Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
CINTA TANPA TAPI
2
Suka
9
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

CINTA TANPA TAPI

Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng kematian bagi Langit. Di ruang makan VIP restoran hotel bintang lima ini, wewangian karamel dari hidangan pencuci mulut sama sekali tidak bisa menyamarkan cemas yang terlihat jelas dari sosok di balik kemeja katun rapi yang dikenakannya.

Langit, pria mapan berusia hampir kepala tiga, seorang arsitek lanskap yang biasa menata kekacauan alam menjadi taman-taman kota yang modern dan sedap dipandang mata, kini tidak mampu menata detak jantungnya sendiri.

Di seberang meja bundar, duduk sepasang orang tua yang wajahnya menjadi cerminan dari masa depannya sendiri. Papanya, Baskoro, seorang pensiunan pejabat bank terkemuka, sedang tertawa kecil menanggapi kelakar dari pria paruh baya di sebelahnya, Om Hermawan. Di antara kedua keluarga besar ini, ada sebuah benang merah yang sedang dipintal paksa, perjodohan.

Dan di samping Om Hermawan, duduklah Amara, puterinya yang akaan dijodohkan dengan Langit.

Amara adalah perempuan yang didambakan oleh setiap ibu. Lulusan magister bisnis dari Melbourne, memiliki senyum yang menawan, rambut hitam legam yang jatuh dengan anggun di bahunya, dan tutur kata yang terukur bak dilatih koreografi berbulan-bulan.

Malam ini, Amara mengenakan gaun terusan berwarna hijau zamrud yang kontras dengan kulit langsatnya. Dia tampak sempurna. Terlalu sempurna sampai-sampai Langit merasa bersalah karena tidak bisa merasakan getaran apa pun saat menatapnya.

"Langit sekarang sedang sibuk mengerjakan proyek di daerah Sentul, ya?" suara Tante Widya, ibu Amara, memecah lamunan Langit.

Langit tersenyum, senyum dipaksakan yang biasa ia gunakan untuk menenangkan klien yang rewel. "Iya, Tante. Sedang menyelesaikan konsep green resort. Kontur tanahya sangat menantang."

"Bagus itu. Ngga masalah dengan kontur tanah seperti itu, yang penting pengelolaannya tepat," kata Tante Widya.

Langit tersenyum, kali ini lebih natural tidak dipaksakan seperti tadi.

"Seorang laki-laki memang harus mapan dan punya kesibukan jelas sebelum membangun rumah tangga," sahut Baskoro bangga di depan orang tua Amara. Langit tersenyum getir, pun dengan Amara.

Langit melirik ponselnya yang terlungkup di atas meja. Di bawah layar yang gelap itu, dia tahu ada satu pesan dan beberapa panggilan tak terjawab dari Elian.

Elian, siapa dia?

Memikirkan nama itu saja sudah membuat dada Langit terasa sesak. Hangat sekaligus perih yang luar biasa.

Elian seorang kurator seni independen, laki-laki yang selalu antusias menjalani hidup, semangat dengan pekerjaannya, dan selalu ceria.

Sudah empat tahun Elian berbagi tempat tidur, mimpi, dan rahasia terbesar dalam hidup Langit.

Elian menjadi sandaran ternyaman bagi Langit. Saling berbagi seribu satu keluh kesah. Keduanya seolah telah membangun sebuah "rumah".

Namun "rumah" itu sayangnya dibangun di atas tanah ilegal di mata hukum dan norma sosial. Di negeri ini, hubungan Langit dan Elian masih menjadi hubungan yang terlarang. Hanya sekelompok otang yang mendukung hubungan sejenis.

"Amara juga suka tanaman loh, Langit," timpal mamanya, Ratna, mencoba mengusir kecanggungan yang ia tangkap dari wajah puteranya. "Kemarin dia baru beli monstera jenis apa itu namanya, Mara? Yang harganya mahal sekali itu."

Amara terkekeh lembut, matanya menyipit manis. "Monstera Variegata, Tante. Tapi saya agak payah merawatnya. Daunnya malah mulai menguning. Nanti kapan-kapan boleh ya, Mas Langit, saya konsultasi?"

"Tentu, boleh," jawab Langit singkat. Panggilan "Mas" terasa asing dan berat di telinganya, seolah panggilan iu sebagai tanda dia telah menyandang status milik seorang perempuan.

Makan malam itu berlanjut seperti sebuah drama panggung yang naskah dan akhir ceritanya sudah ditulis oleh orang lain. Langit dan Amara ditinggalkan di luar restoran yang menghadap ke kolam renang setelah kedua orang tua mereka sengaja memberikan ruang untuk saling mengenal.

Angin malam Jakarta berembus sedikt kencang, memainkan ujung gaun Amara. Langit berdiri bertumpu pada pagar pembatas besi, menatap riak air kolam yang memantulkan cahaya lampu.

"Kamu kelihatan tertekan sekali, Mas," suara Amara terdengar mengejutkan di tengah keheningan.

Langt menoleh, sedikit terperanjat. "Oh maaf, Amara. Saya cuma ... agak lelah setelah seharian di lapangan."

Amara tidak langsung membalas. Dia berjalan mendekat, ikut bertumpu pada pagar pembatas, menatap lurus ke depan.

"Kita tidak perlu berpura-pura kalau sedang tidak ada orang tua kita, Mas Langit. Aku tahu kamu hadir di pertemuan ini karena terpaksa."

Langit menoleh cepat, menatap wajah Amara dari samping. Gimana dia bisa tahu yang kurasakan sekarang? Batinnya.

"Kamu tidak perlu terkejut seperti itu. Keterpaksaan kamu terlihat nyata di wajah. Sama sepertiku."

"Sama seperti kamu? Maksudnya?"

Amara mengangguk, "ya, aku pun sama sepertimu, aku tak suka dengan perjodohan ini," ungkapnya jujur.

Langit terperanjat. Apa benar Amara juga terpaksa seperti dirinya?Rasanya tidak mungkin. Apalagi kalau melihat Amara tidak tampak sedih atau marah, wajahnya justru menampilkan senyum tipis akan kepasrahan yang dibuat-buat.

"Maksud kamu, Amara?" tanya Langit, suaranya merendah.

Amara menghela napas panjang, kepulan uap tipis seolah keluar dari sela bibirnya walau malam ini tidak sedingin seperti suhu di daerah puncak.

"Umurku dua puluh sembilan tahun. Di mata keluarga besarku, seorang perempuan yang belum menikah di usia ini adalah sebuah malapetaka sosial bagi keluarga. Mereka tidak peduli aku punya gelar master atau bisa menghasilkan uang sendiri. Bagi mereka, kesuksesanku baru sah kalau ada cincin di jari manis ini." Amara mengangkat tangan kirinya yang kosong.

