Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Cerita Lula
0
Suka
57
Dibaca

Lula berjalan menelusuri ruangan kerjanya dengan semangat yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Langkah kakinya tegak, senyum lepas, menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya, matanya memandang penuh percaya diri. Dia tetap bahagia bekerja sebagai honorer, walaupun pikirannya dipenuhi pertanyaan, kapan dia bisa menjadi bagian dari kantor ini sebagai aparatur yang sah. Memiliki hak yang sama seperti rekan kerja lainnya.

Honorer seperti dirinya, juga seperti temannya yang lain. Pasti tidak akan banyak menuntut. Rela mengerjakan apa saja yang didelegasikan. Patuh jika harus bekerja diluar jam kantor. Tidak boleh menolak, karena penolakan adalah pembangkangan. “Kita sebagai honorer. Masih anak bawang. Jangan banyak maunya. Yang penting patuh dan perlihatkan kalau kita loyal dan rajin.” Kata-kata itu sudah menjadi wejangan dan kalimat sakral, yang wajib dipatuhi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tapi kalimat sakral itu, sudah ada, dan selalu diucapkan oleh honorer, dan pegawai negeri sipil senior lainnya. Makanya disebut sakral. Kalimat sakral yang lain. “selama apapun, jadi honorer, lama-lama akan diangkat juga, akan menerima SK juga. Kuncinya, mau nggak bersabar.”

Kalimat-kalimat sakral itu, menjadi peneguh hati, dikala goyah, ketika pendapatan yang diterima, tidak sesuai dengan beratnya pekerjaan yang dilakukan. Apalagi, kalau dibandingkan dengan dengan rekan kerja yang telah menerima SK sebagai PNS.

Walaupun cuaca pagi tidak selalu cerah, karena hujan atau raja kelana yang ingin ribut mengamuk. Aktivitas pagi akan sering disambut dengan rasa senang, dan ceria, oleh Lula. Tidak mengapa, menghadapi aktivitas yang tiada berbeda. Yang penting kaki jenjangnya, tetap mengayuh langkah demi langkah menelusuri koridor yang berukuran tidak lebih dari satu setengah meter lebarnya itu. Suasana muram lorong sempit itu, pasti menyambutnya dengan lagu sendu, karena minimnya pencahayaan, untuk membuat mata lebih jernih memandang setiap detail koridor yang dilalui.

Walaupun dilalui setiap hari. Tidak ada yang berniat untuk memperjelas warna cat dinding koridor itu, agar menjadi lebih cerah. Biar jelas, perbedaan antara pagi, siang, dan sore. Padahal cukup mengganti lampu dengan yang lebih terang, biar hilang unsur horornya.

Ruangan kerja, yang terdiri dari kursi, meja biro yang telah ada, sebelum dirinya diangkat menjadi pegawai honorer. Bahkan di sudut benda-benda itu tertulis di secarik label kecil tahun berapa peralatan itu diperoleh. Sebagian yang sudah ada, terletak di tempat itu, sebelum dirinya melihat dunia ini. Sudah tua sekali, dan lapuk dimakan usia. Dua unit mesin tik tergeletak manis di atas meja kerja itu. Salah satunya masih terselip kertas, dengan dilapisi karbon sebagai salinan dokumen yang tengah diketik. Ketika memasuki masa sibuk bekerja, mesin tik itu berbunyi sahut sahutan. Tik, tik, tik, tik. Bunyi itu melekat di telinga sampai terbawa pulang kerumah, bunyi tik, tik masih saja mengganggu.

Ruangan itu, yang berukuran lima kali empat meter persegi, dimuati enam orang pegawai seperti dirinya. Disamping meja kerjanya, ada pintu lemari yang dijadikan batas, antara ruangan kerja staf, dengan ruangan atasan. Ya. Hanya bersekat dengan lemari, demi lemari. rak demi rak yang berdesak desakan. Tumpukan dengan dokumen dan file-file hasil kerja mereka dalam beberapa tahun ini. Hanya menyisakan sedikit ruang, yang cukup diisi untuk empat orang. Artinya ruangan atasan sudah termasuk ruangan rapat bagi kepala bidang untuk berdiskusi. Bisa dibayangkan betapa sempit dan sesak.

