Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Matahari siang terasa menyengat di kulit gadis yang sedang berjalan menyusuri trotoar. Matanya menyipit menahan silau.
Sebuah tas kecil menempel di punggungnya, sementara amplop cokelat di tangan ia gunakan sebagai pelindung seadanya agar wajahnya tidak langsung terkena terik matahari.
Tata, gadis fresh graduate yang beberapa hari terakhir mondar-mandir mencari pekerjaan. Sudah seminggu ia keluar masuk perusahaan untuk mengantarkan surat lamaran, tetapi belum satu pun yang memberikan kabar. Jangankan diterima bekerja, panggilan wawancara pun belum pernah datang.
Tata menghela napas panjang. "Susah amat nyari kerjaan, Tuhan …,” keluhnya.
Ia mendongak ke langit yang sama sekali tidak tampak iba pada penderitaannya. "Padahal nggak minta jadi direktur. Jadi karyawan biasa aja susah amat!"
Tata menggerutu sambil terus melangkah. Sesekali ia menendang kerikil kecil yang ada di trotoar.
"Ya Tuhan … kalau gini terus, mending kirimin aku jodoh aja," gumam Tata.
Ia melangkah pelan sambil mengipas wajah dengan amplop cokelat di tangannya. "Biar nggak usah susah-susah kerja."
Beberapa detik kemudian, ia menambahkan cepat, sesuatu dalam yang menurutnya sangat penting.
"Tapi yang kaya ya, Tuhan." Tata mendongak ke langit lalu menyeka keringat yang mengalir di pelipis.
Mata Tata melirik ke arah minimarket yang berada tidak jauh di depannya. Ia berpikir betapa menyejukkannya jika masuk ke sana untuk mendinginkan badan, membeli minuman dingin, lalu berputar mengelilingi rak-rak sambil pura-pura mencari sesuatu. Biar tidak kelihatan niat sebenarnya.
Kaki Tata terayun semakin cepat menuju minimarket. Namun, saat hampir sampai, ia berpapasan dengan seorang pria yang baru saja keluar dari sana sambil membawa minuman di tangannya.
Pria itu berjalan santai menuju motor yang terparkir di depan minimarket. Sekilas, Tata melihat pria itu memasukkan dompet ke dalam saku celananya. Namun, benda itu jatuh ke tanah.
Tata yang menyadarinya langsung berbalik. "Kak! Dompetnya jatuh!"
Sayangnya, motor melaju lebih cepat daripada suaranya. Dalam hitungan detik, sudah menghilang dari area minimarket.
Tata berjalan menghampiri benda itu. Ia berjongkok, lalu mengangkat dompet kulit sintetis berwarna cokelat tersebut dan menatapnya bolak-balik.
Kemudian ia memberanikan diri membukanya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang sepuluh ribu dan lima ribu yang sudah tampak lusuh bercampur struk belanjaan.
"Kere juga nih cowok," gumamnya dalam hati.
Tata lalu mencari kartu identitas pemilik dompet itu. Sulaiman. Setelah menemukan nama tersebut, ia membaca alamat lengkap yang tertera di sana.
Tata hendak menutup dompet itu, tetapi tiba-tiba beberapa keping koin meluncur keluar dan jatuh ke tanah. Gadis itu menghela napas.
“Ya ampun …!” kata Tata, seolah koin-koin itu menambah pekerjaannya saja.
Ia segera memunguti koin-koin tersebut satu per satu dan memasukkannya kembali ke dalam dompet.
Setelah bertanya kepada pegawai minimarket dan beberapa warga, Tata akhirnya menemukan rumah pemilik dompet itu.
Langsung saja Tata mengetuk pintu rumah itu. Setelah beberapa kali mengetuk, pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya.
"Cari siapa?" tanyanya.
"Ini rumah Iman, Bu?"
"Iya, benar. Ini rumah Iman," jawab ibunya Iman. Matanya berbinar melihat sosok gadis yang berdiri di depan pintu.
Kemudian, tanpa memberi kesempatan Tata menjelaskan lebih jauh, ia menarik gadis itu masuk ke dalam rumah dan menyuruhnya duduk.
"Duduk, duduk. Kamu pacarnya Iman, ya?" katanya dengan semangat.
