Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Beberapa orang punya anggapan kalau cinta anak remaja itu cuma sebatas kekhilafan sesaat. Kayak batu loncatan yang bikin hati kita lecet-lecet dikit buat belajar awal masa romansa muda yang biasanya cuma berakhir jadi kenangan pahit.
Tapi, buat sebagian orang lainnya, ada yang bisa bawa romansa anak muda mereka sampai ke jenjang pernikahan. Membuktikan kalau perasaan yang tumbuh di balik seragam sekolah itu bukan cuma main-main atau sekadar mampir lewat.
Ih! sweet bener, deh!
Waktu Ara lagi melipir ke salah satu kafe dekat kantornya demi menunggu jam macet Ibukota akhirnya bisa lengang sedikit, Ara nggak sengaja mencuri dengar percakapan sambil lalu sepasang anak SMA yang sedang duduk nggak jauh dari tempat Ara berdiri memesan minuman. Meja mereka hanya dibatasi oleh pot tanaman hias, tapi suaranya menembus masuk ke ruang dengar Ara dengan begitu jernih.
“Gue tuh udah lama banget naksir sama lo, Ni. Tapi gue nunggu lo bisa lihat sendiri usaha gue buat deketin lo. Walaupun harus nunggu bertahun-tahun pun, gue nggak apa-apa banget, deh. Karena gue yakin seribu persen, kalau usaha dan doa nggak akan mengkhianati hasil. Gue yakin, suatu saat, cepat atau lambat, lo akan membalas juga cinta gue tanpa bikin gue harus terus bertanya-tanya, lo sebenernya juga suka gue atau nggak.”
Ara kontan meringis. Nggak sadar reaksi spontannya itu bikin bibirnya mengeluarkan suara desisan pelan, yang sukses bikin dua orang anak SMA yang lagi diam-diam Ara amati itu menoleh serempak ke arah Arah.
Ara langsung salah tingkah. Buru-buru kepalanya menoleh ke depan, pura-pura super sibuk nungguin minuman pesanannya siap di meja kasir sambil menatap mesin kopi diseberang meja seolah benda itu adalah penemuan paling ajaib di dunia.
Ara merutuk sendiri dalam hati, kenapa rasa keponya malah jadi meningkat drastis bahkan saat ia sudah memegang pesanan kopinya.
Alhasil, bukannya segera pergi, Ara malah ambil tempat nggak jauh dari pasangan muda itu. Cuma terpaut satu meja saja, biar nggak terlalu kelihatan banget kalau dia lagi jadi intel cinta dadakan diam-diam.
“Emang lo udah suka sama gue dari kapan, Bay?” cewek anak SMA itu menyahut pelan. Ara nggak tahu wajahnya kayak gimana karena terhalang punggung si cowok, tapi suaranya kedengaran penuh rasa ingin tahu yang besar.
“Kalau gue bilang dari kelas tujuh, lo percaya nggak?”
Lagi-lagi Ara meringis. Kelas tujuh? Itu masa di mana orang baru belajar pakai seragam putih-biru.
Man, prepare yourself for a total breakdown, batin Ara dalam hati.
Tapi tiba-tiba saja, Ara jadi tertegun. Perlahan, gelas kopi di tangannya terasa lebih berat dari biasanya.
Untuk satu menit penuh, dia tiba-tiba jadi pengin bertanya sama dirinya sendiri. Pertanyaan yang sering muncul tiap kali Ara melihat ada sepasang anak muda dengan baju seragam SMA yang masih rapi.
Bagaimana kalau dulu, gue jadi sama dia, ya?
Ara mulai menyesap minumannya, dengan tatapan sedikit menerawang jauh menembus kaca kafe yang mulai berembun karena AC.
Selama 30 tahun Ara hidup, sudah nggak terhitung sebanyak apa dia menuliskan cerita cintanya sendiri dalam hidup Ara. Semuanya beragam, penuh warna, dan terkadang penuh luka yang sulit kering. Sebutin saja salah satu tipe cowok di muka bumi ini, dipastikan Ara sudah khatam semua!
Namun dari semua itu, Ara cuma nggak punya satu pengalaman saja.
Yaitu, pengalaman berpacaran dengan seseorang yang dulu pernah Ara sukai diam-diam selama bertahun-tahun. Seseorang yang memegang kunci gudang ingatan masa remajanya.
