Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Buket yang Datang di Hari yang Salah
1
Suka
22
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Aku gagal.”

Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutku setelah beberapa menit hanya duduk memandangi lantai di depan ruang ujian.

Di tanganku masih ada map berisi naskah skripsi yang beberapa bulan terakhir hampir selalu kubawa ke mana-mana. Sudut-sudutnya mulai sedikit terlipat. Ada coretan revisi di beberapa halaman. Ada catatan kecil yang kutulis sendiri agar tidak lupa memperbaiki bagian-bagian tertentu.

Hari itu seharusnya menjadi hari terakhir.

Setidaknya, begitu yang selama ini kubayangkan.

Namaku Arga. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang berusaha menyelesaikan skripsi.

Dan beberapa menit sebelumnya, aku baru saja diberi tahu bahwa aku belum berhasil melewati ujian.

Aku harus mengulang.

Aku menarik napas panjang.

Ponselku bergetar di dalam saku.

Aku mengeluarkannya.

Grup teman-teman kembali ramai. Beberapa orang mengirim kabar tentang ujian mereka. Ada yang sudah mendapatkan jadwal wisuda. Ada yang mengunggah foto bersama dosen. Ada pula yang sekadar mengirim ucapan selamat kepada teman-teman yang sudah menyelesaikan satu tahap panjang dalam hidup mereka.

Aku membaca semuanya.

Lalu mematikan layar.

Bukan karena aku tidak bahagia untuk mereka.

Aku bahagia.

Hanya saja, hari itu aku sedang terlalu sibuk menerima kenyataan bahwa aku masih harus berjalan.

“Arga.”

Aku mengangkat kepala.

Seorang perempuan berdiri di ujung lorong.

Nara.

Ia berjalan mendekat.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Tangannya membawa buket bunga.

Aku menatap bunga itu cukup lama.

Kemudian menatap wajahnya.

“Kamu datang?”

Nara tersenyum.

“Iya.”

“Bukannya kamu sudah selesai?”

“Sudah.”

Aku mengangguk pelan.

“Terus kenapa ke sini?”

Nara tidak langsung menjawab.

Ia justru mengulurkan buket bunga itu kepadaku.

“Ini.”

Aku mengerutkan kening.

“Buat siapa?”

“Buat kamu.”

Aku hampir tertawa.

“Buat aku?”

“Iya.”

Aku melihat buket itu sekali lagi.

“Nar, aku baru saja gagal.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa malah kasih bunga?”

Nara tersenyum kecil.

“Memangnya bunga cuma untuk orang yang lulus?”

Aku diam.

Aku dan Nara sebenarnya sudah cukup lama berada dalam perjalanan yang sama.

Bukan perjalanan yang selalu kami lalui bersama.

Kami punya kesibukan masing-masing.

Punya pekerjaan masing-masing.

Punya dosen pembimbing masing-masing.

Punya revisi masing-masing.

Tetapi ada satu hal yang membuat kami sering merasa berada di tempat yang sama.

Skripsi.

Kami sama-sama sedang berusaha menyelesaikannya.

Pada masa itu, percakapan kami sering kali tidak jauh dari hal-hal yang sederhana.

“Sudah sampai mana?”

“Masih revisi.”

“Lagi?”

“Iya.”

“Kapan selesai?”

“Kalau tahu, aku juga sudah selesai.”

Kami tertawa.

Kadang percakapan kami berhenti sampai di sana.

Kadang berlanjut lebih panjang.

Nara juga harus membagi waktunya dengan pekerjaan.

Aku tahu tidak mudah baginya.

Ada hari ketika ia harus bekerja, sementara pikirannya masih dipenuhi skripsi.

Ada saat ketika ia baru punya waktu mengerjakan setelah kesibukannya selesai.

Aku sendiri sering merasa skripsi sudah cukup membuat kepalaku penuh.

Namun melihat Nara menjalani dua hal sekaligus membuatku sadar bahwa setiap orang ternyata punya perjuangan yang tidak selalu terlihat.