"Bu ..."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, wanita itu sudah berlalu ke dalam rumah.
"Man! Ada pacar kamu datang!" teriaknya.Tata melongo.
Tak lama kemudian, wanita itu kembali sambil membawa air minum dan setoples camilan. Ia menuangkan air ke dalam gelas sebelum menyodorkannya kepada Tata.
"Duh ... Iman nggak cerita kalau udah punya pacar."
"Bu, saya …"
"Ini, Nak. Minum dulu. Di luar panas.” Tata terpaksa menerimanya.
"Iman keterlaluan nyuruh kamu datang sendiri. Kalau Ibu tahu, pasti Ibu suruh dia jemput kamu."
"Bu, saya ..."
"Aduh, Iman mana sih?" gerutunya sambil menengok ke arah dalam rumah.
Tak lama kemudian, ia berdiri dari duduknya. "Tunggu dulu ya, Nak. Ibu cari Iman."
Lalu wanita itu kembali masuk ke dalam, meninggalkan Tata yang masih belum berhasil menjelaskan siapa dirinya sebenarnya.
Tata menatap Bu Imah hingga wanita itu menghilang ke dalam rumah. Keningnya mengerut, masih belum mengerti kenapa tiba-tiba dianggap sebagai pacar Iman.
Namun, saat matanya beralih pada camilan yang tersaji di atas meja, kebingungannya sedikit terlupakan.
"Lumayan juga, jadi hemat pengeluaran," gumamnya.
Tanpa sungkan, Tata menenggak habis air di dalam gelas. Setelah itu, ia mulai mencicipi camilan yang disediakan Bu Imah.
Bu Imah mendapati Iman sedang duduk di kursi teras belakang, sambil minum minuman yang ia beli tadi dan menikmati angin yang sesekali berembus.
"Man, ada pacarmu di depan.
Iman menoleh, lalu mengernyitkan dahi. Pacar? Anak siapa yang sudah ia tembak? Tidak ada. Tidak ada yang menginginkannya jadi kekasih di kantor.
"Ih, kamu diam aja. Sana! Pacar kamu udah nunggu lama," kata Bu Imah sambil menyenggol lengan anaknya. Iman masih bingung.
Daripada terus kebingungan, ia akhirnya bangkit dari duduknya dan melangkah ke depan untuk menemukan jawaban.
Sebelum Iman menghilang, ibunya sempat berbisik, "Jangan lama-lama, langsung lamar aja!"
Iman menggelengkan kepala. Belum juga kebingungannya terjawab, ibunya sudah menyuruhnya melamar.
Iman mengernyitkan dahi melihat seorang gadis duduk di sofa ruang tamunya. Ia menghampiri gadis itu.
"Ada apa, Mbak?" tanyanya.
Tata menoleh ke arah sumber suara. "Ini, Kak. Tadi dompetnya jatuh di depan minimarket."
Tata mengulurkan dompet kulit berwarna cokelat itu. Iman refleks meraba saku celananya.Kosong. Ia baru menyadari dompetnya benar-benar hilang tanpa sempat ia sadari.
"Oh, iya, Mbak."
Iman menerima dompet itu, lalu membukanya untuk memastikan isinya. Uang-uang di dalamnya masih utuh. Bahkan koin-koin recehnya pun masih lengkap.
"Astaga! Apa dia pikir gue ngambil duitnya? Diperiksa segala," batin Tata.
Iman menutup kembali dompetnya." Terima kasih, ya." Ia mendaratkan bokong di sofa di seberang meja.
"Iya, Kak. Sama-sama," sahut Tata.
Iman memperhatikan gadis itu. Usianya masih muda. Ia mengenakan kemeja putih dan membawa sebuah amplop cokelat khas pelamar kerja.
"Aku pamit dulu ya, Kak," kata Tata, kemudian berdiri.
“Kamu lagi cari kerja?”
“Iya, Kak.”
“Udah dapet?”
Tata hanya menggeleng. “Belum.”
Iman mengangguk pelan setelah mendengar jawaban Tata.
“Kebetulan di kantorku lagi buka lowongan,” katanya kemudian.
Tata menatapnya sedikit terkejut. “Serius, Kak?” Tata kembali duduk, ia ingin tahu lebih jauh.
