Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bab 1: Bisik Angin di Tanjung Karang
─── 🌹 ───
Matahari sore merosot perlahan di tepi langit Tanjung Karang, menumpahkan warna tembaga cair yang membara di atas permukaan laut yang beriak tenang. Di ujung dermaga kayu yang mulai lapuk dimamah usia dan asin air pasang, seorang pria muda berdiri membisu. Angin pesisir menyibak ujung kemeja katun birunya yang sederhana, menciptakan irama kepakan kain yang beradu lembut dengan takdir. Pria itu bernama Ghaffar Syarif.
Wajahnya ketat oleh garis-garis kerinduan yang terpahat jelas selama berbulan-bulan. Kulitnya yang hangat tertimpa keemasan sinar mentari senja, menyembunyikan sejuta kepedihan tentang sebuah perpisahan yang tak pernah ia inginkan. Di tempat ini, di dermaga yang lengang ini, ia menemukan satu-satunya tempat berkaca bagi jiwanya yang dahaga. Dermaga kayu Tanjung Karang bukan sekadar tumpukan gelondongan kayu jati tua yang terpaku pada dasar laut; bagi Ghaffar, ini adalah altar tempat janji-janji bisu dipanjatkan ke udara terbuka.
Setiap pancang kayu yang terendam air asin menyimpan jejak langkah yang pernah ada. Ia ingat betul bagaimana kayu-kayu ini berderit ketika dua pasang kaki melangkah di atasnya beberapa tahun lalu. Kini, hanya ada langkah kakinya sendiri yang menyisakan gema sepi. Namun, keheningan itu tidak sepenuhnya kosong. Di dalam dadanya, ada gemuruh yang melebihi deburan ombak termegah di Teluk Lampung.
Ghaffar menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin laut. Matanya memicing, menatap tajam ke arah horizon tempat langit dan laut melebur menjadi garis tipis berwarna keunguan. Di sanalah, jauh di seberang sana, dunia lain membentang—dunia tempat wanita yang memegang separuh napasnya bermukim. Perpisahan tidak pernah membuat sosok itu memudar. Sebaliknya, setiap mil lautan yang membentang di antara mereka justru bertindak seperti cermin pembesar yang memperjelas setiap lekuk kenangan, setiap nada suara, dan setiap ketulusan yang pernah terbagi.
Di sekelilingnya, kehidupan pesisir berjalan dalam iramanya yang lambat. Beberapa nelayan lokal sibuk mengikat tali temali perahu cadik mereka yang bercat warna-warni,...