"Jadi, ketika Om Baskoro dan Papaku merencanakan ini, aku tidak punya pilihan selain datang. Tapi aku bisa melihat dari caramu memandangku tadi. Kamu tidak ada di sini, Mas. Pikiranmu ada di tempat lain. Atau mungkin pada orang lain?"

Kalimat terakhir Amara seperti menghujam dadanya Langit. Sesaat, Langit merasa dunianya runtuh. Apakah Amara tahu? Apakah rahasianya yang disimpan rapat-rapat selama ini telah bocor? Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

"Aku ..." Langit terbata, tenggorokannya mendadak kering.

Amara menatap Langit, matanya yang cerdas seolah bisa membaca ketakutan yang mendalam di mata pria itu. "Tenang saja. Aku tidak tahu apa-apa dan aku tidak akan menyelidikinya. Aku hanya tahu bagaimana rasanya dipaksa memakai sepatu yang ukurannya salah. Sakit, kan?" ujar Amara dengan wajah meyakinkan kalau dia benar-benar tak setuju dengan perjodohan ini.

Langit perlahan merilekskan bahunya yang tegang. Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang dingin mengisi paru-parunya. Untuk pertama kalinya malam itu, dia melihat Amara bukan sebagai "ancaman" atau "calon istri pilihan orang tua", melainkan sebagai sesama tahanan keluarga, tahanan ekspektasi keluarga yang sulit digapai.

"Sakit sekali, Mara," lirih Langit akhirnya, jujur untuk pertama kalinya.

***

Langit pulang ke apartemennya lewat tengah malam. Senyap, tak ada suara, hanya dengung halus dari pendingin ruangan dan sinar temaram lampu berwarna kuning yang sengaja ditinggalkan menyala di sudut ruangan.

Di atas sofa abu-abu, Elian tertidur telentang. Sebuah buku seni tebal terbuka di atas dadanya, naik turun seiring dengan napasnya yang teratur. Elian hanya mengenakan kaus oblong putih longgar dan celana pendek sepaha. Wajahnya tampak begitu damai, kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Langit.

Ia berjalan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara, berlutut di samping sofa menatap wajah Elian. Garis rahangnya, tahi lalat kecil di atas sudut bibir sebelah kiri, jemari tangannya yang panjang dan selalu berlumur cat atau debu galeri, Langit hafal betul setiap detil di dirinya.

Saat langit mengulurkan tangan untuk menyingkirkan sehelai rambut yang jatuh di dahi Elian, mata Elian mengerjap dan perlahan terbuka.

"Hei ..." suara Elian serak, khas orang yang baru terbangun. Dia tersenyum kecil begitu mengenali wajah Langit. "Sudah pulang?"

"Iya. Maaf membangunkanmu," bisik Langit, suaranya serak oleh emosi yang tertahan.

Elian bangkit duduk, meregangkan otot-otot lehernya, lalu meletakkan bukunya ke meja kopi. Dia menatap Langit, dan senyumnya perlahan memudar ketika melihat sorot mata kekasihnya. Elian tahu persis ke mana Langit pergi malam ini. Dia tahu tentang makan malam keluarga itu. Bahkan dia juga tahu tentang "perempuan pilihan" itu.

"Bagaimana jalannya ... perjodohan itu?" Elian bertanya datar. Terdengar getir.

Langit duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di lutut Elian. Elian mengulurkan tangannya, jemarinya dengan lembut menyisir rambut Langit, perhatian kecil namun menenangkan yang selalu berhasil membuat Langit merasa aman.

"Dia perempuan yang baik," kata Langit pelan. "Namanya Amara. Dia pintar, berpendidikan tinggi, dan dia juga merasa terjebak dengan semua ini."

"Terjebak?" tanya Elian keheranan. Langit hanya mengangguk, malas membahasnya.

"Lalu? Apa rencana orang tuamu selanjutnya, Langit?"

"Mereka ingin kami sering bertemu, jalan bersama. Papa bahkan sudah menyinggung tentang tanggal di bulan Desember tahun depan," Langit memejamkan mata, merasakan sentuhan tangan Elian yang tiba-tiba berhenti sejenak sebelum melanjutkan gerakannya.

"Desember tahun depan," Elian mengulang kalimat itu, suaranya terdengar kosong. "Masih ada waktu satu setengah tahun lagi."

"El ..." Langit mendongak, menatap mata Elian yang berkaca-kaca di bawah temaram lampu. "Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kamu tahu Papa seperti apa. Kalau aku menolak tanpa alasan yang masuk akal, dia akan menyelidiki hidupku. Dia akan mencari tahu tentang tempat tinggal ini, bersama siapa aku di sini, mungkin saja setelah dia tahu aku tinggal dengan siapa, dia akan mencari tahu tentangmu, tentang pekerjaanmu, mungkin juga tentang kita. Aku tidak takut diriku hancur, El. Tapi aku takut kamu ikut terseret dalam kehancuran ini."

Elian tersenyum sedih. Dia turun dari sofa, ikut duduk di lantai menghadap Langit, lalu menggenggam kedua tangannya erat-erat.

"Langit, dengarkan aku. Kita sudah membicarakan hal ini sejak tahun kedua kita bersama. Kita tahu tembok yang kita hadapi ini setinggi apa. Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi pahlawan yang melawan seluruh dunia demi aku. Aku hanya ingin kamu jujur pada dirimu sendiri."

"Tapi jujur berarti kehilangan segalanya, El! Kehilangan keluarga, pekerjaan, reputasi ..." air mata yang sejak tadi ditahan Langit akhirnya runtuh juga. "Aku tidak sekuat itu."

Elian menarik Langit ke dalam pelukannya. Langit menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elian, menangis dalam diam sementara bahunya terguncang hebat. Elian memeluknya erat, mencium puncak kepala Langit berulang kali, menyerap semua kesedihan pria yang dicintainya itu ke dalam dirinya sendiri, meskipun dia tahu, hatinya sendiri juga sedang patah menjadi serpihan kecil.

***

Dua minggu setelah makan malam itu, atas desakan mamanya, Langit akhirnya menghubungi Amara. Mereka sepakat untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai.

Ketika Langit datang, Amara sudah duduk di sana, sibuk dengan laptop kerjanya. Dia mengenakan pakaian kasual, kemeja linen putih dan celana jins, yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dan santai dibandingkan saat makan malam formal malam itu.

"Hai, sudah lama menunggu?" Langit duduk di hadapannya.

"Tidak, baru sepuluh menit," Amara tersenyum, menutup laptopnya. "Bagaimana proyek Sentulmu?"

"Melelahkan, tapi berjalan lancar. Bagaimana dengan bisnismu?"

"Well, so far berbanding lurus dengan yang aku harapkan."

