Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kabut di Desa Tirtasari tidak pernah benar-benar ramah. Di balik lebatnya hutan bambu hitam, hiduplah seorang gadis bernama Kirana. Ia bukan sekadar kembang desa biasa; kecantikannya bak pahatan dewa yang turun ke bumi. Kulitnya seputih pualam, bibirnya merah alami seperti kelopak mawar basah oleh embun, dan matanya memancarkan binar magis yang sanggup membuat siapa pun terkesima. Namun, di balik paras sempurnanya, tersimpan rahasia gelap yang membuat warga desa sering kali bergidik ngeri. Kirana adalah anak seorang siluman ular putih penjaga mata air—sebuah takdir darah yang diwariskan ibunya. Meski Kirana tidak berbahaya, stigma dan ketakutan tetap mengakar di hati para tetangga.
Jauh dari kesunyian Tirtasari, di jantung kota metropolitan yang tak pernah tidur, hiduplah seorang pria bernama Vian. Vian adalah pewaris tunggal dari klan mafia drakula paling berkuasa di belahan bumi barat. Ayahnya, Lord Vlad, adalah penguasa malam yang kejam dan disegani, yang mengontrol perdagangan gelap lintas benua. Vian sendiri mewarisi pesona dingin seorang drakula berdarah bangsawan—tampan, bermata tajam kelam, dengan aura intimidasi yang membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut tanpa perlu mengangkat senjata.
Takdir yang mustahil mempertemukan mereka secara tidak sengaja di sebuah lembah perbatasan antara dunia manusia dan dunia bayangan, saat Vian sedang dalam pelarian dari kejaran musuh bisnis ayahnya. Terluka parah dan kehilangan banyak darah, Vian ditemukan oleh Kirana yang sedang mengambil air. Dengan kelembutan hatinya, Kirana merawat luka Vian menggunakan ramuan daun hutan dan air mata putih silumannya.
Pertemuan itu menumbuhkan benih-benih cinta yang terlarang. Vian, yang terbiasa hidup di tengah pengkhianatan dan darah, menemukan ketulusan mutlak dalam diri Kirana. Sebaliknya, Kirana menemukan perlindungan dan kehangatan di balik dekapan seorang pria yang ditakuti dunia. Namun, cinta mereka adalah bensin yang siap membakar dua dunia yang saling bermusuhan.
Badai Penolakan
Berita tentang hubungan Vian dan Kirana menyebar bagai api dalam sekam. Reaksi dari kedua orang tua mereka jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan.
Di singgasana batu hitamnya, Lord Vlad murka bukan kepalang. Ia memanggil Vian ke hadapannya.
"Kau adalah pewaris takhta darahku, Vian!" bentak Lord Vlad dengan suara menggelegar yang memecahkan kaca-kaca jendela kastil. "Beraninya kau mencemari garis keturunan bangsawan kita dengan darah seekor siluman rendahan dari desa terpencil? Manusia setengah siluman tidak memiliki tempat di istana kita!"
Vian menatap ayahnya dengan tatapan dingin yang tidak kalah tajam. "Aku tidak peduli dengan garis keturunan, Ayah. Darahku adalah milikku, dan hatiku milik Kirana."
"Jika kau tetap bersikeras, maka aku akan memastikan gadis itu lenyap dari muka bumi sebelum malam berganti!" ancam Lord Vlad penuh kebencian.
Di sisi lain, ibunda Kirana—siluman ular putih yang menjelma menjadi wanita paruh baya—juga menangis pilu di hadapan putrinya.
"Nak, sadarlah," ucap ibunya sambil menggenggam tangan Kirana erat-erat. "Mereka adalah bangsa drakula, bangsa kegelapan yang hidup dari mangsa dan kekejaman. Dunia mereka bukan dunia kita. Jika kau memaksakan bersanding dengan Vian, kutukan darah murni akan menghancurkan jiwa ragamu perlahan-lahan."
"Ibu, aku mencintainya. Vian berbeda dari keluarganya," jawab Kirana dengan air mata berlinang di pipinya yang merona.
Tekanan demi tekanan datang bertubi-tubi. Kedua belah pihak keluarga mengerahkan segala cara untuk memisahkan mereka. Para pembunuh bayaran drakula dikirim untuk menakut-nakuti Kirana di desa, sementara para tetua siluman mulai merapal mantra penolak bala untuk mengusir Vian setiap kali ia mencoba mendekati Tirtasari. Hubungan mereka berubah menjadi pelarian sembunyi-sembunyi di bawah terangnya rembulan, di mana setiap detik bersama terasa seperti anugerah sekaligus ancaman maut.