Ara sadar banget, kisah cinta remajanya ini bukan seperti Cinta dan Rangga yang heboh banget itu, yang punya puisi dan bandara sebagai saksi perpisahan. Bukan pula kisah cinta Habibie Ainun yang diawali dari sejak masa remaja hingga jadi jodoh dunia akhirat dalam kesetiaan yang mutlak.
Kisah cinta remaja Ara yang satu ini… pengin sekali dia anggap nggak penting. Cuma bagian lain dari memori masa remajanya saja yang seharusnya sudah tertutup debu.
Tapi Ara tahu, walaupun nggak setiap saat, Ara selalu punya ruang dalam hatinya untuk sekadar bertanya, lebih kepada dirinya sendiri tepatnya.
Cowok itu kabarnya gimana ya sekarang?
Apa dia masih suka random kayak dulu ketika cowok itu selalu memilih tempat duduk tepat di depan Ara?
Apa dia masih punya kebiasaan mengelus kepala cewek lain kayak dulu dia suka mengelus rambut Ara sampai acak-acakan tanpa alasan?
Apa dia masih suka main gitar dan memanggil nama cewek yang suka diganggunya kayak dulu dia suka manggil nama Ara tanpa alasan di tengah sesi dia lagi asyik main gitar?
Kelihatannya sepele banget ya? Masa begitu doang bikin Ara naksir, sih. Ya tapi gimana? Perasaan memang kan sering nggak butuh logika yang rumit. Malah kadang-kadang juga nggak pakai logika.
Ara sudah naksir berat cowok itu sejak kelas tujuh, hingga kelas 12. Berarti, dari kelas satu SMP sampai kelas tiga SMA, ya? Ara pikir ini paling cuma cinta-cintaan monyet, sejenis perasaan yang akan hilang setelah ujian kenaikan kelas, atau mungkin setelah mereka lulus sekolah.
Tapi berhubung Ara sekolah di sekolah swasta, yang satu kelasnya cuma diisi 15 anak paling banyak, dan angkatannya cuma satu kelas Ara doang, jadi ya tiap tahun Ara pasti selalu sekelas dengan cowok itu. Tidak ada pelarian, tidak ada pengalihan fokus.
Oh iya, cowok itu, namanya Ari.
Intensitas rasa suka Ara makin menjadi-jadi waktu mereka naik kelas delapan, dan seterusnya, sampai puncaknya di kelas 12.
Setiap kenaikan kelas, Ara selalu bertekad harus bikin dirinya berhenti naksir dengan Ari. Tapi semakin mereka naik kelas ke jenjang lebih tinggi, naksirnya Ara ke Ari ini juga makin naik juga ke jenjang yang lebih tinggi. Repot banget, deh!
Semuanya jadi makin nyata dan mendebarkan di dalam dada Ara.
Dan anehnya, Ari ini punya kebiasaan yang sama persis kayak Ara, yaitu suka datang paling pagi ke sekolah.
Pak Jajang, Satpam sekolah mereka aja kadang sampai minder, karena belum juga dia bersiap untuk buka pintu gerbang, Ara dan Ari kadang sudah nongkrong duluan menunggu Pak Jajang membukakan mereka pintu.
“Pak, kalau di sekolah kita ada lowongan tambahan jadi Satpam, saya kayanya mau ngelamar deh, Pak. Biar Bapak ada temennya buat bukain pintu gerbang sekolah, jadi kita bisa ganti-gantian jaga. Kan lumayan juga, Pak, buat tambah-tambah uang jajan saya.”
Oh iya, Ara juga lupa bilang, kalau kelakuan Ari ini kadang suka geblek banget. Omongan ngaconya sudah nggak bisa ketolong lagi.
Alhasil, gara-gara kebiasaan mereka yang rajin banget datang paling pagi, mereka juga selalu jadi yang pertama masuk kelas, mengisi kesunyian ruangan berdua saja sebelum teman-teman yang lain datang mengacaukan suasana.
“Lo kenapa duduknya nggak di tempat lain aja, sih? Kenapa kudu banget di depan gue? Kan meja yang kosong masih banyak!”
Waktu kelas sembilan, Ara akhirnya mengeluarkan unek-unek itu langsung ke Ari. Pasalnya, setiap mereka naik kelas, Ari pasti langsung menempati meja tepat di depan Ara seolah itu adalah hak miliknya. Padahal biasanya, geng cowok yang isinya para penyamun kelas duduknya selalu di barisan paling belakang agar bisa tidur atau mengobrol tanpa ketahuan guru.