Mereka mengobrol selama setengah jam tentang hal-hal umum, pekerjaan, kemacetan Jakarta, hingga film-film yang sedang tayang. Ada kenyamanan yang aneh di antara mereka, kenyamanan yang lahir karena kedua belah pihak tahu bahwa mereka tidak sedang berusaha untuk saling memikat. Tidak ada kepura-puraan untuk menjadi "pasangan ideal".

Setelah pelayan mengantarkan pesanan kopi mereka, Amara menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Langit dengan pandangan menyelidik yang tajam tanpa berkedip.

"Jadi, Mas Langit, berapa kali dalam seminggu kita harus kencan seperti ini agar orang tua kita mengira kita sedang dimabuk cinta?"

Langit hampir saja tersedak kopinya mendengar ucapan Amara. Dia tertawa kecil, menggelengkan kepala. "Kamu sangat blak-blakan, ya?"

"Untuk apa membuang waktu? Kita berdua tahu fungsi kita di sini adalah sebagai tameng satu sama lain," Amara mengambil cangkir kopinya. "Mamaku setiap hari bertanya apakah kamu sudah mengirim pesan, apakah kamu mengajaknya jalan-jalan akhir pekan ini. Aku lelah berbohong, jadi lebih baik kita buat jadwal pura-pura yang bisa menenangkan kerewelan mereka."

Langit kagum menatap Amara. Perempuan di hadapannya memiliki ketegasan yang luar biasa. "Oke. Bagaimana kalau kita bertemu dua minggu sekali? Kita bisa pergi ke galeri, bioskop, atau tempat makan yang agak ramai agar kalau ada teman orang tua kita yang melihat, mereka bisa jadi reporter yang baik untuk keluarga kita."

Amara tertawa, terpancing juga dengan joke Langit.

"Ide bagus, Mas Langit." Amara menyetujui. "Dan di sela-sela itu, kita bisa saling mengirim pesan formal. Sudah makan belum? Semangat kerjanya! Hal-hal klise seperti itu, untuk jaga-jaga kalau orang tua kita suka mengintip layar ponsel."

"Cerdas!" Puji Langit.

"Tapi, apa pertemuan dua minggu sekali itu tidak terlalu lama, Mas?" Langit terdiam, kikuk atas pertanyaan Amara.

"E-e maksudku, takut keluarga kita curiga. Gimana kalau seminggu sekali ketemunya, itu lebih make sense buatku. Kamu tenang saja, aku tidak ada maksud apa-apa."

"Kalau kamu mau menganggap ada apa-apa, ya nggak masalah, Amara," kata Langit.

"Hah! Maksudnya, Mas Langit?"

Langit tertawa kecil, "aku bercanda, Amara, don't take it seriously."

Amara meringis sendiri, mukanya merah padam, malu tak enak hati dia.

Langit terdiam sebentar, seminggu sekali dirasa tepat. "Oke, Amara! Seminggu sekali kita ketemuan. Aku akan datang ke rumahmu, sesekali kamu datang beekunjung ke rumahku. Biar orang tua kita makin percaya."

"Deal!"

Langit dan Amara bersalaman.

Sejenak hening tanpa bicara. Keduanya sibuk bermain ponsel, scroll sosial media, sesekali menyeruput kopi.

Langit memecah keesunyian. Ia memutuskan untuk mengambil langkah berani. "Amara ... boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tanya saja."

"Kenapa kamu tidak melarikan diri saja? Maksudku, kamu punya pendidikan, kamu punya uang, kamu bisa tinggal di luar negeri, misalnya di Australia tempat kamu kuliah dulu, dan kamu bebas dari semua tekanan ini."

Ekspresi Amara berubah melembut, ada kilat kesedihan yang melintas cepat di matanya sebelum digantikan oleh senyum tipis yang biasa.

"Karena aku mencintai Mamaku, Mas Langit. Papaku adalah orang yang keras, tipikal patriarki tua yang menganggap anak perempuan adalah aset keluarga. Tapi Mamaku, dia telah mengorbankan seluruh hidup dan kebahagiaannya agar aku bisa sekolah tinggi sampai ke Australia. Kalau aku kabur, Mamaku yang akan menanggung kemarahan Papaku. Dia yang akan disalahkan karena gagal mendidik anak. Aku tidak bisa melakukan itu pada Mamaku."

Mendengar itu, dada Langit berdenyut perih. Alasan Amara begitu mirip dengan alasannya sendiri. Mamanya, Ratna, adalah seorang wanita lembut yang menderita penyakit jantung kronis selama lima tahun terakhir. Langit tahu betul bahwa kabar tentang orientasi seksualnya akan menjadi serangan mematikan bagi kesehatan mamanya. Makanya ia tak pernah berani berkata jujur, meski sesekali Elian memintanya berkata apa adanya.

Langit dan Amara adalah anak-anak yang diikat oleh tali kasih sayang yang sekaligus sebagai pengikat kuat di leher.

"Aku mengerti," kata Langit pelan. "Aku sangat mengerti."

"Kalau kamu sendiri, Mas?" Amara membalikkan pertanyaan. "Apa yang menahanmu di sini? Selain karena alasan Mamamu, apa ada seseorang yang membuatmu enggan meninggalkan kota ini."

Langit tetegun. Jantungnya berdegup kencang. "Seseorang?"

Amara tersenyum, matanya memancarkan pemahaman yang mendalam. "Mas Langit, aku menghabiskan waktu empat tahun di Melbourne. Lingkungan pergaulanku sangat beragam. Aku tahu cara seorang pria menatap wanita yang dia sukai, dan aku tahu cara seorang pria menatap wanita ketika hatinya sudah sepenuhnya terkunci untuk orang lain."

Langit kebingungan dengan ucapan Amara.

"Mas, kamu tidak pernah melihat ke arah dadaku, kamu tidak pernah memperhatikan riasan wajahku, dan kamu selalu menjaga jarak fisik yang sangat sopan bahkan ketika kita berjalan berdampingan. Ditambah lagi, ada semacam kesedihan yang mendalam di matamu setiap kali membicarakan masa depan."

Amara beehenti sebentar, menyeruput kopinya yang semakin mendingin.

"Jadi siapa dia, Mas. Siapa lelaki beruntung itu?"

Tetiba darah Langit berdesir cepat, wajahnya memerah. Udara di sekitarnya mendadak menipis, berganti hawa panas yang menyelimuti

Langit menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Rahasia yang selama bertahun-tahun dia simpan rapat-rapat, kini terbuka di depan seorang perempuan yang baru ditemuinya dua kali. Dan anehnya, Langit merasa sangat lega. Beban di bahunya seolah berkurang beberapa kilogram.

"Namanya Elian," kata Langit, suaranya bergetar namun ada nada bangga yang terselip di sana, bisa mengungkap rahasianya sendiri. "Kami sudah bersama selama empat tahun."

Amara tersenyum tulus, Langit menunduk malu. Namun senyum Amara adalah senyum paling nyata yang pernah Langit lihat dari perempuan itu sejak pertama kali mereka bertemu.