Iman mengangguk lagi. “Serius. Kamu lulusan apa?”
Tata menyebutkan jurusannya dengan ragu-ragu. Iman terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Pas, sih. Bisa masuk.”
Tata masih belum sepenuhnya percaya, “Maksudnya?”
“Kalau kamu mau, aku bisa bantu masukin lamaran kamu,” Lanjut Iman. Tata langsung menatapnya. Ia merasa seperti menemukan sumber air setelah kepanasan panjang di padang pasir.
“Bantu gimana?” Pupil matanya membesar.
“Ya, aku bawa berkas lamaran kamu ke kantor. Aku bilang kamu sepupuku.”
Tata mengerjap.“Kenapa sepupu?”
Iman mengangguk santai. “Biar gampang masuknya. Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kamu udah balikin dompetku.”
Keesokan harinya, Iman membawa surat lamaran Tata dan menyerahkannya kepada bos.
"Pak, ini ada lamaran. "Iman menaruh amplop coklat di atas meja. Pak Brata menerima amplop itu, lalu membukanya.
"Dari siapa?" Beliau menatap Iman.
"Sepupu saya, Pak."
Pak Brata membaca sekilas isi berkas tersebut dan tidak lama kemudian menutup kembali map lamaran itu.
"Panggil buat interview besok,” titahnya.
Iman mengangguk. "Baik, Pak.”
Tata berjingkrak mendengar kabar itu. Matanya membulat, wajahnya seketika dipenuhi antusias.
"Beneran diterima, Kak?" tanyanya memastikan apa yang baru saja didengarnya.
"Iya," sahut Iman singkat.
"Alhamdulillah!"
Begitu telepon berakhir, Tata langsung menari kegirangan di kamar kosnya. Ia segera menghubungi ibunya untuk membagikan kabar baik itu.
Pagi datang dengan cepat, Tata datang ke kantor dengan gugup. Ia mengikuti Iman menuju ruang wawancara sambil berusaha menenangkan diri.
Jantungnya berdegup kencang. Rasa gugup memenuhi pikirannya setiap kali membayangkan sesi wawancara yang akan segera dihadapinya. Gadis itu menarik dan mengembus napas perlahan agar lebih tenang.
“Santai, Ta ... Ini cuma interview, bukan masuk neraka.” batinnya.
Meski begitu, jantungnya tetap saja berdegup lebih cepat daripada biasanya. Tidak lama kemudian, Iman berhenti di depan sebuah ruangan.
"Masuk aja," katanya.
Tata menarik napas pelan, ia menatap Iman sejenak lalu mengangguk. Tangannya mulai mendorong daun pintu dan tak lama menghilang dibaliknya.
Tak lama setelah sesi wawancara selesai, Iman dipanggil ke ruangan Pak Brata.
"Tata diterima. Mulai besok dia masuk kerja," ujar Pak Brata. "Untuk sementara, kamu yang training dia,” lanjutnya.
Iman sontak mengernyit. "Kenapa saya, Pak?"
Pak Brata menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kan dia sepupu kamu. Pasti lebih nyaman kalau belajar sama orang yang sudah dia kenal."
Iman menggaruk kepala yang tidak gatal. "Baik, Pak," jawabnya pasrah.
Keesokan harinya, Tata resmi mulai bekerja. Sesuai perintah Pak Brata, Iman yang membimbingnya mengenalkan lingkungan kantor, alur pekerjaan, hingga tugas-tugas yang harus ia kerjakan.
Tata ternyata cepat belajar. Dalam waktu singkat ia mampu beradaptasi dan memahami pekerjaannya. Melihat itu, Iman mengembuskan napas lega. Membimbing Tata rupanya tidak sesulit yang ia bayangkan.
"Ta, laper nggak?" tanya Iman.
Tata mengangguk. "Laper. Pulang ini gue mau nyeduh mie sama telur. Males masak gue."
"Ngebakso, yuk,” ajak Iman.
"Ayok!" sahut Tata semangat.
Mereka pun melangkah menuju area parkir. Bersamaan dengan karyawan lain yang bersiap pulang, Iman menghampiri motornya, sementara Tata mengikuti di belakang. Motor melaju meninggalkan area kantor.