“Ya suka-suka gue dong. Kok lo protes, sih? SPP lo sama SPP gue juga bayarannya sama, kok.” Ari nyeletuk gitu aja, sama sekali nggak nyambung kayak Jaka Sembung bawa golok! Benar-benar jawaban yang nggak ada korelasi logisnya, bikin Ara cuma melongo, sampai bingung mau bereaksi gimana lagi selain menggerutu dalam hati.
Tapi tanpa Ari tahu, pertanyaan nyeletuk Ara ini justru usahanya buat menyembunyikan rasa sukanya yang meluap-luap pada Ari. Ari sama sekali nggak tahu kalau Ara sudah naksir berat dengan Ari dari dulu. Dan intensitas rasa sukanya melambung tinggi bahkan ketika nama cowok di depannya ini melambung tinggi waktu mereka naik ke kelas sembilan.
Ari jadi idola baru. Yang artinya lawan Ara juga langsung bejibun, karena kini adik-adik kelasnya pun jadi naksir dengan Ari.
Suatu ketika, Ara kedatangan murid baru dari Bandung, namanya Tara.
Anaknya asik sekaligus seru banget, dan langsung akrab sama Ara karena menurut Tara, Ara ini teman pertama yang langsung bisa ‘klik’ dengannya.
Karena pada saat itu mereka sering berkirim SMS, Ara akhirnya memberanikan diri curhat soal romansa monyetnya ini ke Tara tanpa menyebutkan siapa nama cowok yang sedang Ara taksir.
“Tar, kalau kita suka sama cowok, tapi kayaknya dia nggak suka sama kita, cara buat kita berhenti suka gimana ya?”
Yang Ara suka dari Tara, Tara nggak kepo atau heboh nanya “LO NAKSIR SIAPA?!” seperti kebanyakan teman cewek Ara di kelas yang biasanya suka heboh sendiri.
Tara malah dengan bijaksana ngasih jawaban yang menenangkan, “Kalau dia ngajak ngobrol, lo jawabnya singkat-singkat aja, Ra.”
Trik Tara ini jelas nggak cuma satu, seolah Tara punya buku manual lengkap soal urusan menghadapi fase patah hati.
“Kalau lagi ada dia, lo harus langsung menjauh. Kalau bisa, jangan sering berada di satu tempat yang sama deh sama dia.”
Ara manggut-manggut penuh saksama, mencatat setiap kata Tara dalam otaknya.
Sementara tips jitu—menurut Tara sih ini jitu ya—Tara nggak hanya sampai di situ. Yang terakhir ini diucapkan Tara dengan nada penuh krusial, seolah Tara lagi ngasih resep rahasia Krabby Patty-nya Tuan Krab pada Plankton agar nggak jatuh ke tangan yang salah.
“Sebisa mungkin, kalau lo emang beneran sesuka itu sama dia, jangan ngeliatin dia mulu. Lo harus jadi yang paling beda deh. Cowok kalau kita kelihatan banget naksirnya, mereka malah jadi ilfeel. Secakep apapun kita di mata dia.”
Ara mendalami tips dan trik itu layaknya belajar untuk ujian akhir. Ia langsung bertekad akan jalanin "Misi Melupakan Ari" ini besok paginya tanpa kompromi lagi.
Tapi ya, namanya rencana. Kadang bisa sukses, kadang bisa gagal total, bahkan sebelum Ara memulainya.
Ara nyaris melangkah menuruni tangga, niatnya mau ke koperasi buat beli pulpen ketika baru dua langkah, dilihatnya Ari lagi jalan naik ke arah Ara.
Ara langsung mundur total, balik badan secepat kilat, teringat misi untuk tidak dekat-dekat dengan Ari. Bahkan kalau bisa, Ara nggak mau sampai pas-pasan dengan Ari di koridor mana pun. Terlebih sekarang ini.
Dengan panik, di depan tempat duduk kosong di depan kelas delapan, Ara bukannya duduk saja dengan tenang, menunggu siapa tahu Ari akan mengambil arah ke koridor lain, Ara malah menutupi wajahnya pakai kedua tangan menaungi wajah, seolah lagi menghalau sinar matahari yang terik padahal posisi mereka ada di dalam gedung. Gunanya jelas untuk menutupi wajahnya dari kehadiran Ari agar tidak tertangkap basah sedang salting brutal.
