Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Cahaya itu adalah F
0
Suka
1,212
Dibaca

**Ya Allah, Apa yang Harus Hamba Lakukan?**

Langit di atas atap seng rumah kontrakan sempit itu tampak semakin kelabu, seolah-olah awan sedang bersekongkol dengan takdir untuk menambah beban di pundak Aris. Aris menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan hingga menciptakan uap tipis yang segera hilang ditelan udara lembap sisa hujan sore itu. Di usianya yang menginjak 33 tahun, Aris merasa seperti sebuah kapal yang mesinnya mati di tengah samudera luas; tidak tenggelam, namun juga tidak tahu arah mana yang harus dituju.

Ia menatap telapak tangannya yang kasar. Tangan itu telah melakukan segalanya. Mulai dari menjadi buruh kasar, mencoba peruntungan berjualan daring yang berakhir bangkrut karena tertipu pemasok, hingga mencoba melamar ke berbagai perusahaan meski ijazah tuanya kini dianggap "kadaluwarsa" oleh sistem HRD yang lebih memuja darah muda. Setiap kali ia melangkah maju dua tindak, kenyataan seolah menariknya mundur lima tindak.

"Ya Allah, apa yang sebenarnya harus hamba lakukan?" gumamnya lirih, sebuah kalimat yang telah menjadi wirid hariannya dalam beberapa tahun terakhir.

**Rutinitas yang Menyakitkan**

Hari demi hari berlalu tanpa ada perubahan pasti. Baginya, waktu bukan lagi sebuah anugerah, melainkan pengingat akan kegagalan yang terus berulang. Aris terjebak dalam siklus yang melelahkan: bangun dengan harapan tipis, berusaha hingga keringat mengering di badan, lalu pulang dengan tangan hampa dan hati yang remuk. Ia melihat teman-teman sebayanya sudah mulai membicarakan cicilan rumah, tabungan pendidikan anak, atau promosi jabatan. Sementara dirinya? Ia masih berkutat pada pertanyaan sederhana yang sulit dijawab: Besok makan apa?

Kesuksesan seolah-olah menjadi bayangan yang selalu lari setiap kali ia mencoba mendekat. Aris bukan pemalas. Ia adalah pejuang yang telah kehilangan medan tempurnya. Kegagalan-kegagalan masa lalu telah meninggalkan luka parut di mentalnya, membuatnya sering kali merasa rendah diri di hadapan dunia. Namun, di tengah gempuran rasa putus asa itu, ada satu alasan mengapa ia masih sudi menyisir rambutnya dengan rapi dan berdiri di depan teras rumah setiap sore.

**Cahaya Bernama F**

Sore itu, tepat pukul lima, jantung Aris berdegup sedikit lebih kencang. Dari kejauhan, sesosok gadis berjalan dengan langkah ringan, mengenakan kerudung yang senada dengan warna senja. Ia adalah F.

Setiap kali F lewat di depan rumahnya, ada sebuah energi asing yang merasap ke dalam tulang-tulang Aris yang lelah. F adalah personifikasi dari segala hal yang indah dan murni yang tersisa di dunia ini bagi Aris. Senyum tipis yang diberikan F saat mereka tidak sengaja beradu pandang adalah bensin bagi mesin semangat Aris yang hampir mati.

Namun, di balik semangat itu, tersimpan ketakutan yang luar biasa besar. Aris sadar diri. Ia adalah lelaki 33 tahun dengan kantong kosong, sementara F masih sangat muda, dengan masa depan yang membentang luas di depannya. Ada jarak usia yang cukup jauh di antara mereka, sebuah jurang generasi yang sering kali menjadi tembok besar dalam restu orang tua.

"Bagaimana mungkin aku bisa membahagiakannya?" batin Aris perih. "Membawa dia ke dalam hidupku sama saja dengan memintanya ikut menderita. Aku bahkan tidak tahu apakah besok aku masih punya atap untuk berteduh."

Ketakutan akan penolakan dari orang tua F juga menghantuinya. Di mata masyarakat, lelaki seusianya seharusnya sudah mapan. Jika ia datang hanya membawa cinta tanpa jaminan masa depan, ia tahu persis jawaban apa yang akan ia terima dari keluarga F. Perbedaan usia itu sering kali menjadi kambing hitam untuk meragukan keseriusan dan kemampuan seorang lelaki.

Puncak Kegelisahan

Malamnya, Aris bersujud lebih lama dari biasanya. Sejadah usangnya sudah lembap oleh air mata yang tak mampu ia bendung lagi. Ia merasa kecil, sangat kecil.

"Ya Allah, hamba tidak meminta dunia seisinya," isaknya dalam keheningan malam yang pekat. "Hamba hanya ingin menjadi lelaki yang layak. Hamba ingin memuliakan F. Jika memang dia adalah ketetapan-Mu, tolong buka jalan yang selama ini tertutup rapat. Ubahlah nasib hamba, Ya Allah. Hamba lelah dengan kegagalan ini."

Ia teringat satu usaha terakhir yang sedang ia rintis: sebuah bengkel kecil-kecilan di samping kontrakan, memanfaatkan keahliannya memperbaiki mesin tua. Selama ini usahanya itu sepi peminat karena ia kekurangan modal untuk membeli alat yang memadai. Namun, ia tidak menyerah. Ia mulai menabung keping demi keping recehan.

