Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Catatan Harian sampah keluarga #1
0
Suka
6
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Malam itu,langit seolah ikut menangis.

Hujan turun begitu deras,membasahi bumi dengan amarah yang dingin.

Di bawah guyuran air yang tak henti-hentinya itu,seorang lelaki berjalan menyusuri jalan raya.

Ia tidak berlari,tidak pula menambah kecepatan langkahnya. Ia tidak mencari emperan toko untuk berteduh,meski pakaiannya sudah basah kuyup hingga ke lapisan kulit terdalam.

Lelaki itu berjalan dengan tatapan kosong,namun di dalam kepalanya,sebuah peperangan hebat sedang berkecamuk.

"Tak punya uang sepeser pun,gak ada kerjaan,gak ada kejelasan apapun," gumamnya dalam hati,suaranya nyaris tenggelam oleh deru air hujan.

Setiap langkahnya terasa berat,dibebani oleh kenyataan-kenyataan hidup yang menghimpit. "Kesana kemari mencoba mencari jalan keluar tapi gak ada sedikitpun titik terang dari semua ini. Tunggakan sewa rumah yang sudah lebih dari dua bulan,gas di dapur yang mendadak habis,gak ada apa apa untuk dimakan sebagai teman nasi baik tuk hari ini apalagi esok."

Bayangan wajah pemilik kontrakan yang mulai menagih dengan nada tinggi terus membayang. Di dapur,tabung gas yang kosong menjadi saksi bisu kemiskinannya. Perutnya sendiri pun mulai terasa perih,melilit karena kekosongan yang dipaksakan oleh keadaan. Namun,rasa perih di perut itu tidak sebanding dengan sakit yang ada di dalam dadanya.

"Arrggghhhhhh pusing.... Dan sekarang ditambah orang tua jatuh sakit. Selanjutnya apalagi? Ayo apapun itu datang sini buat aku lebih gila lagi!!!!" serunya dalam hati,sebuah teriakan tanpa suara yang dilemparkan ke langit yang kelam.

Hujan terus menderu. Ia membiarkan setiap tetes air dingin itu membasahi seluruh tubuhnya. Ada sebuah keanehan yang ia rasakan di tengah badai ini.

Sambil terus berjalan,ia membatin, "Lagi kondisi begini kenapa ini badan tiba-tiba kuat banget udah hujan hujanan pas perut kosong tapi gak sakit sakit."

Mungkin benar apa kata orang,saat jiwa sudah hancur lebur,tubuh terkadang melakukan kompensasi dengan menjadi sekuat baja,seolah mempersiapkan diri untuk benturan yang lebih keras lagi.

Waktu berlalu. Malam pun semakin larut. Setelah memastikan satu-satunya orang yang dicintai (ayahnya) terlelap selepas makan malam yang alakadarnya dan meminum obat warung hasil menghutang,kaki lelaki ini kembali melangkah keluar rumah.

Lagi-lagi tanpa tujuan yang jelas hanya sekedar mencari ketenangan batin semu.

Ia hanya ingin melarikan diri sebentar. Sekedar untuk menghilangkan segala beban pikiran.

Ia mulai menyusuri jalanan yang sepi menuju ke arah pegunungan di tengah malam. Ia tidak mengkhawatirkan resiko apapun.

Rasa takut telah lama meninggalkan hatinya,digantikan oleh kepasrahan yang hampir mencapai batas kegilaan.

"Rasanya setan juga males tuk ngerasukin badan dengan pikiran sebanyak ini," pikirnya sambil tersenyum kecut. Pikirannya sudah terlalu penuh,terlalu sesak oleh tagihan,penyakit,dan ketidakpastian kerja.

Bahkan bagi sesosok makhluk halus sekalipun,mungkin tidak ada ruang tersisa di dalam kepalanya untuk dihuni.

Jalan menuju pegunungan itu semakin sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan gesekan daun yang tertiup angin malam. Jalan ini terkenal rawan.

Banyak orang bercerita tentang keganasan para begal yang sering mengintai di sana. Tapi bagi lelaki ini,ancaman manusia tidak lagi menakutkan.

"Jalan ini terkenal suka ada begal tapi kayaknya malam ini begal tau kalo orang yang lagi jalan kesini gak akan menghasilkan apa-apa selain kepuasan batin kalo lagi pengen pukulin orang. Lagi kondisi begini berantem sama begal kayaknya seru juga wkwkwkwk."

Ia tertawa kecil di tengah kesunyian.

Tawa yang getir,namun jujur. Ia tidak punya apa-apa untuk dirampok. Dompetnya kosong. Ponselnya adalah barang tua yang tak laku dijual. Jika begal datang,mungkin mereka hanya akan mendapati seorang lelaki yang siap menukar rasa sakit di hatinya dengan hantaman fisik di jalanan.