Kami pernah sama-sama membicarakan betapa cepatnya waktu berjalan.

Awalnya skripsi terasa seperti sesuatu yang masih jauh.

Kemudian tiba-tiba kami sudah berada di semester akhir.

Teman-teman mulai satu per satu maju.

Ada yang selesai lebih dulu.

Ada yang masih menunggu.

Ada yang sudah membicarakan wisuda.

Kami pun mulai bertanya kepada diri sendiri:

“Kapan giliran kita?”

Aku ingat pernah berkata kepada Nara bahwa aku hanya ingin semuanya segera selesai.

Nara tertawa.

“Semua orang juga mau selesai.”

“Terus?”

“Ya, jangan dibandingkan.”

Aku mengangguk.

Saat itu aku merasa nasihatnya sederhana.

Terlalu sederhana.

Sampai akhirnya aku benar-benar berada dalam keadaan di mana aku harus belajar menerimanya.

Hari ujian kami akhirnya datang.

29 Juli.

Aku masih ingat tanggal itu.

Tanggal yang selama berbulan-bulan terasa seperti sebuah garis akhir.

Aku mempersiapkan semuanya sejak pagi.

Laptop.

Presentasi.

Naskah skripsi.

Catatan.

Aku memeriksa semuanya berulang kali meskipun sebenarnya sudah tidak ada yang perlu diperiksa.

Nara juga menjalani ujiannya.

Untuk sesaat, aku merasa lega.

Kami akhirnya sampai.

Setelah semua malam panjang.

Setelah semua revisi.

Setelah semua rasa takut.

Kami akhirnya berada di depan pintu yang sama.

Aku pikir setelah hari itu, semuanya akan selesai.

Ternyata tidak.

Nara dinyatakan lulus dengan revisi.

Aku tidak.

Aku harus mengulang ujian.

Aku masih ingat bagaimana rasanya ketika keputusan itu disampaikan.

Aku tidak menangis.

Aku bahkan tidak marah.

Aku hanya diam.

Seolah-olah tubuhku sudah terlalu lelah untuk memberikan reaksi.

Ketika keluar dari ruang ujian, aku melihat Nara.

Ia sudah melewati apa yang baru saja gagal kulewati.

“Gimana?” tanyanya.

Aku tersenyum tipis.

“Tidak Lulus.”

Nara terdiam.

Aku tahu dia ingin mengatakan sesuatu.

Tetapi mungkin dia juga tahu bahwa tidak semua kegagalan membutuhkan kata-kata.

Kami akhirnya hanya berdiri di sana.

Dua orang yang beberapa bulan sebelumnya berjalan dengan langkah yang hampir sama.

Hari itu, langkah kami mulai berbeda.

Setelah itu aku sempat merasa malu.

Aku tidak tahu malu kepada siapa.

Mungkin kepada teman-teman.

Mungkin kepada orang-orang yang sudah berharap aku selesai.

Mungkin kepada diriku sendiri.

Aku mulai menghindari beberapa percakapan.

Kalau ada yang bertanya tentang skripsi, jawabanku singkat.

“Masih.”

Satu kata.

Tetapi di balik kata itu ada banyak hal.

Masih revisi.

Masih menunggu.

Masih mempersiapkan.

Masih mencoba.

Masih gagal memahami beberapa hal.

Masih harus mengulang.

Aku juga mulai jarang membuka media sosial.

Bukan karena iri.

Aku hanya sedang belajar berdamai dengan perasaan tertinggal.

Nara tetap sesekali menghubungiku.

Tidak selalu membicarakan skripsi.

Kadang hanya bertanya hal sederhana.

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Bener?”

“Iya.”

“Jangan bohong.”

Aku tertawa kecil.

Entah kenapa percakapan sederhana seperti itu selalu membuat hari terasa sedikit lebih ringan.

Suatu hari aku mengatakan kepadanya bahwa aku mulai lelah.