Tak lama kemudian, mereka memutuskan memilih bakso gerobak pinggir jalan. Setelah memarkirkan motor, Tata dan Iman hendak memesan. Namun, belum juga terucap mata Tata melihat seorang pria sedang menyantap mie ayam yang terlihat menggugah selera. Ia diam-diam menelan ludah.
“Mie ayam satu, Bang!” kata Tata.
“Bukannya tadi katanya mau bakso?” Iman menoleh sekilas.
“Tadi,” sahutnya singkat.
“Ya udah, deh. Mie ayamnya dua, Bang!” pinta Iman.
Setelah itu keduanya mencari tempat duduk, kursi di bawah pohon rindang. Sesekali embusan angin menerpa, membuat suasana terasa sejuk dan nyaman.
"Enak juga di sini. Nggak pengap. Angin alami memang lebih seger daripada kipas angin," kata Tata di sela-sela menyantap mie-nya.
“Harganya juga ramah di kantong,” timpal Iman.
"Nah, itu yang paling penting," sahut Tata.
"Kantong gue juga lagi butuh keramahan," lanjutnya. Ia terkekeh pelan sebelum kembali menyuapkan mie ke mulut.
Iman tersenyum tipis. "Yang penting perut kenyang.”
Setelah makanan mereka habis, Iman berdiri hendak bayar.
“Kak Iman, ini duit gue.” Tata menyodorkan beberapa lembar uang untuk patungan.
Pria itu menoleh sekilas. “ Udah nggak usah, gue aja.”
"Alhamdulillah ... nggak berkurang duit gue," batin Tata senang. Ia buru-buru memasukkan kembali uang itu ke dalam tasnya.
Iman menanyakan harga mie ayam dan es teh yang mereka pesan. Setelah penjual menyebutkan nominalnya, ia membuka dompet lalu menghitung uang di dalamnya. Ternyata uangnya kurang dua ribu rupiah.
Iman lantas membuka bagian lain dari dompetnya, mencari koin-koin yang mungkin terselip. Tak mungkin ia meminta Tata menambahkan uang. Lagi pula, tadi ia yang bersikeras mentraktir.
Melihat itu, Tata mengernyit. "Kenapa, Kak?"
"Uangnya kurang, Neng," sahut penjual.
"Nih, gue tambahin," kata Tata sambil merogoh uang di dalam tasnya. "Sesama budak korporat, gue tahu gimana kondisi keuangan kita. Sok-sokan mau bayarin."
"Nggak usah." Iman memperlihatkan beberapa keping koin senilai dua ribu rupiah sekilas, lalu menyerahkannya kepada pedagang. "Udah cukup!"
"Oh, bagus, deh," kata Tata sambil mengembalikan uangnya ke dalam tas.
Setelah itu, Iman mengantar Tata pulang ke kos dengan motornya. Jalanan sore itu cukup ramai oleh kendaraan para pekerja yang baru pulang kantor.
Tak lama mereka berhenti di lampu merah, ikut menunggu seperti kendaraan lain. Mata Tata memperhatikan angka di atas rambu dan ikut menghitung.
Tibalah lampu berubah hijau, semua kendaraan melaju seolah balapan. Namun, motor mereka masih diam di tempat, iman menstarter berkali-kali dan tetap tidak menyala.
Tata yang duduk di boncengan hanya bisa mengembuskan napas panjang. Wajahnya tampak lelah dan suntuk.
"Apalagi ini, Tuhan..." batinnya.
Iman menoleh ke indikator bensin. Jarumnya sudah menyentuh huruf E. Ia berdecak pelan dan bergumam, "Bensinnya habis pula,
"Kenapa, Kak?" tanya Tata.
"Bensinnya habis."
Tata memejamkan mata sesaat, lalu turun dari motor. Tanpa banyak bicara, ia mengikuti Iman yang mulai mendorong motor menuju pom bensin terdekat.
"Baru sekali diajak jalan udah begini," batin Tata. Ia menyeka keringat di dahinya.
Langit mulai berubah jingga. Dari kejauhan, mereka tampak seperti pasangan yang sedang menikmati senja bersama. Padahal kenyataannya, mereka sedang mendorong motor yang kehabisan bensin.
Setelah cukup lama mendorong motor, akhirnya mereka tiba di pom. Tata segera mencari tempat duduk selama mengantri bensin.
