Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Matahari bersinar terik, seolah alam semesta tahu bahwa hari ini aku butuh spotlight. Tapi bukan spotlight kesuksesan yang kudapat, melainkan spotlight kehancuran martabat.
Hari ini adalah hari keramat. Gebetan terindahku, Nadia, menikah dengan seorang pengusaha tambang batu bara yang dompetnya mungkin lebih tebal daripada kitab undang-undang hukum pidana.
Aku diundang. Tentu saja. Nadia bilang, "Datang ya, Yo. Kita kan tetep bestie."
Bestie gundulmu.
Demi menjaga sisa-sisa harga diri yang sudah sekarat, aku tampil maksimal. Aku mengenakan kemeja batik sutra (kw super) yang licin, sepatu pantofel yang sudah kusemir pakai kiwi sampai bisa buat ngaca, dan ini dia bintang utamanya, sebuah celana Chino berwarna cream ketat yang kubeli di flash sale 11.11 seharga 35 ribu rupiah.
Celana itu pas. Sangat pas. Terlalu pas. Membungkus kaki dan bokongku dengan presisi milimeter. Ibuku sempat bilang, "Yo, itu celana apa kulit sosis? Kok rapet banget?" Aku menjawab dengan angkuh, "Ini fashion, Bu. Slim fit. Biar kelihatan Korean Style."
Sebuah kalimat yang akan kusesali seumur hidup.
Gedung pernikahan itu megah. Lampu kristal menggantung, bunga-bunga impor bertebaran, dan aroma rendang sapi menusuk hidung, menggoda iman. Tamu-tamu yang datang rata-rata wangi duit. Ada yang bawa tas Hermes, ada yang jasnya Giorgio Armani. Lalu ada aku, Cahyo, dengan outfit total seharga 150 ribu (termasuk celana dalam).
Aku berjalan masuk dengan dagu terangkat. Langkahku mantap. Tap. Tap. Tap. Aku merasa seperti James Bond yang baru masuk kasino, padahal aslinya kayak sales asuransi yang nyasar ke pesta konglomerat.
Tujuan utamaku sebelum naik ke pelaminan adalah: Prasmanan.
Aku melihat booth Zuppa Soup. Antreannya mengular. Tapi demi sup krim dengan topi pastry itu, aku rela menunggu. Setelah 15 menit, akhirnya aku mendapatkan mangkuk panas itu.
Masalah dimulai di sini.
Sendok. Ya, sendok plastik kecil itu jatuh dari tanganku saat aku hendak mengambil tisu.
Klinting.
Jatuh tepat di samping sepatuku. Sebagai manusia yang beradab dan tidak mau mengotori lantai gedung mewah, instingku bekerja. Aku harus mengambil sendok itu.
Tanpa memperhitungkan koefisien elastisitas kain celana Chino 35 ribuan melawan gaya tarik gravitasi bokong, aku melakukan gerakan jongkok mendadak. Gerakan squat sempurna.
Dan saat itulah... Waktu seolah berhenti. Dunia melambat. Burung-burung berhenti berkicau. Malaikat pencatat amal berhenti menulis.
KREEEEEEEET...... TEK!
Suara itu. Itu bukan suara biasa. Itu adalah suara kain yang menjerit kesakitan sebelum akhirnya menyerah pada takdir. Suaranya nyaring, renyah, dan kering. Terdengar seperti suara dahan pohon tua yang patah di tengah hutan sunyi, namun diamplifikasi menggunakan speaker masjid.
Di tengah hiruk pikuk pesta, bagiku suara itu lebih keras dari dentuman bom atom.
Hening. Aku membeku dalam posisi jongkok. Mataku melotot. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung menetes dari jidat. Perlahan, sebuah sensasi dingin menyapa kulit pantatku. Angin AC gedung yang disetel di suhu 16 derajat Celcius itu membelai lembut belahan bokongku. Itu adalah Ventilasi Neraka.
"Mampus," bisikku lirih.