Lula tidak mempermasalahkan itu. Mengenakan seragam, dan berdandan ala wanita karir saja, dia sudah bangga. Dia sengaja memilih sepatu hak tinggi, agar setiap ayunan kakinya, akan diiringi bunyi kap, kap, kap, yang bersumber dari rongga sepatu dibagian tumit, yang sengaja dibuat tinggi. Warna sepatu dan tas harus senada, kalau perlu jenamanya pun harus sama. Sepatu keluaran cibaduyut, tas pun harus cibaduyut. Senyumnya tambah manis karena dihiasi gincu Hare dari mekah, oleh-oleh jamaah yang pulang dari haji. Makin dioles semakin keluar warna merah meronanya. Wajah flawless, seperti kulit bayi, hasil dari salon yang sudah menjadi langganan setiap bulan. Lula terkenal dan dikagumi karena wajah baby face nya, ditambah lagi dengan gaya yang manja dan centil.

Gadis manis, kulit sawo matang, mata bening dengan rambut yang selalu terurai sebahu itu, tidak pernah tidak tersenyum sepanjang harinya. Tidak pernah membuat orang disekeliling, tidak suka dengannya. Supel, lincah, semangat, ceria sudah menjadi ciri khasnya. Hanya beberapa ibu-ibu dan pegawai yang masih single yang merasa tersaingi karena kehadirannya. Selain itu semua ingin dekat-dekat dengan Lula. Lula sudah menjadi pusaran bumi di dinas itu.

Lula sudah mengabdi selama delapan tahun sebagai tenaga honorer. Dia tidak peduli dengan ergonomis. Apa itu ergonomis, mendapat kursi dan meja kerja saja sudah bersyukur. Di dinas lain banyak pegawai yang tidak mendapatkan kursi. Kalau ingin duduk, terpaksa harus bawa kursi dari rumah, atau membeli kursi plastik. Hal pokok baginya Lula, yaitu secepatnya diangkat dan, menerima Surat Keputusan pengangkatan menjadi pegawai negeri sipil. Secarik kertas yang bertanda tangan bupati, yang menyatakan sudah seratus persen menjadi aparatur negara, memiliki hak yang setara dengan rekan kerja lainnya. Lula juga bermimpi dengan kejelasan karir dan mendapat pensiun, sebagai jaminan hari tua, di tempat dia bekerja dengan istilah mengabdi.

&&&&

Tiba-tiba kantor itu, di buat shock oleh kedatangan seorang wanita paruh baya. Dia mengenakan dress mahal yang memperlihatkan kelas dan statusnya. Kukunya berwarna merah marun dilapisi inai Henna dari tanah suci. Pergelangan tangan kiri dan kanannya, dipenuhi oleh perhiasan, sengaja dipakainya yang paling mahal, untuk memperjelas dan membedakan statusnya. Mido warna emas, alat penunjuk waktu, dimana sekali kita memandang jam tangan itu, orang-orang sudah tahu, itu barang mahal. Sebelah lagi dihiasi dengan gelang emas berkarat 99.99%, emas padu. Pun jari jemarinya pun menonjol dengan cincin blue diamond mungil, tapi menyilaukan mata.

Kata Hendra, dia istri bapak kadis. Kedatangannya ke kantor, kali ini cukup menyentakkan. Bukan penampilan saja yang membuat para pegawai terkesima, karena tidak biasanya, tapi karena berita yang dibawanya. Dengan gaya jemawanya yang khas sebagai istri seorang pejabat tinggi, sikap ganas telah menyihir mata dan telinga orang-orang disekeliling. Setengah berteriak. dia memanggil, untuk mengumpulkan anak buah suaminya keruangan rapat, cukup membuat jantung pegawai berdegup kencang.

“Ada apa ini?”

“Kalian tau, sama siapa Lula bunting. Ah perempuan gatal itu mencoba menggoda suami orang. Apa dikiranya dia bisa menjadi istri pejabat?” Nyaris matanya hampir keluar karena melotot dan menahan amarah.

Pegawai yang ada di ruangan itu, melirik satu sama lain. kaget sampai terguncang.

“Tidak mungkin, tidak mungkin suami ku membuntinginya? Lanjut sang istri pejabat itu, memendam kesedihan dan kekecewaan.

Belum sempat debaran jantung melambat menuju normal, sudah dikejutkan lagi dengan berita kehamilan Lula yang tiba-tiba, ditambah lagi mengandung anak pak kepala dinas.

“Perempuan sialan itu, mengaku-ngaku mengandung anak suamiku. Tidak mungkin. Bapak sudah lama, menderita penyakit diabetes.”

“Ya bu, kami tahu bapak sudah lama sakit diabetes.” Salah seorang dari mereka menjawab, sebagai tanda kalau mereka menyimak. Dia berusaha membuat suasana menjadi sedikit cair.

“Bapak sudah lama hilang keperkasaannya. Tidak pernah lagi menggunakannya. Mana mungkin dia menyentuh perempuan genit itu.”