Sebelum itu, Iman meminjam uang Tata terlebih dahulu karena dompetnya kosong.
“Ta, pinjem duit lo dulu, ya,” pintanya. Tata menatap Iman beberapa saat. “Lengkap sudah,” batin Tata.
“Habis ini gue sekalian ke ATM buat narik uang. Nanti langsung gue balikin.” lanjutnya.
“Oh, iya.” Tata segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya dan menyerahkan kepada Iman.
“Makasih, ya, Ta.”
“Iya.”
Usai mengisi bensin, mereka menuju ATM terdekat. Iman menarik sejumlah uang, lalu langsung mengembalikan pinjaman Tata.
"Nih. Makasih, ya."
"Iya."
Saat hendak keluar dari area ATM, seorang petugas parkir menghampiri. "Dua ribu, Mas."
Iman membuka dompetnya. Jemarinya merogoh bagian kecil di dalamnya, lalu tersenyum tipis.
"Nah, ketemu."
Ia mengeluarkan dua keping koin seribuan dan menyerahkannya kepada petugas parkir. Tata yang melihat itu hanya bisa menggeleng pelan. "Recehan lagi ..." batinnya.
Pukul tujuh malam, Tata akhirnya tiba di kos.Tubuhnya terasa sangat lelah setelah melewati serangkaian kejadian apes hari itu. Yang ia inginkan sekarang hanyalah segera mandi, lalu merebahkan diri di kasur.
Keesokan harinya, kebetulan Iman dan Tata jadwal liburnya berbarengan. Tata berniat menghabiskan waktu di kos, setelah enam hari bekerja dan rentetan kesialan kemarin.
Ia hanya ingin rebahan, tidur sepuasnya, menikmati camilan, dan menghabiskan hari dengan menonton Netflix sebagai cara sederhana mengisi ulang energinya sebelum kembali bekerja.
Tiba-tiba ponselnya yang sedang di charge berbunyi, sebuah notifikasi pesan masuk. Tata segera melihatnya.
“Ta, lo di rumah?” Pesan dari Iman.
“Iya, kenapa?” balas Tata.
Setelah itu tidak ada lagi balasan dari Iman. Tata mengedikkan bahu, tak perduli. “Aneh,” gumamnya. Ia kembali fokus pada layar ponsel yang sedang menampilkan film yang dipilihnya.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, ponsel Tata kembali berbunyi, sebuah pesan masuk.
“Ta, gue di depan.” Bunyi pesan itu, Tata terperanjat dan berganti posisi menjadi duduk.
“Astaga!” gumam Tata.
Gadis itu keluar menemui Iman, pria itu duduk menunggu di atas motor. Dahi Tata mengernyit. “Mau ngapain ke sini?”
“Jalan, yuk!” kata Iman tanpa basa-basi. Tata terdiam beberapa saat.
“Males gue, Man. Gue mau istirahat.”
“Nonton aja yuk.”
"Enggak, ah. Ntar lo nggak punya duit."
Iman terkekeh pelan. "Ada-lah, Ta … ya kali gue nggak punya duit mulu.”
Tata menyipitkan mata."Janji nggak dorong motor lagi?"
"Tenang aja. Bensinnya udah gue isi full." Iman melirik motornya sambil tersenyum. “Kemarin gue lupa, biasanya gue nggak pernah kaya gitu.”
Tata ikut melirik motor itu beberapa saat, seolah sedang memastikan ucapan Iman benar.
"Okelah kalau gitu. Gue siap-siap dulu." Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik masuk ke dalam kos.
Iman dan Tata melangkah keluar dari bioskop setelah film berakhir. Tata tersenyum tipis. Ternyata, ajakan Iman hari itu tidak seburuk yang ia bayangkan.
Meski rencananya menghabiskan waktu santai di kos harus batal, hari itu tetap terasa menyenangkan. Yang terpenting, kali ini tidak ada drama dorong motor lagi.
“Gue pikir lo nggak punya duit, sebab kemarin ….”
“Kemarin itu lagi apes aja.”
“Tapi gue lihat, lo pencinta koin deh.” Tata terkekeh.
“Bukan begitu, Ta, koin-koin itu penyelamat buat gue.”