Ara menunduk dalam-dalam, meratapi kecanggungannya. Dalam hatinya ia merutuki diri sendiri, kenapa ia jadi kelihatan bodoh banget begini.
Ara sudah yakin Ari nggak lihat, sampai tiba-tiba sepasang sepatu berhenti tepat di depan sepatu Ara. Jantung Ara seolah berhenti berdetak. Lalu ia melihat Ari berjongkok, menengadah menatap Ara dengan kening berkerut bingung.
“Ra, lo lagi sakit ya?”
Hanya sederet kalimat itu saja, tapi efeknya benar-benar dahsyat sampai bikin perasaan yang coba Ara kubur rapat-rapat jadi naik lagi ke permukaan tanpa bisa dicegah.
Sialan. Benar-benar sialan.
Misi lainnya Ara coba untuk lakukan di keesokan hari.
Ara sedang berkutat dengan buku tebal pelajaran Fisika di 10 menit sebelum bel istirahat selesai, guna menyiapkan diri karena Ara takut banget kalau Pak Jacob tiba-tiba kasih kuis dadakan seperti minggu kemarin yang berakhir bikin hampir sebagian murid di kelas jadi dapat nilai jeblok.
Jadi, sebagai siswi teladan yang ogah banget punya nilai jelek, apalagi untuk mata pelajaran favoritnya, Ara sudah sibuk belajar kilat menyiapkan materi Fisikanya di dalam kelas, sementara teman-temannya yang lain masih asyik jajan di kantin.
Saking sibuknya mencoret-coret rumus, Ara nggak sadar Ari melenggang masuk ke kelas.
Tanpa peringatan, tahu-tahu Ari sudah mendekat ke arah Ara yang masih begitu fokus. Wajahnya turun tepat di samping wajah Ara sampai hembusan napasnya kerasa di pipi cewek itu. Jarak yang sangat tidak aman untuk kewarasan jantung Ara.
“Emang kita ada tugas Fisika ya?” tanya Ari santai, namun tetap dengan nada yang selalu berhasil membuat Ara kesal sekaligus berdebar. Ari, lagi-lagi nggak sadar, kalau yang ditanya sekarang rona pipinya bersemu kemerahan sekali layaknya tomat matang.
Dengan salah tingkah dan masih berusaha tenang serta acuh seolah tidak terjadi apa-apa, Ara menyahut, “Nggak ada. Buat jaga-jaga aja biar nggak bego kalau ditanya dadakan lagi sama Pak Jacob.”
Ara sengaja menyahut jawaban itu dengan nada cuek bin ketus, berharap Ari akan menjauh. Tapi bukannya bikin Ari jadi menjauh, atau seenggaknya heran dengan sikap cuek Ara, Ari malah mengangguk ringan seolah memaklumi sifat unik Ara. Lalu tanpa peringatan, cowok itu mengacak-ngacak kepala Ara dengan gerakan pelan, sebuah gestur yang begitu intim namun terasa kasual, sambil tersenyum.
“Yaudah, semangat ya, Ara!”
Habis itu Ari kembali keluar kelas, mungkin menyusul teman-temannya yang lain. Dengan langkah seringai bulu angsa yang terlihat begitu tanpa beban.
Sementara hati Ara sudah menderu gila-gilaan, ritmenya berantakan. Rumus-rumus dan materi Fisika yang sejak tadi ia pelajari dengan tekun, buyar semua. Hilang tanpa sisa.
Sialan, gagal lagi, deh!
Dan kali lainnya lagi, ini yang bikin Ara jadi akhirnya gregetan sendiri pada nasibnya yang lucu.
Ara menghabiskan liburan semester di Samarinda, tempat tanah kelahiran Ibunya, mencari suasana baru untuk menyegarkan hati.
Di sana Ara bertemu dengan kenalan seusianya, yang juga merupakan teman main adik Ara.
Namanya Andrew.
Untuk sesaat, bertemu Andrew di Samarinda membuat Ara akhirnya dapat melupakan perasaannya pada Ari.
Selama di Samarinda, mereka sering menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan ke tepian sungai atau sekadar makan bersama. Ya, walaupun ada adik Ara yang jadi nyamuk juga di antara mereka. Ara bisa dibilang juga jadi naksir dengan Andrew. Karena menurutnya Andrew ini cakep banget! Udah cakep, baik, seru pula! Benar-benar kriteria cowok idaman, deh!
