Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Jarum jam digital di dinding kamar apartemenku menyala merah, Aku terbangun tepat pukul 02:00 dini hari waktu Jepang. Sial, ini sudah menjadi rutinitas yang mengutukku akhir-akhir ini. Sedikit lelah tapi enggang untuk terpejam kembali. Aku meraih botol air mineral yang tersaji di atas nakas. Keringatku selalu bercucuran jika bermimpi buruk. Lalu keteguk untuk menghilangkan dahaga. Di penghujung bulan aku masih menderita susah tidur rupanya. Katanya jika rutin mengonsumsi obat herbal aku akan sembuh dari insomnia. Mana? Iklan pembual..!!
******
Nagoya, September 2026
Dulu, aku selalu mencemooh orang-orang yang meromantisasi kesedihan. Bagiku, itu konyol. Bagaimana bisa seseorang yang sedang hancur malah sempat-sempatnya merangkai puisi indah? Menjijikkan.
Tapi dini hari ini, di bawah langit Nagoya yang dingin, aku terpaksa menelan ludahku sendiri. Rasa sesak ini terlalu nyata untuk dianggap fiksi.
Di atas meja kayu, ponsel cadanganku kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi yang tak ada habisnya. Teror. Ujaran kebencian. Kata-kata kotor yang diketik dengan penuh kedengkian. Aku bahkan tidak berani membayangkan apa isi kotak masuk email-ku sekarang.
Aku melirik laptop di sudut meja. Tidak, aku tidak ingin menyentuhnya.
Kemarin malam, aku sudah mencabut kabel komputer secara paksa dari stopkontak, dengan begitu aku bisa memutus rantai kegilaan ini dari hidupku. Ponsel utamaku pun sudah mati total, tergeletak tak berdaya di lantai dekat tempat tidur.
Aku memeluk lutut dengan erat di atas kasur, menundukkan kepala sedalam mungkin. Aku mencoba menangis, mendulang air mata yang rasanya sudah mengering menyisakan perih. Pandanganku kabur. Ketika aku menyentuh wajahku, kelopak mata sipitku sudah membengkak seukuran buah ceri.
Kemarin, aku mengajukan cuti dadakan ke kantor. Persetan dengan profesionalitas. Aku hanya ingin menghindari interaksi. Aku tidak sudi mendengar pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang menyebalkan.
“Kenapa matamu bengkak?”
“Kenapa hari ini diam terus?”
“Kamu lesu sekali, ada masalah?”
Whatever. Aku benci diinterogasi. Lagipula, aku tahu persis siapa saja yang akan bertanya dengan nada sok peduli, kecuali satu-dua teman dekatku yang memang tahu kejadian sialan ini dari awal.
Aku meraih ponsel cadangan dengan tangan gemetar. Layarnya menampilkan sebuah pesan baru yang masuk beberapa menit lalu. Mataku terpaku pada untaian kata yang menyayat dada:
“Little girl prostitute, pasti ibumu sama denganmu kan? Gadis murahan. Perempuan jalang.”
Napas menyentak keluar dari tenggorokanku. Aku menangis tersedu-sedu, meski tidak ada satu tetes pun yang keluar. meremas bantal hingga jemariku memutih. Bagaimana jika Ibuku tahu? Bagaimana jika perempuan yang paling kuhormati di dunia ini tahu bahwa anak perempuannya dihina sedemikian rupa oleh seorang wanita tua berusia 45 tahun? Makian kasar yang sama sekali tidak berdasar.
Ibuku adalah seorang diplomat. Beliau bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo. Itulah alasan utama mengapa aku bisa berada di negara ini, menikmati fasilitas dan kehormatan yang melekat pada namanya. Ibuku adalah perempuan terhormat dengan segala titel pendidikan tinggi dan reputasi yang tak bercela. Dan sekarang, dia dihina oleh seorang wanita peyot yang bahkan tingkat peradaban dan kelasnya tidak selevel dengan kuku jari Ibu.
Wanita tua itu terus mengganggu hidupku. Dia menuduhku merebut suaminya. Sebuah asumsi paling konyol yang pernah kudengar.
Aku berteriak parau ke dalam bantal yang basah, "Seharusnya kamu tanya pada suamimu yang brengsek itu!"