Aku meraba bagian belakang dengan tangan gemetar. Jariku menyentuh kulit. Kulit telanjang. Robekannya bukan robekan kecil. Bukan lubang jarum. Ini adalah Grand Canyon. Robekan itu membentang vertikal, membelah jahitan tengah celanaku mulai dari pinggang bawah sampai ke paha atas.
Celana Chino slim fit-ku telah resmi berubah menjadi celana split back model terbaru.
Dan yang paling parah: Hari ini aku memakai celana dalam berwarna Merah Cabe dengan motif Angry Birds.
Aku berdiri pelan-pelan. Sangat pelan, seperti robot yang olinya habis. Aku merapatkan kedua kakiku sekuat tenaga. Menjepit sobekan itu dengan kekuatan otot gluteus maximus.
Aku melihat sekeliling. Apakah ada yang dengar? Di sebelahku, seorang bapak-bapak sedang menyeruput Zuppa Soup. Dia menatapku aneh. "Kenapa, Mas? Encok?" tanyanya.
"Bukan, Pak. Ini... latihan yoga isometrik," jawabku asal sambil menahan napas.
Sekarang, misi utamaku berubah. Dari Menikmati Pesta menjadi Operasi Penyelamatan Harga Diri. Aku harus keluar dari gedung ini tanpa ada yang melihat Angry Birds merah di pantatku.
Tapi, Nadia dan suaminya ada di ujung sana. Aku belum salaman. Kalau aku pulang sekarang tanpa salaman, aku akan dicap sombong. Tapi kalau aku maju salaman, aku akan dicap eksibisionis.
Aku memutuskan untuk mencari tempat berlindung dulu. Tembok terdekat ada di jarak 10 meter. Aku mulai bergerak.
Tapi aku tidak bisa jalan biasa. Kalau aku melangkah normal, celah Grand Canyon itu akan terbuka lebar, memamerkan si Burung Pemarah kepada dunia. Jadi, aku melakukan gerakan Jalan Kepiting.
Aku menggeser kaki kanan sedikit, lalu menyeret kaki kiri. Geser, seret. Geser, seret. Punggungku menempel ketat pada pilar gedung, lalu pindah ke tembok. Mataku waspada menatap sekeliling seperti intelijen musuh.
Seorang pelayan lewat membawa nampan gelas kotor. "Mas, ngapain nempel tembok? Kayak cicak," tegur pelayan itu.
"Saya lagi mengagumi tekstur wallpaper-nya, Mas. Artistik sekali. Reliefnya terasa nyata," jawabku sambil meraba-raba tembok dengan wajah sok serius, padahal tanganku yang satu lagi sedang memegang erat sobekan celana di pantat.
Aku berhasil mencapai sudut ruangan yang agak gelap. Aman? Belum. Aku butuh penutup. Jaket? Sial, aku tidak bawa jaket. Aku cuma bawa amplop kondangan. Dan amplop ini ukurannya cuma menutupi sepersepuluh dari bencana yang terjadi di belakangku.
Tiba-tiba, MC di panggung bersuara lantang. "Yak, dimohon untuk teman-teman alumni SMK Telkom angkatan 2011 untuk naik ke panggung! Kita foto bersama mempelai!"
Jantungku berhenti. Itu angkatanku. Semua teman-temanku mulai bergerak ke panggung. "Woi, Cahyo! Sini! Ngapain di pojokan kayak penunggu gedung!" teriak Fahmi, teman sebangkuku dulu.
Semua mata tertuju padaku. Nadia di pelaminan melambai-lambai cantik. "Cahyo! Ayo sini!"
Tamat riwayatku. Kalau aku tidak maju, aku aneh. Kalau aku maju, aku tamat. Otakku berputar keras. Aku butuh kamuflase.
Aku melihat sebuah taplak meja panjang di meja prasmanan puding yang tak jauh dariku. Taplak itu berwarna emas rumbai-rumbai. Ide gila muncul. Kalau aku tarik taplak itu dan kulilitkan di pinggang, aku akan terlihat seperti orang gila yang memakai sarung emas. Tidak, itu terlalu mencolok.
Aku melihat tas selempang seorang ibu-ibu yang ditaruh di kursi. Jangan, Cahyo. Mencuri itu dosa. Dosanya lebih besar daripada malu pantat sobek.
