lanjut.
Tidak terasa kini sudah satu tahun waktu berlalu dia tak ada kabar. Entah mengapa pesanku satu pun tidak ada yang dia balas. Aku selalu menanyakan kabarnya, perihal di mana dia saat ini tak luput aku tanyakan, namun nihil pesan itu tak pernah sampai. Akhirnya Rumah itu juga sudah resmi terjual. Sempat aku berpikir apakah aku melakukan kesalahan, hingga keluarga mereka tidak ingin mengenalku lagi. Tapi, aku buang pikiran-pikiran aneh itu. Surat yang dulu Aksara tulis adalah bukti bahwa dia tidak membenciku. Mungkin ada suatu hal yang membuat mereka tidak bisa menghubungiku kembali.
Aku duduk termenung kursi balkon kamarku, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Tidak ada orang di rumah selain aku. Aku langsung buru-buru turun dan membuka pintu. Terlihat seorang laki-laki paruh baya, dia bertanya, “apakah ini rumah Vely Amanda?” tangannya membawa sebuah dokumen yang dibungkus rapi.
Aku pun menjawab, “iya saya sendiri.”
Laki-laki itu langsung menyerahkan sebuah amplop dan meminta tanda terima dariku. Dia langsung beranjak pergi.
Aku memperhatikan amplop itu, tertulis benar namaku. Tapi aku penasaran, aku tidak pernah membuat dokumen secara daring, mengapa ada paket surat atas namaku. Dengan hati-hati aku buka amplop itu. Bak suara guntur bergemuruh di hatiku. Undangan pernikahan ada di tanganku, tanganku bergetar. Aku eja nama yang tertulis di sana tapi suaraku tercekat. Aku tak mampu lagi bersuara. Dadaku memburu. Aksara akan menikah. Orang yang aku cintai dan yang aku tunggu selama ini. Ia akhirnya benar-benar pergi. Aku pun menyesal karena dulu aku tak berani mengungkapkan rasaku padanya, kini dia akan menjadi milik orang lain. Betapa bodohnya aku, aku hanya merasakan sakit dan tak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya mampu mendoakan dia agar selalu bahagia bersama pilihan hatinya.