Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sore hari di gedung sekolah yang mulai sepi, terdengar suara patahan meja yang memecah keheningan dari arah gudang. Empat siswi berdiri mengelilingi seorang gadis yang terkapar. Darah mengalir dari pelipis gadis itu, menetes ke lantai, sementara meja yang membentur kepalanya kini retak di tengah—seolah ikut merasakan sakitnya. Sementara itu, keempat siswi yang merundungnya tertawa bahagia ketika melihat temannya sengsara.
“Idih, nangis. Cengeng banget,” ejek salah satu sambil menendang tubuh lemah itu.
Mereka tertawa, tanpa sadar bahwa seorang guru telah memergoki mereka dari ambang pintu.
“Sedang apa kalian?!” suara keras sang guru memecah tawa mereka. Dalam sekejap, keempatnya kabur meninggalkan korban yang sekarat.
Sore itu, kenangan berdarah itu menyeruak lagi—seolah luka di kepalanya masih berdenyut, hidup bersama setiap ingatannya.
“Dita, sadar weh!” suara Asha memecah lamunannya. Dita akhirnya tersadar dari lamunan panjangnya. “Kamu kenapa, Ta?” tanya Asha khawatir. “Tidak apa-apa, Sha,” jawab Dita. “Dita… aku tau kamu orangnya suka pendam cerita, tapi apakah bisa kamu cerita tadi kamu kenapa?” nada suaranya terdengar lembut, tapi entah kenapa selalu ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Dita gelisah—seperti bayangan masa lalu yang hampir ia kenali. “Aku tidak apa-apa, Sha. Tenang saja,” jawab Dita yang membuat Asha sedikit kecewa.
Asha senang berceloteh banyak hal. Dan di sebelahnya, seperti biasa, Dita—pendiam, penakut, tapi selalu jadi pendengar setia ceritanya. Terkadang Asha sengaja menakut-nakutinya dengan cerita hantu hanya untuk melihat reaksinya. Tapi akhir-akhir ini, setiap kali dia bercanda, matanya tampak... berbeda. Matanya seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa dimengerti. Entah kenapa, perbedaan sifat keduanya malah membuat mereka bisa menjadi sahabat yang sangat dekat.
Besoknya, saat di kelas, Asha dan Dita sedang berkumpul bersama teman-teman mereka, yaitu Bella, Devi, dan Kinan.
“Eh, akhir pekan besok kalian pada ke mana?” tanya Bella kepada teman-temannya.
“Di rumah saja, Bel. Kenapa?” jawab Devi.
“Aku mau ajak kalian uji nyali besok,” seru Bella mengajak mereka berempat. Mendengar kata uji nyali, Dita merasakan ketakutan yang mendalam. Sedangkan Asha dengan semangat menyetujui saran Bella.
“Setuju! aku bosan nonton horor,” sahut Asha.
“Dita, ikut ayo!” ajak Asha kepada Dita.
“A-aku…—”
“Oke! Dita sama aku ikut besok,” seru Asha tidak membiarkan Dita menyelesaikan perkataannya.
Dita mencoba menolak. Namun, dia terlalu takut untuk bersuara. Pada akhirnya, Dita terpaksa ikut demi Asha, sahabatnya.
Sepulang sekolah, Asha seperti biasa berjalan pulang bersama Dita. Di jalan, Asha menceritakan beberapa film horor yang ditontonnya beberapa minggu lalu kepada Dita. Seperti biasa, Dita mendengar dengan cermat bahkan dia bisa menghafal jalan cerita film melalui cerita Asha.
Di sela-sela obrolan mereka, Dita teringat dengan ajakan Asha besok.
“Sha, besok sepertinya aku tidak bisa ikut,” ujar Dita.
“Kenapa? Seru tau, Ta! Siapa tau ketemu hantu beneran,” jawab Asha.
“Kamu lupa, Sha? Aku penakut,” ucap Dita sedikit menaikkan nada bicaranya.
“Dita…”
“Tidak bisa, Sha. Aku tidak berani seperti kalian,” lanjut Dita.
Dita menatap Asha, sebelum akhirnya berjalan membiarkan Asha yang diam berdiri mendengar ucapan Dita.
