Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bapak belum pulang, aku sendirian di rumah. Aku ingin sekali bermain di lapangan depan rumah kosong besar seperti kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Tapi teman-temanku tidak ada.
Aku tidak takut, aku anak laki-laki. Kata Bapak, anak laki-laki harus berani, harus kuat, seperti Bapak yang kuat angkat-angkat banyak karung di tempat banyak makanan. Bapak bilang itu namanya pasar. Kata Bapak di pasar itu banyak sekali orang, jadi aku dilarang ikut.
Tapi sekarang, aku bosan sekali. Teman-teman katanya mau pergi ke rumah nenek, ada juga yang mau pergi ke kebun binatang.
Aku tau apa itu binatang. Binatang itu hewan. Tapi, aku tidak tau apa itu kebun binatang, yang aku tau kebun itu seperti punya Pak Iwa, ada tanaman juga macam-macam sayuran di sana, kalau panen Pak Iwa suka memberikannya padaku.
Aku tidak tau di kebun binatang ada apa, apa mungkin binatangnya ditanam di tanah? Ah, aku tidak tau.
Aku punya nenek, juga punya kakek. Aku tau apa itu nenek dan kakek. Nenek itu ibunya Bapak dan kakek adalah bapaknya Bapak. Tapi kata Bapak, nenek dan kakek sudah lama meninggal.
Aku tau apa itu meninggal, itu artinya orang yang harus dikubur di tanah, sampai tanah itu tinggi seperti gunung. Kata Bapak, nanti aku akan diajak ke rumah nenek dan kakek untuk mendoakan mereka. Tapi sampai sekarang Bapak belum juga mengajakku.
Aku pernah bertanya pada Bapak, “Pak, kapan kita ke rumah nenek?”
Bapak hanya menjawab, “Nanti ya, Nak. Bapak kerja dulu, kamu belajar saja dulu, main sama teman-teman kamu, nanti Bapak pasti ajak kamu. Juju, mau menunggu Bapak, ‘kan?” Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Aku sudah sering mendengar jawaban itu, tapi nanti itu kapan?
Oh, ada yang aneh di rumahku. Kata teman-temanku di rumah mereka ada ibu. Ibu itu perempuan, ada yang muda ada juga yang sudah tua. Aku bingung, kenapa ibu ada di rumah.
Di rumahku tidak ada perempuan yang bernama ibu, aku hanya tidur dengan Bapak. Ketika mereka bermain juga, ibu mereka suka memanggil teman-temanku untuk pulang dan makan. Aku bingung lagi, memangnya ibu harus ada di rumah, ya?
Lalu aku bertanya lagi pada Bapak, “Pak, kenapa di rumah teman-temanku ada yang namanya ibu? Kenapa di rumah kita tidak ada ibu? Apa karena rumah kita kecil, jadi tidak boleh ada ibu ya, Pak?”
Bapak tidak langsung menjawab, Bapak hanya melihatku lama sekali. Aku jadi ikut melihat Bapak. Setelah lama diam, Bapak menjawab, “Kamu ada ibu. Kamu lahir dari ibu,” kata Bapak. “Ibu tidak di sini, nanti Bapak bawa kamu bertemu ibu, ya?”
“Apa ibuku sudah meninggal? Seperti nenek dan kakek, dikubur di tanah?” aku bertanya lagi.
Bapak melihatku lagi. “Ada, ibumu masih ada,” jawab Bapak sambil tersenyum, tapi wajah Bapak jadi aneh. Setelah itu, Bapak mengusap kepalaku. Hari itu Bapak lebih banyak diam, aku tidak tau kenapa.
Aku biasanya bermain setelah pulang sekolah. Oh, di sekolah juga ada yang aneh. Teman-temanku banyak yang memakai baju putih dan celananya warna merah, dan anak perempuan memakai celana tetapi tidak seperti celana, bentuknya melingkar, panjangnya selutut, aku tidak tau namanya.
Tapi aku tidak memakai baju seperti teman-temanku, aku hanya memakai baju biasa, juga mereka memakai sepatu. Aku tidak punya, aku hanya memakai sandal. Ibu guru juga memakai sepatu.
Waktu hari pertama aku masuk sekolah, Bapak mengobrol dengan Ibu Guru, aku dengar, meskipun aku tidak mengerti.
Bapak berbicara begini, “Bu, izinkan anak saya bersekolah di sini. Umurnya enam tahun lebih enam bulan. Tapi mohon maaf, Bu. Saya belum bisa beli seragam, penghasilan saya belum terkumpul untuk beli seragam. Tapi secepatnya saya akan membeli seragamnya.”
Begitu kata Bapak, aku tidak tau artinya apa. Setelahnya aku sekolah di sana. Setiap pagi, sebelum pergi ke pasar, Bapak akan mengantarku ke sekolah. Kata Bapak, pulangnya harus bersama teman-teman.
Di sekolah itu seru, aku suka. Banyak yang bisa dilihat. Ada gambar burung, ada gambar ikan, ada gambar tumbuhan, seperti di kebun Pak Iwa. Aku jadi ingat kebun binatang lagi. Di kebun binatang itu ada apa, ya? Kalau aku ajak Bapak, Bapak akan jawab nanti lagi tidak, ya?
Setiap hari Ibu Guru meminjamkan aku buku. Ada buku untuk membaca ada juga buku warna putih, Ibu Guru bilang itu untuk menulis. Ibu guru juga memberiku pensil. Tidak seperti teman-temanku yang membawa tas dan buku, aku biasa berangkat sekolah tidak membawa apa-apa.
Di hari pertama, aku hanya melihat Ibu Guru menulis di tembok. Tapi, Ibu Guru bilang itu bukan tembok, itu papan tulis. Warnanya hitam, dan untuk menulisnya bukan dengan pensil, tapi memakai kapur, warnanya putih.
