Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langit di atas Tokyo sore itu menyiratkan nuansa lukisan cat air yang basah. Semburat jingga dan magenta perlahan larut ke dalam warna nila yang pekat, melebur ke dalam malam yang sesaat nanti datang. Dari jendela kereta Jalur Chuo, Kana memandangi gedung-gedung menyala perlahan, ribuan jendela kecil bak lilin di tengah beton, masing-masing menyimpan seribu cerita. Namun, di dalam gerbong yang berguncang lembut seperti denyut jantung kota, ia merasa seperti satu-satunya orang di dunia ini yang ceritanya telah berakhir di halaman pertama.
Sembilan belas tahun. Usia di mana dunia seharusnya terbentang serupa peta harta karun yang mendebarkan. Bagi teman-temannya, masa depan merupakan serangkaian titik cerah yang bisa dihubungkan: kelulusan, pekerjaan di Marunouchi, apartemen pertama, cinta yang baru. Bagi Kana, hidup berputar seperti lingkaran. Setiap hari menjadi gema dari hari kemarin. Bangun di apartemennya yang sunyi di Nakano, menempuh perjalanan yang sama ke kampusnya di Shinjuku, duduk di kelas sosiologi sambil berpura-pura mencatat, lalu pulang. Baginya rutinitas yang presisi dan mematikan.
Tiga tahun lalu, Ren pergi. Kata ‘pergi’ terasa terlalu sederhana, terlalu jinak untuk menggambarkan lubang hitam yang ia tinggalkan. Ren tidak pindah kota. Ia tidak meninggal dalam kecelakaan tragis. Ia hanya… menghilang. Suatu hari ia ada di sana, tertawa di sampingnya sambil berbagi es krim rasa matcha, dan keesokan harinya ia lenyap. Tidak ada pesan, tidak ada telepon, tidak ada jejak. Seolah-olah alam semesta memutuskan untuk mengeditnya keluar dari eksistensi, dan hanya Kana yang masih memegang naskah aslinya.
Angin musim gugur menyambutnya saat ia melangkah keluar dari stasiun. Dinginnya menembus mantel tipisnya, membuatnya merapatkan syal di leher. Daun-daun ginkgo keemasan menari-nari di trotoar seperti kunang-kunang yang sekarat. Ia melihat sepasang kekasih di depannya, berbagi satu payung meskipun hujan hanya gerimis tipis, jari-jari mereka bertautan. Sebuah pemandangan yang begitu biasa, namun bagi Kana, itu menjadi tusukan kecil yang tajam. Ia menunduk, mempercepat langkahn...