Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dari Kakek, Bapak mendapatkan kisah tentang perempuan yang pernah menempati rumah di ujung desa di pinggir sungai. Kemudian, Bapak menceritakannya lagi kepada Ruji, kakangku.
Sore itu selepas Salat Asar dengan ditemani kopi hitam, kami berdua duduk mengobrol di teras rumah.
"Kamu masak belum pernah dengar cerita tentang rumah itu?"
Kujawab, "Mendengar selentingan cerita itu ya pernah, Kang. Cuma ..., kok, kesimpulan dari semua yang saya dengar itu mengarah ke bebegig."
Sontak Kang Ruji terbahak, sedangkan saya mesem saja.
Uap kopi diusir dari mulut gelas sebelum isinya diminum oleh Kakang melalui sepasang bibirnya yang mengerucut. "Aaah ...," decah dia lalu berkata, "nikmat.
"Seliweran cerita soal perempuan itu memang banyak versi. Ya salah satunya itu ..., bebegig." Kang Ruji tersenyum sembari menimang-nimang gelas kopi beserta tatakannya.
Gelas kopi jatahku pun kudekatkan ke cuping hidungku, kuhirup uap wangi kopinya yang khas sebelum kuseruput. Setelah itu, saya menatap Kakang, menunggu.
"Biar bagaimana juga, perempuan itu adalah anak dari karuhun, karuhun, karuhun desa ini."
"Itu yang Akang dengar dari cerita Apa?" Tanganku mengembalikan gelas kopi seduh beserta tatakannya ke atas meja.
Kang Ruji mengangguk sambil meletakkan gelas kopi miliknya juga di atas meja.
"Versi Apa bagaimana, Kang?"
"Versi cerita dari Apa? Ya ..., ada ‘bebegig’ juga, cuma, Apa cerita kalau orang tua si perempuan itu, karuhunnya, adalah pembabat alas desa ini, dulu.
"Apa bilang, 'Karuhun si perempuan punya kujang sakti.'"
Desiran angin melintas sesaat ketika Kakang bercerita.
"Dengan kujang itu," ujar Kang Ruji, "desa ini yang dulunya hutan belukar, jadi bisa ditempati orang.
"Nah, bebegig itu ...."
"Tuh, kan, bebegig lagi ujung ceritanya," kataku sedetik lalu mendecah. "Kang, zaman sudah modern, kok, bebegig masih saja jadi trending topik."
"Kota dan desa kan tetap punya buhul cerita masing-masing," tukas Kang Ruji.
ಃಃಃ
Pada lain waktu ketika aku mengunjungi warung kopi Teh Komala, tapi lebih familier dia dipanggil: Teh Kokom, ada Jeprut, Jeprit, dan Jeprat juga sedang asyik ongkang-ongkang kaki duduk di bangku warung sambil ngopi. Dingin angin malam desaku saya halau dengan tubuh bermantel, bersyal, dan berkupluk.
Dari empat mulut mereka yang bercerita ngalor-ngidul ke sana kemari akhirnya juga menyinggung kisah tentang si Putri (sebutan mereka untuk ...