Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
CERITA TRAUMA LILA
0
Suka
200
Dibaca

Surabaya, Desember 2014

Lila menatap notifikasi WhatsApp di layar ponsel. Sahabatnya, Ningsih, baru saja mengirim pesan.

Lila sudah menyiapkan diri sejak Rian dan Iva bertunangan. Tapi saat jemarinya menekan layar dan membaca kalimat itu, semuanya terasa berbeda: "Lil, Rian dan Iva akan menikah bulan ini. Aku pikir kamu harus tahu."

Jantung Lila terasa seperti sebuah benda berat yang terlepas di dalam dadanya. Ia tidak membalas. Ponsel dijatuhkan ke sofa, dengan layar masih menyala. Pikirannya kosong. Udara apartemen seolah mencekik. Lila meraih kunci mobil, melompat keluar seolah melarikan diri dari kebakaran, dan mengemudi tanpa arah. Lila hanya tahu harus pergi dari sana.Selama beberapa waktu, Lila menyusuri jalanan kota yang padat. Lampu-lampu hias Natal seolah mencibir. Lila menekan pedal gas, berusaha menyamai kecepatan putaran di dalam dadanya.

Dari balik kemudi, Lila melihat keluarga-keluarga tertawa, sepasang kekasih berpegangan tangan. Kontras dengan mata yang terasa panas dan basah di balik kaca mobil.Ketika akhirnya Lila melambat di persimpangan sepi, matanya menangkap sebuah plang kecil. Nomor telepon dan beberapa huruf, menawarkan jalan pulang yang Lila pikir tidak pernah ada.

Seminggu kemudian, Lila sudah duduk di ruang tunggu, menindaklanjuti janji temu yang dibuat setelah menghubungi nomor yang ia lihat di persimpangan.

"Lila Theresia Widyanti…"

Lila menegakkan tubuh. Perlahan melangkahkan kaki menuju ruangan yang belum pernah ia kunjungi. Dinginnya telapak tangan dan detakan jantung tak beraturan menemaninya hingga depan pintu. Saat pintu dibuka, wangi lavender menampar hidungnya. Seketika, ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Senyuman hangat Bu Ranti menyambut.

Bu Ranti, dengan rambut putih yang tertata rapi dan mengenakan kacamata bingkai tipis, tampak sejuk. Ruangan itu, meskipun berada di tengah hiruk pikuk kota besar, terasa seperti oasis yang sunyi. Beliau mengenakan setelan kasual elegan. Di atas meja kayu kecil di antara sofa yang empuk, secangkir teh hangat mengepul pelan.

"Halo, Lila. Silakan duduk yang nyaman," suara Bu Ranti lembut, tenang dan tanpa nada tergesa-gesa.

"Lila bukan asli sini, ya. Sudah berapa lama tinggal di sini?"

"Iya, Bu. Saya sudah setahun lebih tinggal di sini," jawab Lila sambil menghindari tatapan Bu Ranti.

"Baik... ingin cerita apa nih, Lila?"

"Saya... saya bingung mulai dari mana, Bu," suara Lila bergetar.

"Saya datang karena sudah merasa hancur. Saya terlambat tahu kalau pria yang sangat saya cintai sudah bertunangan dan akan menikah bulan ini."

Bu Ranti menganggguk pelan, tatapannya penuh perhatian.

"Dan pria yang kamu cintai itu, apa Lila bersedia memberitahu siapa namanya?"

Lila menundukkan kepala dan memilin bagian ujung bajunya.

"Rian, Bu. Namanya Rian," suaranya bergetar lirih seolah setiap huruf membawa beban duka yang mendalam.

Lila menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, seperti menahan ombak yang siap menerjang.

​"Tentang Rian,” ujar Bu Ranti dengan nada tenang. “Mari kita coba mengeksplorasi lebih jauh tentang hubungan kalian.”

​Tatapan lembut Bu Ranti memancarkan ketenangan layaknya permukaan danau yang tak beriak, isyarat bahwa ia siap mendengarkan penuh perhatian.

​Lila pun, mulai merangkai kata, perlahan membuka bendungan kenangan tentang Rian. Genangan air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, tapi ia berusaha menahannya agar tidak menjadi sungai.

”Rian adalah kesempatan yang tidak bisa saya ambil dalam hidup saya sendiri. Dia adalah kesempatan bagi saya untuk memilih hubungan yang sehat, untuk jujur pada diri sendiri. Namun, saya terus-menerus memilih kembali pada pacar saya, Ardi. Selama bertahun-tahun.”

​Bu Ranti terdiam sejenak, raut mukanya menunjukkan kesedihan yang mendalam lalu menggenggam tangan Lila dengan lembut.