“Emang selain itu, duit lo kemana?
“Ada sih.”
“Lah terus, kok kaya bokek mulu,” kata Tata “Tadi aja lo tambah bayar tiket nonton pake koin lagi.”
“Koin juga duit, Ta.” Iman hanya terkekeh pelan.
"Pantes aja udah sedewasa ini belum nikah-nikah," batin Tata. Ia melirik Iman sekilas. Menurutnya, pria itu sebenarnya tidak jelek.
"Gue tu lagi bayar cicilan rumah."
"Rumah?" Mata Tata mengerjap.
"Iya, rumah," jawab Iman santai. "Kalau sudah nikah nanti, nggak perlu numpang orang tua atau ngontrak."
Tata mengangguk-angguk. "Betul juga,” batinnya. Namun, ada satu hal yang mengganjal di pikirannya.
"Emang lo udah punya pacar?"
"Belum."
Tata langsung menoleh. "Lah?" Iman mengangkat bahu.
"Apa salahnya sedia rumah sebelum nikah, walaupun calonnya belum ada."
Tata mengangguk pelan. Masuk akal juga, pikirnya.
Lalu tiba-tiba Iman menoleh kepada Tata.
"Lo mau nikah sama gue?"
Tata langsung membelalak. "Dih! Ogah gue!"
Jawabannya meluncur begitu cepat hingga bahkan dirinya sendiri terkejut. Namun, pipinya perlahan memanas.
Iman menatapnya beberapa detik.
Lalu terkekeh kecil. "Kok gitu?" Tata mendengus.
Iman menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Awas aja kamu ya."
"Apaan sih?" protes Tata.
Iman hanya tertawa kecil tanpa menjawab. Ekspresi malu Tata sangat lucu di matanya.
“Udah, ah, yuk pulang.” Tata melangkah lebih dulu, agar salah tingkahnya tidak terlihat.
Tak terasa hari mulai beranjak sore. Setelah menghabiskan waktu seharian berjalan-jalan dan menonton, Iman mengantar Tata kembali ke kos dengan motornya.
Baru beberapa menit perjalanan, rintik-rintik hujan mulai turun. Dalam sekejap, gerimis berubah menjadi hujan yang semakin deras hingga membatasi pandangan di depan.
Iman memperlambat laju motornya. "Rumah gue udah dekat. Kita neduh di sana dulu aja, ya?" ujarnya.
Tata menoleh sekilas ke langit yang semakin gelap, lalu mengangguk. Daripada nekat menerobos hujan, ia memilih mengikuti usul Iman.
Motor itu pun berbelok menuju rumah Iman yang hanya berjarak beberapa menit dari lokasi mereka berada.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah Iman. Baru saja Tata melepas helm, Bu Imah keluar dari dalam rumah.
"Lho, Iman bawa pacar!" seru Bu Imah sumringah.
"Bu, ini Tata. Teman kantor," sahut Iman.”
"Iya, iya ... teman kantor," balas Bu Imah sambil mengangguk penuh arti.
Pak Soleh yang ikut keluar langsung menyahut, "Teman kantor sekarang, calon menantu nanti."
Tata hanya bisa tersenyum kikuk, sementara Iman menepuk dahinya pelan. Iman pamit ke dalam ada keperluan.
“Ta, gue tinggal dulu, ya.” Iman berlalu ke dalam.
Tinggallah Tata dan Pak Soleh di ruang tamu itu. Tata merasa sangat canggung, beruntung tidak lama Bu Imah muncul dengan nampan yang berisi camilan dan air minum.
“Diminum teh hangatnya, Nak.” Bu Imah menawarkan Tata. Tata tersenyum canggung dan menjawab, “iya, Bu.”
Tangannya terulur meraih cangkir dan mulai menyeruput teh itu. Hangatnya mengalir dari tenggorokan hingga tubuh. “Ehm … enak juga tehnya,” batin Tata.
Bu Iman dan Pak Soleh duduk berdampingan di sofa seberangnya. Keduanya menatap Tata, gadis itu rasanya ingin menghilang saja.
“Iman mana sih, lama banget,” batin Tata. “Gue udah kaya seleb aja diliatin ayah ibunya.”
“Kamu tinggal di mana, Nak?” Bu Imah membuka obrolan.