Sekolah itu ternyata menyenangkan. Aku jadi tidak harus menunggu sendirian di rumah. Tapi, hari ini aku sendirian, sekolah libur katanya, aku tidak perlu masuk sekolah.
Bapak selalu pulang ketika sudah sore. Bapak biasanya membawa uang banyak, tapi Bapak memberikannya pada om-om kepala botak. Om-om itu suka berteriak jika Bapak tidak memberikan uangnya. Seperti hari ini.
Aku dengar Om itu teriak, “Bayar kontrakan sama hutang lu! Udah enak-enak tinggal di mari, apa susahnya bayar utang! Gua masih baik ya, enggak sampe ngusir lu!”
Lalu Bapak berkata seperti ini, sambil menunduk, “Bang, saya minta waktu lagi sampe minggu depan, uangnya mau dipake buat beli beras dulu. Kasian anak saya belum makan.”
“Alah, siniin semuanya! Anak lu belum makan bukan urusan gua!” Om Botak teriak keras.
“Bang, jangan semuanya,” kata Bapak.
“Banyak bacot lu, siniin uang lu! Makanya kerja yang bener, istri lu minggat, ‘kan? Enggak becus sih jadi suami!” Om Botak itu marah sama Bapak, lalu mengambil uang Bapak. Semuanya.
Aku tidak mengerti kenapa Om Botak itu galak pada Bapak, dan kenapa meminta uang Bapak setiap hari. Wajah Bapak juga jadi sedih, aku kasihan pada Bapak.
Bapak masuk ke rumah, Bapak kaget melihatku berdiri di depan pintu. “Juju ada di rumah? Kenapa tidak main?” tanya Bapak, tersenyum, tapi wajahnya tidak ikut tersenyum.
“Teman-teman Juju tidak ada yang main, Pak. Ada yang pergi ke rumah nenek, ada yang pergi ke kebun binatang. Nanti kita juga ke rumah nenek ‘kan, Pak? Aku juga mau lihat pohon binatang di kebun binatang, Pak. Aku mau tau binatang apa yang ditanam di sana, apa seperti di kebun Pak Iwa, tapi di kebun Pak Iwa tidak ada binatang yang ditanam,” jawabku.
Dahi Bapak mengkerut. “Binatang ditanam? Kebun Pak Iwa? Oh, maksudnya kebun binatang? Juju, kebun binatang tidak seperti kebun Pak Iwa, tidak ada binatang yang ditanam, di sana tempat tinggal binatang. Banyak binatang yang tinggal di sana, ada gajah, ada buaya, ada orangutan, dan banyak lagi. Nanti ya, Bapak ajak kamu melihat ke sana. Juju mau pergi ke sana, ‘kan?” kata Bapak.
Aku ternyata salah. Kebun binatang bukan tempat hewan ditanam. Aku tertawa. Tapi, aku tau gajah, buaya dan orangutan, di sekolah ada gambar itu. Aku jadi bersemangat, aku ingin melihatnya.
“Betul ya, Pak? Betul ya, kita pergi ke kebun binatang ya, Pak. Betul. Aku mau lihat gajah, aku mau sentuh telinganya yang besar itu.” Aku menggerakkan tanganku. “Aku juga mau sentuh hidung gajah.” Aku dekatkan tanganku ke hidung, meniru hidung gajah yang panjang, yang biasa aku lakukan dengan teman-temanku di sekolah. “Betul ya, Pak.”
Bapak mengangguk dan tertawa melihtku.
“Asyik, aku akan pergi ke kebun binatang, asyik, hore!” Aku jadi lupa menanyakan Om Botak pada Bapak.
“Bapak janji akan ajak Juju ke kebun binatang. Sekarang mau tidak Juju tunggu Bapak lagi, Bapak mau ke pasar. Juju belum makan, ‘kan?” kata Bapak.
“Belum. Perut Juju bersuara, gggrrrrr … gitu. Seru, Juju suka suaranya. Perut Bapak juga suka bersuara ‘kan, Pak? Perut kita ajaib ya, Pak. Suka bersuara.”
“Iya perut kita ajaib,” kata Bapak. “Sekarang, Juju tunggu Bapak lagi, mau ya? Bapak mau cari makanan, Bapak tidak akan lama, sebentar saja. Boleh, ya?”
“Boleh, Pak. Juju berani kok, Juju ‘kan sudah anak sekolah, Juju juga laki-laki, laki-laki harus berani.”
“Pinter anak Bapak. Tunggu ya, Bapak pergi dulu.”
Bapak pergi. Aku menunggu lagi sendirian. Bapak biasanya bawa makanan dari pasar, tapi hari ini tidak. Mungkin di pasar makanannya sudah habis. Bapak juga biasanya bawa beras, hari ini tidak, mungkin berasnya habis dimakan Om Botak tadi.
Bapak dan aku biasanya makan di siang hari atau malam. Kadang makan mi, Bapak akan membawa mi satu bungkus dan memasaknya dengan air yang banyak. Aku suka air yang banyak, Bapak menaruhnya di mangkuk. Kadang juga makan nasi dengan air asin. Aku suka, airnya enak.
Tapi yang paling aku suka, kalau Bapak bawa sayuran. Ada sayuran putih, kata Bapak namanya sawi putih, ada juga yang namanya kangkung, ada juga kol, tapi tidak setiap hari.
Sawi putih biasanya Bapak bersihkan, kadang banyak yang dibuang. Kata Bapak itu sudah busuk, jadi tidak bisa dimakan. Kalo dimakan tidak enak, nanti sakit perut, tidak bisa sekolah, tidak bisa belajar, tidak bisa main. Jadi Bapak buang.
“Juju ….”
Akhirnya Bapak pulang!
