Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Catatan Kotor Ayah
6
Suka
284
Dibaca

Setidaknya, ada tiga hal yang menjadi faktor penting untuk bisa memuluskan jalan hidup—mulus seperti suara Bernadya. Jalanan curam bisa menjadi landai, jalanan berkelok bisa menjadi lurus, dan jalanan berlubang menjadi rata.

Tiga faktor ini bukan hanya menjadi sebuah pendukung, tapi ini adalah hal yang paling utama. Aku merangkumnya dari sekitarku, betapa bahagia mereka yang mempunyai itu, bahkan memiliki salah satunya pun sudah menjadi hal yang harus bisa disyukuri.

Ah... pikiranku sedang terbang saat ini membayangkan hal itu, dan aku mencatatnya di sini, di sebuah catatan kotor menjelang tidur.

Anakku tertidur dengan derit kipas angin yang bergerak kanan dan kiri. Dia terlalu nyenyak hingga tak mengindahkan hal itu. Tapi tidak denganku, suara itu terbawa ke dalam mimpi. Terkadang juga suara itu menjadi latar suara dari sakit pinggangku ketika aku bangkit dari duduk.

Kipas angin itu sudah aku perbaiki, tapi tak lama dia begitu lagi. Tugasnya yang seharusnya mendinginkanku, malah memanasi hatiku yang lelah membongkarnya setiap minggu. Minyak Singer sudah kuberikan agar gerakannya menjadi lancar—dan itu memang berhasil—tapi karena itu juga dia malah aktif bernyanyi.

Anakku berguling memeluk pahaku yang sedang memegang buku kecil untuk menulis, sedangkan istriku bersembunyi di balik selimut di sebelah kiri anakku.

Istriku bilang, dia selalu masuk angin kalau tidur dengan kipas angin—sama sepertiku—sedangkan anakku tidak bisa tidur tanpa kipas. Dan dikarenakan kasta tertinggi dalam keluarga itu terletak pada jabatan anak, makanya kami bungkam. 

Aku rela mati untuk anakku, masak dengan kerokan setiap hari saja aku tak kuat? Dibandingkan aku harus memendam peluh di balik selimut seperti istriku, aku lebih memilih bersendawa sepanjang hari.

Aku merasa kasihan dengan anakku, harus hidup denganku yang terlalu banyak keterbatasan. Aku bisa saja membeli AC untuk anakku agar ia tidur nyaman, tapi aku takut tak mampu tagihan listriknya. Lagian daya listrik rumahku saat ini cuma 900 VA, sering sekali mati kalau istriku sedang menyetrika. Apalagi kalau ditambah dengan AC, mungkin satu area kontrakan bedeng ini yang bakal mati.

Andainya dia bisa memilih orang tua, mungkin aku tidak akan masuk kriterianya. Siapa yang mau hidup susah dengan orang tua yang biasa-biasa saja. Hidup mengontrak, makan seadanya, tabungan tak punya. Setiap hari waswas, takut jika ada keperluan mendadak. Katanya hidup cukup tanpa utang itu menyenangkan, kenapa aku tidak merasakannya?

Banyak yang bilang, hidup dengan gaji minimum itu sangat mencukupi, dan yang memberatkan itu adalah gaya hidup. Tapi aku tak tahu yang bicara seperti itu apakah benar gajinya sama sepertiku? Lagian gaya hidup mana yang memberatkanku? Aku tidak punya kendaraan, mobilitasku ditunjang oleh kaki, dan jika jauh aku menaiki transportasi umum. Aku tidak merokok dan tidak minum alkohol. Beli pakaian hanya ketika hari raya. Makan pun seadanya, dan bahkan sudah jarang sekali ada unsur hewani di piring kami. Jadi bagian mana yang memberatkan dari gaya hidup?

Aku dan istriku memang sama-sama bekerja, dan penghasilan kami nyaris serupa. Tapi kami juga harus menanggung hidup orang tua kami yang sudah tak bekerja. Dan itu tidak menjadi faktor kesusahanku, karena inilah kesempatan kami untuk membalas budi.

Jadi karyawan kantoran dengan tingkat paling bawah itu menyebalkan. Mau sekeras apa pun kami berusaha, kami hanya di rata-rata air. Kalau kami berhasil, yang akan wangi adalah atasan kami. Dan kalau kami gagal, maka yang bau ya kami sendiri.

