Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Cinta yang Menenggelamkan
3
Suka
94
Dibaca

"Dua tiket untuk film 'Hati yang Terbelah'. Um, kursinya ... di baris D. Hari, menurutmu bagaimana?"

Matahari masih menunduk membaca novel di ponselnya. Meskipun begitu, ia tetap menjawab pertanyaan Lilia. "Aku tidak masalah di mana pun. Asalkan bukan kursi paling belakang," ucapnya ringan.

Mendengar ini, Lilia mengangguk senang. Ia berbalik pada petugas loket. "Iya, baris D saja. Kami duduk di kursi D7 dan D8."

Matahari berhenti membaca. Ia mendongak dan melihat Lilia baru saja membayar tiket. Ia menipiskan bibirnya dan memasukkan ponselnya ke kantung celananya. Matahari kemudian mendekati Lilia.

"Aku mau beli makanan camilan disini. Kau mau kubelikan apa?"

Lilia mengerutkan keningnya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya. Ia kemudian melirik Matahari. "Er ... Aku cukup teh dan kentang goreng saja. Oh, cukup kentang goreng. Tidak perlu ditambahkan yang lain."

Matahari mengangguk. Ia berjalan cukup cepat menuju tempat pembelian makanan di bioskop. Melihat antrian yang pendek, Matahari bernapas lega. Ini berarti ia tidak perlu lama berdiri. Sebagai warga yang patuh aturan, Matahari pun bediri di antrian sama seperti yang lainnya.

Matahari dan Lilia memutuskan untuk melepaskan penat mereka dengan menonton film. Jika bicara soal selera, Matahari lebih cenderung pada film horor. Sementara, Lilia lebih menyukai film fantasi. Tetapi, kali ini mereka memutuskan untuk menonton film romansa yang cukup populer. Bukan apa-apa, sepertinya film bertema romansa akan lebih ringan di mata mereka pada akhir pekan yang cukup berat. Maka setelah menimbang-nimbang, keduanya memilih untuk menonton film 'Hati yang Terbelah'.

"Aku tidak mau tahu! Kamu harus tanggung jawab!"

Telinga Matahari yang cukup tajam menangkap suara desisan seorang wanita muda di belakangnya. Matahari menghela napas. Ia memutar matanya. Tetapi mau tidak mau, ia menahan rasa tidak sukanya. Ia masih harus mengantre di sini. Lagipula sebentar lagi akan tiba gilirannya untuk memesan makanan.

"Aku tahu! Kau tidak perlu menekanku. Aku hanya butuh waktu untuk membujuk ibuku. Sabarlah, aku pasti akan menikahimu."

Kali ini yang menjawab adalah seorang pria. Dari suaranya, Matahari menebak ia sama mudanya dengan si wanita. Matahari berusaha tidak mengindahkan keduanya. Ia bingung bagaimana telinganya bisa menangkap suara mereka yang berbisik. Matahari hanya mampu sedikit cemberut.

"Tapi aku tidak bisa menunggu lama! Kamu janji aku tidak perlu menggugurkannya!"

Nada bicara si wanita muda berubah menjadi lebih cepat dan dengan penekanan. Jelas sekali wanita itu sedang gusar. Ia seakan hendak mendesak pihak pria.

Pria itu pun menjawab dengan nada kesal. “Aku tahu! Tapi kalau ibu masih belum mengizinkannya, mungkin memang kita butuh melakukannya di tempat lain.”

Si wanita diam sejenak. Ia kemudian mendesis kembali. “Kamu mau aku mati? Kemarin dokter sudah bilang tindakan ini lebih berbahaya untuk kondisiku!”

“Mungkin saja dokternya tidak ahli,” kilah si pria dengan suara yang masih pelan.

Bibir Matahari sedikit gemetar. Sekarang, dengan menangkap sedikit pembicaraan mereka, Matahari dapat paham apa permasalahan yang sedang mereka ributkan.

