Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
BULLYING
0
Suka
9
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Veranita baru saja masuk SMP. Dengan perolehan nilai ujian akhir yang tinggi ia mampu lolos masuk SMP unggulan di kota ia berdomisili. Kedua orangtua Vera sangat bangga, mereka tak henti membangga-banggakan prestasi anak tertuanya itu pada tetangga di kompleks perumahannya juga pada saudara saat ada acara kumpul bersama. Vera pun merasa bangga pada dirinya. Tapi, setelah beberapa bulan duduk sebagai murid baru di sekolah unggulan tersebut, ia merasa ada yang janggal, pasalnya di sekolah yang notabene isinya adalah murid-murid terbaik se-kotamadya itu terdapat tradisi yang aneh. Tradisi itu adalah bullying.

Vera bingung bagaimana bullying itu bisa dilakukan oleh orang-orang yang melek secara intelektual. Alasan bullying itu ada karena aktivitas ini sudah ada sejak masa lampau, diturunkan dari generasi ke generasi, kakak kelas tertua akan membully adik kelas satu tingkat di bawahnya, angkatan yang dibully akan membully angkatan paling bawah, begitu selanjutnya sampai ada angkatan baru lagi.

Tidak semua orang akan kena bully, itu ada kriterianya. Kalau masuk kriteria barulah menjadi sasaran bullying. Biasanya yang akan dibully adalah siswa perempuan, siswa laki-laki tidak disasar, entah mengapa tak ada yang tahu alasan sebenarnya. Siswa perempuan juga tidak seluruhnya, hanya yang cantik dan agak bertingkah saja. Contoh Ajeng anak kelas dua yang dulu menjadi bulan-bulanan kakak kelas ketika masih jadi anak baru, alasannya sepele sekali, karena Ajeng ini cantik dan ditaksir abang kelas yaitu Aldi, siswa tampan, pintar dan kaya. Memiliki pacar abang kelas tidak menjamin hidupmu akan aman, walaupun Aldi adalah murid kelas tiga dan Ajeng adalah murid kelas satu, Aldi akan lepas tangan jika terjadi pembully-an pada kekasihnya, paling hanya bisa dicurhati Ajeng ketika kejadian perundungan itu sudah selesai.

Vera bimbang sebab ia juga cantik dan aktif, tapi ia punya akal, ia teringat dirinya memiliki sepupu jauh yang sekarang adalah murid kelas tiga. Mungkin sepupu jauhnya itu bisa memberinya perlindungan. Jadi mulai saat ini ia sudah meminta suaka pada si kakak sepupu agar ia bisa bersekolah dengan aman. Kakak sepupunya ini juga tergolong orang yang kuat yang mana teman-teman se-gengnya merupakan orang-orang populer yang disegani.

Kebetulan ia mendengar desas-desus saat itu ada kakak kelasnya saat SD yang saat ini juga menjadi kakak kelasnya di sekolah barunya ini, namanya Tiyas. Tiyas yang merupakan kakak satu tingkatnya itu akhir-akhir ini menyebut dirinya sombong, bukan tanpa alasan, karena memang Vera yang biasanya mau bertegur sapa saat SD dulu, kini tak lagi sudi menegur Tiyas. Bahkan saat berpapasan di koridor, kantin, atau tempat lainnya Vera seolah membuang muka. Sebenarnya Tiyas tak terlalu mempermasalahkan itu, namun teman-teman Tiyas yang merupakan perempuan-perempuan yang suka ikut campur urusan orang, seperti Rika dan Rani usil mengadu domba Tiyas dengan Vera. Duo itu menyampaikan penilaian Tiyas terhadap Vera langsung pada Vera. Vera yang tidak terima pada penilaian sepihak itu langsung berbicara pada duo manusia itu kalau ia akan melabrak Tiyas jika memang Tiyas menilainya seburuk itu. Duo manusia yang kurang kerjaan karena tak laku-laku itu pun menyampaian kalimat arogan Vera itu pada Tiyas seolah-olah itu adalah pesan. Tiyas kesal mendengar pesan itu, tapi ia ingin berbicara secara empat mata dengan Vera tanpa harus adu otot. Tiyas bijak, ia tak ingin ada pertengkaran, ia hanya ingin meluruskan masalah yang sangat sepele itu. Maka dari itu, Tiyas langsung menemui Vera, mereka bertemu di tangga menuju lantai tiga dan mencoba bicara baik-baik, masalah pun selesai bagi mereka berdua. Tapi tidak bagi teman-teman se-geng Tiyas.