Namun,di tengah segala kekacauan hidup,di tengah badai yang menghantam fisik dan batinnya,ada satu hal yang tetap kokoh di dalam jiwanya.

Sebuah pilar yang tidak retak meski gempa kehidupan mengguncangnya setiap hari.

Di kondisi seperti ini,ia masih tetap waras. Tak pernah sekalipun ia menyalahkan takdir,apalagi membenci Tuhan sang pemberi takdir.

Tidak ada caci maki untuk nasib buruk yang menimpanya. Ia juga tidak pernah menyalahkan pemerintah atas sulitnya lapangan kerja,atau memiliki prasangka buruk pada tetangga yang mungkin makan lebih enak,atau saudara yang tidak menoleh padanya.

Rasanya,kesabaran dan penerimaan syukur seperti itulah yang masih bisa membuatnya bertahan dari cengkeraman kegilaan pikiran.

Ada sebuah kekuatan metafisika yang menjaganya agar tidak melompat ke jurang keputusasaan.

"Aku masih percaya sang maha pengasih lagi maha penyayang masih bersamaku meski semua ujian ini masih terus mendatangiku," bisiknya pelan saat ia sampai di sebuah titik tinggi di jalan pegunungan itu.

Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan,jauh di bawah sana.

Kota yang terasa sangat asing baginya,tempat di mana uang adalah napas dan status adalah segalanya. Namun di sini,di bawah langit malam yang luas,ia merasa dekat dengan Penciptanya.

Ia menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang berapa banyak yang ia miliki,melainkan tentang seberapa kuat ia bertahan dalam ketidakpunyaan tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Ia masih memiliki rasa cinta untuk orang tuanya. Ia masih memiliki keyakinan dalam hatinya. Dan ia masih memiliki napas yang ia syukuri,meski napas itu seringkali terasa sesak oleh beban.

Lelaki itu memejamkan mata sejenak,membiarkan angin gunung yang dingin menyapu wajahnya.

Ia tahu besok akan tetap menjadi hari yang sulit. Besok,tunggakan sewa rumah itu masih ada. Besok,perutnya mungkin akan kembali lapar. Besok,ia harus kembali mencari cara untuk membeli obat dan makan ayahnya.

Namun,malam ini,di jalanan pegunungan yang sunyi ini,ia menemukan kedamaian dalam kepasrahan.

Ia tidak menyerah pada nasib,ia hanya menerima bahwa saat ini adalah waktunya ia diuji. Dan ia percaya,sebagaimana hujan yang akhirnya akan reda,badai hidupnya pun suatu saat akan menyisakan pelangi,atau setidaknya tanah yang lebih subur untuk ia tanami harapan-harapan baru.

Ia memutar badannya,mulai berjalan kembali pulang menuju rumah kecilnya.

Langkahnya kini tidak lagi seberat saat ia kehujanan tadi sore. Masalahnya belum selesai,namun hatinya sudah menemukan jangkar.

Ia akan pulang,tidur di samping orang yang ia cintai,dan besok ia akan bangun untuk kembali berperang dengan dunia,dengan satu keyakinan yang pasti: ia tidak pernah berjalan sendirian.

Tuhan masih ada. Dan selama iman itu masih berdenyut di nadinya,ia tidak akan pernah benar-benar kalah.

Al-Baqarah : 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ

Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

"Semangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), janganlah kamu mengatakan: 'Seandainya aku melakukan demikian, tentu akan begini dan begitu', tetapi katakanlah: 'Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi'..." (HR. Muslim)

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Catatan Harian sampah keluarga #1
E. Karto
Cerpen
Mama, I'm Lose
ruang.amy.gdala
Cerpen
Orang-Orang Pojok
Aniq Munfiqoh
Cerpen
1/2 Nakal & 1/2 Polos (Tetangga Ku)
muhamad fahmi fadillah
Cerpen
Bronze
Cowok cafe sebelah
Fitriani
Cerpen
Bronze
Jejak Dunia Maya
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Hampir Jadi Mantu: Sebuah Kenangan
Cahyana Endra Purnama
Cerpen
Sejarah Pandemi
Athoillah
Cerpen
Bronze
Uncanny Valley
Damia Nur Shafira
Cerpen
Bronze
Malam emang brengsek, tapi gue suka
Langitttmallam
Cerpen
Who Let The Dog Out
Yuna Thrias
Cerpen
ABADI
Lili Selfiana
Cerpen
Bronze
Genggaman di Ambang Senja: Senyum yang Menggetarkan
Bang Jay
Cerpen
Toko Penjual Waktu Luang
Prasetya Catur Nugraha
Cerpen
Must be number one
Ika nurpitasari
Rekomendasi
Cerpen
Catatan Harian sampah keluarga #1
E. Karto
Novel
Bronze
Olimpiade Cinta
E. Karto
Novel
Hari Dimana Ceritanya tentang kita
E. Karto
Novel
Adi Karsa
E. Karto