Sesampainya di rumah, Asha terus memikirkan ucapan Dita. Besok paginya, Asha pergi ke rumah Dita. Ia datang dengan tujuan membujuk Dita untuk ikut uji nyali.
“Dita, ini aku, Asha,” panggil Asha.
“Masuk saja, tidak dikunci,” sahut Dita.
Asha masuk ke rumahnya, melihat sekeliling dan menemui Dita yang sedang duduk di meja makan.
“Tumben pagi-pagi ke sini. Kenapa?” tanya Dita penasaran.
“Aku mau memastikan kamu nanti ikut atau tidak,” ucap Asha penuh harapan dengan jawaban Dita.
Dita berpikir sejenak sambil mengunyah perlahan sarapannya. “Ya sudah… Aku ikut,” jawab Dita.
Asha seketika bahagia mendengar jawaban yang diberikan Dita.
“Yeayy! Nanti sore aku jemput ya,” seru Asha kemudian pergi dari rumah Dita.
Dita merenung sejenak, senyuman tipis terlihat di wajahnya.
Sore harinya, Asha, Dita, Bella, Kinan, dan Devi sudah berada di depan gedung terbengkalai. Lampu jalan perlahan padam satu per satu ketika mereka tiba di depan gedung tua itu. Angin sore berubah dingin, menusuk kulit. Dita menatap bangunan itu lama. Ada sesuatu di dalam yang memanggilnya—entah rasa takut, atau sesuatu yang jauh lebih gelap.
“Seriusan kita bakal masuk gedung ini?” tanya Kinan sedikit ragu melihat tampak gedung yang sangat kumuh dan terbengkalai.
“Ya, mau gimana? Aku nemunya cuma gedung ini,” jawab Bella.
Dita menatap setiap sudut gedung, dan teringat dengan sebuah rumor.
“Bukannya ada rumor ya kalau gedung ini pernah ditempati serial killer?” ujar Dita memecah ketenangan mereka.
“Ya, itu kan rumor doang, Ta,” balas Asha tidak percaya perkataan Dita.
“Ya sudah, sekarang siap-siap saja dulu. Jam enam pas baru kita masuk,” saran Devi.
Mereka berlima akhirnya menunggu di sebuah rumah makan tak jauh dari gedung tersebut.
Waktu kini menunjukkan pukul 18.00. Sudah saatnya mereka masuk ke dalam gedung tersebut. Mereka berencana untuk naik hingga lantai tiga. Begitu pertama kali mereka melangkah ke dalam gedung itu, tekanan langsung terasa karena ruangan gelap tanpa cahaya. Untung saja Asha membawa tiga senter, sehingga ia, Devi, dan Bella berjalan di depan, sementara Kinan dan Dita mengikuti di belakang tanpa senter. Ketika mereka melangkah ke dalam, udara di gedung itu terasa berat. Udara pengap bercampur bau besi tua dan debu, seolah gedung itu masih menyimpan orang-orang mati di dalamnya. Suara langkah mereka bergema pelan di antara tembok retak, seolah ada langkah lain yang mengikuti dari belakang.
“Sha… kamu dengar tidak barusan?” bisik Dita.
“Apaan sih? Tidak ada apa-apa,” jawab Asha, menyorotkan senter ke arah kegelapan.
Saat mereka mencapai lantai dua, sebuah tangan menyekap Dita dan Kinan masuk ke sebuah ruangan tanpa diketahui Asha dan yang lain. Asha tersadar Dita dan Kinan menghilang. Hal itu membuat yang lain seketika panik. Namun, tidak dengan Asha. Dia memerintahkan Devi dan Bella untuk berpencar mencari Kinan dan Dita. Teriakan nama Kinan dan Dita bergema di setiap sudut ruangan gedung. Di sela-sela pencarian tersebut, Bella ikut menghilang membuat kondisi menjadi semakin menegangkan. Asha akhirnya memutuskan untuk kembali ke titik kumpul, yaitu di depan tangga.
“Duh, mereka bertiga ke mana sih,” gumam Asha khawatir.
Saat Asha kembali ke titik kumpul, dia tidak mendapati siapapun berada di situ. “Dev? Bell? kalian ke mana?” panggil Asha dengan nada gemetar.