Ada yang bilang, untuk mendapatkan perhatian maka caranya harus menjadi yang terbaik atau yang terjelek. Rasanya yang kedua adalah pilihan yang mudah, tapi aku tak siap dengan risikonya.

Layaknya keset, kalau sudah tidak bisa menyeka air dan membersihkan telapak kaki, mungkin tidak sampai hari berganti keset itu telah berubah. Itulah yang terus menghantuiku. Dengan kerja di atas rata-rata saja aku masih tidak terlihat dan nyaris tenggelam, apalagi kalau jelek.

Aku tahu memang hidup itu tak adil, tapi ya harusnya tidak segininya. Masak kesempatan promosiku gagal dengan orang yang baru masuk, padahal aku bekerja sudah lebih dari sembilan tahun, dan aku kalah dengan anak yang baru lulus perguruan tinggi. Katanya efisiensi dengan karyawan harga murah, tapi nyatanya malah mematikan karier karyawan lama, belum lagi atasan baru itu tidak tahu apa-apa, dan aku juga yang mengajarinya.

Punya tiga hal yang aku sebutkan di awal memang enak. Aku sejenak meletakan bukuku dan melihat anakku yang terlelap. Rasanya aku ingin meminta maaf padanya karena hidupku yang tak enak.

Ah... aku jadi teringat peristiwa hari ini di tempat kerja.

Aku sedang duduk dengan beberapa temanku di kantin gedung, kami sedang istirahat. Anak baru itu datang sendirian dengan celingak-celinguk. Aku tahu dia atasan baruku, tapi aku tak mengajaknya duduk bersama kami dan menghindari tatapannya. Dia berjalan sembari tersenyum dan melewatiku. Aku menebaknya pasti dia tak akan nyaman duduk bersama kacung seperti kami.

“Kok doi senyum sama lu?” kata teman perempuanku.

“Manajer baru gua,” ucapku ketus.

“Wih... dah ganteng, bos lagi, ramah pula!”

“Perasaan, gua juga ramah, tapi gak pernah lu puji begitu,” aku protes.

“Pertama lu bukan bos, kedua lu gak ganteng. Paling gak. Lu punya salah satu dulu biar gua puji,” ucapnya dengan mencibir.

Aku tak menggubrisnya, memang begitulah cara kami bercanda, dan aku pun sering meledek fisiknya. Mataku tertuju pada atasanku. Seorang wanita tiba-tiba duduk di hadapannya. Aku melihatnya dengan heran. Padahal masih ada beberapa bangku kosong, kenapa ia memilih duduk di sana? Selama ini sewaktu aku duduk sendiri tak ada wanita yang mau duduk di hadapanku, bahkan saat kantin sedang penuh.

Wanita itu terlihat mengajak berbicara terlebih dahulu dan sepertinya atasanku tak terlalu menanggapinya, ia lebih banyak memandang makanannya.

Menurutku itulah hal pertama yang harus dimiliki agar hidup kita berjalan lancar.

1. Fisik yang menawan.

Aku mencatatnya. Tidak dapat dipungkiri, hal itu menjadi faktor pelicin hidup yang seret, dan sikap seseorang mudah berubah hanya karena fisik.

Aku mengingat kisah hari ini lagi.

Di saat jam kerja telah usai, aku sedang berteduh di luar pos sekuriti gedung dari derasnya hujan mendadak turun. Aku terjebak bersama beberapa karyawan yang menunggangi kaki dan kendaraan umum. Mataku menatap karyawan yang pulang dengan kendaraan dan sekuriti yang menyapa. Terdapat perbedaan hangatnya sapaan itu tergantung dari kendaraan yang lewat. Semakin bagus kendaraannya, maka akan semakin lebar mulutnya.

Sebuah mobil sedan putih yang cukup panjang berhenti di hadapanku—aku sedikit mundur karena takutnya ia sedang menunggu seseorang. Mataku langsung melirik tajam sembari menerka berapa harganya, rasanya bekerja seumur hidup pun aku tak akan sanggup membelinya. Kalau pun aku mampu, aku akan mencicilnya dan mungkin hanya bisa membayar uang mukanya saja. Kalaupun aku mampu membayar cicilannya, bisa jadi cicilan per bulannya aku cicil selama beberapa bulan. Dan kalaupun aku mampu membayar uang muka dan cicilannya, rumah kami tak tersedia tempat untuk meletakkannya. Melihat mobil saja kepalaku sudah dibuat pusing.

