Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
Catatan dari hal-hal yang sederhana.
1
Suka
10
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hidup adalah Mencium Tanah

“Aku tak tahu kapan diriku akan berakhir, tapi harapku semoga seluruh jiwa di dunia ini bisa berbahagia.”

Cahaya kemerahan terpancar di ujung bukit, menyambut jiwa-jiwa yang bersemangat untuk hidup serta melanjutkannya dengan harapan-harapan baru. Mereka melangkah dengan tanggung jawab, menatap lalu melintasi jalan-jalan berlubang. Mereka memiliki tujuan yang sama: untuk uang dan makan.

Di desa ini, seluruh mata pencaharian sudah seolah ditentukan oleh pabrik-pabrik besar yang beroperasi. Pabrik-pabrik itu milik para pembesar yang menguasai tanah ini dan memanfaatkan hasil dari para petani. Mayoritas warga di sini hanyalah buruh ladang milik para pembesar itu.

Soal upah tak perlu ditanyakan—jauh dari kata layak.

“Yang penting bisa buat ngisi perut,” ucap Pak Tarjo, petani yang sudah lama tinggal di desa ini.

Para petani dibayar paling banyak lima puluh ribu sehari. Itu pun bisa dipotong dengan alasan-alasan yang tak masuk akal. Pak Tarjo pernah bercerita, upahnya dipotong hanya karena ia pergi salat ke masjid yang tak jauh dari tempatnya bekerja. Akibatnya, setelah bekerja seharian, ia hanya pulang dengan tiga puluh ribu rupiah.

Cukupkah untuk makan? Jelas tidak.

Mungkin cukup untuk dirinya sendiri. Tapi Pak Tarjo hidup bersama dua anak dan seorang istri. Istrinya bekerja sebagai tukang cuci gosok di rumah tetangga, itu pun tidak setiap hari. Kadang lima hari berlalu tanpa panggilan kerja.

Tertunduklah Pak Tarjo, diselimuti perasaan yang sulit dijelaskan.

Matahari mulai tenggelam. Ia pun meraih cangkul, menaruhnya di pundak, lalu berjalan pulang ditemani jingga senja. Di sepanjang perjalanan, ia melantunkan nyanyian sederhana:

“Hidup adalah mencium tanah.

Hidup adalah mencumbu luka.

Hidup adalah menebar tawa.

Hidup adalah menjaga kita tetap di jalan

yang kita yakini.”

Sederhana, namun baginya, menyanyi adalah pelipur lara.

Di tengah perjalanan, ia sempat berpikir—

“Gusti, kapan kiranya aku punya kebun sendiri?”

Ia memandangi semak yang bergoyang pelan.

Memang kejam kenyataan ini. Manusia berasal dari tanah yang sama, namun bersikap seolah berbeda derajat. Seharusnya kita saling memahami, bukan saling memanfaatkan.

Karena pada akhirnya, semua akan kembali menjadi tanah.

Sore Itu di Gardu Desa

Sabtu, 11 April 2020.

“Usahlah kau mengira-ngira masa depanmu, apakah akan berjalan mulus atau penuh hambatan. Masa depanmu bergantung pada apa yang kau lakukan hari ini.”

Ujar seorang pria tua renta, dengan tongkat kayu di tangannya.

“Tapi, Mbah, bukankah kita perlu mempersiapkan diri untuk masa depan yang cerah?” bantahku sedikit kesal.

Suasana mendadak sunyi. Hanya suara napas yang terdengar.

Tangannya yang dingin menyentuh kepalaku. Ada ketenangan yang perlahan mengalir.

“Le, sah-sah saja kau menyiapkan masa depan,” katanya pelan.

“Namun ingat, kamu hidup di masa sekarang, bukan di masa depan yang masih angan.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan:

“Kau boleh bersiap untuk yang akan datang. Tapi jangan lupa menikmati hari ini, karena suatu saat ia akan menjadi kenangan.”

Aku terdiam.

Angin sore berhembus pelan. Untuk pertama kalinya, aku merasa… mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum tentu datang.

Tentang Ibu, Aku, dan Cinta

Perkenalkan, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku lahir pada tanggal 2 Maret 2009. Aku dibesarkan oleh ayah dan ibu yang sangat kusayangi, meskipun mereka sering memarahiku karena malas mandi.

Sejak kecil, aku dibesarkan dengan tradisi unik: setiap kamar harus memiliki rak buku, dan setiap bulan minimal dua buku harus selesai dibaca.

Dulu aku berpikir:

“Apa gunanya membaca buku?

Membosankan sekali hanya melihat barisan kata.”

Sampai suatu hari, ibu mengenalkanku pada puisi.

Sejak saat itu, dunia sastra mulai menarik perhatianku. Aku membaca puisi dengan suara keras hingga memenuhi rumah.

Lalu, di usia lima belas tahun, aku mengalami hal yang hampir semua remaja rasakan: jatuh cinta.

Berbekal puisi-puisi yang kubaca, aku menulis surat cinta untuknya. Aku menyalin sebuah puisi terkenal ke dalam kertas lusuh, penuh harapan bahwa kata-kata itu bisa membuatnya menerima perasaanku.

Namun dua minggu berlalu tanpa jawaban.

Aku tahu artinya.

Aku ditolak.

Hari-hari berikutnya terasa berat. Aku menjadi lebih pendiam. Sampai akhirnya ibu menyadarinya.

“Ada apa, le? Cerita sama ibu.”

Aku pun menceritakan semuanya.

Ibu hanya tersenyum, lalu berkata pelan:

“Sebelum kamu mencintai seseorang seperti dalam puisi, kamu harus belajar mencintai dirimu sendiri dan orang di sekitarmu.”