“Tolong!” suara teriakan Devi terdengar dari lantai tiga. “Dev?!” Asha dengan cepat berlari ke lantai tiga, sambil mencari keberadaan teman-temannya. Sampai akhirnya dia memasuki ruangan yang gelap dan luas, bau bangkai yang menusuk membuatnya menutup hidung. Perlahan, cahaya remang menyala dari sudut ruangan, memperlihatkan tiga temannya digantung.
Pemandangan tersebut membuat Asha diam membeku, suaranya terhenti di tenggorokan sesaat dia melihat sosok berjubah berdiri di depannya. Sosok tersebut membuka tudungnya. “D-Dita…?!” teriak Asha melihat wajah sahabatnya yang datar dengan sedikit bercak darah di pipi kirinya.
“Kenapa, Sha?” tanya Dita sambil memainkan pisau yang berlumuran darah segar di tangan kanannya.
“Jadi, pembunuh berantai yang kamu ceritakan itu… kamu sendiri, Ta?” suara Asha bergetar hebat. Dita tersenyum datar, darah di pipinya sudah mengering.
“Bukan Dita, Sha. Tapi, Anuradha. Anandita Anuradha.”
“Gila! Kamu bunuh teman sendiri?”
“Teman?” Anuradha tertawa kecil. “Sejak kapan orang yang pernah menyiksaku bisa disebut teman?”
“Kalian lupa, siapa yang kalian banting ke meja dulu? Kalian lupa, siapa yang kalian buat berdarah dan ketakutan? Sekarang giliran kalian yang harus berdarah dan ketakutan.”
Ingatan masa lampau melintasi pikiran Asha yang sedang ketakutan. Dia teringat setahun lalu, dia sendiri adalah orang yang membanting kepala Anandita ke meja hingga patah. Dia sendiri adalah orang yang sering memukul, menendang Anandita. Dia sendiri adalah orang yang selalu memperlakukan Anandita layaknya binatang.
“Tidak mungkin… Anandita yang kukenal sudah mati!” teriak Asha.
“Yang kamu bunuh adalah kembaranku, Sha.”
“Dia orang yang tidak sama sepertiku. Dia lebih pintar untuk memendam semua rasa sakit yang dia terima dari kalian,” lanjut Anandita.
“Beberapa minggu setelah kepalanya bocor karena dihantam ke meja, dia meninggal dengan dendam yang tidak pernah terselesaikan.”
“Karena itulah aku di sini, memaksakan diriku yang penakut untuk ikut bersama kalian, membantai kalian semua dalam satu malam.” lanjutnya.
Asha mundur perlahan hanya untuk mendapati pintu sudah dikunci oleh Anandita sesaat setelah Asha masuk sebelumnya. Anandita kini berada tepat di depan Asha, mengarahkan pisau kepadanya. “Kata-kata terakhir?” tanya Anandita. “Sial—”
Pisau itu meluncur cepat—terlalu cepat untuk dihindari. Asha hanya sempat menarik napas pendek sebelum ujung besi dingin itu menembus lehernya. Suara terakhirnya hanyalah desah tertahan... sebelum semuanya gelap.
Setahun yang lalu, semuanya dimulai dari gedung sekolah.
“Asha, berhenti.. TOLONG HENTIKAN!” teriak perempuan yang dijambak Asha.
“Berhenti?” ujarnya sambil tertawa, “Anandita Agnia, untuk apa aku berhenti? Sengsaramu adalah bahagiaku, benar, kan?” ucap Asha tertawa lepas bersama Devi, Ella, dan Bella.
Mereka menyeret Agnia menuju gudang hanya untuk membenturkan kepalanya ke meja dengan kuat hingga meja tersebut patah. Agnia tersungkur jatuh karena benturan tersebut, sementara Asha dan lainnya tertawa. Setidaknya sampai seorang guru datang dan mereka melarikan diri.
Anuradha kini menggantung mayat Asha di bagian tengah, berjejer rapi di antara mayat teman-temannya. Anuradha menatap tubuh-tubuh yang tergantung di hadapannya. Cahaya remang menembus wajahnya yang kini tersenyum puas. Di antara darah yang belum mengering, ia
tertawa pelan. Malam itu, dunia akhirnya terasa seimbang—setidaknya di matanya.