Akhirnya, aku menemukan solusi sementara. Tas Laptop. Kebetulan aku tadi habis dari kantor dan membawa tas ransel laptop. Tas itu kutitipkan di meja penerima tamu. Sial, jauh banget!
"Ayo Cahyo! Lama banget sih!" teriak teman-temanku lagi.
Aku menarik napas panjang. Aku harus melakukan improvisasi tingkat dewa. Aku mengambil dua piring kotor bekas makan orang. Ya, dua piring. Aku memegang satu piring di tangan kiri, dan satu piring di tangan kanan.
Rencanaku: Aku akan berjalan menuju panggung dengan posisi piring tangan kanan ditaruh di punggung bawah (menutupi pantat) seolah-olah aku sedang gaya santai atau apalah.
Aku mulai berjalan. Piring keramik itu dingin menempel di pantatku. Teman-temanku bingung. "Yo, ngapain lu bawa piring kotor ke panggung?" tanya Fahmi saat aku sampai di tangga panggung.
"Ini... filosofi, Mi," jawabku berkeringat dingin. "Piring kotor melambangkan masa lalu yang harus kita cuci bersih sebelum menempuh hidup baru. Simbolis buat Nadia."
Fahmi menatapku jijik. "Makin gila lu ditinggal nikah."
Kami berbaris di panggung. Aku mengambil posisi paling belakang. Paling pojok. Membelakangi dekorasi styrofoam. Aman. Punggungku nempel ke backdrop pelaminan. Pantatku aman dari pandangan audiens.
"Oke, satu... dua... tiga... CEEERS!" teriak fotografer.
Cekrek. Foto aman. Sekarang masalahnya: Turun Panggung.
Tangga panggung ada di depan. Itu artinya aku harus berjalan membelakangi ratusan tamu undangan. Jika aku berjalan turun tangga, celah Grand Canyon itu akan menganga lebar seiring langkah kakiku menuruni anak tangga. Angry Birds merah akan melotot menatap para tamu VIP.
Aku tidak bisa turun.
"Ayo Yo, turun. Gantian sama rombongan keluarga," kata Fahmi mendorong bahuku.
"Duluan, Mi. Gue... gue masih mau menikmati aura cinta di sini," kataku sambil memeluk tiang dekorasi bunga plastik.
"Apaan sih lu, ayo ah!" Fahmi menarik tanganku.
"JANGAN! JANGAN SENTUH AKU!" teriakku histeris. Suaraku terlalu keras. Musik dangdut koplo yang baru mulai intro pun kalah nyaring. Hening lagi. Pengantin menatapku. Tamu menatapku.
"Gue... gue kram," dustaku. "Kaki gue kram. Gabisa jalan."
Nadia, sang pengantin yang baik hati, panik. "Eh, tolongin Cahyo dong, papah kayaknya dia sakit."
Bapaknya Nadia (mantan calon mertua yang galak) mendekat. "Kenapa kamu, Nak Cahyo?"
"Kram Pak. Kram akut. Sindrom kaki patung. Saya harus diam di sini sampai pestanya selesai," jawabku ngawur.
"Wah, ga bisa gitu. Nanti nutupin jalan. Ayo diangkat bareng-bareng!" perintah Bapaknya Nadia.
MATI AKU. DIANGKAT. Kalau aku diangkat, pantatku akan terekspos secara 360 derajat High Definition.
"TIDAK USAH PAK!" Aku mundur selangkah.
KREK! Bunyi sobekan kedua. Kali ini lebih panjang. Sekarang angin AC tidak hanya membelai pantat, tapi sudah masuk sampai ke paha dalam. Celana Chino-ku kini resmi terbelah dua, hanya disatukan oleh doa dan jahitan resleting depan yang berjuang sendirian.
Aku harus kabur. SEKARANG. Aku melihat ke sekeliling. Otakku bekerja dalam mode survival. Aku butuh kendaraan. Aku butuh tameng.
Mataku tertuju pada sebuah Troli Katering yang nganggur di samping panggung. Troli besi tingkat tiga yang biasa dipakai untuk mengangkut piring kotor. Ukurannya besar, tingginya sepinggang. Sempurna.