“Bapak, Bapak bawa apa?”
Bapak membawa banyak sekali sayuran, sampai tangannya penuh.
“Ini namanya kangkung air, tumbuhnya di air.”
“Bapak kenapa baju dan celana Bapak basah? Di luar hujan?”
“Tidak, Bapak habis ambil kangkung, kangkung ini ‘kan tumbuhnya di dalam air, jadi Bapak harus masuk ke air. Ada kangkung ayo makan.”
Bapak bawa banyak sekali kangkung air, warnanya tidak hijau, ada warna ungu, ada bunga-bunga juga di kangkungnya, ada buahnya juga. Aku baru lihat kangkung air, bagus sekali.
Bapak mengganti baju, lalu memotong-motong kangkungnya. Oh, Bapak juga membawa tali.
“Bapak itu tali apa? Panjang sekali.”
Tali itu warnanya coklat, besar, dan panjang sekali, menggulung.
“Oh itu namanya tali tambang.”
“Untuk apa?”
“Untuk Bapak dan kamu, nanti kamu bantu Bapak, ya. Sekolah kamu juga libur ‘kan? Jadi bantu Bapak ya, bawa tali itu.”
“Bawa ke mana?”
“Ke pohon dekat rawa.”
“Rawa? Rawa yang di ujung jalan itu, yang masuk hutan itu? Tidak boleh!” aku berteriak. “Tidak boleh ke sana, Bapak bilang Juju tidak boleh ke sana. Bapak bilang di sana bahaya, banyak binatang jahat. Nanti kalo aku dan Bapak dimakan bagaimana? Tidak boleh.”
Bapak tertawa. “Boleh, ‘kan perginya sama Bapak. Nanti kalo ada binatang jahat, Bapak usir. Kalo sama Bapak binatang itu takut.”
“Oh ... baiklah, aku akan bantu Bapak.”
“Bagus, baik sekali anak Bapak, pintar. Pasti Ibu Guru juga senang ya sama Juju. Juju anak baik, anak pintar.”
“Iya! Ibu guru suka kasih aku yang manis-manis, namanya permen. Kata Ibu Guru kalo aku mau jajan bilang sama Ibu Guru. Tapi aku tidak mau jajan, Pak. Aku mau permen saja. Aku tidak suka jajan. Jajan itu pasti tidak enak ‘kan, Pak?”
“Wah, pinter sekali anak Bapak ini. Benar jajan itu tidak enak. Juju sudah bilang terima kasih sama Ibu Guru, belum?”
“Sudah. Ibu Guru baik ya, Pak? Apa ibu Juju juga baik? Bapak bilang Juju juga punya ibu, ibu Juju pasti baik juga ‘kan, Pak?”
“Iya, ibunya Juju juga baik. Nanti kita bertemu ibu ya, Nak.”
“Kapan, Pak? Aku tidak sabar bertemu ibu. Aku mau minta gendong ah, seperti Hani waktu itu, dia nangis terjatuh. Ibunya datang dan menggendong Hani, lalu Hani diam, tidak nangis lagi. Aku juga mau digendong ibu, Pak.”
“Iya, nanti Juju juga akan digendong ibu. Sekarang sini gendong Bapak dulu.”
Bapak yang sedang memotong kangkung air berhenti. Lalu menggendongku.
“Anak Bapak sudah besar. Anak Bapak sudah pintar. Sekolah yang rajin ya, Nak. Gimana digendong Bapak juga seru, ‘kan?”
“Seru! Aku suka. Terima kasih Bapak.”
“Masih mau digendong? Atau mau turun bantu Bapak cuci kangkungnya?”
“Turun saja, Pak. Ayo kita cuci kangkungnya.”
“Ayo!”
Bapak menurunkan aku kembali. Aku membantu Bapak membawa kangkung yang sudah selesai dipotong. Aku bawa ke kamar mandi. Bapak harus ambil airnya dulu dari lubang air. Bapak bilang itu namanya sumur, tapi aku lebih suka menyebutnya lubang air.
Lubang air itu sangat keren, dari sana bisa keluar air. Kadang airnya banyak sekali sampai atas, tapi juga bisa dalam sekali seperti sekarang, sampai tanah yang di bawahnya terlihat. Dan dindingnya berlubang. Kata Bapak itu karena sekarang sedang musim kemarau. Musim kemarau artinya tidak hujan, jadi air tidak menyerap ke tanah, dan sumur pun airnya tinggal sedikit.
Bapak sudah dapat airnya. Aku bantu Bapak mencuci kangkungnya. Setelah selesai dibawa ke dapur untuk dimasak. Bapak membawa panci, lalu memasukkan kangkung air yang sudah dicuci tadi, dan Bapak menambahkan air, banyak sekali, kangkungnya juga banyak sekali.
“Hari ini kita makan kangkung ini, ya? Ini rasanya juga enak, kamu pasti suka.”
“Aku suka kangkung, Pak. Kangkung air juga aku pasti suka.”
Kangkung air sudah matang. Bapak memindahkannya pada mangkuk. Kali ini aku dapat banyak sekali kangkung, Bapak juga sama. Biasanya hanya aku saja yang dapat banyak makanan. Bapak selalu bilang kalo aku masih kecil jadi harus banyak makan, Bapak sudah besar jadi makan sedikit pun tidak apa. Jadi setiap hari aku selalu dapat makanan banyak.
Aku menyendok kangkung itu, aku tidak tau, kenapa perutku bersuara keras saat melihat kangkung dimasak tadi. Jadi aku tidak sabar memakannya. Aku makan kangkung air itu, Bapak juga sama. “Enak, Pak.” Seperti biasa masakan Bapak selalu enak.
“Iya? Ayo, ayo habiskan, nanti Bapak masak ini lagi.”
