Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Bulan Separuh Keranjingan Bercerita
1
Suka
17
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Dari Kakek, Bapak mendapatkan kisah tentang perempuan yang pernah menempati rumah di ujung desa di pinggir sungai. Kemudian, Bapak menceritakannya lagi kepada Ruji, kakangku.

Sore itu selepas Salat Asar dengan ditemani kopi hitam, kami berdua duduk mengobrol di teras rumah.

"Kamu masak belum pernah dengar cerita tentang rumah itu?"

Kujawab, "Mendengar selentingan cerita itu ya pernah, Kang. Cuma ..., kok, kesimpulan dari semua yang saya dengar itu mengarah ke bebegig."

Sontak Kang Ruji terbahak, sedangkan saya mesem saja. 

Uap kopi diusir dari mulut gelas sebelum isinya diminum oleh Kakang melalui sepasang bibirnya yang mengerucut. "Aaah ...," decah dia lalu berkata, "nikmat.

"Seliweran cerita soal perempuan itu memang banyak versi. Ya salah satunya itu ..., bebegig." Kang Ruji tersenyum sembari menimang-nimang gelas kopi beserta tatakannya.

Gelas kopi jatahku pun kudekatkan ke cuping hidungku, kuhirup uap wangi kopinya yang khas sebelum kuseruput. Setelah itu, saya menatap Kakang, menunggu.

"Biar bagaimana juga, perempuan itu adalah anak dari karuhun, karuhun, karuhun desa ini."

"Itu yang Akang dengar dari cerita Apa?" Tanganku mengembalikan gelas kopi seduh beserta tatakannya ke atas meja.

Kang Ruji mengangguk sambil meletakkan gelas kopi miliknya juga di atas meja.

"Versi Apa bagaimana, Kang?"

"Versi cerita dari Apa? Ya ..., ada ‘bebegig’ juga, cuma, Apa cerita kalau orang tua si perempuan itu, karuhunnya, adalah pembabat alas desa ini, dulu.

"Apa bilang, 'Karuhun si perempuan punya kujang sakti.'"

Desiran angin melintas sesaat ketika Kakang bercerita.

"Dengan kujang itu," ujar Kang Ruji, "desa ini yang dulunya hutan belukar, jadi bisa ditempati orang.

"Nah, bebegig itu ...."

"Tuh, kan, bebegig lagi ujung ceritanya," kataku sedetik lalu mendecah. "Kang, zaman sudah modern, kok, bebegig masih saja jadi trending topik."

"Kota dan desa kan tetap punya buhul cerita masing-masing," tukas Kang Ruji.

 

ಃಃಃ

 

Pada lain waktu ketika aku mengunjungi warung kopi Teh Komala, tapi lebih familier dia dipanggil: Teh Kokom, ada Jeprut, Jeprit, dan Jeprat juga sedang asyik ongkang-ongkang kaki duduk di bangku warung sambil ngopi. Dingin angin malam desaku saya halau dengan tubuh bermantel, bersyal, dan berkupluk.

Dari empat mulut mereka yang bercerita ngalor-ngidul ke sana kemari akhirnya juga menyinggung kisah tentang si Putri (sebutan mereka untuk ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp11.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
About You
Song Rinrin
Cerpen
Bronze
Bulan Separuh Keranjingan Bercerita
Andriyana
Novel
Salvatrice
Billy Yapananda Samudra
Novel
In Silence and Prayer (Dalam Diam dan Doa)
Mentari Putri
Novel
Backstreet
Maria Merianti Boru Malau
Novel
Bronze
Heart Lies
Ajeng Kelin
Novel
Bronze
Harapan di Ujung Doa
Jihan Dyah
Novel
Romansa Dalam Senja
hkdkydyks
Novel
Nineteen point Ten
Ropha Locera
Novel
The Rotate
Tiara Khapsari Puspa Negara
Novel
Sebuah Rasa dan Asa
Aylani Firdaus
Novel
LANKA
Selleva_va
Novel
Bronze
Memories of You in Seoul
nayla shafiyah
Novel
Gold
Asa Ayuni
Falcon Publishing
Novel
Gold
Just be Mine
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Bulan Separuh Keranjingan Bercerita
Andriyana
Flash
Sang Pemanggil
Andriyana
Flash
Bronze
Apa Makna Hujan Bagimu?
Andriyana
Novel
Bronze
Plung!
Andriyana
Novel
Bronze
Sekisah tentang Mualim dengan Fatimah
Andriyana
Skrip Film
Cahaya Diani
Andriyana
Novel
Bronze
Jeles
Andriyana
Novel
Bronze
Kucing Hitam Putih
Andriyana
Cerpen
Bronze
Dua Kisah dalam Satu Taring
Andriyana
Flash
Bronze
Microwife
Andriyana
Cerpen
Bronze
Hal Ini Bisa Saja Terjadi
Andriyana
Cerpen
Bronze
Berlari dari Kematian
Andriyana
Flash
"Jadi" Hamil, Enggak?
Andriyana
Cerpen
Bronze
Ini tentang Cinta; Mati
Andriyana
Flash
Bronze
Monyet Bersayap Kupu-kupu
Andriyana