Matahari mulai merasa tidak enak. Perutnya menjadi sedikit mual menghadapi drama tidak pantas yang disuguhkan secara mendadak. Ia mulai berpikir apakah menonton film romansa hari ini adalah keputusan yang benar. 

Sekarang, suasana hatinya mulai memburuk. Untung saja, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu. Satu antrian yang ada di hadapannya telah selesai memesan makanan mereka. Tanpa berlama-lama, kaki Matahari melangkah cepat. 

Belum sempat petugas menawarkan sesuatu, Matahari menyela, "Dua kentang goreng dan dua teh hangat."

"Itu saja?" tanya pramusaji memastikan.

Matahari mengangguk. Ia mengambil tas kecilnya dan mengeluarkan dompetnya. Matahari segera membayar sesuai dengan nominal yang pramusaji sebutkan. Kemudian ia langsung menyingkir untuk memberi tempat pada orang di belakangnya. 

Ketika Matahari menyingkir, ia sempat menoleh. Saat itu pula, ia melirik sekilas penampilan dua sejoli yang tadi berbisik-bisik di belakangnya. Keduanya benar terlihat muda. Matahari malah cukup yakin keduanya lebih muda sedikit dari usianya. Ia juga menerka dari apa yang mereka kenakan, kemungkinan besar mereka bukan orang yang tidak mampu secara finansial. Paling tidak untuk pihak pria, Matahari bisa menilainya demikian. 

Matahari hanya berdecak pelan. Ia kemudian mengingat kalau ia harus menunggu 10 menit. Matahari merogoh kocek celananya dan mengambil ponselnya. Ia memutuskan untuk lebih baik membaca kembali novel yang belum ia selesaikan sebelumnya daripada tidak sengaja mendengar pembicaraan privat orang lain.

....

Berdasarkan sinopsisnya, film yang Matahari dan Lilia tonton memang tergambar cukup dramatis. Ceritanya cukup klasik sebetulnya. Temanya mengangkat permasalahan yang tidak terselesaikan di masa lalu hingga masa kini. Ada yang menebak? 

Film 'Hati yang Terbelah' menceritakan seorang wanita yang hendak dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak laki-laki kenalan mereka. Namun, ternyata sang wanita telah memiliki kekasih yang dicintai. Sang wanita awalnya menolak untuk dijodohkan. Tetapi kemudian dengan paksaan kedua orang tuanya, sang wanita berujung manggut untuk dikenalkan.

Menurut Matahari, ini sebuah alur yang cukup mudah ditebak. Sudah banyak sekali cerita yang mengambil alur serupa dan diolah dengan berbagai macam latar. Meskipun demikian, perlu diakui cerita dengan alur seperti ini terjual layaknya opium di pasar. Kenyataannya tetap banyak film dan novel dengan alur seperti itu yang laku keras. 

Dengan pemikiran seperti itu, Matahari tidak heran ketika ia melihat banyak kursi yang telah dipenuhi saat ia dan Lilia memasuki ruangan bioskop. Kursi barisan bawah terisi penuh. Namun mulai dari barisan kursi D hingga barisan teratas, hanya sedikit yang terisi. Justru banyak kursi yang dibiarkan kosong dan mayoritas duduk saling berjarak cukup jauh.

"Kau di dalamnya, ya, Li. Aku di luarnya," kata Matahari saat mencapai kursi mereka. Ia dengan cepat menduduki kursi nomor 8. Tangannya dengan sigap meletakkan minuman dan makanannya.

Lilia hanya tertawa melihatnya. Ia tidak mempermasalahkan Matahari yang mengambil tempat duduk lebih dulu. Tanpa ambil pusing, ia duduk di samping Matahari.

"Kenapa kau sangat menyukai duduk di pinggir?" tanya Lilia sambil tertawa renyah. Ia mulai membuka penutup wadah makanannya. 

