Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bau tanah basah dan semerbak wangi bunga kopi yang baru merekah menyambut Riska begitu ia menginjakkan kaki di hamparan perkebunan Pupuan. Di bawah naungan rindangnya dedaunan Robusta yang hijau pekat, udara dingin lereng Gunung Batukaru meresap lembut menembus jaket tebalnya. Bagi Riska, ketenangan desa pegunungan ini adalah penawar dari bisingnya kehidupan kota yang selama ini menghimpitnya.
Namun, ketenangan itu menyimpan batas tebal yang tak kasat mata.
"Jangan pernah berjalan ke arah tebing abian kopi setelah kulkul desa berdentang tiga kali, Rara," bisik Brama sore itu. Pemuda keturunan Brahmana itu berdiri di tepi teras bale, merapikan kain selendang putih yang melilit pinggangnya. Matanya menatap lurus ke arah deretan pohon kopi yang mulai tertutup kabut tipis.
Riska menatap Brama seraya terkekeh pelan. "Kenapa? Ada macan tutul turun dari puncak Batukaru?"
"Bukan macan," sahut Brama tanpa sedikit pun nada bergurau. Wajahnya yang tegas tampak makin serius. "Tanah di balik tebing itu punya sengker—benteng gaib penyimpan janji tua. Setiap menjelang purnama, ada cahaya yang tak boleh dicari tahu dari mana asalnya."
Riska terdiam. Sebagai gadis urban yang terbiasa dengan logika rasional, peringatan lokal seperti itu terdengar bagai dongeng pengantar tidur. Namun, tatapan mata Brama yang dalam dan raut wajah warga desa yang mendadak sunyi saban senja tiba membuat Riska tak mampu menepis rasa penasarannya.
Malamnya, saat gumpalan kabut dingin merayap makin pekat menyelimuti perkebunan, rasa penasaran itu membimbing langkah Riska keluar dari kamar. Kulkul desa di kejauhan telah lama membisu setelah dentang tiga kali sore tadi.
Dari balik jendela bale belakang, Riska menangkap sesuatu yang aneh.
Di sela-sela kegelapan ranting po...