“Tata ngekos di jalan gagak, Bu.”
“Oh ….” Pasangan yang tak lagi muda itu mengangguk pelan.
“Berapa perbulannya kalau boleh tau,” timpal Pak soleh.
“Terjangkau, Pak.”
Pasangan itu kembali mengangguk-angguk. Tata heran, untuk apa mereka menanyakan itu. Apa mau bayarin, pikir Tata.
“Daripada ngekos mending tinggal di sini aja, Nak. Gratis, kok.”
Tata terdiam. Otaknya langsung bekerja keras mencerna kalimat itu. Apa Bu Imah menyewakan rumahnya? Atau rumah ini dijadikan kos-kosan? Atau mereka akan pindah ke rumah baru milik Iman? Tata semakin bingung.
"Maksudnya, Bu?"
Bu Imah Tersenyum lebar. "Tinggal di sini. Sama Ibu, Bapak, dan Iman."
Tata mengangguk pelan, sembari kebingungan masih bersarang di kepalanya.
Bu Imah melanjutkan dengan santai. "Atau mau tinggal sama Iman saja juga boleh, kok."
Mata Tata langsung membulat. “Astaga!”
Ia semakin tidak mengerti. Apa Bu imah sedang menyuruhnya kumpul kebo? Atau sebenarnya apa maksud pembicaraan ini?
"Tata nggak paham, Bu," sahutnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Pak Soleh yang sejak tadi duduk di samping istrinya akhirnya ikut bicara. "Syaratnya mudah saja kok, Nak."
Tata langsung menoleh. Syarat apalagi ini? Pikirnya.
"Cukup jadi istrinya Iman,” lanjutnya.
Tata bergeming. "Ha?
Tepat saat itu, Iman keluar dari dalam, Ia berhenti begitu melihat ekspresi Tata yang terlihat seperti baru saja mendengar pengumuman kiamat. Ia mengerutkan kening dan beralih menatap kedua orang tuanya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan pun telah reda. Setelah sempat berteduh dan menghabiskan waktu di rumah Iman, akhirnya Iman mengantar Tata pulang ke kos.
Perut Tata masih terasa kenyang. Bagaimana tidak, Bu Imah dan Pak Soleh nyaris tidak memberinya kesempatan menolak saat memaksanya ikut makan malam bersama.
Baru menempuh setengah perjalanan, hujan kembali turun mengguyur kota, membasahi jalanan. Iman segera menepikan motornya di sebuah warung soto.
Tata turun dari motor, ia mengusap kedua lengannya pelan. Pakaiannya yang sempat basah karena hujan sebelumnya masih terasa lembap. Ditambah angin malam yang berembus, rasa dingin mulai merayapi tubuhnya hingga ia menggigil pelan.
Iman yang menyadarinya menoleh. "Lo kedinginan?” Tata Hanya mengangguk.
Mereka segera masuk ke warung soto untuk berteduh. Melihat Tata yang masih menggigil, Iman berniat memesankan semangkuk soto agar tubuh gadis itu menghangat.
"Nggak usah, Kak. Perut gue masih kenyang. Tadi di rumah lo udah dipaksa nambah terus sama Bu Imah," tolak Tata sambil tersenyum kecil.
"Yakin?"
"Iya. Teh hangat aja cukup."
Iman pun mengangguk. Ia akhirnya memesan semangkuk soto untuk dirinya dan segelas teh hangat untuk Tata.
Setelah menunggu sebentar, pesanan Tata selesai dibuat. Tata mengangkat gelas iru dan menyeruputnya.
"Kenapa harus berhenti di sini? Kalau nerobos aja, paling bentar lagi juga nyampe kos gue." Tata meletakkan gelasnya.
Iman mengaduk sotonya pelan sebelum menjawab. "Lo udah kehujanan dua kali hari ini."
"Terus?"
"Baju lo masih basah. Angin juga dingin. Gue takut lo sakit."
Tata terdiam. Tatapannya beralih ke gelas teh hangat di depannya. Asapnya mengepul tipis seperti perasaannya.
"Makanya gue pesenin teh hangat dulu. Biar badan lo anget."
Tata terdiam. Baru kali ini ia menyadari, perhatian seseorang ternyata bisa sesederhana segelas teh hangat di malam yang dingin.