Matahari juga sibuk menambah gula pada teh hangatnya. Lampu bioskop masih belum dimatikan dan layar besar masih menampilkan iklan. Ia mengaduk minumannya dan menjawab pertanyaan Lilia.

"Karena memudahkan untuk turun dan cenderung dekat dengan pintu keluar. Kau pikir kenapa aku suka duduk di barisan yang relatif di posisi tengah? Menurutku itu posisi yang dekat dengan jalan keluar tetapi tidak mengganggu kenyamanan menonton. Mataku akan terasa tidak nyaman melihat layar lebar dengan jarak dekat."

Lilia tidak menanggapi. Ia menyeruput tehnya. "Hmm ... Ternyata kau punya jalan pikir yang unik."

Matahari tidak tersinggung. Ia tersenyum. "Itu obsesiku. Aku selalu khawatir dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan bencana."

Lilia mengangguk. Ia tahu Matahari terkadang memiliki kebiasaan yang unik. Ia kemudian mengalihkan pembicaraan mereka. 

"Aku dengar film ini sudah seminggu lebih tayang dan jadwalnya masih tersusun padat. Kemarin kudengar bahkan kursi bioskop penuh!"

Matahari menggeleng. "Memang film seperti ini akan mudah untuk tenar. Lagunya saja sudah banyak beredar. Aku saja tahu lagunya dari Tina."

Mendengar ini, Lilia mengangguk dengan antusias. Ia juga cukup suka dengan lagu yang menjadi penyerta dalam pemutaran film ini. Ia memutarnya berkali-kali di ponselnya dan bahkan mengunduhnya. 

"Kau tahu novelnya, Hari? Aku baru membelinya juga. Tapi aku rasa lebih baik aku menonton lebih dulu sebelum membacanya."

Matahari merasa tertarik dengan ucapan Lilia. Ia bertanya dengan penasaran. "Bukankah itu membosankan? Aku terkadang tidak begitu suka menonton film yang diadaptasi dari novel atau komik, kecuali aku sangat menyukainya. Alurnya akan sama saja, bukan?"

Lilia mendelik. "Tentu tidak! Membaca, kan, membutuhkan imajinasi!"

Matahari tidak menyangkal. Ia setuju dengan pernyataan Lilia. Pembicaraan mereka kemudian mengalir pada buku novel yang mereka sukai. Lilia merekomendasikan beberapa novel yang disukainya, begitupun Matahari.

Ketika pembicaraan mereka semakin asyik, beberapa penonton kembali masuk dan mengisi ruangan. Matahari hanya sesekali melirik mereka yang menaiki tangga. Salah satu dari penonton yang baru saja masuk menarik perhatiannya. 

Matahari melihat dua sejoli yang sedang berpegangan tangan. Keduanya terlihat penuh dengan intimasi. Sang pria terlihat hati-hati menggenggam tangan sang wanita dan membimbingnya berjalan. Sementara sang wanita terlihat tersenyum senang. Hei, bukankah keduanya adalah sejoli yang bertengkar sebelumnya? Sekilas Matahari berpikir keduanya telah kembali bermesraan dan telah berdamai. 

Keduanya melewati posisi duduk Matahari dan Lilia. Melihat mereka yang terus menaiki tangga, Matahari menebak mereka memilih untuk duduk di barisan yang ada di atasnya. Matahari hanya berpikir tentang mereka secara sekilas. Ia kemudian membuang pikiran tersebut dan kembali hanyut dengan pembicaraannya bersama Lilia.

Tidak butuh waktu lama, lampu bioskop dimatikan. Layar lebar yang ada di depan kemudian diperbesar. Matahari mendengar suara yang menggema dari pengeras suara. Ia merasakan udara dingin yang mulai menusuk kulitnya. Tanpa sungkan, ia menaikkan kakinya dan duduk bersila di kursinya. Kakinya kemudian merasa lebih hangat.