Ia lalu membacakan sebuah puisi tentang cinta dengan suara lembut. Aku tidak mengingat seluruh baitnya, tapi aku ingat satu maknanya:

Bahwa mencintai seseorang berarti menjadi diri sendiri.

“Nak,” kata ibu,

“jangan jadi orang lain saat mencintai. Jadilah dirimu sendiri. Di situlah cinta menjadi jernih.”

Sejak saat itu, aku mulai mengerti.

Cinta bukan soal kata-kata indah.

Tapi tentang menjadi diri sendiri.

Santai saja, hidup cuma sekali tak guna kita merekahkan sendu, bukankah akan lebih asyik bila kita memilih untuk meluangkan waktu sedikit menyeruput kopi pahit, yang menghangatkan tenggorokan. Atau sekadar penuhi telingamu dengan musik favoritmu. Santai saja hidup cuma sekali…

Sebelum mulutmu meracau, mengutarakan penyangkalan, atas apa yang kusampaikan ini bukan, perilaku tak bertanggung jawab yang di normalisasi. Atau seperti berandalan-berandalan yang tanpa prinsip.

Terkadang di tengah hiruk-pikuk dunia yang sibuk atas perlombaan tak berkesudahan. Pikiran kita pasti menimang-nimang kehidupan kita, dengan orang lain. Yang menurutmu orang itu adalah versi ideal dari milyaran manusia yang ada di bumi ini.

Tak perlu kita jadi orang-orang itu, tak perlu juga mengejar semua hal sedemikian rupa. Hingga membuat kita lupa. Untuk menepi sejenak dan berkata pada diri sendiri

“Santai saja, hidup cuma sekali.”

Tentang Kebahagiaan

Bagiku, kebahagiaan adalah ketika kita dapat menikmati kebebasan yang kita miliki untuk menciptakan sesuatu sesuai dengan yang kita sukai, dan itu bermanfaat bagi orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri.

Dan ketika kita berhasil meraihnya, bukan hanya bahagia, tetapi aku merasa bahwa aku ini manusia. Walaupun sisi kemanusiaan yang kumiliki adalah kemanusiaan yang munafik, sok suci, dan bertopeng agamis, tetapi jujur, itulah aku, dan diriku tak dapat dipungkiri lagi.

CERPEN 2

Tentang Hati dan Kemanusiaan

Tetapi Tuhan begitu baik hati, karena Ia menciptakan hatiku berbeda. Di saat sisi kemanusiaanku penuh dengan hal sampah dan keberdosaan, hatiku justru meraung-raung dan bergema memuji siapa penciptanya.

Di sisi lain, kemanusiaanku tak percaya bahwa ia dicipta. Yang ia percaya adalah bahwa ia tercipta karena suatu keajaiban—entah keajaiban apakah itu.

Hati berkata:

“Hey, kemanusiaan, mengapa engkau begitu angkuh dan sombong? Kita ini hanyalah makhluk fana. Mengapa engkau bersikap seakan-akan kita ini abadi dan tak akan sirna?”

Hati terus berteriak, diiringi dengan nurani yang terus mengalir. Walau itu, sekali lagi kutegaskan, tidak akan ada yang dipedulikan. Kemanusiaan sudah terlalu dalam memainkan dirinya dan kelewat pandai.

Dengan remeh, ia membalas perkataan hati:

“Mengapa engkau terlalu peduli dengan sifat yang kumiliki, hati? Aku ini adalah kemanusiaan, hati, dan akan terus abadi apa pun yang terjadi. Walaupun tubuhku ini telah mati, namun nyawaku akan terus abadi.

Dan sekali lagi, hati, engkau tak pantas menilai sifatku. Mentang-mentang kau adalah si baik hati dan tidak pernah sama sekali bersentuhan dengan dosa-dosa, apakah dengan engkau tercipta secara istimewa dan baik, engkau boleh jadi hakim atasku?.”

Terimakasih telah membaca hasil dari coretan saya, hingga selesai semoga dari berbagai kisah pendek yang saya tuliskan ini dapat. Memberikan sepercik air untuk jiwa-jiwa yang mungkin lelah menghadapi segala hal yang ada di semesta ini. Saya hanya mau menyampaikan bahwa kalian tidak sendiri...

"Hiduplah dengan segala hal yang kalian yakini, dan senantiasa berbahagialah."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
Catatan dari hal-hal yang sederhana.
Aris Setiawan
Flash
Malam Solilokui
Noir K. Daksine
Flash
Langkah Pertama
Penulis N
Novel
Berdiri Di Ambang Dunia
Asep Saepuloh
Flash
Bronze
Solitaire Beauty
Silvarani
Cerpen
Bantu Aku Mengeja "Tuhan"
dari Lalu
Flash
Bronze
Akselerasi Politis Jakarta Bandung
Silvarani
Novel
Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap
Bintang Senjaku
Flash
In His Memories
Lail Arahma
Flash
Bronze
Larik Takdir
Y. N. Wiranda
Cerpen
Akasia dalam diriku
Rain Dandelion
Cerpen
Hari Ini Aku Datang Lebih Awal
Aulia umi halafah
Cerpen
Bronze
NODA HITAM PENA
zanu ariska wakhida ainia
Flash
Arunika
Adam Nazar Yasin
Flash
Sebuah Jalan
Titin Widyawati
Rekomendasi
Cerpen
Catatan dari hal-hal yang sederhana.
Aris Setiawan
Novel
Dilihat lagi dan lagi
Aris Setiawan
Novel
Komunitas tingkat bawah
Aris Setiawan