Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Bukan Sekadar Sandiwara
0
Suka
61
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bab 1: Bisik Angin di Tanjung Karang

─── 🌹 ───

Matahari sore merosot perlahan di tepi langit Tanjung Karang, menumpahkan warna tembaga cair yang membara di atas permukaan laut yang beriak tenang. Di ujung dermaga kayu yang mulai lapuk dimamah usia dan asin air pasang, seorang pria muda berdiri membisu. Angin pesisir menyibak ujung kemeja katun birunya yang sederhana, menciptakan irama kepakan kain yang beradu lembut dengan takdir. Pria itu bernama Ghaffar Syarif.

Wajahnya ketat oleh garis-garis kerinduan yang terpahat jelas selama berbulan-bulan. Kulitnya yang hangat tertimpa keemasan sinar mentari senja, menyembunyikan sejuta kepedihan tentang sebuah perpisahan yang tak pernah ia inginkan. Di tempat ini, di dermaga yang lengang ini, ia menemukan satu-satunya tempat berkaca bagi jiwanya yang dahaga. Dermaga kayu Tanjung Karang bukan sekadar tumpukan gelondongan kayu jati tua yang terpaku pada dasar laut; bagi Ghaffar, ini adalah altar tempat janji-janji bisu dipanjatkan ke udara terbuka.

Setiap pancang kayu yang terendam air asin menyimpan jejak langkah yang pernah ada. Ia ingat betul bagaimana kayu-kayu ini berderit ketika dua pasang kaki melangkah di atasnya beberapa tahun lalu. Kini, hanya ada langkah kakinya sendiri yang menyisakan gema sepi. Namun, keheningan itu tidak sepenuhnya kosong. Di dalam dadanya, ada gemuruh yang melebihi deburan ombak termegah di Teluk Lampung.

Ghaffar menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin laut. Matanya memicing, menatap tajam ke arah horizon tempat langit dan laut melebur menjadi garis tipis berwarna keunguan. Di sanalah, jauh di seberang sana, dunia lain membentang—dunia tempat wanita yang memegang separuh napasnya bermukim. Perpisahan tidak pernah membuat sosok itu memudar. Sebaliknya, setiap mil lautan yang membentang di antara mereka justru bertindak seperti cermin pembesar yang memperjelas setiap lekuk kenangan, setiap nada suara, dan setiap ketulusan yang pernah terbagi.

Di sekelilingnya, kehidupan pesisir berjalan dalam iramanya yang lambat. Beberapa nelayan lokal sibuk mengikat tali temali perahu cadik mereka yang bercat warna-warni,...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Bronze
Bukan Sekadar Sandiwara
Amrullah Ibrahim
Novel
Gold
Asa Ayuni
Falcon Publishing
Novel
Bronze
Lin & Uus
Nisa'ul
Novel
Bronze
DEOLLA
Stief.AN Ran
Novel
SAAM HANUM
Ana Dzikriani Thaibah
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella
Novel
Bronze
Jejak Rasa
129_
Flash
Bronze
Kalau Air Bisa Bernyanyi untukmu...
Shabrina Farha Nisa
Novel
I Love You Beyond the Word
Rajasa Buana
Novel
Bronze
LONG DISTANCE
Farida Ilma
Novel
Bronze
Fragmen Kisah yang Tersisih
May Hatte
Novel
Sincerity of Love
Candahujan
Novel
Runtuhnya Pesona Dewa Yunani
Lail Arrubiya
Novel
Petrichor
Kal Q Fawzie
Novel
Bronze
Kisah Cinta Terunik Indonesia (KCTI)
Al Mueda Data
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Bukan Sekadar Sandiwara
Amrullah Ibrahim
Novel
Denyut Nadi di Rumah Kita
Amrullah Ibrahim
Novel
Milikku Seorang
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Sang Kembang Desa
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
CINTA KEPADA REKAN KERJA
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
NADA YANG TAK SENGAJA MENETAP
Amrullah Ibrahim
Flash
Gadis Cantik Tengah Malam
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Hati yang Berlabuh pada Ghoniyah
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
CINTA DI ATAS OJEK
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Cinta VIRAL
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Flash
Tawa Misterius di Tepi Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Kompas Minyak dan Gejolak Asmara, di kaki bukit
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Desir Angin di Sela Padi
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Cuma Kamu
Amrullah Ibrahim