Tanpa mempedulikan kewarasan, aku melakukan manuver yang kusebut: "The Reverse Moonwalk of Shame".
Aku berjalan mundur dengan cepat ke arah troli itu. Bapaknya Nadia mau memegangku, tapi aku menghindar dengan gerakan mundur yang lincah seperti Michael Jackson versi kebelet boker.
Set! Pantatku sukses menempel ke sisi troli. Dinginnya besi troli terasa nikmat dibandingkan risiko malu.
"Mas Cahyo, mau ngapain?" tanya pelayan katering yang punya troli.
Aku menatap pelayan itu dengan tatapan tajam setajam silet. Tatapan alpha male yang terdesak. "Mas, pinjam troli ini. Hidup mati saya tergantung pada benda beroda empat ini."
"Tapi Mas, ini buat piring kotor..."
"SAYA TIDAK PEDULI! SAYA AKAN JADI RELAWAN PIRING KOTOR HARI INI!"
Aku mencengkeram pegangan troli itu. Posisiku sekarang: Berdiri di belakang troli, dengan troli menutupi seluruh tubuh bagian bawahku dari depan. Tunggu, salah. Sobekannya kan di belakang (pantat). Jadi aku harus memposisikan troli ini di BELAKANG punggungku.
Jadi, aku memutar badan. Membelakangi troli, lalu berjalan mundur, menyeret troli itu menempel ketat di pantatku.
Orang-orang menatapku bingung. Seorang pria berbaju batik, berjalan mundur perlahan menuruni tangga panggung, sambil menyeret troli piring kotor yang menempel di bokongnya seolah-olah troli itu adalah bagian tubuhnya yang tumbuh secara mutasi genetik.
Kring... kring... suara piring kotor beradu saat roda troli menuruni tangga. Gubrak! Satu gelas jatuh. Aku tetap fokus. Pandangan lurus ke depan (ke arah Nadia), sambil berjalan mundur.
"Dah Nadia! Selamat ya! Maaf aku harus pergi, panggilan alam!" teriakku sambil terus mundur.
"Cahyo! Itu troli orang!" teriak Fahmi.
Aku tidak peduli. Aku terus mundur. Aku melewati kerumunan tamu. Aku menabrak kursi. Aku menabrak tante-tante yang lagi makan es puter. Es puternya tumpah ke kebaya mahalnya. "Maaf Tante! Rem blong!" teriakku tanpa berhenti mundur.
Jarak ke pintu keluar masih 50 meter. Troli ini berat. Rodanya satu macet. Piring-piring kotor berguncang, menebarkan aroma sisa gulai kambing ke bajuku. Aku terlihat seperti Manusia-Kepiting-Penyampah.
Tiba-tiba, bencana susulan. Karpet merah di tengah ruangan itu agak bergelombang. Roda troli tersangkut di lipatan karpet.
Aku menarik sekuat tenaga sambil mundur. "Ayo... bergeraklah wahai benteng besi..."
SREEET! Troli terlepas. Tapi karena tenagaku terlalu besar, troli itu terpelanting sedikit. Celah terbuka. Selama 2 detik, Angry Birds merah di pantatku mengintip dunia, menyapa seorang anak kecil yang sedang makan sosis. Anak itu menunjukku. "Ma, burung merah! Burung merah!"
Ibunya menoleh. Dengan refleks ninja, aku membanting tubuhku menempel kembali ke troli. "Burung apa Dek? Salah liat kali, itu... refleksi lampu merah," kataku panik.
Aku melanjutkan perjalanan mundurku. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuh. Batikku basah kuyup. Wajahku pucat.
Pintu keluar sudah di depan mata. 10 meter lagi. Tapi di sana, berdiri pagar betis dari penerima tamu yang cantik-cantik. Mereka menatapku dengan bingung. "Mas? Kok jalannya mundur bawa sampah?"
Aku butuh alasan yang logis. Alasan yang Absurd tapi tak terbantahkan. Aku berhenti sejenak, mengatur napas, menatap mbak-mbak penerima tamu itu dengan wibawa palsu.