"Nama yang bagus. Dia pasti orang yang sangat beruntung, atau mungkin, kalian berdua yang beruntung bisa saling menemukan di kota sekejam ini."

"Tapi kami berada di jalan buntu, Mara."

"Semua orang di kota ini berada di jalan buntu, Mas. Bedanya, ada yang memilih menabrak dinding penghalangnya dan ada yang memilih untuk membangun rumah kecil yang nyaman di depan dinding penghalang itu sambil menunggu keajaiban," kata Amara filosofis. "Mari kita jadikan perjodohan ini sebagai rumah kecil kita untuk sementara waktu. Kamu melindungi rahasiamu dan Elian, aku melindungi Mamaku dan kebebasanku dari perjodohan-perjodohan lain yang mungkin akan lebih buruk."

Langit menggeleng kagum. Amara seperti peri penolong, dia tak menduga sebelumnya.

Hari itu, sebuah perjanjian rahasia resmi terbentuk. Di atas meja kopi kayu yang sederhana, Langit dan Amara sepakat untuk memainkan drama romantis terbesar dalam hidup mereka.

***

Bulan-bulan berikutnya berjalan seperti sebuah rutinitas yang aneh. Langit seperti menjalani dua kehidupan dalam satu tubuh yang sama.

Kehidupan percintaan palsunya bersama Amara. Mereka menghabiskan waktunya pergi ke bioskop, makan malam di restoran, menghadiri acara pernikahan kerabat keluarga besar, dan berfoto bersama dengan senyum lebar yang tampak meyakinkan. Foto-foto itu sengaja diunggah Amara di media sosialnya, yang langsung disambut restu dari keluarga kedua belah pihak. Mamanya Langit bahkan mulai sering mengirimkan foto-foto kain kebaya dan dekorasi pernikahan melalui whatsapp, namun hanya dibalas Langit dengan emoji tersenyum.

Kehidupan lainnya berbanding terbalik yang ia lalui bersama Elian. Kehidupan yang terjadi di apartemen namun inilah kehidupan sesungguhnya, Langit bisa melepas topengnya. Di sana, dia adalah seorang pria yang membantu kekasihnya mencuci piring, memasak besama, bahkan sampai tertidur di pelukan Elian sambil mendengarkan piringan hitam lagu-lagu klasik.

Namun, menjalani dua kehidupan yang berbeda membuat energinya melandai. Menjemukan. Dan tekanannya semakin melelahkan seiring waktu terus bergulir. Langit bak terjebak di ruang dan waktu yang salah

Suatu malam di bulan ketujuh sandiwara mereka, Langit mengundang Amara untuk datang ke apartemennya. Itu adalah langkah yang berani, namun Langit merasa hal ini perlu dilakukan. Amara harus bertemu dengan Elian dan berkenalan.

Hari itu Amara beneran datang ke Apartemen Langit.

Saat pintu apartemen dibuka, Amara berdiri di sana dengan membawa sekotak kue. Elian berdiri di belakang Langit mengenakan kemeja rapi, sebuah upaya keras dari Elian untuk memberikan kesan pertama yang baik, meskipun Langit tahu betapa gugupnya Elian sejak sore tadi.

"Silakan masuk, Mara," Langit mempersilakan.

Amara melangkah masuk, matanya menyapu sekeliling ruangan yang tertata apik dengan sentuhan estetika tinggi, banyak lukisan abstrak berukuran sedang dan tanaman hias yang terawat subur di sudut-sudut ruangan.

"Apartemen yang sangat indah," puji Amara tulus. Dia kemudian menatap Elian yang berdiri agak kaku, masih berdiri di belakang Langit. Amara mengulurkan tangannya sambil tersenyum hangat. "Hai, aku Amara."

Elian menyambut jabat tangan itu, senyumnya yang tegang perlahan mencair melihat keramahan Amara. "Elian. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Amara. Langit banyak bercerita tentangmu."

Amara tertawa.

"Kuharap dia hanya menceritakan hal-hal yang baik saja," canda Amara, mencairkan suasana seketika.

Malam itu berjalan dengan hangat. Elian memasak spaghetti dengan udang segar, sementara Amara membantunya sambil menceritakan kisah-kisah lucu tentang klien-klien bisnisnya yang aneh. Langit duduk di mendengarkan celotehnya, memandangi pula dua orang yang paling penting dalam fase hidupnya saat ini. Ada rasa haru yang menyesaki dadanya melihat bagaimana kekasihnya dan perempuan yang dijodohkan dengannya bisa akrab dan tertawa bersama di satu meja makan.

Namun, kenyataan itu selalu tahu cara merusak momen-momen yang indah ini. Di tengah canda dan tawa mereka bertiga, ponsel Amara berdengung, tertera nama mamanya di layar ponsel.

Amara menghela napas, memberi isyarat meminta izin dengan jarinya, lalu mengangkat telepon tersebut di dekat jendela.

"Iya, Ma? ... Iya, aku sedang bersama Mas Langit. Kami sedang makan malam."

Amara hening sejenak membiarkan mamanya bicara di ujung telepon.

"Di luar? Ah, tidak. Kami sedang di apartemen Mas Langit," Amara melirik ke arah Langit, menatapnya sembari meminta maaf.

"... Apa? Bulan depan? Tapi, Ma, bukankah kesepakatannya akhir tahun depan?"

Hening lagi, Amara mendengarkan kembali ucapan mamanya.

"Papa yang minta? Tapi ..."

Suara Amara melemah. Wajahnya yang cerah mendadak pucat. Dia mendengarkan penjelasan mamanya di seberang telepon selama beberapa menit dengan tubuh yang menegang, sebelum akhirnya menjawab pelan,

"Baik, Ma. Nanti aku bicarakan lagi dengan Mas Langit. Malam, Ma."

Amara menurunkan ponselnya, berbalik menghadap Langit dan Elian. Suasana di ruang makan yang tadinya hangat langsung berubah sedingin es.

"Ada apa, Mara?" tanya Langit, firasat buruk mulai merayapi.

Amara berjalan kembali ke meja makan, memandangi Langit dan Elian bergantian dengan tatapan penuh rasa bersalah yang teramat sangat.

"Papaku, bisnis propertinya di Surabaya sedang mengalami masalah likuiditas yang serius. Dia membutuhkan suntikan dana segar, dan satu-satunya orang yang bisa memberikan pinjaman tanpa jaminan rumit adalah Om Baskoro."

Langit merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. "Maksudmu Papa?"

Amara mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. "Papaku dan Papamu membuat kesepakatan baru sore ini. Om Baskoro bersedia membantu perusahaan Papaku, dengan syarat pernikahan kita dimajukan. Bukan Desember tahun depan, tapi dua bulan dari sekarang. Bulan depan kita harus melangsungkan pertunangan resmi."