“Ya bu.”

“Sekarang dimana perempuan itu?”

“Dia sudah beberapa hari ini tidak masuk kantor. Sakit, ada surat sakitnya.”

“Oh, sakit?” Ujar wanita itu dengan lirih tanpa menurunkan kesombongannya.

“Awas saja kalau dia berani masuk kantor. Honorer kok belagu.” Sambil berdiri dia berjalan dan berlalu, meninggalkan bawahan suaminya dalam kebingungan. Istri bapak kadis lupa mengucapkan mukadimah dan salam penutup di ruangan rapat itu.

Kalau diperhatikan, kurun waktu sebulan ini, Lula memang terlihat loyo, dan tidak bersemangat. Tubuhnya tidak lagi semok, seperti sedia kala, dia semakin kurus, dan pucat saja. Kalau datang pagi, sering terlihat mual bahkan sampai muntah di toilet. Apalagi kalau mencium bau makanan yang mengandung bawang. Kejadian aneh ini, tidak ada seorang pun, yang sadar dan pengambil peduli. Mereka mengira Lula hanya masuk angin biasa. Sampai kedatangan istri kepala dinas menjelang siang itu, mengubah pandangannya tentang Lula. Lula yang baby face, manja, polos tampak seperti tidak paham apa-apa, kenapa berbuat begitu. Semua tidak menyangka.

Siapa yang tau? walaupun semua dekat dengan Lula, tetapi tidak sampai mengulik keseharian Lula, sampai menanyakan siapa pacar Lula. Semua pegawai dekat dengan Lula, tidak nampak Lula memiliki seorang kekasih. Bahkan ada yang berniat menjodohkan Lula dengan salah satu pegawai yang baru lulus menjadi pegawai negeri sipil.

Perhatian kini tertuju pada Hamdan. Hamdan adalah staf golongan II, yang sering ditugasi mengantarkan surat-surat dinas. Lula juga sering ikut Hamdan, berkeliling mengantarkan surat ke dinas-dinas. Bahkan Hamdan sering di bawa menemani kadis dinas keluar kota ataupun luar daerah. Lula sering ditugasi pak kadis membawa map dan dokumen kadis jika mereka pergi keluar untuk dinas. Hamdan pun tahu dengan jelas dukun yang sering disambangi pak kadis.

Hamdan bukan sekedar staf, supir. Hamdan tangan kanan pak kadis. Kabar kehamilan Lula, sengaja didiamkan Hamdan karena permintaan kadis. Hasilnya Hamdan pura-pura kaget, ketika salah seorang dari rekan kerjanya, bercerita kalau Lula hamil. Karena desakan kawan-kawan yang penasaran, lama-lama Hamdan tidak tahan juga.

“Lula memang mengandung anak pak Kadis” Tutur Hamdan dengan memelas.

“Jadi, lo sudah tau? dan menyembunyikan itu dari kami?”

“Ya, mau gimana lagi bro. Masak gue bocorin semua kemana gue disuruh bapak pergi?”

“Gila lu ya Dan.”

“Istrinya ngamuk-ngamuk kemarin siang, tahu nggak lu?”

“Tau belakangan sih. Kala itu kami lagi nyari dukun kampung buat meluruhkan kandungannya.”

“Dengan bapak juga?”

Hamdan mengangguk. Tatapan matanya selalu ke lantai atau ke objek-objek lain, untuk menghindari tatapan lawan bicaranya yang sedang mengintrogasi.

“Trus, gimana?”

“Nggak berhasil bro, Janin Lula kuat banget, Lula kesakitan, bapak tidak kuat dengan jeritan lula. Kami bawa Lula pulang.”

“Lalu?”

“Entahlah, lihat aja nanti, gue juga nggak tau.” Jawab Hamdan pendek.

“Lalu bagaimana dengan keperkasaan pak kadis, yang hilang karena penyakitnya.?”

“Mana gue tau?”

“Bisa jadi hilangnya sama istrinya aja, tapi tidak, jika sama Lula,” seloroh salah seorang yang disambut tawa mereka yang berderai. Suasana kembali menjadi cair.

Pak kadis jadi bulan-bulanan anak buahnya, dan hamdan menjadi sasaran tembak kejahilan mereka.

“Kalian berani begini jika bapak tidak ada kan?” Ujar Hamdan kesal, tapi tak mampu menahan tawa, kegelian karena ususnya digelitik kelucuan guyonan rekan kerja yang usil.