"Mbak," kataku dengan suara berat (hiperbola dramatis). "Ini adalah tradisi adat keluarga saya. Jika meninggalkan pesta mantan gebetan, kita tidak boleh membelakangi pengantin, dan harus membawa beban masa lalu keluar bersamanya. Troli piring kotor ini adalah metafora dari kenangan buruk yang saya bawa pergi agar rumah tangga mereka bersih."
Mbak-mbak itu melongo. "Hah? Adat mana Mas?"
"Adat... Adat Purwokerto tenggara Cabang Planet Mars," jawabku cepat.
"Minggir Mbak, ritual sedang berlangsung."
Mbak-mbak itu mundur ketakutan. Jalan terbuka lebar.
Dengan satu dorongan terakhir, aku meluncur mundur keluar dari pintu kaca gedung. Angin luar menyapaku. Aku bebas!
Tapi tunggu, parkiran motor masih jauh. Aku tidak bisa membawa troli ini sampai ke rumah. Itu namanya pencurian aset katering. Aku melepaskan troli itu di lobi.
Sekarang aku berdiri di lobi gedung. Tanpa tameng. Satpam menatapku. Tukang parkir menatapku. Dan celanaku... kini sudah sobek total. Kain bagian belakang sudah menjuntai seperti bendera kalah perang. Angry Birds merahku kini terekspos sepenuhnya, menatap dunia dengan tatapan marahnya yang ikonik.
Apa yang harus kulakukan? Lari? Tidak mungkin. Lari akan membuat kain itu berkibar.
Di saat itulah, otakku yang kepepet melahirkan ide Sinematik nan Absurd.
Di lobi itu ada sebuah banner (Standing Banner) promosi Wedding Organizer. Banner itu tinggi, ukurannya sebadan manusia. Gambarnya sepasang pengantin tersenyum bahagia. Aku melihat banner itu. Aku melihat satpam.
Dengan gerakan slow motion yang dramatis di kepalaku, diiringi lagu Mission Impossible, aku berlari menyamping, menyambar X-Banner itu.
Aku mencabut tiang penyangganya. Lalu aku memakai banner itu sebagai "Sarung". Aku melilitkan banner plastik bergambar pengantin itu ke pinggangku.
Sekarang, aku terlihat memakai rok kaku bergambar wajah orang nikah. Wajah pengantin pria di banner itu pas sekali menutupi bagian pantatku.
"Hey! Itu aset WO!" teriak satpam.
"SAYA PINJAM PAK! SAYA KEMBALIKAN BESOK! SAYA LAGI COSPLAY JADI BUKU NIKAH!" teriakku sambil berlari menuju motor.
Aku berlari seperti orang gila yang memakai rok plastik kaku. Suara plastik banner bergesekan krek krek krek mengiringi langkahku. Wajah pengantin di pantatku bergoyang-goyang seirama dengan lariku.
Aku melompat ke atas motor Beat-ku. Banner itu menyusahkan. Aku tidak bisa duduk. Banner plastik itu kaku. Jadi aku harus berkendara dengan posisi setengah berdiri (nungging) agar bannernya tidak rusak dan pantatku tidak terekspos.
Aku tancap gas. Brum!
Aku melesat meninggalkan gedung terkutuk itu. Di jalan raya, orang-orang menatapku. Seorang pria berbaju batik, naik motor dengan posisi nungging, memakai rok dari banner bergambar pengantin, dengan wajah penuh keringat dan air mata kelegaan.
Angin malam menerpa wajahku. Dingin. Sedingin pantatku yang sobek, tapi sehangat hatiku yang berhasil selamat dari kiamat sosial.
Aku memang kehilangan celana Chino 35 ribu. Aku memang kehilangan martabat di depan alumni SMK. Tapi setidaknya... Burung Angry Birds merahku berhasil melihat dunia luar, meski hanya sebentar.
Dan dari spion, aku melihat wajah pengantin pria di banner yang menutupi pantatku itu seolah tersenyum mengejek, berkata: "Nice try, Cahyo. Nice try."