Waktu selalu terasa lebih cepat bagi siapapun yang menikmatinya. Matahari dengan mudah tenggelam dalam pesona film tersebut. Meskipun alurnya dapat ditebak, Matahari masih dapat menikmatinya. Matahari hanya sesekali merasa ngantuk dan bersender pada kursinya.

Namun, di tengah alur cerita, Matahari merasakan seseorang berjalan di sampingnya. Ia menoleh. Benar saja, ia mendapati seseorang menuruni tangga di sampingnya. 

Matahari mengerutkan keningnya. Walaupun dalam keadaan gelap, Matahari masih dapat menyadari siapa sosok yang baru saja berjalan. Dalam hatinya ia berpikir: bukankah itu pria yang bertengkar dengan pasangannya tadi?

Matahari tidak terlalu memedulikannya. Menurutnya itu hal yang wajar saja terjadi. Mungkin saja ia butuh buang hajat di toilet.

Cerita pada film bergulir dengan cepat. Matahari sedikit terkejut sang tokoh utama wanita berakhir menerima tawaran menikah dari yang dijodohkan oleh orang tuanya. Menurut Matahari itu memang keputusan yang benar. Sang pria yang dijodohkan jauh bersifat lebih matang dan mapan. Tentunya dengan beberapa kekurangan yang minor menurut Matahari.

Hanya saja, Matahari terbiasa dengan alur cerita yang klasik. Ia pikir sang tokoh utama wanita akan memaksa menikah dengan kekasihnya. Jujur saja, walaupun menurut Matahari lebih baik pria yang dipilihkan orang tuanya, pria yang menjadi kekasih sang tokoh utama tidak buruk juga. 

Ah, sudahlah! Matahari berhenti berpikir lebih lanjut. Ia memang tidak menyukai romansa. Karena sejatinya, sebagai jomblo dari lahir seperti Matahari, ia tidak begitu bisa menilai estetika dari cerita romansa yang berlebihan. Mungkin karena ia terlalu rasional? Matahari tidak tahu.

Namun, kenyataannya Matahari dapat duduk tenang hingga film selesai diputarkan. Makanan ringannya telah lama habis dan minumannya bahkan telah tersisa sedikit. Sendari film hendak berakhir, ia dan Lilia juga sempat berbisik-bisik mendiskusikannya.

"Hei, Hari. Ternyata seru juga—"

"Aaaah!"

Ucapan penuh antusias Lilia ketika film berakhir dan lampu bioskop menyala terputus begitu saja. Sebuah teriakan dari barisan belakang memecah antusiasme penonton yang tadinya sibuk berbincang masing-masing. Semua secara spontan menoleh ke belakang.

Matahari terbelalak saat melihat sosok yang duduk dengan wajah kaku dan mata yang melotot di barisan B. Posisi kursinya mendekat kearah dinding ruangan. Benar-benar tempat yang sesuai menjadi pelarian bagi dua insan yang hendak bercengkrama. Mungkin itulah yang ada di pikiran petugas loket ketika kedua pasangan yang Matahari kenal memesan tiket menonton. Sayangnya, tindakan pendosa tidak hanya terbatas pada tindakan tidak senonoh para pasangan tersebunyi di balik gelapnya bioskop.

Kursi barisan B seketika dipenuhi oleh orang-orang yang sedikit penasaran. Mereka benar-benar memeriksa apakah wanita muda itu masih hidup atau tidak. Penonton lainnya mulai gusar. Beberapa segera memanggil pegawai bioskop di luar. 

Sementara itu, Matahari mematung di tempatnya. Otaknya sedang memproses apa yang terjadi di hadapannya. Sayup-sayup ia pun juga mendengar orang-orang di sekitarnya berdiskusi. Bahkan ia merasakan Lilia yang menarik pelan lengan bajunya dan berbisik di telinganya.

"Aku baru saja bertanya pada yang melihat mayatnya. Ada bekas cekikan tali di lehernya."