“Hore, nanti pakai nasi ya, Pak. Aku selalu liat teman-teman makan nasi setiap hari. Aku juga mau makan nasi setiap hari. Ya, Pak ya?”
Bapak tertawa, sambil mengusap wajahnya dan mengucek matanya. “Iya, nanti makan dengan nasi, Bapak akan beli beras yang banyak untuk Juju.”
“Hore! Aku akan habiskan ini, Pak. Aku suka kangkung ini, Pak. Ini enak, Bapak pintar memasak.”
“Habiskan, habiskan, nanti kamu juga harus pintar memasak, ya. Pintar tidak harus di sekolah saja, kamu juga harus pintar memasak, bekerja, dan lain-lain.”
“Baik, Pak! Aku akan pintar memasak apa saja seperti Bapak, aku juga akan bekerja. Tapi aku boleh bekerja seperti Ibu Guru ‘kan, Pak? Aku suka Ibu Guru, aku juga mau bekerja seperti Ibu Guru.”
“Boleh, Nak. Boleh. Kamu boleh jadi apa saja. Bapak suka Juju yang semangat seperti ini, Bapak juga suka Juju yang suka senyum seperti ini.” Bapak tersenyum padaku dan mengusap kepalaku. “Ayo habiskan, setelah ini bantu Bapak, ya.”
“Bantu apa, Pak?”
Aku terlalu semangat makan kangkung, aku lupa harus membantu Bapak apa. Aku suka suara perutku yang ggrrrr … itu, tapi aku lebih suka perutku berhenti bersuara, dan setiap aku makan, perutku berhenti bersuara. Jadi aku lebih suka makan.
Aku selalu menunggu waktu makan, kalo tidak malam, aku makan ketika matahari baru keluar, setelah itu aku makan lagi besoknya, kadang siang, kadang juga malam.
Aku selalu menunggu waktu makan, aku selalu bersemangat menunggu waktu makan, aku suka makan, aku ingin makan masakan Bapak. Aku suka makan apa saja yang Bapak bawa. Aku suka sekali makan.
“Bantu Bapak buka tali tambang itu. Itu terlalu sedikit untuk kita berdua. Kamu mau bantu Bapak ‘kan bawa tali tambang itu ke rawa?”
“Oh iya, boleh, Pak. Aku bantu Bapak. Tapi di rawa itu ada apa?”
“Nanti kamu juga tau. Ayo habiskan, setelah itu bantu Bapak mengurai tali tambang ini.”
“Mengurai itu apa, Pak?”
“Mengurai itu memisahkan talinya. Biar makin panjang dan banyak tali tambangnya. Biar cukup untuk kita berdua.”
Setelah makan, Bapak membawa tali tambang yang Bapak bawa tadi. Lalu Bapak menariknya sampai panjang.
Bapak pisahkan yang sudah lepas, lalu menyimpannya di dinding. Aku masih belum membantu, kata Bapak nanti saja, Bapak masih bisa mengerjakannya sendiri. Padahal aku sudah tidak sabar ingin membantu Bapak.
Bapak sudah melepas satu tali kecil lagi, dan kembali menyimpannya di dinding yang ada pakunya. Bapak melanjutkan melepaskan tali kecil itu, sampai habis, sampai tali tambang itu menjadi banyak.
Kemudian Bapak menyambungkan tali tambang kecil dengan tali tambang kecil lainnya. Aku heran, kenapa Bapak melakukan itu, bukannya tadi Bapak melepasnya, kenapa sekarang Bapak menyambungkan lagi. Aku ingin bertanya, tapi Bapak sedang bekerja, aku tidak boleh mengganggunya.
“Juju tolong ambilkan tali yang itu,” tunjuk Bapak pada tali yang ada di dekatku.
Akhirnya sekarang aku boleh membantu Bapak. “Baik, Pak!” Aku segera membawa tali itu dan memberikannya pada Bapak. “Ini, Pak.”
“Terima kasih. Anak Bapak memang pintar.”
Aku senang, Bapak banyak tersenyum. Sepertinya Bapak suka mengerjakan tali tambang itu, dan Bapak juga sepertinya sudah tidak sabar ingin ke rawa. Seperti aku. Aku mau tau ada apa di rawa.
Tali tambang yang kecil-kecil tadi, sekarang sudah tersusun rapi di dinding. Bapak mengelap keringat di dahinya, Bapak juga berkeringat di lehernya, baju bagian belakangnya juga basah. Aku juga berkeringat, tapi tidak sebanyak Bapak.
Bapak melihat padaku, “Selesai, Nak. Sekarang sudah bisa dibawa ke rawa.”
Wajah Bapak cerah sekali, seperti matahari yang baru keluar.
“Asyik! Ayo, Pak. Ayo cepat ke rawa, Pak.”
“Ayo, ayo. Bantu Bapak bawa talinya, Nak.”
“Baik, pak!”
“Sebelum itu kita harus bawa ini.”
Bapak membawa kayu bakar yang biasa Bapak pakai untuk masak. Bapak dapat kayu bakar itu dari kebun Pak Iwa, kadang juga Bapak bawa dari pasar. Bapak selalu memasak dengan itu, ditambah sampah yang banyak agar apinya menyala. Tapi sekarang Bapak bawa kayu bakar itu, aku tidak tau untuk apa. Apa di rawa nanti Bapak akan memasak?
“Kenapa Bapak bawa kayu bakar?”
“Di sana pasti gelap, sekarang sudah malam. Jadi Bapak bawa ini biar kita bisa lihat jalan.”
Bapak lalu membalutkan kain di ujung kayu bakarnya.
“Kenapa pakai kain, Pak?”
“Agar bisa menyala lebih lama, seperti ini.” Bapak membakar kain tadi, kain itu langsung menyala besar. “Nah, ini namanya obor, nanti kamu akan belajar di sekolah.”