Waktu berlari dengan cepat, tapi berjalan lambat bagi Lula. Kepala Dinas Lula, tidak bisa menikahi Lula. Terlalu banyak yang mesti dipertimbangkan, dan berbahaya jika dipaksakan, sehingga Lula tidak bisa diangkat menjadi istri kedua. Untungnya, berkat kebijaksanaan lelaki pejabat eselon dua itu, dia mencarikan suami buat Lula. Pria gemuk berperut buncit itu, menghadiahi lelaki super legowo, yang mau menjadi calon suami kekasih gelapnya itu, dengan anak yang sudah dikandungnya, beberapa gepok uang, dan semua biaya pernikahan di tanggung sang kadis.

Selesai sudah tugas bapak kadis, mencarikan solusi anak buahnya. Cerita Lula akan habis dalam beberapa bulan kedepan. Pegawai-pegawai di kantor, di warung, tidak lagi menceritakan tentang Lula. Pak Kadis pun mengalami mutasi dari kepala dinas, ke asisten sekda, staf ahli, sampai akhirnya pensiun dengan terhormat. Dan Lula sibuk mengurus keluarga kecilnya, dengan suami pencarian pak kadis. Pupus sudah impian Lula menjadi aparatur sipil negara.

Bagaimana dengan Hamdan? Hamdan adalah kepala bagian di tempat aku bekerja saat ini. Hamdan bercerita kepada aku, Irene, Emmi dan Ricky, ketika Rivaldi memancingnya untuk bercerita. Rupaya Lula bertemu dengan Hamdan dan Rivaldi di pasar.

“Hamdan, masih ingat sama saya?” Dengan tidak tahu malunya Lula menyapa.

“Bagaimana aku mungkin lupa dengan mu Lula.” Ujar Hamdan yang tidak bisa mengurangi rasa kagetnya. dan mereka berdua sempat berbasa-basi. Lalu Hamdan menceritakan semuanya kepada Rivaldi. Rivaldi tidak tahan menyimpan cerita itu sendiri dan memancingnya untuk bercerita kepada bestinya, yaitu kami.

Hamdan mengulang semua kisahnya. Mulai dari mengantarkan bapak dinas keluar kota. keluar bersama dengan lula. Menyambangi orang pintar yang akan memuluskan jabatannya, serta menggali peruntungan dan porkas dan SDSB, kala itu. Hingga menemaninya melakukan ritual-ritual aneh di tempat-tempat, yang dianggap angker, dan seram. Semua ditemani oleh Hamdan. Semua persyaratan dukun disediakan oleh Hamdan. Klimaks dari cerita Hamdan. Siapa yang bisa menyangka, kalau menantu bapak kadis adalah kadis kami saat ini.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Cerita Lula
T. Filla
Novel
Baby Orca
Dianikramer
Skrip Film
Tell Me What Your Wish?
Humming-Moon
Novel
Me?? Beautiful
Momo
Skrip Film
DUNIA KELUARGA
Febriana M Siregar
Novel
Bronze
Ketika Tidak Berjalan Dengan Semestinya
tirmlk
Novel
Bronze
Pengakuan Psikopat
Verawati Halim
Novel
Bronze
Two Promises
Meriam Ester Lita Dumais
Flash
Pergaulan Bebas
lidhamaul
Novel
Gold
Cloudy Charcoal
Mizan Publishing
Novel
Elusif
NAA
Novel
My Idiot Husband
Defa Riya
Novel
Bronze
TTM
Arslan Cealach
Cerpen
Bronze
Bertemu Perpisahan
Desy Sadiyah Amini
Novel
LOVE IN ONE NIGHT
Gerin Pratama
Rekomendasi
Cerpen
Cerita Lula
T. Filla
Flash
Kelakar Radith
T. Filla
Cerpen
Bronze
Quiz Yang Menguji Kepantasan
T. Filla
Cerpen
Dress Code untuk Hanna
T. Filla
Cerpen
Bronze
Kampus Impian
T. Filla
Flash
Menjadi Gagal Pun Masih Gagal
T. Filla
Cerpen
Bronze
Keputusan Abah
T. Filla
Cerpen
Bronze
Kampus Impian
T. Filla
Cerpen
Bronze
Obrolan Ku Dengan Snowy
T. Filla
Cerpen
Bronze
Dia Yang Tidak Butuh Pujian
T. Filla
Flash
Ujang Ingin Diklat
T. Filla
Cerpen
Bronze
Cerita Pemanis Kopi
T. Filla
Flash
Perlawanan yang Berujung
T. Filla
Cerpen
Bronze
Intelektualitasnya Ternodai
T. Filla
Cerpen
Bronze
Tergadai
T. Filla