Kata-kata Amara seperti hantaman godam yang menghancurkan sandiwara yang telah mereka bangun dengan susah payah selama tujuh bulan ini. Rumah pasir itu akhirnya runtuh diterjang ombak yang kejam.

Langit menoleh ke arah Elian. Laki-laki itu duduk mematung, garpu di tangannya terlepas dan berdenting pelan di atas piring. Wajah Elian kehilangan seluruh warnanya, matanya menatap kosong ke arah hidangan spaghetti yang belum habis. Keheningan yang tercipta malam itu terasa begitu pekat, seolah-olah sanggup mencekik siapa saja yang berani bersuara.

***

Malam itu, setelah Amara pulang, suasana apartemen Langit berubah. Elian menolak untuk berbicara. Dia tidak marah, tidak berteriak, dan tidak membanting barang-barangnya. Dia hanya diam, tapi keheningan itu justeru jauh lebih menakutkan bagi Langit daripada kemarahan yang meledak-ledak.

Keesokan harinya, Langit tidak pergi ke kantor ataupun ke lokasi proyek. Dia mengendarai mobilnya tanpa tujuan membelah jalanan Jakarta yang sedang diguyur hujan deras di bulan November. Wiper mobilnya bergerak cepat, menyapu air yang terus-menerus menghalangi pandangannya, persis seperti air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya.

Dia melewati daerah Menteng, melihat rumah-rumah besar dengan pagar tinggi, tempat di mana orang-orang seperti papanya tinggal, orang-orang yang menganggap reputasi, nama baik, dan kelangsungan dinasti keluarga jauh lebih berharga daripada kebahagiaan sejati anak-anak mereka.

Langit menepikan mobilnya di bawah deretan pohon mahoni yang rimbun di dekat sebuah taman kota yang sepi. Dia mematikan mesin, menyandarkan kepalanya di setir mobil, dan membiarkan dirinya hancur sekeping demi sekeping.

Dua bulan. Dalam waktu dua bulan, dia harus berdiri di pelaminan, mengucapkan janji suci di hadapan ratusan pasang mata, mengikat seorang wanita baik-baik dalam sebuah pernikahan yang didasari oleh kebohongan besar, sementara pria yang mengajari dia arti cinta sejati akan duduk di sudut ruangan sebagai orang asing, atau mungkin sudah pergi jauh dari hidupnya.

Gawainya bergetar di saku celananya. Panggilan menyesakan dari Baskoro, papanya

Langut menatap layar ponsel itu dengan tangan bergetar. Dia tahu apa yang akan dikatakan papanya. Pujian tentang bagaimana Langit telah menjadi "anak yang berbakti", instruksi tentang wedding organizer, informasi tentang jas yang harus dipesan, atau tentang kelangsungan bisnis keluarga.

Memuakkan.

Langit menolak panggilan itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia mengabaikan papanya. Dia muak dengan hidupnya. Berkali bertanya dalam hati, kenapa kehidupan ini harus dia yang menjalani.

Dia kemudian mengirimkan pesan kepada Amara,

Kita perlu bicara, besok malam di tempat biasa. Ada hal yang harus kita selesaikan.

Setelah itu, Langt mengirim pesan kepada Elian,

El, aku akan pulang terlambat malam ini. Aku mencintaimu. Tolong jangan pergi.

Tidak ada balasan dari Elian. Langit khawatir, akhirnya dia memutuskan kembaki ke apartemennya terlebih dahulu.

Malam itu, Langit sudah sampai di apartemen dan menemukan bahwa ketakutan terbesarnya belum terjadi, barang-barang Elian masih ada di sana. Namun, Elian sendiri tidak ada di rumah. Di atas meja makan, ada sebuah nota kecil bertuliskan, Aku butuh waktu untuk berpikir sendiri di galeri. Jangan menyusulku. Aku butuh ruang untuk bernapas, Langit.

Langit duduk sendirian di lantai ruang tamu yang gelap, memeluk lututnya, ditemani oleh bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di dinding. Dia teringat bagaimana pertama kali bertemu Elian di sebuah pameran seni di Yogyakarta empat tahun lalu. Teringat bagaimana mereka tertawa saat kehujanan di atas sepeda motor, teringat janji-janji kecil yang mereka bisikkan di bawah selimut tentang bagaimana mereka akan menua bersama di sebuah rumah kecil di Bali atau tempat mana pun yang tidak mengenal mereka.

Semua mimpi itu kini terasa seperti lelucon yang mengiris hati.

***

Kedai kopi malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Amara datang dengan mata yang agak sembab, meskipun dia telah mencoba menyamarkannya dengan riasan wajah yang tebal.

Mereka berdua duduk berhadapan, tidak lagi kepikiran jadwal kencan pura-pura. Sandiwara telah selesai, dan tirai panggung dipaksa ditutup sebelum waktunya.

"Aku sudah memikirkan ini semalaman, Mara," Langit membuka suara yang terdengar datar namun penuh dengan keputusan yang berat. "Aku tidak bisa melanjutkan ini."

Amara menatap Langit, matanya membelalak kecil. "Mas, tapi kalau kamu mundur sekarang, Papamu akan ..."

"Aku tahu," potong Langit cepat. "Papa akan marah besar. Dia mungkin akan mencoret namaku dari daftar kartu keluarga, menghentikan seluruh pendanaan untuk firma arsitektur lanskapku, atau bahkan mengusirku dari lingkaran sosialnya. Tapi aku lebih memilih kehilangan semua materi dan status itu daripada harus kehilangan jiwaku sendiri, Mara. Dan yang lebih penting, aku tidak akan menghancurkan hidupmu."

"Menghancurkan hidupku?" Amara mengulang kalimat itu dengan suara bergetar.

"Ya. Kamu perempuan yang luar biasa, Amara. Kamu berhak mendapatkan seorang pria yang bisa mencintaimu sepenuhnya, seorang pria yang mendambakanmu saat dia memejamkan mata, seorang pria yang bisa memberikanmu sebuah keluarga yang nyata, bukan seorang pria yang menjadikanmu sebagai topeng untuk menyembunyikan identitasnya seumur hidup. Seorang pria yang mencintaimu setulus hati, bukan kepura-puraan. Pernikahan ini, kalau dilanjutkan, akan menjadi penjara bagi kita berdua. Dan di dalam penjara itu, kita akan perlahan-lahan mulai saling membenci. Akan banyak masalah yang datang nantinya."

Air mata yang sejak tadi ditahan Amara akhirnya mengalir membasahi pipinya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang. Langit mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam jemari Amara yang dingin untuk memberikan kekuatan, bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai seorang sahabat yang sedang berjuang bersama di parit pertempuran yang kotor.

"Tapi bagaimana dengan Mamaku, Mas?" bisik Amara di sela tangisnya. "Papaku akan menghancurkan Mamaku kalau kesepakatan ini batal."