”Ibu mengerti, Nak. Pasti tidak mudah bagimu.”

​”Tanpa disadari kami malah jadi saling menyakiti satu sama lain, bahkan ada orang lain yang ikut terseret dan juga tersakiti dalam cerita kami. Saya senang sekarang Rian sudah bahagia, tapi ada penyesalan yang saya rasakan."

​Aroma lavender yang lembut sejenak terasa menusuk dan memberatkan, seolah mengingatkan Lila bahwa kedamaian itu palsu, hanya permukaan air yang tenang sebelum badai sesungguhnya datang.

Bu Ranti menatap Lila dan berkata pelan, "Lila, saya ingin bertanya, apa hubunganmu dengan Ardi membuatmu merasa aman?"

Lila terdiam, pertanyaannya itu menusuk tepat di tempat yang selama ini ia hindari.

"Sebetulnya..." Lila menarik napas, "Saya sering merasa tidak baik-baik saja, Bu, tapi saya takut mengambil keputusan yang berbeda."

Bu Ranti mengangguk pelan, "Apa yang membuatmu takut dan selalu kembali pada Ardi ? Apakah Lila takut meninggalkan sesuatu yang sudah lama kamu pertahankan ?"

Lila kembali menunduk, memilin ujung bajunya.

"Saya merasa bersalah, Bu. Dulu saya merasa jahat ketika saya dan Ardi LDR tapi saya malah punya perasaan ke Rian."

Lila terdiam sejenak, bayangan masa kecil kembali menghantuinya.

"Bapak saya juga pernah diselingkuhi Ibu waktu saya kecil, dan Bapak memaafkan. Saya pikir saya harusnya menjadi seperti Bapak, bukan Ibu. Ketika akhirnya Ardi berselingkuh bahkan berkali-kali, saya harus memaafkan..."

"Padahal ada Rian yang selalu hadir menawarkan kesempatan untuk memilih jalan berbeda, tapi saya terlalu takut. Terlalu merasa bersalah karena Ardi selalu bilang kalau saya pergi, saya tidak ada bedanya dengan ibu saya."

Bu Ranti menggeser posisi duduknya sedikit, postur tubuhnya menunjukkan fokus penuh. Pandangannya yang lembut tertuju pada Lila.

"Lila, dari semua yang kamu ceritakan, saya melihat benang merah yang sangat jelas," suara Bu Ranti tenang.

"Kamu menceritakan bagaimana bapakmu memaafkan ibumu, lalu kamu merasa harus memaafkan Ardi. Lalu tentang Rian yang kamu anggap mewakili keinginanmu akan pilihan yang berbeda. Namun, ketika Ardi menyamakanmu dengan ibumu, itu mengunci ketakutanmu? Pola ini kuat sekali, Lila."

Lila mendongak cepat, menahan air mata.

Kata-kata Bu Ranti menohok, tepat sasaran.

“Iya, Bu… Selain itu, Ardi juga sering bilang: buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, saat saya mencoba mengakhiri hubungan dengannya. Kalimat itu semakin mengunci ketakutan saya untuk pergi.”

"Ardi bahkan pernah berkata," Lila menelan ludah, suaranya tercekat. " 'Kamu pikir kamu benar-benar pantas diterima oleh Rian atau laki-laki lainnya? Kamu sama saja seperti ibumu. Setelah kamu bersamanya, apa kamu yakin tidak akan ada pria lain? Apa kamu yakin Rian bisa terima ketika kamu menjadi seperti ibumu? Cuma aku Lila yang bisa benar-benar terima kamu.' ”

​Kalimat terakhir Lila menggantung di udara, penuh rasa malu dan ketakutan yang dalam. Bu Ranti menarik napas lembut, pandangannya teduh sebelum berujar.

"Lila, bapakmu memaafkan ibumu. Itu adalah pilihan kebaikan bapakmu. Itu adalah hadiah yang ia berikan. Tapi, kamu tidak perlu menjadikannya hukuman untuk dirimu sendiri. Kamu tidak harus memikul beban yang seharusnya milik orang tuamu."

"Di sini, hari ini, kita belajar memisahkan. Memisahkan pilihan ibumu dari identitasmu. Dan memisahkan kebaikan bapakmu dari kewajibanmu.”

Tarikan napas Lila memenuhi ruangan. Bu Ranti tersenyum menenangkan dan menatap jam.

"Waktu kita habis untuk hari ini, Lila. Terima kasih sudah berani datang. Ini adalah langkah pertama yang paling besar."

Seminggu berlalu. Selama tujuh hari itu, kata-kata Bu Ranti terus berputar di kepala Lila: ”Kamu tidak harus memikul beban yang seharusnya milik orang tuamu."