“Wah bagus! Aku mau, Pak. Aku mau pegang.”
“Tidak boleh, ini berbahaya, nanti kalo kamu sudah besar baru boleh pegang ini, sekarang biar Bapak saja yang pegang, ya?”
“Baiklah, Pak.” Aku sedikit ngambek pada Bapak.
“Ayo kita ke rawa.”
“Ayo!”
Bapak dan aku membawa tali tambang yang sudah jadi kecil-kecil itu keluar. Bapak juga memegang obornya. Aku bawa bagian belakang tali yang sudah menyatu itu, tapi Bapak menyuruhku jalan di depan saja, agar Bapak bisa melihatku.
Aku jalan di depan, dari awal keluar rumah aku tidak berhenti tersenyum. Bapak benar di luar sangat gelap, sepi, tidak ada orang. Untung saja ada obor yang Bapak buat, jadi jalannya terlihat, obor itu seperti lampu, terang, sampai ke depan.
Aku dan Bapak terus berjalan, rawa berada di ujung jalan, memang sedikit jauh. Tapi tidak apa-apa aku senang, aku tidak akan mengeluh capek, aku juga tidak akan meminta Bapak untuk menggendongku. Aku sudah besar, aku berani, aku harus kuat.
Semakin dekat dengan rawa, aku mendengar banyak suara. Bapak bilang, “Itu suara jangkrik dan suara kodok, Juju tidak perlu takut, jalan saja terus. Bapak ada di belakang.”
Aku tidak takut, aku hanya kaget saja. Ternyata banyak juga binatang yang belum tidur malam ini. Di atas langit juga ada bulan, aku sempat mengira yang di langit itu lampu besar yang ditempel di langit, kata Bapak itu bukan lampu, itu namanya bulan, bulan itu besar, tapi karena jauh yang terlihat hanya sebesar panci yang ada di rumah.
Selain bulan ada juga lampu kecil-kecil, warnanya ada yang kuning dan putih, berkilau-kilau, kata Bapak itu namanya bintang. Bintang juga ukurannya besar sekali, bintang juga ada banyak, tapi letaknya jauh. Nanti setelah aku besar, aku juga mau belajar semua bintang dan bulan. Sekarang aku belajar dulu dari Ibu Guru.
Jalannya semakin lama semakin mengecil, hanya cukup untuk satu kakiku saja. Bapak memintaku untuk berhati-hati, kata Bapak kita sudah hampir sampai. Aku semakin bersemangat saja.
Obor yang dibawa Bapak semakin menyala, jalannya jadi semakin terang, semunya terlihat. Dan aku bisa melihat rawa di depan sana.
“Pak kita sudah sampai!”
“Iya, kita sudah sampai. Jangan berteriak, jalan lagi, hati-hati dan pelan-pelan.”
“Baik, Pak.”
Kami lanjutkan lagi, setelah jalan kecil itu habis, aku lihat rawa di sana. Luas sekali, banyak air, banyak tumbuhan, suara kodok dan jangkrik terdengar keras, pohon-pohonnya juga tinggi. Tidak tau kenapa dadaku jadi dug dug keras. Aku lihat ke kanan dan ke kiri, gelap. Jika tidak ada obor, aku pasti tidak akan terlihat juga di sana.
“Kita sampai. Inilah rawa itu, Nak. Bagaimana? Apa kamu takut?”
“Sedikit, di sini gelap.”
“Memang.”
“Kenapa kita ke sini malam-malam, Pak?”
“Karena Bapak baru dikasih izinnya malam, Bapak juga maunya malam. Tidak ada banyak orang, jadi Bapak bisa bekerja dengan baik.”
“Bapak mau bekerja di sini?”
“Iya, malam ini Bapak mau bekerja di sini.”
“Bekerja apa, Pak?”
“Ikut Bapak.”
Bapak membawaku ke dekat pohon besar.
“Talinya kita ikat di sini, turunkan talinya, Nak.”
Aku pun menurunkan tali itu, Bapak mengikat talinya di sana. Tinggi sekali, lebih tinggi dari Bapak.
“Nah sekarang kamu ke sini, kita ukur tinggi kamu biar pas.”
Aku pun mendekat pelan-pelan sekali, takut jatuh ke belakang sana.
“Setinggi ini. Wah anak Bapak ternyata sudah tinggi.”
“Iya ‘kan, Pak? Aku tinggi ‘kan, Pak? Kata Ibu Guru, aku harus sering makan kalo mau tinggi. Kita sering makan ya, Pak? Jadi aku jadi tinggi.”
“Iya, kalo mau tinggi harus sering makan, Ibu Guru benar. Mulai sekarang kamu juga akan sering makan. Bapak janji. Makan tidak akan sekali sehari lagi, kita juga akan sering makan nasi, Bapak pasti akan belikan kamu makanan enak.”
“Betul ya, Pak? Asyik! Aku juga mau makan nasi, Pak. Tapi makan mi juga tidak apa-apa, aku paling suka makan sayur, makan kangkung yang tadi juga aku suka, Pak.”
“Senang Bapak, anak Bapak suka makan.” Bapak menarik talinya. “Talinya sudah terikat kencang. Sekarang ayo lemparkan talinya.”
Tali yang tadi, diikat Bapak melingkar ke pohon, juga ada tali yang diikat membentuk lingkaran. Aku tidak tau untuk apa. Obor yang dipegang Bapak, Bapak simpan di dahan pohon yang sudah Bapak congkel sedikit agar kayu bakarnya masuk.
“Juju, mau bantu Bapak, ‘kan?”
“Mau, Pak!”
“Juju pegang tali ini, nanti Bapak lempar. Juju harus pegang yang kenceng talinya, bisa ‘kan?”
“Bisa, Pak!”
“Bagus.”