Mereka berlaku layaknya kompor yang memanas-manasi keadaan. Keadaan yang sangat sederhana itu pun akhirnya menjadi kacau. Kebetulan di kelas Tiyas ada Ajeng yang dulu saat kelas satu menjadi korban perundungan karena cantik dan disukai banyak abang kelas. Geng Tiyas mendatangi kelas Vera di lantai tiga. Geng yang terdiri dari Rika, Rani, Ika, Dini dan Nana datang tanpa kehadiran Tiyas. Ajeng yang sebenarnya tidak punya kepentingan ikut hadir, dibonceng oleh emosinya yang panas karena baru kali ini ada kejadian adik kelas yang berlagak songong terhadap kakak kelasnya. Karena basic geng Tiyas adalah perempuan-perempuan kalem, mereka tidak mampu melabrak Vera dengan kasar, maka tugas itu diambil alih oleh Ajeng. Anggota geng Tiyas hanya ingin mendengar langsung dari Vera bagaimana masalah antara Vera dan sahabat mereka bisa selesai dengan damai. Mereka sebenarnya datang dengan damai. Karena Ajeng sudah berada di puncak emosi, ia mondar-mandir melontarkan sumpah serapah di depan kelas Vera. Vera dengan antengnya tidak menggubris lolongan Ajeng. Geng Tiyas yang berbeda kepentingan dengan Ajeng tidak mampu menghentikan Ajeng yang memang terkenal temperamental. Mereka semua sama-sama terdiam menikmati sumpah serapah itu masuk ke gendang telinga mereka. Di dalam kelas Vera berbicara baik-baik dengan geng Tiyas yang masih sangat penasaran itu. Masalah pun reda. Hanya Ajeng yang masih melolong seperti orang gila.

Beberapa hari kemudian, kasus ini mencuat, terdengar oleh para serigala kelaparan, Geng Pink, yang beranggotakan hampir seperlima angkatan kelas tiga. Geng yang terdiri dari perempuan judes dan beberapa laki-laki jutek itu meneror Tiyas dan beberapa murid di kelas Tiyas yang rencananya akan ditargetkan untuk dibully. Perundungan itu rencananya akan dilaksanakan beberapa hari setelah pemanggilan beberapa target itu oleh Geng Pink.

Sebenarnya bukan karena Vera perundungan terhadap Tiyas dan kawan-kawan dilakukan. Karena memang bullying terhadap adik kelas perempuan itu sudah menjadi tradisi di sekolah unggulan ini. Tiyas dan kawan-kawan yang berasal dari kelas 2-10 bukanlah korban pertama. Sudah banyak siswi kelas dua yang sudah lebih dulu mengalami perundungan dari kelas 2-1 sampai dengan kelas 2-9. Mereka yang sudah melewati masa perundungan itu memang sudah ditargetkan oleh Geng Pink. Kali ini targetnya adalah Tiyas dan beberapa kawan-kawannya dari kelas 2-10.

Pada hari kejadian hanya Tiyas saja yang di bully. Beberapa target lainnya diseleksi kembali dan disuruh keluar. Mereka adalah Diyah, Lulu, Ajeng dan geng Tiyas. Diyah, Lulu dan Ajeng dulu saat kelas satu sudah pernah dibully. Sebenarnya Diyah itu perempuan kalem tetapi karena ia cantik dan agak centil sehingga menarik perhatian para abang kelas. Sedangkan alasan mereka membully Lulu hanya karena Lulu mewarnai rambutnya dengan warna merah maroon dan ada satu lagi alasan tak masuk akal, yaitu Lulu berdada besar, hal itu menjadikan Lulu jadi bahan perbincangan para abang kelas. Para pelaku bullying di sekolah ini kebanyakan adalah perempuan. Mereka melakukan itu hanya terhadap adik kelas yang terlihat menarik, sebenarnya ditunggangi oleh rasa iri dan dengki. Jadi karena Diyah, Lulu dan Ajeng sudah pernah menjadi target sebelumnya, maka mereka diloloskan. Para geng Tiyas juga diloloskan karena mereka hanyalah perempuan biasa di sekolah ini sehingga dianggap tidak penting oleh Geng Pink.