Dua minggu Ara habiskan waktu liburan semesternya di Samarinda dengan penuh tawa. Sampai akhirnya tiba ia kembali di Jakarta.
Namun selama di Samarinda, Ara praktis tidak pegang ponselnya sama sekali. Ponsel Ara rusak total. Maklum, Nokia lungsuran dari kakaknya yang tebalnya bisa menyamai batu beton jembatan layang itu sudah tidak bisa lagi diandalkan fungsinya setelah berkali-kali terjatuh dan ketindihan badan kakak Ara yang sudah cocok gabung jadi pemain Sumo.
Jadi, selama di Samarinda, Ara sudah membujuk Maminya untuk membelikan Ara ponsel baru. Tentunya pakai uang tabungan Ara sendiri, yang akan ditambahkan Maminya kalau nanti ternyata kurang.
Dan waktu ia kembali masuk sekolah, Ara sudah pakai ponsel baru yang lebih ramping serta canggih. Saat duduk di bangkunya, Ara senangnya bukan main karena melihat Ari saat itu membuat perasaannya tidak se-ekstrem sebelum ia terbang ke Samarinda.
Ara merasa sudah sembuh. Memang mujarab sekali ya, cara untuk melupakan seseorang dengan menemukan seseorang yang baru sebagai pengganti fokus rasa di hati Ara.
Ari, dengan gaya santai bin petantang-petentengnya yang khas dia sekali itu, menoleh ke belakang hendak bicara dengan Ara.
“Ra, lo ganti nomor hape ya?” “Nggak, memangnya kenapa?” jawab Ara berusaha sedatar mungkin. Ari mendesah kecil, “Gue kemaren-kemaren ada telfon lo. Tapi nomor lo nggak bisa dihubungin.”
Ara ber-ooh ria sambil berkata dengan santai, “Gue ganti hape, Ri. Soalnya hape gue yang lama udah mati total. Jadi nomornya juga kepaksa gue ganti juga. Emang lo nelfon gue mau ngapain?”
Ari mengangkat bahu dengan cuek, seolah menelepon Ara adalah hal yang paling tidak penting di dunia ini, “Ya nggak buat apa-apa. Iseng aja. Emangnya nggak boleh?”
Ara cuma mendengus, berusaha tidak terlihat terlalu senang. Kadang cewek itu lupa, kalau cowok di depannya ini memang punya kebiasaan super random. Nggak bisa diprediksi, kayak ramalan cuaca di Indonesia yang sering meleset.
“Yaudah sini, nomor lo aja gue minta. Biar ntar gue sms, pakai nomor baru gue.” Ara menawarkan solusi paling logis.
Jawaban yang keluar dari bibir Ari, lagi-lagi nggak terduga dan bikin kening Ara berkerut. “Nggak ah.”
Ara mengernyitkan dahi, “Loh, kenapa nggak? Ntar lo mau ngehubungin gue gimana?”
Ari berdecak sambil mengibaskan sebelah tangan di depan wajah Ara dengan gerakan main-main. “Biar gue aja yang usaha. Kalau lo yang main ngasih aja, nanti nilai usaha gue jadi berkurang di mata lo.”
Ari berbalik badan setelah mengatakan itu. Untuk kesejuta kalinya, cowok itu sama sekali tidak lihat ekspresi bingung di wajah Ara atas hal rancu yang cowok itu lakukan. Ari selalu sukses meninggalkannya dalam labirin tanda tanya yang rumit.
Di suatu malam, Ara yang sedang tertidur lelap terbangun karena suara ponselnya yang menyala dan bergetar di atas meja kecil, tepat pada pukul 10 malam. Ara membuka mata dengan berat, nyawanya belum terkumpul sempurna karena dering ponselnya terus berbunyi seolah ada keadaan darurat. Dengan kesadaran masih di awang-awang, Ara menjawab dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
“Halo?”
“Halo, Ra. Udah tidur, ya?”
Mata Ara langsung melebar seketika. Kesadarannya langsung pulih seratus persen. Ara kenal banget suara itu. Suara di ujung telepon yang dengan sukses bikin Ara mencelat duduk saking kagetnya.
“Ra? Ara? Ini nomor Ara, kan?”
Ara mengusap wajahnya berkali-kali, seolah dengan begitu dapat membantu Ara menemukan kesadarannya dengan penuh untuk menghadapi situasi gila ini.
“I… ini siapa, ya?”