Bapak bawa tali yang sudah tersusun tadi, lalu Bapak lemparkan tali itu ke rawa. Bapak melemparnya sangat cepat, dan keras.
“Juju pegang, ya. Nanti kalo ada yang bergerak kasih tau Bapak.”
“Iya, Pak.”
Aku pegang erat-erat tali itu, sambil melihat Bapak membenarkan talinya. Bapak melihat ke rawa, menyentuh airnya, dan menepuk-nepuk airnya.
“Bapak sedang apa? Kenapa airnya ditepuk? Airnya bandel, ya? Ibu Hani suka menepuk pantat Hani kalo Hani bandel, airnya pasti bandel ya, Pak?”
Bapak tertawa. “Bukan, airnya tidak bandel, airnya sangat baik pada Bapak. Bapak sedang memanggil ikan.”
“Ikan? Ikan yang berenang itu? Ikan yang aku lihat di sekolah itu? Ikan yang bisa dimakan?”
“Iya, ikan itu. Ikan yang bisa dimakan, nanti kita makan ikannya.”
“Bapak, di sini memang ada ikan? Di rawa ini ada ikan?”
“Ada, makanya Bapak membawamu ke sini, di sini ada ikan.”
“Banyak, Pak? Ikannya banyak?”
“Banyak, ikannya sangat banyak. Nanti setelah dapat kita bisa menjualnya ke pasar, terus dapat uang, uangnya bisa beli beras, kita bisa makan lebih sering.”
“Hore, makan ikan! Hore makan nasi! Ayo cari ikannya, Pak. Ayo, suruh ikannya datang, Pak!”
“Ini Bapak sedang menyuruh ikan datang, kamu jangan berisik ya, nanti ikannya takut.”
“Iya, Pak,” aku menjawab Bapak dengan pelan. Tali yang aku pegang bergerak, aku kaget. “Pak talinya bergerak!”
“Kamu diam di sana, ya. Bapak tarik talinya dulu, kamu pegangan ke pohonnya biar tidak jatuh.”
Aku mundur sedikit, berpegangan pada pohon. Bapak menarik talinya, talinya kuat sekali, Bapak kesusahan menariknya. Bapak terus menarik tali itu, dan ada yang bergerak-gerak di sana. Itu ikan! Ikannya terbang! Itu benar-benar ikan! Ikan yang aku lihat di sekolah.
“Pak ikan, Pak! Kita dapat ikan! Pak kita bisa makan ikan!”
“Iya, alhamdulillah, kita dapat ikan. Malam ini kita bisa makan lagi, makan ikan.”
“Hore! Kita makan ikan! Makan lagi! Aku suka makan!”
Bapak menarik terus talinya sampai ke pinggir, ikan yang dibawa tali itu banyak sekali, sama banyaknya dengan jumlah jari di dua tanganku. Aku senang sekali, Bapak dapat ikan. Kita bisa makan lagi. Makan ikan.
Bapak mengikat talinya. “Ayo kita pulang, kita makan ikan.”
“Ayo, Pak! Ayo makan ikan!”
Bapak kemudian melepas tali dari pohon, juga membawa kembali obor dari pohon itu. Bapak membawa ikannya, aku kembali berjalan di depan dan Bapak di belakang, dengan membawa obor dan tali berisi ikan.
Sampai di rumah, Bapak langsung mengganti baju, aku juga sama.
Lalu, Bapak membersihkan ikan, kemudian membakar ikan dengan kayu bakar. Sebelum dibakar, ikannya Bapak tusuk dengan kayu bakar kecil. Bapak menusuk lima ikan.
Ikan yang dibakar itu bersuara jeesss … ketika terkena api, juga keluar air, ada asapnya, baunya sangat harum sekali. Perutku kembali bersuara. Aku tak berhenti melihatnya, dari ikannya berwarna sedikit hitam, sampai kulitnya terbuka, dan ikannya menekuk, aku lihat semuanya.
“Sudah matang,” Kata Bapak. “Tolong ambilkan piring, Juju tau piring, ‘kan?”
“Tau, Pak!”
Aku ambil piringnya, dan memberikannya pada Bapak.
Bapak dan aku makan ikan bakar, masih panas. Bapak tiup-tiup untukku. Bapak juga pisahkan tulangnya untukku. Bapak bilang tulang ikan itu disebut juga duri.
Aku harus berhati-hati memakannya, takutnya duri ikan tersangkut di tenggorokan, nanti aku tidak bisa makan lagi. Jadi aku makan pelan-pelan. Duri ikannya Bapak lepaskan dulu, lalu aku makan. Rasanya enak sekali, manis, ada asinnya juga. Mulai sekarang aku suka ikan bakar, aku akan makan ikan.
“Bapak besok kita ke rawa lagi, ya. Kita cari ikan lagi.”
“Boleh.”
“Itu ikan yang belum dibakar juga ayo jual ke pasar, Pak. Biar dapat uang, terus beli beras, dan kita makan nasi.”
“Boleh, tapi ikannya belum cukup banyak, harus banyak dulu baru bisa dijual. Yang ini nanti bakar lagi dan kita makan lagi.”
“Oh, baiklah. Aku suka ikan, Pak. Aku akan makan banyak ikan, ayo kita cari ikan banyak-banyak ya, Pak. Banyak segini.” Aku menunjukkan jari tangan dan kakiku pada Bapak.
Bapak tertawa keras. “Iya, iya.”
“Hore!”
“Sekarang ayo kita tidur. Besok kamu bisa main sama Bapak, besok Bapak tidak ke pasar.”
“Hore! Main sama Bapak!”
Bapak menggendongku ke kamar. Aku tidur berdua dengan Bapak. Bapak peluk aku, juga mengusap kepalaku sampai aku mengantuk sekali. Oh, aku melupakan sesuatu. Aku harus memberitahu Bapak di rawa tadi ada orang aneh. Tapi mataku tidak mau dibuka.
