Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Ceker Ayam Favorit Ibu
0
Suka
26
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Setiap kali kami makan ayam, ibu selalu melakukan hal yang sama. Tangannya yang paling cepat bergerak mengambil bagian kaki, sayap, atau leher. Bagian-bagian yang minim daging, penuh tulang, dan sering dianggap remeh.

“Ceker buat ibu,” katanya ringan, sambil tersenyum. Ia membolak-balik lauk dengan sendok mencari bagiannya.

Ia mengunyah, rahangnya tampak bekerja keras. “Enak sekali, bumbunya sangat terasa,” katanya.

Aku dan adikku tak pernah mempermasalahkan itu. Kami berpikir itu adalah makanan favoritnya. Namun, kami senang paha ayam selalu utuh di piring kami. Dalam pikiranku waktu itu, ibu memang punya selera aneh.

“Ibu kok sukanya kaki?” kataku sambil tertawa ringan.

“Ibu hanya tersenyum. “Ibu suka,” jawabnya singkat dan aku percaya.

“Itu favorit ibu,” sahut adikku.

Bertahun-tahun, pemandangan itu berlangsung. Di meja makan yang sederhana, setiap kali lauk ayam, selalu sama. Ibu dengan ceker di piringnya, kami dengan daging di piring kami. Tak pernah sekalipun aku melihat ibu mengambil paha.

Hingga suatu hari, aku pulang sebagai orang dewasa. Rumah itu tak banyak berubah. Meja makannya masih sama, hanya jumlah kursinya berkurang. Adikku pun sudah jarang pulang, dan ibu tampak lebih kurus dari yang kuingat.

Siang itu, aku memasak ayam kecap dari resep yang pernah diajarkan ibu. Ayam yang kumasak adalah ayam peliharaan ibu. Jumlahnya kini terlihat lebih banyak. Tadi, ibu sendiri yang memilih ayam mana yang akan disembelih.

Sementara aku memasak, ibu menyirami tanamannya di samping dapur. Ibuku memang rajin berkebun dan beternak.

“Ayam-ayam ini memang sengaja ibu pelihara dan nggak disembelih,” katanya mulai bercerita.

“Kenapa?” sahutku, sambil tangan sibuk mengaduk dalam kuali.

“Buat kamu atau adik kalau pulang.”

Aku tertawa kecil. “Ibu … kami di kota juga hampir setiap hari makan ayam, Bu.”

“Tapi ini ayam kampung, beda dengan ayam yang dijual di kota itu.”

Bahkan beberapa ayam itu diberi nama kami. Ayam yang sedang bertelur adalah milik adikku. Sementara ayam yang anaknya masih kecil dan ayam jago merah adalah milikku, katanya. Seperti sedang membagikan harta warisan.

Aku masih setia mendengarkan perkataannya. Lucu memang. Aku dan adikku tak pernah merawat ayam-ayam itu. Kami bahkan tak pernah memberinya makan. Namun, entah sejak kapan, ibu sudah membagi mereka menjadi milik kami.

“Lila, kamu pulang besok bawa mangga itu. Ada empat buah yang sudah matang. Bapak sudah simpan di meja samping rak piring,” katanya.

“Rasanya sangat manis. Tadi pagi ada satu yang jatuh digigit kalong. Bapak sama ibu sudah mencobanya. Karena manis, yang masih bagus ibu simpan untuk kamu bawa besok,” tambahnya.

“Iya, Bu.” Aku masih setia mendengarkan kalimat demi kalimatnya. Padahal, di kota aku bisa membeli mangga kapan saja.

“Bapak petikkan rambutan juga nanti sore,” kata ibu. Astaga! Banyak sekali, pikirku. Aku pasti kerepotan membawanya.

Sebenarnya aku malas membawa barang-barang itu. Di kota, semuanya mudah ditemukan. Mangga bisa dibeli, rambutan juga bisa. Aku bahkan bisa mendapatkannya kapan saja.

Tapi untuk menolak, rasanya tidak sampai hati. Ibu menceritakannya saja sudah begitu bersemangat.

“Pisang belum ada yang matang. Belum bisa membawanya,” kata ibu, seolah-olah aku meminta semuanya.

Aku bersyukur dalam hati. Setidaknya, bawaan yang harus kubawa besok tidak bertambah berat.

Masakan telah matang. Tak lama kemudian, Bapak kembali dari kebun dan membersihkan diri di sumur. Karena sudah memasuki jam makan siang, aku segera menghidangkan ayam kecap dan berbagai menu lainnya di atas meja. Kami pun makan bersama.

Makan siang itu dipenuhi obrolan ringan. Bapak dan Ibu kembali menceritakan kebiasaan aku dan adik semasa kecil yang kini terdengar lucu jika diingat.

Sesekali kami tertawa. Rasanya baru kemarin aku melakukan semua yang mereka ceritakan, tetapi hari ini semuanya telah menjadi cerita. Waktu ternyata berjalan begitu cepat.

Diam-diam, aku memandangi wajah Bapak dan Ibu. Keriput telah memenuhi wajah mereka, rambut mereka tak lagi sehitam dulu, tetapi cahaya di mata mereka masih sama.