Seminggu kemudian, rutinitas mereka kembali seperti biasa. Pagi itu, Iman menjemput Tata di kos untuk berangkat kerja bersama.
Motor mereka melaju membelah ramainya jalanan pagi hingga tiba-tiba Iman menepuk pelan dahinya.
"Astaga ..."
"Kenapa, Kak?" tanya Tata.
"Berkas yang diminta Pak Brata kemarin ketinggalan di rumah."
"Lah, terus?"
"Kita balik bentar, ya. Nggak lama."
Tata mengangguk. "Ya udah."
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah Iman. "Lo ikut masuk aja," ajak Iman sambil melepas helm.
Tata menggeleng. "Nggak usah. Gue tunggu di sini aja."
"Oke. Bentar."
Iman bergegas masuk ke dalam rumah, sementara Tata tetap berdiri di dekat motor. Ia kemudian melangkah ke bawah pohon kersen yang tumbuh di halaman depan.
Rindangnya dedaunan membuat udara pagi terasa lebih sejuk. Tata pun menunggu dengan sabar sambil sesekali memandangi buah-buah kersen merah yang bergelantungan di atas kepalanya.Tata menghela napas pelan.
Tak lama kemudian, Iman keluar dari dalam rumah. Namun, bukannya langsung menghampiri motor, ia justru duduk santai di kursi teras.
Tata mengernyitkan kening. "Ngapain di situ?" tanyanya heran.
“Ntar dulu, gue mau ngomong sama lo.”
“Di kantor aja bisa, ntar telat pula. Potong gaji!”
Iman melirik jam tangannya, lalu tersenyum tipis. "Masih lama, Ta … bentar doang kok.”
Tata refleks melirik jam tangannya. Benar saja, ternyata masih lama. Hanya saja, matahari pagi itu bersinar begitu terik hingga suasananya terasa seperti sudah menjelang siang.
“Ya udah, cepetan!”
"Saat lo balikin dompet gue waktu itu, gue ngerasa ada sesuatu yang lo ambil."
Tata sontak menoleh. "Nggak ada!"
"Ada. Lo aja yang nggak sadar."
"Ha? Apaan emangnya? Perasaan gue nggak ngambil apa-apa. Koin lo aja gue balikin."
"Ada, dan lo kayaknya harus tanggung jawab."
"Dih, ogah! Ngapain gue tanggung jawab sesuatu yang nggak gue lakuin?" Iman terkekeh melihat ekspresi Tata.
"Gue duluan aja, deh," kata Tata sambil melangkah menuju luar pagar. Ia berniat memesan ojek online.
"Lo nggak mau tahu?"
Tata menghentikan langkahnya, lalu berbalik. "Apaan? Makanya cepet kasih tahu!"
Iman berdehem sejenak sebelum berkata, "Yang lo ambil ... hati gue."
Wajah Tata mendadak memanas. Perutnya serasa dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan.
"Jadi, lo harus tanggung jawab ... jadi pacar gue!”
Tata masih mematung. Bibirnya mengulum senyum malu. Perasaannya berbunga-bunga. Tanpa ia sadari, ternyata ia juga sudah jatuh cinta pada pria itu.
Tata berlari menghampiri Iman, lalu memukul pelan pundaknya beberapa kali "Dasar nyebelin!" Iman hanya terkekeh.
"Jadi ... mau, kan, jadi pacar gue?"
Dengan pipi yang masih memerah, Tata mengangguk kecil. "Mau."
Tanpa mereka sadari, Pak Soleh dan Bu Imah mengintip dari balik gorden. Pasutri yang tak lagi muda itu nyaris berjingkrak kegirangan melihat putra mereka akhirnya berhasil mendapatkan pacar.
"Tuh, Pak," bisik Bu Imah sambil tersenyum bangga. "Ibu udah yakin sejak Tata pertama kali ngetuk pintu rumah kita. Dia memang jodohnya Iman."
Pak Soleh mengangguk-angguk. "Yang penting Iman bentar lagi laku. Biar nggak berkarat kelamaan jomlo."
Keduanya terkekeh pelan, lalu meninggalkan jendela dan masuk kembali ke dalam rumah.
Tamat.