“Bapak ….”
“Hmm, tidur, Nak.”
Benar. Aku harus tidur, mataku semakin rapat sekali, tidak mau dibuka. Besok aku harus kasih tau Bapak, aku tadi melihat orang memakai baju hitam di rawa. Aku harus beritahu Bapak, di rawa tadi juga ada ikan warnanya merah, dia sudah masuk tali, tapi kabur lagi. Besok aku harus bilang pada Bapak, dan minta Bapak cari ikan itu. Benar, besok aku harus kasih tau Bapak. Aku mengantuk sekali dan tertidur.
Aku tidak tau ini jam berapa, tapi ketika aku bangun, di luar masih gelap. Aku bisa melihatnya dari lubang di atas dinding kamarku. Di luar gelap, hitam. Aku tadi sudah tidur, tapi aku harus bangun lagi. Perutku sangat sakit.
Perutku sangat sakit. Lebih sakit dari lututku yang berdarah waktu itu karena terjatuh. Rasanya sakit sekali, di perutku seperti ada pisau yang menusuk-nusuk.
Aku mau membangunkan Bapak, tapi tanganku tidak bisa digerakkan. Susah sekali, untuk mengangkat satu jari saja rasanya susah sekali.
“Bapak …,” aku memanggil Bapak, tapi aku sendiri pun tidak bisa mendengar suaraku. “Bapak ...,” aku panggil lagi.
Tapi Bapak tidak mau bangun juga, Bapak diam saja. Ini aneh, biasanya Bapak tidak suka tidur lama, tapi sekarang Bapak tidur pulas sekali.
Wajah Bapak ada warna ungunya, mulutnya pun keluar busa seperti busa sabun mandi yang biasa Bapak pakai untuk aku mandi.
Tapi Bapak tidak sedang mandi, Bapak sedang tidur. Apa itu? Apa Bapak mengiler, Seperti aku? Bapak suka bilang aku mengiler ketika tidur, tapi aku tak percaya, aku biasanya ngambek pada Bapak jika Bapak bilang seperti itu. Sekarang aku bisa meledek Bapak, aku melihat Bapak mengiler.
“Aduh ....”
Perutku semakin sakit, sekarang rasanya seperti ada lima pisau di perutku, menusuk-nusuk. Sakit sekali.
“Bapak, sakit, Pak ….” Bapak masih belum bangun. “Pak ... sakit ....”
Sakit sekali, perutku sakit. Kepalaku juga pusing. Aku melihat ke atas, tapi yang aku lihat semuanya berputar-putar, lalu mendekatiku, dekat sekali, seperti ingin menabrakku. Aku menutup mataku, dan rasanya tidak terlalu pusing. Tapi sakit di perutku tidak mau berhenti, nakal sekali perutku ini.
Aku lebih suka perutku bersuara gggrrr …, aku tidak suka sakit seperti ini. Sakit sekali. Aku merasakan ada yang ingin keluar dari mulutku. Perutku mendidih seperti air yang Bapak masak waktu itu, selain sakit, sekarang rasanya juga panas. Aku kedinginan.
“Bapak ... sakit ....”
Mataku susah sekali untuk dibuka, aku mau membangunkan Bapak sekali lagi, tapi mataku terus saja menutup, mataku seperti kertas yang dilem. Aku pernah belajar menempel kertas yang sudah berbentuk kucing ke buku dengan lem, hasilnya kertas kucing itu tertempel tidak mau lepas, mataku juga sama, tidak mau lepas.
Mulutku keluar busa seperti Bapak. Tapi sakit perutku hilang tidak ada lagi, aku senang. Aku akhirnya bisa kembali lagi tertidur.
Mataku menutup tapi aku bisa melihat Bapak di rumah besar. Ini aneh, Bapak tertidur bersamaku di kamar. Kenapa Bapak ada di depan rumah besar itu? Oh, mungkin ini mimpi. Kata Bapak, kalo aku tidur dan melihat sesuatu ketika aku tertidur itu artinya aku sedang bermimpi. Sekarang pasti aku juga sedang bermimpi.
“Juju!” Bapak memanggilku, Bapak tersenyum, wajahnya juga cerah seperti matahari.
Aku tiba-tiba saja bisa membuka mataku. “Bapak.” Bapak terlihat lebih jelas lagi. “Bapak ini rumah siapa, Pak? Bapak aku bermimpi ya, Pak? Bapak tidur di kamar bersamaku, kita mimpinya sama ya, Pak? Aku senang bisa bertemu Bapak di mimpi, biasanya aku hanya mimpi terjatuh saja, atau mimpi dikejar Hani.”
“Bukan, Nak. Ini bukan mimpi.”
“Bukan mimpi?” aku bingung. “Tapi ... kenapa kita di sini, Pak?”
“Ini rumah kita, Nak. Sekarang kita tinggal di sini.”
“Di sini? Di rumah besar ini? Ini rumah kita, Pak?”
“Iya, ini rumah kita. Bapak ada hadiah untuk kamu, ini.” Bapak memberiku mobil-mobilan, mobil-mobilan yang sama dengan yang punya Hani. Aku pernah minta pada Bapak dan Bapak janji akan membelikannya untukku.
“Ini untuk Juju, Pak? Bapak belikan Juju mobil-mobilan? Hore!”
Aku lompat-lompat. Aku senang sekali. Aku ambil mobil-mobilan itu dari tangan Bapak. Aku peluk, aku berteriak dan berterima kasih pada Bapak. Bapak ikut senang, dan memelukku.
“Maaf ya, Nak. Bapak baru bisa membelikan kamu mobil-mobilan sekarang.”
“Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih, Juju senang.”