Malam sebelum kembali bertemu Bu Ranti, Lila menghabiskan waktu dengan membuka album foto lama. Lila mencari wajahnya yang berusia dua belas. Ia menatap ulang kenangan yang tersimpan dalam foto, mencoba memahami kebingungan dan ketakutan di mata Lila yang lebih muda.

Lila melangkah kembali ke ruang Bu Ranti dengan detak jantung yang sedikit lebih teratur, meskipun tangannya masih dingin.

"Halo, Lila. Senang kamu kembali," sapa Bu Ranti. "Bagaimana kabar Lila?"

"Cukup berat, Bu. Saya jadi banyak merenung. Saya sadar, selama ini saya seolah hidup dengan suara bapak yang memaafkan, tapi saya lupa mendengarkan suara saya sendiri yang terluka saat itu."

"Itu adalah pemahaman yang luar biasa, Lila. Minggu lalu saya meminta Lila untuk mengingat perasaanmu saat usia 12 tahun. Tutup matamu sejenak. Bawa dirimu kembali ke rumah itu. Usia 12 tahun."

Lila menutup mata. Perlahan terdengar detak jam dinding tua di ruang tamu, tok-tok-tok, satu-satunya suara di tengah keheningan yang menguasai rumah. Dingin menjalar di lantai. Lila mencari ibunya di ruang tamu. Sofa itu kosong, bapak hanya menunjuk ke luar, dengan mata sembap yang belum pernah Lila lihat sebelumnya.

"Ibu sedang pergi, Nduk."

Dinding pertahanan Lila runtuh. Di hadapan Bu Ranti, ia kembali menjadi Lila berusia dua belas tahun, terjebak di rumah yang dipenuhi suara-suara pertengkaran yang merobek rasa aman.

"Saya tahu kamu berhubungan dengan dia…" ucapan Bapak itu kembali terngiang, mencekik napas Lila kecil.

Ia terseret ke malam ketika pertengkaran mencapai puncaknya. Isak tangis Bapak pecah di hadapan Ibu yang akhirnya pulang, namun tetap bertahan pada dalih-dalihnya. Malam itu, kebenaran tak lagi bisa disembunyikan: hubungan Ibu dengan ayah teman sekolah Lila terkuak.

“Saya marah… saya benci Ibu… Ibu sempat meninggalkan saya sendirian. Saya takut…” bisikan Lila kecil itu kini bergema di ruangan, keluar dari bibir Lila dewasa dengan suara bergetar.

“Saya harus jadi pemaaf, seperti Bapak, agar keadaan selalu baik-baik saja,” ucapnya lirih, menahan air mata.

“Saya tidak mau menjadi seperti Ibu yang menyakiti Bapak.”

Bu Ranti membiarkan keheningan bekerja. Beliau tahu, Lila kecil telah membuat sumpah sunyi, untuk menjadi kebalikan dari ibunya.

Dengan suara lembut, Bu Ranti menjelaskan,

“Lila kecil mengambil beban yang terlalu besar untuk pundak sekecil itu. Tapi itu adalah cara bertahan hidup yang luar biasa saat itu. Ia melakukan semua itu agar kamu merasa aman.”

Lila mengangguk pelan. Matanya kosong, seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini ia bawa tanpa sadar. Pola itu terus ia ulang, hingga masuk ke hubungannya dengan Ardi.

Bu Ranti menutup sesi itu dengan menyingkap inti luka yang selama ini mengikat Lila. Keterikatannya pada Ardi bukanlah cinta. Itu adalah kebutuhan Lila kecil untuk merasa aman dan untuk tidak dianggap sama dengan ibunya.

Dua minggu merangkak berlalu. Lila menghentikan kontak dengan Ardi. Keputusan itu datang dengan kesadaran yang pahit, namun membebaskan.

Lila memasuki ruangan Bu Ranti. Ia duduk tegak di hadapan Bu Ranti, dan senyum yang tersungging di bibirnya terasa lebih lebar.

“Selamat pagi, Lila. Kamu terlihat lebih tenang hari ini,” sapa Bu Ranti.

“Pagi, Bu Ranti. Ya.” Lila mengangguk, jari-jarinya santai di pangkuan, tidak lagi saling meremas atau memilin ujung bajunya.

“Saya sudah memblokir semua kontak Ardi. Rasanya… seperti ada beban seberat batu yang tiba-tiba hilang dari bahu saya.”

Mendengar pengakuan Lila, Bu Ranti tersenyum lembut. Tatapannya penuh kehangatan dan pengertian, seolah memahami perjalanan emosi yang telah dilalui Lila.

“Lila sebenarnya sudah tahu jawabannya,” ujar Bu Ranti pelan.