Usai makan siang, aku beristirahat di dalam kamar sambil bermain ponsel. Angin sepoi-sepoi yang masuk lewat jendela membawa hawa sejuk, membuat mataku mengantuk. Aku pun tertidur.

Sore harinya aku terbangun, mulutku rasanya ingin sekali makan sesuatu, tetapi bukan nasi. Aku melangkah keluar kamar, bapak dan ibu sedang menonton televisi di ruang depan.

“Pak, Bu, aku mau ke minimarket dulu,” pamitku, sambil lewat di belakang mereka.

Bapak dan Ibu menoleh, mengangguk dan berkata. “Iya, hati-hati.”

Aku menyalakan motor dan melajukan menuju minimarket yang letaknya cukup jauh dari rumah. Di tengah perjalanan, aku menyadari sesuatu, sepertinya aku lupa membawa hal yang paling penting.

Aku menepikan motor di bahu jalan, turun dan membuka jok. Dan benar saja, aku belum memasukkan dompetku ke sana. Aku menghela napas berat lalu berputar balik ke arah rumah.

Aku masuk, mengucap salam pelan. Di ruang tengah sudah tak ada bapak dan ibu, tetapi televisi masih menyala.

Aku melangkah menuju kamar. Namun, saat melewati dapur, aku tak sengaja mendengar percakapan bapak dan ibu. Langkahku terhenti dan terdiam beberapa saat.

“Ambillah yang ini saja, Bu,” kata Bapak.

“Jangan, yang daging-daging ini buat Lila nanti,” sahut Ibu.

Terdengar suara sendok beradu dengan panci, seperti biasa saat ibu mencari ceker atau bagian-bagiannya.

“Lila pergi jajan. Lila sudah dewasa, Bu. Sudah bisa cari uang sendiri, sudah bisa beli apa yang dia mau. Lila pasti kenyang.”

“Iya, Pak. Ibu tahu, tapi ayam yang dimasak ibu ini tidak dijual,” sahut ibu bersikeras.

Aku masih diam di tempat, percakapan itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa menyentil sesuatu di dalam hatiku. Aku tidak masuk ke dapur. Aku lalu mengambil dompet di kamar dan pergi lagi.

Beberapa waktu kemudian, aku pulang membawa seember ayam krispi. Bapak dan ibuku menyambut dengan berbinar.

“Banyak sekali,” kata Ibu sambil tertawa kecil.

“Biar kita makan sama-sama.” Aku meletakkan ember itu di depan mereka.

Aku duduk bersama bapak dan ibu di ruang itu sambil menonton acara televisi. Sebenarnya aku tak suka acara itu, tetapi bukan itu yang kuinginkan sekarang.

“Ini camilan kita sore ini.”

“Nggak pake nasi, La?” kata bapak.

“Enggak, Pak. Makan kayak gini, aja. Kan, camilan.”

Aku mengambilkan potongan ayam untuk bapak dan ibu terlebih dahulu. Kupilihkan yang dagingnya besar.

Dulu, Ibu yang selalu memilihkan bagian terbaik untukku. Kini, giliran aku yang melakukannya untuk mereka.

Akhirnya aku tahu, Ibu mengatakan suka bukan karena benar-benar menyukainya, tetapi agar anak-anaknya mendapatkan bagian terbaik. Suka hanyalah alibi sederhana, supaya pengorbanannya tak terlihat sebagai sebuah keterpaksaan.

Selesai.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Ceker Ayam Favorit Ibu
Dara Kirana
Cerpen
Esensi Asasi Afeksi
Rairaa
Cerpen
Bronze
Dapur dan Labelnya
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Pagar Depan Rumah
spacekantor
Cerpen
Pengantar Maut
zain zuha
Cerpen
Bronze
Kesumat
Dyna Rukmi Harjanti Soeharto
Cerpen
Bronze
Manto dan Ayam Robot Bertopi Koboi
Arief Rahmanto
Cerpen
Bronze
Pending Apologize (Sintas Universe)
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
TRAUMA
Refy
Cerpen
Bronze
Lari
Erlangga Putra
Cerpen
Bronze
Kerja / Dikerjain?
Rolly Roudell
Cerpen
Bronze
FIRASAT EMAK
Efi supiyah
Cerpen
Bronze
Uncanny Valley
Damia Nur Shafira
Cerpen
Refleksi
RD Sinta
Cerpen
Bronze
Tubuh yang Tak Pernah Aku Pilih
JI
Rekomendasi
Cerpen
Ceker Ayam Favorit Ibu
Dara Kirana
Cerpen
Semangkuk Cinta
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Luka yang Mengajariku Bertahan
Dara Kirana
Cerpen
Simfoni Di Dapur Panas
Dara Kirana
Novel
Bronze
Madu yang Beracun
Dara Kirana
Cerpen
Selamat Tinggal Cinta
Dara Kirana
Cerpen
Hujan Dan Jejak yang Ditinggalkan
Dara Kirana
Cerpen
Cinta Tumbuh Dari Dompet
Dara Kirana