Matahari tertegun. Cekikan? Kuat sekali orang yang melakukannya! Buat apa pula membawa tali ke bioskop? Tidak, tunggu dulu. Orang bodoh mana yang membunuh di bioskop? 

Dalam sekejap banyak pikiran yang berlalu di otak Matahari. Ia tidak mengerti banyak hal yang terlintas itu. Bahkan baginya yang sering membaca novel misteri, ia tetap terpaku saat menghadapi kenyataannya. Ini pertama kalinya ia menghadapi hal seperti ini. Oh, ralat. Matahari ingin ini menjadi pengalaman satu-satunya dalam hidupnya. 

Matahari bukan seorang detektif dan ia tidak ingin belagak di kondisi seperti ini. Ia mencoba menenangkan dirinya. Jantungnya masih berdebar kencang. Tetapi otaknya memutar ingatannya. Matahari mengingat sosok yang berjalan keluar dari bioskop di tengah film berputar. Ia meringis.

Penonton film mulai gusar. Mereka ingin pulang. Tapi dalam kondisi seperti ini, mereka harus menunggu pihak berwajib muncul sebelum dapat diizinkan untuk bubar. Untung saja, mereka memang tidak perlu menunggu lama. Tidak sampai satu jam, polisi datang ke ruangan bioskop.

Beberapa penonton yang duduk pada barisan yang dekat dengan korban tentu terkena getahnya. Mereka ditanyakan satu persatu apakah mereka melihat hal yang janggal. Tentunya, Matahari dan Lilia juga ikut menjadi subjek disini.

Lilia hanya menggeleng dan mengatakan ia tidak tahu menahu perihal ini. Tetapi, Matahari sebaliknya. Ia berdiri di belakang Lilia sambil menggigit bagian dalam pipinya. Ia sudah menyupah serapah dalam hatinya berkali-kali. Tetapi, ketika tiba gilirannya, Matahari menghela napas. 

"Saya rasa Anda harus bertanya dengan pasangannya," ucap Matahari. Ia membalas tatapan menyelidik pria jangkung yang terlihat cukup muda di hadapannya. Baju seragamnya yang terlihat rapi sedikit memuaskan pandangan Matahari. Matahari sempat menangkap nama yang tertulis di seragam itu, Yanuar. Tentunya, di saat seperti ini Matahari tidak sempat berpikir lanjut akan hal lain.

"Oh ya? Anda kenal dengan korban?" tanya Yanuar.

Matahari tetap bergeming di bawah mata memicing Yanuar. Ia mengangkat bahunya. "Tidak, tentu saja saya tidak kenal. Hanya saja saya sempat melihatnya dengan seorang pria saat saya sedang memesan makanan. Saya sempat mendengar perbincangan mereka. Sepertinya mereka memiliki konflik. Saya tidak tahu duduk perkaranya. Tapi saat film dimulai, keduanya memasuki bioskop bersama. Saya melihat mereka menaiki tangga. Lalu saat di tengah pemutaran film, pria itu sepertinya turun tangga dan keluar dari bioskop. Saya tidak ingat melihatnya kembali ke ruangan bioskop."

“Konflik? Konflik apa?”

Matahari meringis. Tetapi, ia tetap menceritakan dengan singkat perbincangan yang ia dengar sebelumnya. Matahari meringkas apa yang ia dengar. 

Yanuar sedikit mengerutkan keningnya. Tetapi pada akhirnya ia mengangguk. Ia mematikan rekaman pada ponselnya. Ia tersenyum sekilas pada Matahari. "Baik. Terima kasih atas informasinya."

Matahari hanya meringis dan balas mengangguk. Setelah diperbolehkan untuk pulang, Matahari segera menggaet Lilia keluar. Matahari baru dapat menghembuskan napas dengan berat ketika kakinya memijak lantai di luar bioskop. Begitu pun Lilia yang menepuk-nepuk dadanya sendiri.