"Kita tidak akan membiarkan itu terjadi," kata Langit dengan keyakinan penuh. "Aku yang akan maju ke hadapan Papaku dan Papamu. Aku yang akan mengambil seluruh kesalahan ini. Aku akan mengatakan bahwa aku yang membatalkan perjodohan ini karena aku ... karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik. Aku akan membuat alasan yang membuat keluargamu tetap berada di posisi yang benar, sehingga Papaku tidak punya alasan moral untuk membatalkan bantuan finansialnya kepada Papamu secara mendadak tanpa terlihat seperti orang jahat di mata lingkaran bisnis mereka."

Amara mendongak, menatap Langit dengan pandangan tidak percaya. "Kamu akan mengorbankan dirimu sendiri? Papamu tidak akan tinggal diam, Langit. Dia bisa menghancurkan kariermu."

Langit tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan kebebasan yang pahit. "Karier bisa dibangun lagi dari nol, Mara. Tanah dan tanaman tidak peduli apakah arsiteknya seorang gay atau bukan. Selama aku punya tangan untuk menggambar dan mencangkul, aku akan bertahan hidup. Tapi kalau aku kehilangan Elian, dan kalau aku membiarkan diriku hidup dalam kebohongan di sepanjang hidupku ... aku sudah mati sebelum tubuhku dikubur."

Amara menatap Langit dalam-dalam, melihat keteguhan yang luar biasa di mata pria yang selama ini ia kira lemah dan penakut itu. Amara perlahan menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu membalas genggaman tangan Langit.

"Terima kasih, Mas Langit. Terima kasih karena telah berani menjadi manusia di antara orang-orang yang telah kehilangan kemanusiaannya."

***

Hari itu datang, hari yang mendebarkan. Langit meminta pertemuan keluarga besar diadakan di rumah orang tuanya. Dia bersikeras agar Amara dan kedua orang tuanya hadir.

Ruang tamu megah dengan lampu gantung kristal dan sofa kulit Italia itu terasa seperti ruang sidang. Di atas meja marmer, tersaji teh hangat dan kue-kue kelas kelas hotel bintang lima yang sama sekali tidak disentuh oleh siapa pun.

"Jadi, Langit, ada hal penting apa sampai kamu meminta kita semua berkumpul di sini secara mendadak?" tanya Baskoro, suaranya berat dan berwibawa, memecah keheningan yang tegang. "Bulan depan sudah harus tunangan, persiapan dekorasi dan undangan dari pihak vendor sudah mulai berjalan, kan?"

Langit berdiri perlahan dari kursinya. Tindakan itu mengejutkan semua orang di ruangan, karena biasanya dalam pertemuan keluarga, tidak ada yang berdiri kecuali jika diperintahkan. Ia berani mematahkan kebiasaan di keluarga ini.

Langit menatap papanya. Detak jantungnya yang biasanya berpacu setiap kali berhadapan dengan papanya, entah mengapa malam ini terasa begitu tenang. Ketakutan itu telah menguap, digantikan sikapnya yang pasrah menerima takdir.

"Papa, Om Hermawan, Tante Widya, dan Mama ..." Langit memulai, suaranya terdengar jernih dan tegas di dalam ruangan yang luas itu. Tenang mengalir. "Aku ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku membatalkan perjodohan dengan Amara."

Suasana di ruangan itu mendadak sunyi, seolah-olah oksigen baru saja disedot habis dari udara.

Wajah Baskoro seketika berubah merah padam. Rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya menegang. Dia berdiri dengan kasar, membuat kursi terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berderit yang memekakkan telinga.

"Apa kamu bilang?! Coba ulangi lagi, Langit!" bentak Baskoro, suaranya menggelegar, membuat mamanya Langit langsung memegangi dadanya dengan wajah pucat. Kedua orang tua Amara terkejut. Amara menunduk dalam.

"Aku membatalkan pernikahan ini, Pa," ulang Langit tanpa berkedip sedikit pun.

"Kamu sudah gila, ya?! Kamu tahu berapa banyak persiapan yang sudah dilakukan? Kamu tahu kesepakatan apa yang sudah Papa buat dengan Om Hermawan?! Kamu mau mempermalukan Papa di depan semua rekan bisnis Papa?!" Baskoro melangkah mendekati Langit, telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah putranya.

Om Hermawan juga berdiri, wajahnya campur aduk antara marah dan bingung. "Langit, apa alasannya? Amara kurang apa di matamu? Dia berpendidikan, dia menjaga sikapnya, keluarga kami selalu menghormatimu. Kenapa kamu membatalkan ini secara sepihak?!"

Langit melirik ke arah Amara. Perempuan itu duduk diam, tetap menundukkan kepalanya, tangannya menggenggam erat tangan mamanya, Tante Widya, yang tampak ketakutan namun juga sedih. Sesuai rencana mereka, Amara harus tetap berperan sebagai korban di sini.

"Ini sama sekali bukan kesalahan Amara, Om Hermawan," kata Langit dengan nada penuh hormat yang dipaksakan. "Amara adalah wanita yang sempurna. Kesalahan sepenuhnya ada pada diriku. Aku ... aku tidak bisa mencintainya. Aku tidak bisa menjadi suami yang dia butuhkan. Jika kami tetap menikah, aku hanya akan memberinya penderitaan seumur hidup karena hatiku tidak pernah bisa ada untuknya."

"Alasan macam apa itu?! Cinta bisa tumbuh setelah menikah! Itu cuma alasan kekanak-kanakan dari anak manja yang tidak tahu diuntung!" Baskoro berteriak, napasnya memburu. Dia mengangkat tangannya, dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Langit

PLAK!

Suara hantaman itu terdengar begitu nyaring di ruang tamu yang mewah tersebut. Kepala Langit terlempar ke samping. Pipi kirinya langsung terasa panas dan berdenyut perih, ujung bibirnya sedikit pecah mengeluarkan setitik darah.

"Papa!" teriak Ratna mulai menangis histeris melihat Langit ditampar keras seperti itu. Amara memandang langit iba, ia tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Om Baskoro bisa dengan mudah memperlakukan Langit seperti tadi di depan keluarganya. Apa selama ini Langit sering mendapat perlakuan seperti itu. Sungguh tak adil bagi Langit. Batin Amara

Namun, Langit hanya diam, tidak bereaksi. Dia tidak memegang pipinya yang terluka. Dia perlahan menegakkan kembali kepalanya, menatap papanya kembali dengan tatapan yang sama sekali tidak goyah. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya ada rasa kasihan yang mendalam untuk pria tua di hadapannya yang begitu diperbudak oleh ego dan status sosial.