Puncak Konflik
Malam itu, bulan purnama berwarna merah darah menggantung sempurna di langit. Lord Vlad kehilangan kesabarannya. Bersama sepasukan pengawal elit drakula, ia mendatangi tepi hutan Tirtasari untuk menculik Kirana dan mengeksekusinya di hadapan Vian.
Suasana desa mendadak mencekam. Kabut tebal berubah menjadi uap beracun. Vian, yang mendapatkan firasat buruk, segera berlari menembus gelapnya malam menuju tempat biasa ia dan Kirana bertemu.
Tepat di bawah pohon tua beringin putih, pasukan drakula telah mengepung Kirana. Ibunda Kirana yang mencoba melindungi putrinya terkapar lemah akibat tusukan belati perak berlapis racun malam.
"Kirana!"teriak Vian dengan suara serak, menerobos barisan pasukan ayahnya.
Lord Vlad berdiri di hadapannya, mencengkeram kerah jubah Vian. "Sudah kubilang, Vian! Gadis ini adalah kelemahanmu, dan kelemahan harus dimusnahkan!"
"Jika kau membunuhnya, bunuh aku sekalian, Ayah!" Vian menatap tajam mata ayahnya tanpa setitik pun rasa takut.
Kirana, yang melihat Vian terancam dan ibunya yang sekarat, merasakan energi siluman di dalam tubuhnya bangkit secara liar. Matanya berubah menjadi putih berpendar, dan desisan ular menggema dari suaranya. Cinta yang begitu besar pada Vian memberikan kekuatan luar biasa yang melampaui batasan takdir ras mereka.
Dengan sekali kibasan tangan, gelombang energi magis putih meledak, memukul mundur seluruh pasukan drakula dan membuat Lord Vlad terdorong ke belakang.
"Vian... bawa aku pergi dari sini," bisik Kirana dengan sisa tenaganya, sebelum ia jatuh pingsan di pelukan Vian.
Pelarian Menuju Negeri Antah Berantah
Sadar bahwa tidak ada tempat lagi di dunia ini bagi cinta mereka—baik di dunia manusia, dunia siluman, maupun dunia drakula—Vian mengambil keputusan paling nekat seumur hidupnya.
Ia menggendong Kirana yang tak sadarkan diri, lalu berlari sekencang angin malam menuju jurang terlarang di ujung dunia, tempat di mana portal menuju Negeri Antah Berantah—sebuah dimensi terlupakan yang tidak terjamah oleh hukum dewa maupun iblis—berada.
Lord Vlad dan pasukannya mengejar hingga ke tepian jurang. "Vian! Kau akan tersesat selamanya di dimensi kosong! Kau tidak akan bisa kembali!" teriak Lord Vlad murka.
Vian menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia mengecup kening Kirana yang pucat, lalu tersenyum tipis. "Di sana, di negeri antah berantah, tidak ada ayah yang kejam, tidak ada desa yang menghakimi, dan tidak ada kutukan darah. Kami akan hidup merdeka."
Tanpa ragu sedikit pun, Vian melompat membawa Kirana menerobos tirai kabut dimensi antah berantah, menghilang dari pandangan dunia untuk selama-lamanya.
Awal Kebahagiaan di Tanah Baru
Kabut putih yang pekat perlahan memudar, berganti dengan hamparan padang rumput berkilau keemasan di bawah naungan langit senja yang abadi. Tidak ada matahari yang terik, tidak ada bulan sabit darah yang menakutkan; yang ada hanyalah kedamaian mutlak yang menyelimuti seluruh alam.
Kirana membuka matanya perlahan. Ia mendapati dirinya berbaring di atas rerumputan yang lembut, berhiaskan bunga-bunga liar berwarna pirus yang memancarkan cahaya lembut. Di sisinya, Vian duduk menjaga dengan senyuman hangat yang belum pernah terlihat di wajahnya selama ia hidup di dunia lama.
"Di... di mana kita?" tanya Kirana dengan suara lirih, sambil memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.
"Kita di rumah, Kirana," jawab Vian lembut, meraih tangan gadis itu dan mengecup jemarinya. "Kita berada di negeri antah berantah. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Kirana bangkit dan memeluk erat tubuh Vian. Air mata kebahagiaan akhirnya tumpah, bukan lagi karena kesedihan atau ketakutan, melainkan karena kelegaan yang luar biasa. Di tempat baru ini, latar belakang mereka sebagai anak siluman dan pangeran drakula kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang saling mencintai, merajut takdir baru di atas tanah yang bebas dari segala prasangka dunia.