“Selama ini kamu terus berada dalam hubungan yang membuatmu sibuk membuktikan diri, entah dengan memaafkan, atau dengan merasa kurang. Itu bukan kebutuhanmu yang sekarang.”

Ia menatap Lila dengan hangat.

“Berhentilah mencari rasa aman dari siapa pun. Baik dari Ardi, maupun dari Rian.”

“Mulailah dengan satu hal yang sederhana,” lanjutnya.

“Jadilah sahabat terbaik bagi dirimu yang berusia dua puluh empat tahun. Pilih dirimu sendiri.”

Isakan Lila pecah, kali ini bukan karena kehilangan, melainkan pemahaman. Ia menyadari betapa sering ia melukai dirinya sendiri, juga Rian dan Iva. Namun, ada ketenangan sunyi saat mengetahui mereka akhirnya menikah.

Meskipun perasaan tenang mulai muncul, bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya pergi. Lila memegang pelipisnya, dan bisikan ketakutan kembali terdengar.

“Sebenarnya saya takut melanggar hukum yang saya buat di usia dua belas tahun,” gumamnya.

“Hukum tak tertulis itu berbunyi: Saya tidak akan pernah menjadi egois dan menyakiti orang lain demi kebahagiaan saya sendiri.”

Ia menarik napas pelan.

“Inilah mengapa saya memilih kembali pada Ardi saat pertama kali sadar bahwa saya punya perasaan pada Rian. Dan di kemudian hari, ketika Rian sudah bersama Iva tapi rela meninggalkannya, saya justru menolaknya, meski sesungguhnya saya sangat mencintai Rian,” akunya lirih.

“Saya pikir… jangan sampai ada yang merasakan sakit seperti Bapak karena saya.”

Lila memilih menjadi pahlawan bagi orang lain, alih-alih menjadi perempuan yang sehat bagi dirinya sendiri.

Bu Ranti menatapnya dengan lembut, lalu menegaskan, “Lila, strategi bertahan hidup yang kamu buat di usia dua belas tahun itu sudah kedaluwarsa. Pembebasan tidak datang dari mengorbankan diri demi orang lain, tapi dari berani memprioritaskan dirimu sendiri.”

Kini, Lila mulai mampu memprioritaskan dirinya. Ia berani memblokir Ardi, dan berani melepaskan tuntutan untuk selalu menjadi pemaaf yang sempurna. Nilai dirinya tetap utuh, tidak lagi bergantung pada siapa yang ia pilih.

Tentu saja, trauma itu tidak langsung sembuh dalam hitungan minggu. Namun tiga pertemuan itu telah membuka jalan yang kini harus Lila tempuh ke depannya.

Beberapa jam kemudian, Lila duduk di kursi salon. Wajahnya di cermin tampak berbeda. Ia menyadari, ia tidak lagi membutuhkan rambutnya yang panjang.

“Pendek, ya, Mbak. Sebahu,” katanya mantap.

Saat gunting besar mulai memotong, beban itu seolah ikut terlepas. Lila menatap pantulan dirinya: rambut baru, wajah baru. Lila yang utuh. Siap menghadapi dunia tanpa tameng, dan perlahan melepaskan beban masa lalu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Spidol Biru
Ralali Sinaw
Flash
Awan
Hariz Rizki
Flash
Mengingat Luka
Anisah Ani06
Flash
Bronze
Lima Cangkir Kopi dan Satu Rahasia
sabrina
Flash
Menjamu Tamu
Bella Paring Gusti
Cerpen
Tertekan
Quat Rain
Cerpen
Satu Janji di Bryant Park
Dian Y.
Cerpen
Bronze
Jika Miskin, Meski Saudara Tidak Akan Kasihan
Yovinus
Cerpen
CERITA TRAUMA LILA
ibupertiwi
Flash
KOSONG
Gusty Ayu Puspagathy
Flash
You Ain't Perfect But I Still Want You
d Curly Author
Flash
Nicotiana Tabacum
Keyda Sara R
Flash
ToxiC
Art Fadilah
Flash
Bronze
Jangan Pergi
Safitri
Flash
Bronze
Lelaki Pembuang Jam (Membicarakan Adam 4)
Silvarani
Rekomendasi
Cerpen
CERITA TRAUMA LILA
ibupertiwi
Cerpen
Antara Rindu dan Nama yang Lain
ibupertiwi
Cerpen
RESCUE
ibupertiwi
Cerpen
Begalan di Hari Bahagia
ibupertiwi
Novel
Setengah Dekade Cinta
ibupertiwi
Novel
Lima Tahun dalam Lingkaran Desember
ibupertiwi
Cerpen
DUA PULUH HARI YANG TERLEWAT
ibupertiwi