Ara tahu benar sebetulnya yang baru saja membangunkan Ara dari tidur lelapnya ini siapa. Tapi hati Ara hanya ingin memastikan kalau yang sedang meneleponnya ini benar-benar orang yang Ara maksud, dan harapkan.
“Ini Ari, Ra.”
Ara mendengar degup jantungnya berpacu gila-gilaan, suaranya memenuhi rongga dada hingga membuatnya harus menggigit bibir bawah sembari menekan dada dengan sebelah tangan agar tetap tenang. Salting brutal, kalau kata anak beken jaman sekarang.
Ara tidak tahu bagaimana Ari akhirnya bisa tahu nomor barunya. Mungkin hasil malak dari teman-teman sekelas mereka dengan caranya sendiri yang Ara belum bisa pikirkan dengan jernih untuk malam ini.
“Kenapa, Ri? Nelfon malem-malem begini?”
Tidak langsung ada jawaban di ujung telepon sana. Hening sejenak. Dan bukannya mendengar suara yang sudah begitu akrab di telinga Ara, Ara malah mendengar suara genjrengan gitar yang jadi latar di ujung sambungan telepon, menandakan si penelepon sedang tidak sendirian.
“RI, UDAH KENAPA SIH. KASIH TAHU ARA AJA. DARIPADA KELAMAAN NTAR LO NYESEL, LOH! UDAH MAU LULUS-LULUSAN SOALNYA!”
Ara mendengar Arga, kakak Ari, berteriak dari jauh. Arga ini kakak Ari sekaligus kakak kelas Ara juga, jadi Arga juga sudah kenal dengan sosok Ara karena sering berpapasan. Ari terdengar berdecak kesal di ujung sana sambil mengomel,
“LO CAPER BANGET, SIH! BERISIK TAU, NGGAK?!”
Lalu suara Ari terdengar lebih santai saat ia kembali alihkan fokusnya buat bicara dengan Ara di telepon, “Ra, udah ngerjain PR Fisika, belum?”
Ara mengernyitkan dahi, jelas-jelas bingung dengan arah pembicaraan ini. Ari tahu banget, Ara itu rajinnya kelewatan kalau urusan sekolah. Dan waktu tidur Ara itu tidak pernah lebih dari jam 8 malam karena ia benci begadang. Jadi untuk pertanyaan Ari yang cowok itu lontarkan di pukul 10 malam seperti ini, jelas rasanya sangat anomali di telinga Ara. Sangat tidak masuk akal.
“Ri, ini tuh udah jam 10 malem. Nggak mungkin gue belum ngerjain PR Fisika!”
Setelah Ara mengatakan itu, Ari terdengar cengengesan di ujung sambungan telepon, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat dekat di telinga Ara.
“Yaudah, Ra, kalau gitu. Lo balik tidur lagi, aja. Selamat tidur ya, Ra. Jangan lupa, mimpiin Pak Jacob aja, ya. Jangan mimpiin gue. Biar PR Fisika lo nilainya 100.”
TUT.
Sambungan telepon terputus bahkan sebelum satu pun suara keluar dari bibir Ara yang sudah terbuka lebar karena kaget. Ara menatap layar ponselnya yang kembali gelap dengan bingung. Ia kembali disergap perasaan aneh yang tidak nyaman namun manis, di tengah gelapnya kamarnya yang lampunya sudah ia matikan sejak satu atau dua jam yang lalu.
Ara menekan dadanya kembali, mencoba menarik napas panjang. Berusaha mengatur ritme jantungnya yang mulai berulah lagi, sejak ia mengangkat telepon dari Ari. Lalu kembali, malam itu, Ara ingin mengutuk semesta dan isinya karena telah mempermainkan hatinya.
Untuk perasaannya pada Ari yang ia pikir sudah teredam dan mati sejak ia liburan dari Samarinda kemarin, telepon Ari malam ini membangkitkan sesuatu yang selama ini sudah coba Ara kubur mati-matian dengan segala cara.
Ara jadi jatuh cinta lagi dengan Ari.
Kali ini, sepertinya lebih parah dari sebelumnya.
Triple Sialan!
TINNN!
Ara tersentak dalam lamunannya oleh suara klakson mobil yang sangat nyaring di luar kafe. Dengan mata mengerjap berkali-kali, Ara seakan disadarkan oleh kesadaran lain yang lebih dingin, tentang sudah berapa lama ia melamun seperti itu di dalam kafe sendirian. Niatnya cuma mau nunggu jalanan di luaran sudah agak lengang, jadi biar Ara tidak kelamaan terjebak macet di jalanan yang menyesakkan dada.
