Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Cermin Kegelapan
2
Suka
7,064
Dibaca

 

Malam itu pekat, tanpa cahaya bulan menembus tirai awan tebal yang menggantung di atas Hutan Cemara. Di dalam rumah terpencil yang berdiri sendiri di tepi hutan itu, Clara terbangun. Bukan oleh dering jam alarm yang biasanya menyentakkannya dari mimpi, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih halus, namun jauh lebih meresahkan: sebuah bisikan. Bukan bisikan kata-kata, melainkan bisikan keberadaan. Suara aneh, gesekan pelan, seperti langkah kaki yang diseret, datang dari lantai bawah.

Jantung Clara langsung berpacu, memukul rusuknya seolah ingin melarikan diri. Dia tinggal sendirian di rumah ini sejak orang tuanya pindah ke kota lain beberapa bulan lalu. Sebuah rumah warisan yang seharusnya menjadi tempat nyaman, kini terasa dingin dan luas, penuh dengan sudut-sudut gelap yang menyimpan bayangan. Ketakutan pertamanya, yang paling rasional, adalah maling. Kota kecil tempat dia tinggal, Windfall Creek, jarang sekali terjadi kejahatan serius, tapi insiden kecil seperti pembobolan rumah sesekali terjadi.

Dia menahan napas, telinganya menajam. Suara itu berulang, lebih jelas kali ini. Gesek… gesek… seperti sesuatu yang berat diseret di atas lantai kayu ruang tamu. Clara meraih ponselnya di nakas, tangannya gemetar saat mencari ikon senter. Cahaya putih pucat menyinari kamarnya, menyingkirkan bayangan di sudut. Dia memaksa kakinya turun dari ranjang, merasakan dinginnya lantai kayu di telapak kakinya. Setiap serat kayu berderit di bawah bobotnya, suaranya terasa begitu keras di keheningan malam.

"Siapa di sana?" suaranya serak, nyaris tak terdengar. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan, diperparah oleh detak jantungnya sendiri yang menggila.

Dia melangkah perlahan menuju pintu kamarnya, mendorongnya sedikit. Ruang tamu di lantai bawah tampak gelap gulita. Hanya ada celah cahaya remang-remang dari jendela dapur yang terbuka sedikit, membiarkan angin malam berembus masuk, membawa serta aroma pinus dan tanah basah. Clara menelan ludah, otaknya berteriak untuk tetap di kamar, mengunci diri. Tapi rasa ingin tahu, atau mungkin naluri pertahanan diri yang primitif, mendorongnya maju. Dia harus tahu.

Senter di tangan kirinya, memancarkan lingkaran cahaya yang menari-nari di dinding, Clara mulai menuruni tangga. Setiap anak tangga terasa seperti jebakan. Derit kayu di bawah kakinya bagai jeritan pelan yang menggaung di seluruh rumah. Di setiap bayangan, dia membayangkan sosok mengintai, sepasang mata mengawasinya dari kegelapan. Sensasi dingin yang aneh ini, bukan hanya dinginnya malam, melainkan sensasi dingin yang lebih dalam, merayapi tulang punggungnya. Ini bukan sekadar maling. Ini… sesuatu yang lain.

Ketika kakinya menapak di lantai dasar, suara gesekan itu berhenti. Hening. Clara mengarahkan senternya ke ruang tamu. Sofa-sofa tertata rapi, meja kopi di tengahnya, perapian yang dingin. Semuanya tampak normal. Dia menghela napas lega, namun napas itu tertahan di tenggorokannya.

Di tengah karpet Persia tua yang memenuhi lantai ruang tamu, sebuah benda aneh tergeletak. Lingkaran cahaya senter Clara menyinarinya. Itu adalah sebuah boneka anak-anak.

Bukan boneka miliknya. Clara yakin. Dia tidak pernah memiliki boneka seperti itu. Boneka itu duduk tegak, kaki ditekuk, tangan terlipat di pangkuan. Pakaiannya lusuh, gaun kapas biru yang pudar. Wajahnya terbuat dari porselen retak, dengan mata biru yang besar, namun kosong, menatap lurus ke arahnya. Senyum tipis yang terukir di bibir boneka itu tampak menyeramkan di bawah cahaya senter yang bergetar.

Napas Clara tercekat. Bagaimana boneka ini bisa ada di sini? Jendela-jendela terkunci dari dalam, pintu terkunci. Dia merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Ini bukan pekerjaan maling. Maling akan mencari barang berharga, bukan meninggalkan boneka usang. Ini adalah pesan. Sebuah ancaman.

Ketakutan yang dingin dan mencengkeram merayapi setiap inci tubuhnya. Dia mundur selangkah, pandangannya terpaku pada mata kosong boneka itu. Seolah-olah b...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp16.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Cermin Kegelapan
Christian Shonda Benyamin
Novel
Gold
Spooky Stories: Bloody Mary
Noura Publishing
Flash
Bronze
Mistik
Rere Valencia
Cerpen
Sang Pembisik
DMRamdhan
Skrip Film
Sihir Marongge
Vitri Dwi Mantik
Novel
Bronze
Jendral & Sang Pendengar
Karma
Cerpen
VUDU
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
AMIRA
Gie_aja
Flash
Kamuflase Sang Kupu-Kupu
Anita Jun
Novel
Dead Girl's Diary
Roy Rolland
Flash
Tumbal Tambal
SURIYANA
Novel
Bronze
Gadis Kecil Dalam Cermin
Azeela Danastri
Flash
Bronze
Diperbudak
Omius
Cerpen
Bronze
Ternyata istriku psikopat
Chiavieth Annisa06
Novel
Gold
Fantasteen Deadly Claws
Mizan Publishing
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Cermin Kegelapan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ruko Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kacamata Paman
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Labirin Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pintu Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Diri
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Siapa Tamu Rumahku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Panggilan 13
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Yang Tersisa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Paranoid
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bidan Sofia
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aroma Kopi Di Bangunan Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Guru BU Ratmi
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sahabat Backpacker Ku
Christian Shonda Benyamin