Hari itu Tiyas dipermalukan di hadapan berpuluh kakak kelas. Tiyas diposisikan berdiri di depan kelas diperlakukan layaknya boneka mainan dan dikritik atas semua privasi yang ia punya. Seperti hobinya tentang hal-hal berbau India, warna kulit gelap yang ia punya, bahkan masalah asmaranya. Tiyas sudah lama naksir pada Tito. Tito adalah angkatan kelas tiga, yang mana artinya Tito itu adalah teman seangkatan anggota Geng Pink. Mereka menyuruh Tiyas yang hitam dan jelek itu untuk berkaca, karena tak pantas walau hanya sekedar naksir pada Tito yang gagah dan tampan.

Kejadian ini adalah sejarah baru bagi sekolah ini. Vera memang aman karena telah memiliki suaka dari kakak sepupunya. Dan Vera semakin angkuh, dagunya selalu mendongak jika berpapasan dengan siswa lainnya, lirikan matanya juga sinis saat tak sengaja bertatapan dengan siswa lainnya. Wajahnya selalu wara-wiri jika ada acara kegiatan di sekolahnya. Dengan suara sumbangnya tanpa malu ia berani tampil sebagai vokalis salah satu band di sekolahnya. Setiap ada acara sekolah, seperti pekan olahraga, pentas seni dan sebagainya ia selalu aktif ikut sebagai panitia wara-wiri menggunakan pakaian bebas disaat murid lainnya wajib menggunakan seragam. Diantara panitia penyelenggara acara hanya ia yang merupakan murid kelas satu. Ia bangga berada dalam perlindungan kakak sepupunya, dagunya semakin jelas terangkat. Dengan adanya suaka itu ia bebas bergaul dan memamerkan wajah manisnya, berharap ada abang-abang kelas yang populer di sekolahnya tertarik padanya dan mau menjadikannya kekasih. Ia bersedia menjadi piala bergilir bagi abang-abang kelas yang populer itu. Wajah cantiknya yang terlihat polos ternyata tidak senaif itu. Mungkin kalau saja ia tidak berlaku arogan pada Tiyas, perundungan terhadap Tiyas tak akan terjadi. Mungkin saja Tiyas tidak akan pernah menjadi target jikalau kesalahpahaman antara dirinya dan Tiyas tidak terjadi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Halfway
saachii
Cerpen
BULLYING
Sarjana MIPA
Skrip Film
We were Ship In The Night : The Warm Place
Lilly Amundsen
Flash
Dua Wajah
Febianty N
Flash
Angan di Yomitan
MAkbarD
Flash
Bronze
Coba-coba
B12
Flash
Derita Diri
Dian N Khan
Flash
Ku Taruh Semua Yang Telah Selesai
Fadel Ramadan
Cerpen
Bronze
Putri Beras Merah
Silvarani
Novel
Ipah
Tika Sofyan
Novel
Seluruh Bintang di Langit
barabercerita
Flash
Mengapa Kau Menekuk Wajahmu Wahai, Pak Tua?
Kiiro Banana
Cerpen
Bronze
Kesa dan Morito, Akutagawa Ryunosuke
Ahmad Muhaimin
Novel
Bronze
The Breakup Notes
Jauza M
Novel
Gold
KKPK Hari-Hari Akari
Mizan Publishing
Rekomendasi
Cerpen
MAS DIMA
Sarjana MIPA
Cerpen
BULLYING
Sarjana MIPA
Cerpen
RAHMA
Sarjana MIPA
Cerpen
Papa Muda yang Tampan dan Mapan
Sarjana MIPA
Flash
KISAH HOROR PENDI
Sarjana MIPA
Flash
AKIBAT MELALAIKAN SALAT MAGRIB
Sarjana MIPA
Flash
CERITA HOROR BU BARIE
Sarjana MIPA
Flash
GOSIP MISTIS
Sarjana MIPA