Pria tua bangka berusia hampir 40 tahun itu yang terus menggoda dan membuntutiku. Dia yang memohon-mohon, berlutut memintaku untuk kembali padanya. Jika bajingan itu mengintaiku seperti predator, lalu mengapa istrinya menyerangku? Jika aku dicap sebagai jalang, lalu apa sebutan yang tepat untuk pria beristri yang mengaku lajang demi menipu gadis yang usianya jauh di bawah dirinya?
Ponsel cadanganku kembali bergetar. Nama "Ibu" tertera di layar. Jantungku mencelos.
Ini pasti karena aku membatalkan janji secara sepihak untuk pulang ke rumah orang tuaku di Tokyo malam tadi. Tak lama, panggilan itu mati dan berganti menjadi panggilan dari Ayah. Aku bisa membayangkan Ayah yang mondar-mandir di ruang makan dengan wajah cemas, melihat jam dinding yang menunjukkan waktu makan malam telah lama usai, sementara anak sulungnya tak kunjung mengetuk pintu.
Aku menatap layar yang berkedip-kedip itu dengan tatapan kosong. Jariku kaku. Aku ingin mengangkatnya, aku ingin berteriak menumpahkan semua rasa sakit ini pada Ayah dan Ibu. Aku ingin dilindungi.
Namun, harga diriku menolak. Ketakutanku lebih besar.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku menyeka air mata di pipi menggunakan punggung tangan. Aku membuka menu pesan teks, lalu mengetik kalimat singkat dengan ibu jari yang dingin:
“Aku lembur, Bu. Tidak jadi pulang.”
Send.
Aku melempar ponsel itu ke ujung kasur, lalu kembali meringkuk di dalam kegelapan. Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tidak akan pernah punya keberanian untuk mengakui bahwa dunia anak perempuannya sedang hancur lebur di luar sana.
*****
Pikiran ku merayap mundur, melempar ingatan ku tepat satu tahun yang lalu, saat Tokyo belum menjadi tempat pelarian ku. Saat itu, aku masih seorang mahasiswa tingkat akhir di Moskow, sibuk bergelut dengan skripsi dan dinginnya angin Rusia yang menusuk tulang.
Hari itu buruk. Salju turun tipis, dan aku sedang terburu-buru di dalam sebuah bus kota yang penuh sesak.
Saat bus melambat dan berhenti di halte tujuanku, aku melangkah maju ke pintu keluar. Tanganku meraba kantong mantel. Kosong. Aku mulai panik. Aku meraba tasku, membongkar isinya dengan gerakan serampangan. Dompetku tidak ada. Kartu e-money untuk mengetap keluar entah terselip di mana.
Beberapa orang di belakangku mulai berdecak tidak sabar. Antrean tertahan karena kecerobohanku. Wajahku memanas, keringat dingin mulai bercampur dengan hawa es Moskow. Aku kelimpungan, bibirku bergumam panik dalam bahasa Rusia yang mendadak terasa kaku di lidah.
Sebuah lengan kekar berbalut mantel wol gelap terulur melewati bahuku.
Pip.
Bunyi sensor mesin pemindai berbunyi nyaring. Lampunya berubah hijau.
"Dah, prokhodite (Silakan lewat)," sebuah suara bariton yang berat terdengar tepat di atas kepala ku.
Aku menoleh cepat. Seorang pria bule jangkung berdiri di sana. Rambutnya hitam dengan uban tipis di bagian pelipis yang justru membuatnya tampak matang dan berwibawa. Dia memberikan senyum tipis yang menenangkan, menyiratkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Spasibo," bisikku pelan, hampir tak terdengar karena rasa malu yang teramat sangat. Aku segera melangkah turun dari bus, menghirup udara dingin Moskow dengan lega.
Namun, kejutan belum selesai. Ketika aku berjalan menyusuri trotoar yang licin berwujud es, langkah kaki lebar di sampingku menyamakan ritme. Aku melirik ke samping. Pria penolong tadi.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya, kali ini menggunakan bahasa Inggris yang sangat fasih dengan aksen yang sulit kutebak. "Kau terlihat seperti kehilangan sesuatu yang berharga tadi."