Di tengah kesibukanku berpikir, kaca bagian penumpang depan terbuka. Aku melihat di dalamnya si anak baru itu tersenyum dan mengajakku pulang bersama. Aku terdiam sejenak dan menolak ajakannya karena segan. Setelah itu ia meninggalkanku dengan sekuriti yang semangat menyapanya.

“Sudah ganteng, kaya lagi! Pasti itu yang buat kariernya bagus,” gumamku, “tapi dia baik juga ya?”

Aku merapatkan bibir dan mendekati salah seorang sekuriti. “Pak, kenapa kalau yang pakai mobil Bapak nyapanya sopan banget?”

“Tidak kok, Pak. Saya dengan siapa saja tetap begini.”

“Cih! Bertahun-tahun gua kerja, gak pernah lihat lu nyapa gua,” pikirku.

“Pak, itu yang barusan lewat, yang BMW putih, itu anaknya Pak Charles, dia baru masuk hari ini.”

Dahiku mengernyit. “Charles?”

“Iya, yang punya PT”

Aku mengangguk dan meninggalkannya berteduh menjauh. “Enak banget itu pasti hidupnya, dah ganteng, kaya, dari keluarga tersohor lagi!” ucapku memandang hujan.

Aku menulis lagi.

2. Harta yang berlimpah.

3. Keluarga terpandang

Hah... selesai sudah catatanku. “Resep Hidup bahagia”.

Aku menatap kipas angin yang tak kunjung diam sembari mengelus dagu. “Jadi hari ini gua ngajarin anak owner dong ya? Bisa naik ini karier kalau gua baik sama dia. Tapi, masak harus jadi penjilat? Harus ketawa gitu pas dia lagi garing? Ah, gak banget!” Aku diam sejenak. “Hm... jadi penasaran.”

Aku meraih ponsel bututku, LinkedIn langsung menjadi pilihan paling atas saat namanya aku ketik di mesin pencari, dan dengan cepat aku menyambar situs tersebut. “Penasaran gua pengalaman dan pendidikan anak orang nomor satu ini.” Mataku terbelalak. “Kepala Departemen?” Sejenak aku mematung sembari membaca pengalaman kerja pria itu.

“Tahun masuk kuliahnya sama kayak gua?” Aku mengalihkan pandangan sejenak sembari berpikir. “Kok dari tampang dia muda banget ya? Apa gua yang kelihatan tua?” aku mengelus rambutku yang menipis.

“Dia ambil S2, dan kariernya naik terus? Ini perusahaannya kayaknya kompetitor deh. Jadi mata-mata kali dia ya? Hebat juga di perusahaan lain tanpa orang dalam bisa setinggi itu jabatannya.”

Jariku sibuk sekali saat ini, mataku terpaku pada layar dengan bercak bulatan hitam menempel. “Cum laude juga. Apa di kampusnya ini beli nilai? Padahal ini kampus top di Amerika.“ Aku diam sejenak dan mengangguk. “Ini pasti faktor uang dan relasi. Pasti Bapaknya punya kenalan di kampus dan perusahaan itu. Halah, model titip-titip begini sudah wajar banget. Anak gua juga bisa begitu kalau gua kaya.” Aku mengelus kepala anakku yang masih memeluk pahaku.

“Gua yakin semua itu cuma masalah titik mulai. Kalau sama kayak gua, rasanya gak mungkin sesuperior itu. Tapi gua jadi penasaran dengan Bapaknya. Bertahun-tahun kerja, gua gak pernah tahu sejarahnya.”

Jariku mulai bergerak kembali menyusuri ruang sosial di dunia maya. Aku menemukan akun pemilik dari perusahaan tempatku bernaung. Foto profilnya menampilkan senyuman lebar di wajahnya tegas. Aku melewatkan bagian postingannya yang panjang-panjang dan terkesan sok bijak.

Lagi-lagi aku tertegun menelan ludah. “Empat puluh tahun dia bekerja!” Mulai dari Sales, Supervisor, Manajer, Koordinator Area, Kepala Wilayah, Kepala Departemen, Kepala Group, Direktur muda. Selanjutnya ia memutuskan mengundurkan diri dan membuka perusahaannya yang ia pimpin saat ini.