"Haduh, Hari! Kita menonton film romansa malah menjadi menonton drama horor!"

Matahari mendelik. Tetapi ia setuju dalam hatinya. Ini pertama kalinya ia menonton film romansa tetapi pengalamannya berujung lebih menyeramkan daripada ia menonton sosok hantu di layar lebar. Diam-diam ia bertekad untuk tidak menonton film romansa lagi. Sudah cukup ia kapok dengan pengalaman ini.

"Tapi, tadi benar apa yang kamu ceritakan ke polisi?" tanya Lilia memastikan. Ia memandang bingung Matahari. Ia sendiri tidak begitu memperhatikan sekitarnya saat menonton.

Matahari mengangguk. Kali ini ia bercerita lebih detail. Ia bahkan bercerita dengan jelas perbincangan yang ia dengar saat memesan makanan.

Mendengarnya, mata Lilia membulat. Ia menunduk mendekati Matahari. Dengan suara pelan ia bertanya, "Hei, Hari. Menurutmu, apa pacarnya itu benar-benar membunuh korban?"

"Memangnya ada kemungkinan lain? Bukannya tadi katamu dia dicekik? Tidak mungkin dia mencekik lehernya sendiri, bukan?"

Lilia kemudian mengangguk. "Tapi aku rasa kalau begitu pacarnya sedikit gegabah. Aku bukan membelanya. Hanya saja menurutku bodoh untuk membunuh di tempat seperti ini."

Matahari mengangguk setuju. Ia juga sempat berpikir hal yang sama. Namun, siapa yang bisa berbicara tentang rasionalitas dengan mereka yang telah dibutakan oleh emosi yang memuncak? Tidak semua orang dapat mendinginkan kepalanya dengan mudah. Justru lebih banyak orang yang menginginkan penyelesaian masalah dengan mudah dan cepat. Padahal tidak semua penyelesaian yang cepat dan mudah itu adalah penyelesaian yang benar. Bisa saja penyelesaian yang benar itu membutuhkan proses yang panjang.

"Ternyata di mana-mana ada orang sinting!" gerutu Lilia pelan.

Bibir Matahari mengerucut saat mendengarnya. Ia seketika merasa semakin tidak enak hati. Namun, ia berusaha untuk menepis perasan itu. Matahari tidak ingin berpikir lebih lanjut. Tetapi, perkara hari ini benar-benar menjadi tato dalam ingatannya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Cinta yang Menenggelamkan
Aralya Seraquin
Cerpen
Bronze
Belalang dan Ramalan yang Tak Selesai
Muram Batu
Cerpen
Bronze
Sebatang kara
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
Pendorong Gerobak
Titin Widyawati
Cerpen
Pengantar Maut
zain zuha
Cerpen
Bronze
Ibuku Bukan Wanita Malam
ari prasetyaningrum
Cerpen
Virus Mulut Tetangga
Khairaniiii savira
Cerpen
Bronze
RAHASIA 17 TAHUN
Citra Rahayu Bening
Cerpen
Bronze
My Husband
Anisah Ani06
Cerpen
Bronze
Ibu dan Segala Kompleksitasnya
Siti Aminatus Solikah
Cerpen
Bronze
Astrophile
lidia afrianti
Cerpen
Jalan Itu Lagi
nazila ardiani
Cerpen
Aku Tak Minta Dilahirkan
idntcare
Cerpen
Sesi
Dina prayudha
Cerpen
Bronze
Warisan
Bisma Lucky Narendra
Rekomendasi
Cerpen
Cinta yang Menenggelamkan
Aralya Seraquin
Flash
Bukan Aku
Aralya Seraquin
Cerpen
Jalan yang Bercabang
Aralya Seraquin
Cerpen
Bronze
Luka yang Dalam
Aralya Seraquin
Cerpen
Bronze
Kegelapan yang Meringkus Bulan
Aralya Seraquin