Nara tidak memberikan nasihat panjang.

Ia hanya berkata:

“Pelan-pelan.”

Aku menjawab:

“Aku sudah terlalu lama pelan.”

Nara membalas:

“Yang penting bukan cepat.”

Aku membaca kalimat itu cukup lama.

Mungkin karena aku tahu, sebenarnya aku pernah percaya pada kalimat tersebut.

Aku hanya lupa.

Hari ujian ulang akhirnya tiba.

Aku datang lebih pagi.

Duduk di depan ruang ujian.

Menunggu.

Kali ini aku tidak terlalu banyak berharap.

Aku hanya ingin masuk dan melakukan apa yang bisa kulakukan.

Kalau nanti hasilnya baik, aku akan bersyukur.

Kalau masih ada yang harus diperbaiki, aku akan memperbaikinya lagi.

Setidaknya aku sudah tidak ingin berperang dengan diriku sendiri.

Kemudian Nara datang.

Dengan buket bunga.

Aku tidak tahu sejak kapan ia menyiapkannya.

Aku juga tidak tahu bagaimana ia bisa menyempatkan diri datang setelah semua yang harus ia lakukan.

Yang kutahu hanya satu.

Ia datang.

Dan ia membawa bunga.

Aku menerima buket itu.

“Terima kasih.”

“Untuk kamu.”

Aku tersenyum.

“Kenapa?”

Nara menatapku.

“Karena kamu sudah sampai sejauh ini.”

Aku diam.

“Tapi aku belum selesai.”

“Aku tahu.”

“Belum tentu lulus juga.”

Nara mengangguk.

“Aku juga tahu.”

Aku tertawa kecil.

“Terus?”

Ia tersenyum.

“Ya tidak apa-apa.”

Aku menatapnya.

“Tidak apa-apa?”

“Iya.”

Ia menarik napas.

“Kamu sudah mencoba lagi. Itu juga sesuatu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Tiba-tiba aku merasa kalimat itu lebih berarti daripada semua nasihat yang pernah kudengar.

Karena selama ini aku hanya menghitung hasil.

Lulus atau tidak.

Selesai atau belum.

Cepat atau lambat.

Berhasil atau gagal.

Aku lupa bahwa ada satu hal yang juga layak dihargai.

Mencoba lagi.

“Namanya sudah dipanggil?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

“Takut?”

Aku tersenyum.

“Banget.”

Nara tertawa.

“Bagus.”

“Bagus apanya?”

“Berarti kamu masih peduli.”

Aku ikut tertawa.

Kemudian suasana kembali sunyi.

Aku memandang buket bunga di tanganku.

Bunga itu terasa aneh.

Bukan karena bentuknya.

Bukan karena warnanya.

Tetapi karena aku menerimanya pada hari ketika aku belum punya alasan untuk merayakan apa pun.

Nara seolah-olah ingin mengatakan bahwa mungkin aku tidak harus menunggu kemenangan untuk mengakui bahwa perjalanan ini berarti.

“Kamu duluan sudah selesai,” kataku.

“Iya.”

“Aku masih di sini.”

“Iya.”

“Kita jadi tidak bareng sampai akhir.”

Nara tersenyum.

“Siapa bilang?”

Aku menatapnya.

Ia menunjuk buket bunga di tanganku.

“Aku tetap datang.”

Aku terdiam.

Kemudian namaku dipanggil.

Aku berdiri.

Untuk beberapa detik aku hanya memandangi pintu ruang ujian.

Dulu pintu itu terasa seperti pintu menuju sebuah penilaian.

Hari itu rasanya berbeda.

Aku tidak lagi masuk untuk membuktikan bahwa aku tidak gagal.

Aku masuk karena aku ingin memberikan kesempatan sekali lagi kepada diriku sendiri.

Sebelum masuk, aku menoleh kepada Nara.

Ia tersenyum.

Aku pun tersenyum.

Lalu pintu itu kututup.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ujian itu.