“Dia mulai dari dasar dan kemungkinan satu tahap dia lewati lima tahunan.” Aku menghela napas. “Pasti ini perusahaan relasinya juga. Masak dari Sales bisa jadi Direktur, terlalu mengada-ada. Di dunia nyata, kalau Sales ya mentok paling cuma jadi Supervisor. Ini pasti biar kelihatan dia hebat saja, sama kayak buku biografi yang bilang mulai dari 0 (nol) ternyata anaknya CEO. Gua aja kerja selama ini gak pernah promosi.”

Aku mengangguk dengan keyakinan tebal. Kalau aku banyak uang pasti anakku pasti bisa lebih dari ini. Aku kasih dia pendidikan terbaik, makanan paling bergizi, apa saja yang dia mau aku pasti penuhi. Ya, ya, aku yakin ini semua karena fasilitas, bukan karena usahanya sendiri.

Aku menciumi pipi anakku, ia berguling menjauh dan memeluk ibunya yang berada di balik selimut. Bibirku lama terdiam di wajahnya, menciumi bau asamnya. Saat aku angkat wajah, aku kembali terdiam.

“Tapi.. kalau anak gua bandel dan malas-malasan terus ngeluh terus, gimana? Apa dia masih bisa jadi kayak anak bos itu, yang pintar dan bagus dalam kariernya?” Aku menggaruk kepala. “Rasanya sulit deh! Banyak anak yang punya ketiga faktor tadi gak jadi apa-apa, malah ada yang berhubungan dengan kriminal dan nyusahin keluarga.”

Aku bersedekap memandang langit-langit rumah yang tak mempunyai plafon. Mataku asyik menerawang sembari menarik napas dalam-dalam. Pikiranku terbang sembari berucap dalam hati.

Aku menarik buku tadi dan membaca ketiga faktor itu dengan perlahan. Setelah menggigit ujung pulpen, aku mencoret ketiganya, dan menggantinya dengan poin-poin yang baru.

Resep Hidup Bahagia

1.    Baik.

2.    Rajin

3.    Tangguh

Ya aku rasa ini adalah resep yang lebih pas dan sesuai. Baik dengan semua makhluk hidup, biar relasi banyak. Rajin belajar apa pun, biar pintar dan kariernya bagus. Dan Tangguh, tidak mudah menyerah biar bisa sukses dan kaya. Dengan jadi kaya bisa memperbaiki fisik dan menjadi keluarga terpandang

Akhirnya kontemplasiku di sepertiga akhir malam ini membuahkan hasil. Aku yakin kali ini aku sangat benar.

“Eh, jam tiga? Sial! Jam lima harus sudah berangkat kerja.”

Aku membuang bukuku.

Ah pasti enak banget jadi anak owner itu, pasti bisa tidur nyenyak. “Sudah ganteng, kaya, anak orang penting, tidur di kasur empuk, kamar luas, dingin, punya kendaraan, gak bayar kontrakan, makan enak terus, pakaian banyak, ada pembantu, jalan-jalan terus, kuliah di luar negeri.” Aku kembali menghela napas dan mengucek hidungku. “Pasti benar tuh suksesnya dia karena ganteng, kaya, dan dari keluarga terpandang.”

Aku menutup mata.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Misi Minggat- Gagal total
Novita Ledo
Cerpen
ETER
se
Cerpen
Bronze
Untuk Ayah
Langitttmallam
Cerpen
Bronze
Di antara kopi pahit dan Langit kosong
Langitttmallam
Cerpen
Perempuan yang Membenci Matahari
Titin Widyawati
Cerpen
Counter Clockwise
Nida C
Cerpen
Bronze
Masjid Pensiunan
Muram Batu
Cerpen
Dia Bukan Dia
Samanta Radisti
Cerpen
Bronze
Bingkai Tak Berujung
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Beban di Pundak Pak Darmawan
Ron Nee Soo
Cerpen
Bronze
Lampu dari Sungai yang Mengering
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Satu Kali Lagi
Jasma Ryadi
Cerpen
Who Let The Dog Out
Yuna Thrias
Cerpen
Bronze
Kakek dan Bisma
Anggrek Handayani
Rekomendasi
Cerpen
Catatan Kotor Ayah
Pipo Vernandes
Skrip Film
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes
Novel
HAYALISM : Antusiasm
Pipo Vernandes
Cerpen
Icak-icak
Pipo Vernandes
Cerpen
Cugak
Pipo Vernandes
Cerpen
Bergumul Dengan Tuhan
Pipo Vernandes