Titik Terang yang Tak Terduga

Beberapa hari setelah malam yang penuh tangis itu, seorang pria paruh baya datang membawa motor besar yang mogok. Pria itu tampak terburu-buru. Aris dengan telaten membongkar mesinnya, bekerja hingga larut malam demi memastikan motor itu bisa berjalan kembali. Ternyata, pria itu adalah seorang pemilik bengkel besar di kota seberang yang sedang mencari mekanik senior yang jujur dan bertangan dingin.

Melihat ketelitian Aris dan kejujurannya dalam menetapkan harga, pria itu menawarkan sesuatu yang tidak pernah Aris bayangkan: sebuah kemitraan. Ia membutuhkan orang untuk mengelola cabang barunya.

"Saya tidak butuh orang yang hanya punya ijazah, saya butuh orang yang sudah 'dimakan' oleh pengalaman dan tetap mau berjuang," ujar pria itu sambil menepuk pundak Aris.

Aris terpaku. Apakah ini jawaban dari "Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?" yang selama ini ia langitkan?

Menuju Harapan Baru

Perlahan namun pasti, keadaan mulai membaik. Bengkel yang ia kelola mulai ramai. Nasib yang dulunya kelabu, kini mulai menampakkan warna-warna cerah. Aris mulai bisa menata hidupnya. Ia tidak lagi menunduk saat berjalan. Ia mulai menabung dengan tujuan yang jelas: sebuah mahar dan masa depan yang layak bagi F.

Sore itu, F lewat lagi. Kali ini, Aris tidak hanya sekadar diam. Ia memberanikan diri menyapa dengan suara yang lebih mantap.

"Selamat sore, F," sapanya.

F berhenti sejenak, tersenyum lebih lebar dari biasanya. "Sore, Mas Aris. Kelihatannya Mas lagi senang hari ini?"

Aris tersenyum. "Alhamdulillah, F. Doakan ya, semoga semuanya lancar."

F mengangguk lembut. "Pasti, Mas. Aku selalu mendoakan yang terbaik buat Mas."

Kata-kata itu, meski sederhana, memberikan keyakinan pada Aris bahwa waktu dan keadaan mulai berpihak padanya. Ia sadar bahwa kegagalan di masa lalu adalah cara Tuhan untuk menempanya agar menjadi pribadi yang tangguh saat kesuksesan itu datang.

Kini, ia tidak lagi bertanya "apa yang harus dilakukan" dengan nada putus asa. Ia melangkah dengan doa yang baru: "Ya Allah, kuatkanlah hamba untuk menjaga amanah ini, dan mudahkanlah jalan hamba untuk segera meminang F dalam ikatan yang suci."

Aris tahu perjuangannya belum selesai. Meyakinkan orang tua F adalah babak selanjutnya yang mungkin akan berat karena perbedaan usia mereka. Namun, dengan nasib yang mulai berubah dan keyakinan yang bulat, Aris siap menghadapi badai apa pun. Karena ia tahu, Tuhan tidak pernah terlambat, Ia hanya menunggu waktu yang paling tepat untuk memberikan kebahagiaan yang hakiki.

 

 

 

Pesan dari Cerita:

Perjuangan di usia kepala tiga memang terasa lebih berat karena tuntutan sosial, namun tidak ada kata terlambat bagi Allah untuk mengubah nasib seseorang. Usaha yang dibarengi doa tulus pada akhirnya akan menemukan jalan keluar, bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Cahaya itu adalah F
Azis Sulaeman
Skrip Film
GIO
Kopi item
Novel
Tentang Kita
Nur Rahma
Novel
Bronze
Lintang Waktu
Inya Sidhyadahayu
Novel
Ben & Cori
Steffi Adelin
Skrip Film
Borgol Dan Sepotong Cinta
Sapto Nugroho
Flash
Bronze
Di Ujung Ranting
Yasin Yusuf
Flash
Bronze
Raut
lidia afrianti
Novel
Bronze
Organic Matcha
i
Flash
Bronze
From River To Sea
lidia afrianti
Flash
Bronze
Jeda Yang Tak Pernah Usai
lidia afrianti
Novel
Bronze
Love is Dangerous
Juya
Novel
Adhisti
Komorebi
Novel
Bronze
ARGANTARA
essa amalia khairina
Novel
Bronze
Mars untuk Venus
Neng Jihan
Rekomendasi
Cerpen
Cahaya itu adalah F
Azis Sulaeman
Cerpen
Ku terpanah dengan suara mu
Azis Sulaeman
Cerpen
Bobi si Kucing
Azis Sulaeman
Cerpen
Perjalanan impian Toni
Azis Sulaeman
Cerpen
Ukhti Naila
Azis Sulaeman
Cerpen
Masjid Istiqlal
Azis Sulaeman
Cerpen
Keluarga besar Nenek
Azis Sulaeman
Cerpen
Abon Kering
Azis Sulaeman
Cerpen
Perjalanan impian Toni part 2
Azis Sulaeman
Cerpen
Oren
Azis Sulaeman
Cerpen
Selamat jalan Gendut
Azis Sulaeman
Cerpen
Za Za Za
Azis Sulaeman
Novel
Damar dan Hana
Azis Sulaeman
Novel
Rumah sejati Ahmad Sadikin
Azis Sulaeman