Tapi memorinya tentang Ari justru selalu punya cara untuk membuatnya kembali berenang dalam masa-masa remajanya dulu itu, masa yang paling berwarna sekaligus paling membingungkan dalam hidupnya.
Ara pikir, misinya untuk melupakan perasaan pada Ari hanya akan muncul selama Ara masih satu sekolah dengan Ari dan akan hilang setelah mereka berpisah.
Misi melupakan perasaannya untuk Ari.
Setiap tahun, Ara selalu berusaha sekuat tenaga buat melupakan perasaan naksirnya pada Ari dengan segala logika yang Ara miliki. Bahkan Ara sampai harus memacari cowok lain saat akhirnya mereka menginjak kelas 11.
Nama pacar Ara adalah Aldo, teman sekelas mereka juga yang baik hati. Gunanya agar perasaan Ara pada akhirnya bisa ia proyeksikan untuk cowok lain saja, yang sudah jelas-jelas suka sama Ara.
Ara selalu lelah dengan angan-angannya sendiri akan Ari. Dengan skenario-skenario indah yang ia bangun di kepalanya sendiri tentang Ari.
Ari selalu baik kepadanya, namun kebaikan Ari selalu terasa abu-abu.
Dengan semua kebiasaannya yang selalu menoleh ke belakang, mendongak ke belakang menatap Ara, melempar kertas dengan sembarangan ke meja Ara, menanyakan hal nggak penting pada Ara, menggambar secara random di lembar buku tulis Ara yang sedang terbuka, serta melempar lelucon yang kadang-kadang sengaja Ari lakukan supaya Ara bisa menyembur tawa di tengah sesi mata pelajaran yang sedang serius-seriusnya di kelas, hanya untuk membuat Ara selalu mengakhiri kelas dan pulang ke rumah dengan satu pertanyaan besar yang terus menghantui pikiran Ara.
Ari suka juga nggak sih, sama Ara?
Pertanyaan itu terus muncul, mengakar begitu kuat tanpa menemui secuilpun jawaban.
Bahkan ketika akhirnya Ara dan Ari berpisah jalan. Dan perpisahan mereka ini sangat tidak menyenangkan untuk diingat kembali. Karena sebuah kesalahpahaman yang berakar dari ego dan ketidakterbukaan satu sama lain. Kesalahan yang seharusnya bisa Ara tangkap lebih cepat sebelum semuanya jadi lebih runyam dan merusak apa yang sudah terbangun selama bertahun-tahun.
Kesalahan bahwa di dunia ini, yang naksir Ari bukan hanya Ara saja.
Kenyataannya jauh lebih pahit. Bukan hanya adik-adik kelas mereka saja yang memuja Ari seolah Ari ini bintang film Hollywood. Tapi ada juga teman di kelas Ara sendiri yang naksir dengan Ari secara diam-diam. Dan teman Ara ini adalah orang yang paling bisa Ara percaya awalnya buat menjaga rahasia hati Ara yang paling dalam. Karena selama naksir dengan Ari bertahun-tahun, hanya teman Ara yang satu ini yang tahu perasaan Ara yang sesungguhnya. Bahkan Tara saja tidak tahu sedalam apa rasa itu.
Namanya Lisa.
Cerdiknya Lisa, Lisa memosisikan dirinya seolah ia mendukung 100% perasaan diam-diam naksirnya Ara ini ke Ari. Dia bersikap sebagai pendengar yang sangat baik. Hanya untuk menggali informasi tentang Ari lebih dalam lagi dari mulut Ara sendiri, karena Lisa tahu kalau selama di kelas, Ari hanya mau bicara lebih banyak dengan satu gadis saja di kelas, yaitu Ara. Selebihnya, Ari bakal luar biasa dingin dan sulit didekati. Keakrabannya hanya ditunjukkan untuk teman-teman cowoknya saja, atau pada Ara seorang.
Hingga sosok Lisa seolah jadi bom waktu dengan sumbu yang sangat pendek, yang dapat meledak kapan saja menghancurkan segalanya yang sudah dijaga Ara.
Lisa akhirnya membocorkan semua ucapan Ara, setiap pengakuan jujur Ara yang ia ceritakan dalam kepercayaan penuh. Kepada semua orang tanpa terkecuali. Seisi kelas jadi tahu kalau Ara selama ini naksir dengan Ari. Nama Ara dan Ari jadi perbincangan panas di setiap sudut sekolah.