Aku tidak tahu apakah kali ini aku akan lulus.

Aku juga tidak tahu apakah beberapa bulan lagi aku akan melihat kembali hari ini sebagai sebuah kemenangan atau hanya satu tahap lain yang harus kulewati.

Tetapi ada satu hal yang akhirnya kupahami.

Tidak semua orang yang berjalan bersama kita harus memiliki akhir yang sama.

Nara sudah sampai lebih dahulu.

Aku masih berjalan.

Dan ternyata, itu tidak membuat perjalanan kami menjadi sia-sia.

Mungkin memang begitu kehidupan.

Ada orang-orang yang menemani kita pada bagian tertentu.

Ada yang tinggal lebih lama.

Ada yang pergi.

Ada yang kembali.

Dan ada yang datang membawa bunga tepat ketika kita merasa tidak pantas mendapatkannya.

Aku melihat buket itu sekali lagi setelah ujian selesai.

Bunga-bunganya masih segar.

Aku tersenyum.

Mungkin nanti bunga itu akan layu.

Mungkin beberapa hari kemudian kelopaknya mulai jatuh satu per satu.

Tetapi aku tahu, ada sesuatu yang tidak akan ikut layu bersamanya.

Ingatan tentang seseorang yang sudah sampai lebih dahulu, tetapi memilih kembali untuk melihat apakah aku masih berjalan.

Aku menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menghitung seberapa jauh jarakku dari orang lain.

Aku hanya melihat jalan di depanku.

Masih ada revisi.

Masih ada proses.

Masih ada kemungkinan gagal.

Tetapi juga masih ada kemungkinan berhasil.

Dan yang terpenting, masih ada aku yang memilih untuk mencoba.

Aku tersenyum kecil.

Buket bunga itu kugenggam lebih erat.

Bukan sebagai tanda bahwa aku sudah menang.

Melainkan sebagai pengingat bahwa bahkan di tengah kegagalan pun, perjuanganku tetap memiliki arti.

Aku mungkin belum sampai.

Aku mungkin belum selesai.

Tetapi hari itu aku akhirnya mengerti tidak semua perjalanan harus selesai bersamaan untuk membuatnya berarti.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Buket yang Datang di Hari yang Salah
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Cerpen
Bronze
Masjid Pensiunan
Muram Batu
Cerpen
Bronze
Persahabatan Antar Planet
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Berjuta-juta Jalan Menuju Kematian
Bonari Nabonenar
Cerpen
Bronze
Memeluk Kaktus
Cicilia Oday
Cerpen
Bronze
Nasihat Kakek Bisma
Anggrek Handayani
Cerpen
Bronze
Jalan Cemara No. 8
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Pelajaran dari Ban
Nuel Lubis
Cerpen
Esensi Asasi Afeksi
Rairaa
Cerpen
Bronze
SAVITRI
Sri Wintala Achmad
Cerpen
Bronze
When words become home
Langitttmallam
Cerpen
Bronze
Pelangi Di Atas Tiara
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Dari Balik Pohon Apel
astreilla
Cerpen
Bronze
Selimut Tidak Pernah Kering
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Light at the End of the Tunnel
Rizky Yahya
Rekomendasi
Cerpen
Buket yang Datang di Hari yang Salah
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Cerpen
Bronze
KKN: Kisah Kita Nyata
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Cerpen
Bronze
Di Antara Yogyakarta: Jejak Kenangan Cinta Mahasiswa Solo
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Cerpen
Bronze
Mengubah Hidup Lewat Belajar
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Cerpen
Bronze
Terbungkus dalam Sunyi: Mencintai Dalam Diam
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Cerpen
Aku Belum Selesai, Tapi Aku Bertahan
Vincentius Atrayu Januar Dewanto
Cerpen
Bronze
Cerita Anak Kos: Menemukan Arti Keluarga di Tengah Jauh dari Rumah
Vincentius Atrayu Januar Dewanto