Aku refleks meraba tas ku lagi, tersenyum canggung. "Dompetku... sepertinya tertinggal di kafetaria kampus. Terima kasih banyak atas bantuan-nya di bus tadi. Kalau tidak ada Anda, aku mungkin sudah ditahan petugas."
Pria itu terkekeh pelan. Uap putih mengepul dari mulutnya. "Bukan masalah besar. Kebetulan aku juga mau turun di area ini. Aku sedang menuju gedung perpustakaan kota."
Mataku membelalak kecil. "Benarkah? Tujuan kita sama. Aku juga mau ke sana untuk mencari referensi buku."
"Kebetulan yang menyenangkan," ucapnya sambil mengulurkan tangan yang terbungkus sarung tangan kulit hitam. "Panggil aku..."
Belum sempat aku menjabat tangan pria itu, sebuah suara cempreng yang sangat kukenal membelah udara dingin Moskow.
"Hoi... Aikoo..!"
Aku menoleh kearah sumber suara. Di dekat anak tangga gedung perpustakaan, Raxel sedang melambaikan tangannya dengan heboh. Dia adalah teman satu fakultas denganku di Ilmu Komunikasi. Di kampus, kami berdua seperti paket komplit yang tak terpisahkan, meskipun fokus kami berbeda dia mengambil jurusan perfilman, sedangkan aku memilih jurnalistik.
Melihat Raxel yang sudah gelisah, aku buru-buru membalas lambaian tangannya. Aku kembali menatap pria bule di hadapanku, lalu dengan agak canggung menunduk sedikit demi menyambut jabat tangannya yang hangat.
"Terima kasih, Sir," kataku setengah terburu-buru, mencoba terdengar seanggun mungkin dalam bahasa Inggris. "Bagaimana aku bisa membalas kebaikan Anda? Jika Anda ada waktu luang hari ini, aku ingin mentraktir Anda kopi di kafe dekat perpustakaan sebagai rasa terima kasih."
"Tidak perlu.Secangkir kopi terdengar sangat menyenangkan, Nona,"
jawabnya dengan suara bariton yang tenang, pelan namun terdengar berwibawa.
"Tapi sepertinya temanmu di sana sudah mulai membeku menunggumu."
Aku melemparkan senyum ramah terbaikku, lalu perlahan menarik tanganku dari genggamannya. "kalau begitu Lain kali jika kita bertemu kembali aku akan traktir anda. Tapi maaf aku harus duluan, Sir. Sampai jumpa!"
Tanpa menunggu jawabannya, aku membalikkan badan dan langsung berlari kecil pontang-panting ke arah Raxel. Bukan karena aku tidak sopan atau tidak tahu tata krama. Tapi hari ini, nasib kelulusanku sedang dipertaruhkan. Dosen pembimbing penggantiku kabarnya adalah seorang pria tua yang sangat menyeramkan dengan sikap yang kasar dan menyebalkan. Terlambat satu menit saja, habis sudah riwayat skripsiku.
"Lama sekali, Aiko! Aku hampir mati membeku di sini," gerutu Raxel begitu aku sampai di hadapannya. Dia merapatkan jaket tebalnya dengan wajah berkerut cemas.
"Maaf, Raxel. Tadi ada sedikit insiden di bus, dompetku terselip," aku sambil mengatur napas yang berembus menjadi uap putih di udara.
"Lalu siapa pria jangkung itu? Kamu mengenalnya?" tanya Raxel penasaran, matanya melirik ke arah jalanan di belakangku.
"Nanti aku ceritakan di dalam. Ayo cepat, sebelum dosen menyeramkan itu datang!" seruku sambil menarik lengan jaket Raxel, memaksanya bergerak menerobos pintu kaca gedung. Aku tidak tahu siapa dia, seperti nya tadi dia ingin memperkenalkan diri sebelum Raxel berteriak di ujung trotoar.
Ah.. Apa peduli ku..
Sebelum pintu geser perpustakaan menutup rapat, aku sempat menoleh sekilas ke belakang melalui kaca yang berembun. Pria jangkung beruban tipis itu masih berdiri tenang di posisinya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel wolnya. Dia tersenyum geli, tampak begitu terhibur melihat seorang mahasiswi Asia bertubuh mungil berlari kewalahan menerobos sisa-sisa salju demi mengejar waktu.
Lanjutannya nanti yah.. Aku capek.
Ngantuk juga.