"Papa bisa memukulku sekeras apa pun yang Papa mau. Tapi itu tidak akan mengubah keputusanku," kata Langit tegas, suaranya sangat tenang, dan ketenangan itulah yang justeru membuat Baskoro merasa kalah. "Mengenai kesepakatan bisnis Papa dan Om Hermawan, aku mohon jangan sangkut pautkan masalah finansial itu dengan pembatalan ini. Ini adalah murni kesalahanku. Jika Papa menarik bantuan untuk perusahaan Om Hermawan hanya karena aku yang mundur, maka seluruh kolega bisnis Papa akan tahu bahwa pernikahan ini sejak awal hanyalah transaksi dagang, bukan pernikahan suci. Dan itu akan merusak nama baik Papa jauh lebih besar daripada pembatalan pernikahan ini."

Baskoro tertegun. Kalimat Langit menghantam titik terlemahnya, ketakutan akan rusaknya reputasi sebagai pria yang terhormat dan berintegritas di mata publik.

Langit kemudian berbalik menghadap Amara dan mamanya. Dia membungkuk dalam-dalam, sebuah penghormatan terakhir. "Amara, Tante Widya, Om Hermawan, maafkan saya karena telah membuang waktu kalian selama beberapa bulan ini. Kuharap Amara bisa menemukan kebahagiaan yang sejati di masa depan."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Langit berbalik dan berjalan menuju pintu keluar rumah.

"Langit! Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu malam ini, kamu bukan lagi anakku! Jangan pernah berani menginjakkan kakimu di rumah ini lagi! Seluruh asetmu, mobil, rumah, dan posisimu di firma akan Papa cabut!" teriak Baskoro dari belakang, suaranya bergetar oleh amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi karena kehilangan kendali atas anaknya.

Langit menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu besar kayu jati itu. Dia sejenak menoleh ke belakang.

"Terima kasih untuk semuanya, Pa, Ma. Maafkan Langit," ucapnya pelan, sebelum melangkah keluar ke bawah guyuran hujan malam Jakarta yang turun dengan derasnya.

***

Langit pulang ke apartemennya. Dia tidak membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya, dompet, dan ponselnya. Mobilnya ditinggalkan di rumah orang tuanya, begitu juga dengan semua fasilitas mewah yang selama ini dapat dukungan penuh dari papanya.

Tubuhnya terasa sangat lelah saat melangkah ke luar lift, namun jiwanya seringan kapas. Beban berat yang selama tiga puluh dua tahun ini dipikulnya, beban untuk menjadi anak lelaki sempurna yang memenuhi segala ambisi ayahnya, telah terlepas sepenuhnya.

Langit membuka pintu apartemennya, tangannya masih sedikit bergetar.

Di dalam, lampu ruang tamu menyala terang. Dan di sana, di dekat meja makan, berdiri Elian. Di samping Elian, ada dua buah koper besar yang sudah rapi tertutup.

Sesaat jantung Langit berhenti berdetak melihat koper-koper itu. "El ..."

Elian menatap Langit, dan matanya langsung tertuju pada sudut bibirnya yang pecah dan pipinya yang membengkak merah keunguan. Elian melepaskan pegangannya pada koper, lalu berlari kecil menghampirinya.

"Langit! Wajahmu ... apa yang terjadi?" Elian memegang wajah Langit dengan kedua tangannya yang gemetar, matanya dipenuhi dengan rasa cemas dan air mata yang langsung merebak.

Langit menatap mata Elian, lalu air mata yang sejak tadi ditahannya di hadapan orang tuanya akhirnya tumpah juga. Dia memeluk Elian erat, menyembunyikan wajahnya di bahu kekasihnya, menangis seperti seorang anak kecil yang baru saja memenangkan pertempuran yang melelahkan.

"Sudah selesai, El ... semuanya sudah selesai," bisik Langit di sela tangisnya.

Elian mematung dalam pelukan Langit. "Apa maksudmu?"

"Aku sudah membatalkannya. Aku sudah mengatakannya pada Papa, pada keluarga Amara. Aku sudah keluar dari rumah itu, El. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Papa mengusirku, dia mencabut semua fasilitasku, aku ... aku sekarang miskin, El. Aku tidak punya apa-apa lagi selain kamu."

Elian melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah Langit yang basah oleh air mata dan darah yang mengering di bibirnya. Ucapan Langit baru saja menghantam keras dadanya. Pria ini, arsitek yang biasanya begitu patuh pada aturan, baru saja menghancurkan seluruh dunianya yang megah demi mempertahankan hubungan mereka. Demi dirinya.

Elian tersenyum, air matanya sendiri mengalir deras membasahi pipinya. Dia menangkup wajah Langit kembali, mengusap air mata di pipi kekasihnya dengan ibu jarinya yang lembut.

"Kamu bodoh, Langit," bisik Elian, suaranya serak oleh emosi. "Kamu benar-benar bodoh."

"Maaf ..."

"Kenapa minta maaf?" Elian tertawa kecil di tengah tangisnya, lalu mengecup kening Langit dengan sangat lama dan penuh perasaan. "Kamu bilang kamu tidak punya apa-apa lagi? Kamu punya aku, Langit. Kita punya apartemen ini, yang cicilannya masih bisa kita bayar bersama dari hasil galeriku dan proyek-proyek kecilmu nanti. Kita punya hidup kita sendiri sekarang. Kamu tidak kehilangan segalanya, Langit. Kamu baru saja memenangkan kebebasanmu."

Langit melihat ke arah dua koper besar di dekat meja makan. "Lalu koper-koper itu?"

Elian melirik kopernya, lalu kembali menatap Langit dengan tatapan bersalah yang manis. "Tadinya aku bersiap-siap untuk pergi ke Yogyakarta malam ini. Aku mengira kamu akan memilih pernikahan itu, dan aku tidak sanggup tinggal di kota ini melihatmu bersanding dengan orang lain. Tapi sekarang ..." Elian berjalan menuju koper-koper tersebut, menendangnya pelan hingga terjatuh ke lantai, lalu berbalik sambil tersenyum lebar. "Koper-koper itu bisa dibongkar lagi. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."

Langit merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya, menyembuhkan rasa sakit di pipinya dan luka di hatinya. Dia berjalan mendekati Elian, menarik pria itu ke dalam pelukannya kembali, dan kali ini, tidak ada lagi rasa takut yang membayangi mereka.

***

Satu tahun kemudian.

Matahari pagi di daerah Ubud, Bali, bersinar dengan kehangatan yang lembut, menembus sela-sela daun pohon kamboja dan memantulkan cahaya di atas permukaan kolam ikan kecil yang jernih.

Langit sedang berlutut di atas tanah, tangannya mengenakan sarung tangan kain penuh dengan tanah gembur saat dia memindahkan beberapa bibit tanaman pakis hias ke dalam pot tanah liat. Di sebelahnya, selembar kertas sketsa lanskap taman sebuah eco villa yang sedang ia kerjakan tergelar dengan pemberat batu di ujung-ujungnya.