“Alhamdulillah, Bapak juga senang kalo Juju senang. Bapak juga sudah beli ini.”
“Apa, Pak?”
“Ini seragam sekolah. Juju ‘kan tidak punya seragam sekolah, ini Bapak sudah beli, Bapak juga beli sepatu, beli tas dan buku, juga pensil dan penghapus. Juju juga bilang sama Bapak mau kertas warna-warni, ini Bapak juga belikan, Bapak belikan semuanya untuk Juju.”
“Seragam? Hore! Juju bisa sekolah pakai seragam! Juju juga punya sepatu! Terima kasih, Pak. Terima kasih. Besok aku mau sekolah pakai seragam ya, Pak. Bapak pakaikan aku seragam ya, Pak. Pakaikan aku juga sepatu ya, Pak. Aku mau bawa buku ini, aku juga mau bawa kertas warna merah dan warna kuning, aku suka warna kuning. Ayo, Pak, ayo kita tidur lagi, aku tidak sabar mau sekolah. Aku mau cepat-cepat besok.”
“Kamu senang, kamu bahagia sekali ya, Nak? Maaf ya, Nak. Bapak baru sempat beli seragam sekarang.”
“Tidak apa-apa, Pak. Aku senang sekali, aku bahagia.”
“Tapi, Nak. Besok kamu tidak bisa sekolah lagi di sekolahmu yang lama. Kamu juga tidak akan bertemu Ibu Guru. Besok kamu akan pindah sekolah, ibu gurunya juga berbeda. Tapi kamu tidak perlu khawatir, sekolah di sini juga bagus, ibu gurunya juga baik. Nanti kamu kasih Ibu Guru permen ini ya, Nak.”
Bapak memberiku permen, banyak sekali. Tapi, aku sedih. “Hani bagaimana? Apa Hani juga pindah sekolah, bersama Juju, di sini?”
“Tidak, Hani juga tidak ikut pindah. Hanya Juju saja. Tidak apa-apa, nanti Bapak antarkan ke sekolah ya, Nak. Di sana juga banyak teman, Juju nanti bisa berkenalan lagi dengan teman baru.”
“Ya sudah tidak apa-apa, Pak. Aku mau sekolah di sini. Tapi … aku sedih.”
“Sedih? Anak Bapak sedih, kenapa? Tidak apa-apa, Ibu Guru juga akan mengerti, Hani juga. Besok Ibu Guru juga akan tau kamu dan Bapak sudah pindah rumah, sekarang ayo masuk ke rumah baru kita. Nanti Juju bantu Bapak rawat tanaman, ya. Nanti kita juga tanam banyak pohon seperti di kebun Pak Iwa. Juju mau, ‘kan?”
“Mau! Ayo, Pak. Ayo masuk rumah baru!”
Bapak lalu memegang tanganku dan kami bersama-sama masuk ke rumah besar itu. Aku punya rumah baru. Rumah baruku besar. Tidak ada yang bolong, dindingnya juga bukan kayu, aku tidak tau terbuat dari apa, tapi rumahnya besar.
Bapak buka pintunya, di dalamnya banyak sekali barang-barang, ada kursi juga seperti di rumah Pak Iwa, tapi lebih besar. Ada makanan banyak sekali, aku lihat juga semua buah-buahan yang ada di gambar yang tertempel di sekolah. Ada susu juga.
Aku melepas tangan Bapak dan berlari-lari di dalam rumah. Bapak memintaku untuk pelan-pelan, aku harus hati-hati, tidak boleh terjatuh. Di rumah ini juga banyak air, tidak perlu mengambilnya di lubang air, dapurnya juga besar, ada kompor seperti di rumah Pak Iwa, tidak perlu lagi pakai kayu bakar.
Aku senang sekali, meskipun di sini tidak ada Hani, tidak ada Ibu Guru dan tidak ada Pak Iwa, tapi aku tetap senang. Kata Bapak, Om Botak yang suka marah-marah pada Bapak juga tidak akan ke sini.
Aku akan tidur nyenyak di sini, tidak akan takut hujan, tidak akan takut tikus lagi, aku juga bisa makan setiap hari, bisa makan tiga kali, bisa makan kapan saja. Bapak juga punya banyak uang, Bapak bisa belikan apa saja.
Aku senang sekali, kata Bapak kalo senang kita harus bersyukur, bersyukur itu mengucapkan Alhamdulillah. Aku juga mengucapkan alhamdulillah, berterima kasih pada Tuhan. Kata Bapak, Tuhan itu baik, Tuhan akan berikan apa saja yang kita mau.
Bapak bilang aku harus rajin berdoa, kalo berdoa nanti Tuhan kasih semua yang aku mau. Sekarang aku punya apa yang aku mau, Tuhan pasti dengar doa aku. Tuhan baik sekali, ya. Tuhan berikan aku dan Bapak banyak makanan, banyak mainan, dan banyak lagi.
Aku senang. Aku harus berbuat baik, seperti yang Ibu Guru bilang. Aku tidak boleh nakal, aku harus menolong orangtua, aku juga tidak boleh membuat Bapak repot. Semua makanan di rumah besar ini pasti hadiah dari Tuhan, karena aku baik sama Bapak, baik sama Hani, juga baik sama Ibu Guru.
Aku senang sekali, aku gembira, aku bahagia. Bapak terima kasih, Tuhan terima kasih, ya. Tuhan baik sekali. Tuhan, aku bisa tidur dengan kasur empuk, aku suka.
Terima kasih Bapak, Bapak tidak harus kerja ke pasar lagi, Bapak sudah banyak uang.
Aku malam ini tidur di kamar dengan kasur empuk, masih dengan Bapak, karena aku tidak mau sendirian. Aku sayang Bapak, aku sayang Tuhan, aku juga sayang aku.