Setelah keluar dari Jakarta dan meninggalkan firma lamanya, Langit memilih untuk memulai kembali dari awal di Bali. Menggunakan nama baru untuk studio independennya, keahlian arsitektur lanskapnya yang unik yang memadukan modernitas dengan ekologi lokal, dengan cepat menarik perhatian para pemilik resor dan warga negara asing di pulau ini. Dia tidak lagi sekadar menata taman agar terlihat mewah, sekarang dia menata tanah agar terasa hidup.

"Langit, ada paket untukmu dari Jakarta!" suara bariton Elian terdengar dari arah beranda rumah panggung kayu mereka yang merangkap sebagai studio seni kecil.

Langit berdiri, menepuk-nepuk debu tanah di celana pendeknya, lalu berjalan menuju beranda. Elian berdiri di sana, mengenakan kain pantai tradisional, memegang sebuah kotak kardus berukuran sedang. Di sudut ruangan beranda, beberapa lukisan cat minyak karya Elian yang bertema lanskap alam Bali bersandar di dinding, menunggu untuk dikirim ke sebuah pameran kolektif di Seminyak pekan depan.

"Dari siapa?" tanya Langit, membuka sarung tangannya.

"Tidak ada nama pengirimnya, hanya ada inisial A," kata Elian, memberikan kotak itu kepada Langit bersama sebotol air mineral dingin.

Langt tersenyum tipis. Dia tahu persis siapa A itu.

Dia membuka kotak tersebut di atas meja kayu. Di dalamnya, ada sebuah buku jurnal tebal bersampul kulit buatan tangan, dan di atasnya terdapat sebuah kartu ucapan berwarna putih bersih. Langit membuka kartu tersebut dan membaca tulisan tangan yang rapi di dalamnya.

Dear Mas Langit,

Bagaimana kabar Bali? Kuharap tanaman-tanamanmu tumbuh subur di sana, sama seperti kebebasan yang telah kamu pilih.

Aku hanya ingin memberi tahu bahwa bulan lalu, aku akhirnya mendirikan yayasan pemberdayaan perempuan yang dulu selalu kuceritakan kepadamu. Mamaku sekarang tinggal bersamaku di sebuah rumah kecil yang nyaman di daerah Selatan, jauh dari kemarahan Papa yang perlahan mulai mereda setelah bisnisnya stabil kembali berkat bantuan modal yang anehnya tetap dicairkan oleh papamu. Sepertinya papamu memang terlalu takut terlihat buruk di mata publik, persis seperti tebakanmu malam itu.

Terima kasih telah memberiku keberanian untuk menolak menjadi topeng bagi orang lain. Karena keputusanmu malam itu, aku sekarang bisa menjalani hidup sebagai diriku sendiri, bukan sebagai perhiasan dalam dinasti keluarga.

Buku jurnal ini untukmu, untuk menggambar lanskap-lanskap baru yang lebih indah. Sampaikan salam hangatku untuk Elian. Kalian berdua berhak atas semua kebahagiaan di dunia.

Sahabatmu,

Amara.

Langit melipat kartu itu kembali dengan senyum yang mengembang penuh di wajahnya. Ada rasa hangat yang memenuhi dadanya, sebuah penutupan yang sempurna bagi babak kelam di masa lalunya.

"Dari Amara?" tanya Elian, melingkarkan lengannya di bahu Langit dari belakang, ikut membaca ekspresi bahagia di wajah kekasihnya.

"Iya. Dia mendirikan yayasannya sendiri sekarang. Dan Mamanya tinggal bersamanya," jawab Langit, menyandarkan kepalanya di bahu Elian, menikmati aroma sabun serai dan udara bersih pedesaan Ubud yang memenuhi indra penciumannya.

"Dia perempuan yang luar biasa," kata Elian tulus.

"Ya, dia luar biasa. Dan kita juga," ucap Langit melirik Elian, lalu menciumnya.

Di bawah langit Bali yang biru bersih tanpa polusi, Langit melihat ke arah taman luas yang sedang ia bangun di depan rumah mereka. Di sudut taman itu, tumbuh sebuah pohon kamboja putih yang batangnya agak meliuk karena pernah diterjang angin kencang saat masih bibit, namun kini tumbuh dengan akar yang sangat kuat menancap di dalam bumi, mengeluarkan bunga-bunga harum yang mekar dengan indahnya.

Langit tahu, sama halnya seperti batang pohon kamboja itu, hidup mereka tidak akan pernah mudah. Mereka masih harus menghadapi pandangan-pandangan miring, hukum yang belum berpihak, dan jarak yang tak menjembatani dengan keluarga mereka. Namun, berdiri di sini, dengan tangan yang kotor oleh tanah kehidupan yang nyata dan tangan Elian yang menggenggamnya erat, Langit tahu bahwa dia tidak sedang bersandiwara lagi.

Dia telah meruntuhkan rumah yang dibangun di atas pasir kebohongan, dan kini tinggal di atas reruntuhannya, dia telah berhasil membangun sebuah rumah sejati yang berakar pada kekuatan cinta, dan kebebasan yang ingin mereka jalani.

Dalam pandangan agama mereka salah, tapi mereka merasa tidak pernah menyakiti siapaapun, atau berbuat zalim. Itu sudah cukup untuk mereka mengambil keputusan terberat dalam hidup mereka sendiri.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
The Theory of Thoughts and Feelings
Hagia Sukarlan
Cerpen
CINTA TANPA TAPI
hadi wiyono
Skrip Film
Membawamu pulang (Script Film)
Randy Satrya
Novel
Bronze
LOVELESS
KUMARA
Novel
Bronze
Orang Orang Di Atas Angin
Yovinus
Novel
Bronze
Bujang Menanti
Miayazlin
Komik
(un)promise
kennicchi
Novel
Demensia
Sarah Teplaka
Cerpen
Perang Dunia Kaiju
Rama Sudeta A
Novel
Aku, Buku & Rindu
An Purbalien
Novel
Gold
Bella
Mizan Publishing
Novel
Macaron Moments
Fairamadhana
Skrip Film
TIGA GARUDA
Ahmad Junaedi
Novel
Madu yang Kupilih untuk Suamiku
Rinz Sugianto
Skrip Film
Script Film : Al Kahfi Land - Delusi
indra wibawa
Rekomendasi
Cerpen
CINTA TANPA TAPI
hadi wiyono
Novel
TULUS
hadi wiyono
Novel
AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR
hadi wiyono
Cerpen
Sore Itu Di Depan Gang Kecil
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
SETITIK DEBU DI KACA LANTAI 50
hadi wiyono
Cerpen
SEBENING RINDU
hadi wiyono
Cerpen
FACIO Si Tisu Malang
hadi wiyono
Cerpen
A Cold Goodbye
hadi wiyono
Flash
Keajaiban Tahajud
hadi wiyono
Cerpen
Penjaga Lembah Seruni
hadi wiyono