Ari akhirnya jadi bahan ledekan satu kelas setiap kali mereka berpapasan. Bahkan sekelas sudah heboh banget, langsung ribut minta traktiran jadian di depan muka mereka, padahal mereka sendiri belum jadian sama sekali, bahkan belum pernah membicarakan perasaan mereka berdua saja secara pribadi.
Belum pernah, atau, tidak akan pernah? Ara tidak tahu lagi mana yang benar.
Yang jelas, semenjak Lisa menyebarkan semua yang Ara ucapkan sebagai konsumsi publik, Ari jadi menjauh dari Ara. Mungkin dia malu, mungkin dia merasa tertekan oleh ledekan itu.
Tidak ada lagi toleransi acak dari Ari untuk Ara yang biasanya membuat harinya terasa cerah di kelas.Tidak ada lagi lemparan kertas iseng ke meja Ara. Tidak ada lagi panggilan iseng Ari untuk Ara di tengah sesi pelajaran yang membosankan. Semua kebiasaan yang Ari berikan dulu ke Ara benar-benar sudah tidak ada lagi. Menguap begitu saja digantikan oleh kecanggungan yang memuakkan dan dingin.
Ara mengingat momen-momen itu dengan rasa sesak yang masih sedikit tersisa di dada, masih dengan menyesap minumannya yang sekarang sudah tidak lagi terasa hangat, sama seperti memorinya tentang Ari.
Ara biarkan minuman yang ia pesan mendingin dan membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
Kenangan terakhir yang Ara masih ingat tentang Ari adalah ketika mereka bertemu di luar pintu toilet saat sedang acara perpisahan sekolah ke luar kota. Saat itu kaki Ari sedang cedera akibat kecelakaan motor ringan, mengharuskan cowok bandel yang tidak bisa diam itu akhirnya pakai tongkat di kiri dan kanan tubuhnya untuk berjalan. Ara kaget luar biasa melihat kondisinya, setelah berbulan-bulan mereka tidak lagi berkomunikasi sama sekali meski berada dalam satu gedung.
Walaupun Ari saat itu masih duduk di depan Ara di dalam bus menuju lokasi perpisahan, namun semua kebiasaan manis yang Ara sebutkan tadi sudah tidak lagi Ari berikan kepada Ara. Semuanya terasa dingin dan asing. Namun di momen pertemuan tidak sengaja di lorong toilet itu, Ara akhirnya memberanikan diri untuk membuka percakapan setelah sekian lama membisu satu sama lain.
“Kaki lo kenapa, Ri?” tanya Ara ragu-ragu.
Ara sudah takut kalau pertanyaannya yang basi banget itu akan dijawab dingin atau bahkan diabaikan begitu saja oleh Ari. Namun alih-alih bersikap ketus, Ari malah terkekeh kecil sambil berdiri susah payah dengan kedua tongkat untuk menyangga tubuhnya agar tetap tegak di depan Ara.
“Lo kaya nggak tahu gue aja, jadi anak bandel banget. Nggak bisa diem. Jadi, ya… begini deh. Kena kualat.”
Nada bicara Ari terasa seperti dulu lagi, hangat dan penuh keisengan yang akrab, hingga membuat mereka berdua tanpa sadar tertawa bersama di koridor yang sepi itu. Sebuah tawa yang melepaskan sedikit beban yang selama ini menghimpit. Namun tawa itu hanya bertahan beberapa detik saja. Setelah itu mereka saling pandang dalam diam yang panjang dan terasa berat. Ada banyak hal yang ingin diucapkan, tapi lidah mereka seolah kelu dan terkunci. Kemudian, dengan canggung, Ara memutus keheningan di antara mereka berdua sebelum suasana makin aneh dan menyesakkan.
“Yaudah, Ri. Get well soon ya.”
Ara berlalu meninggalkan Ari yang masih berdiri mematung di depan pintu toilet dengan kedua tongkatnya.
Dan setelah itu mereka benar-benar tidak bertemu lagi. Tidak bicara lagi satu kata pun. Bahkan saat pesta kelulusan sekolah mereka yang diadakan begitu meriah, mereka tetap berdiri seperti dua orang asing yang tidak pernah punya ikatan kedekatan sedikitpun.
Saat sesapan kopi Ara teguk untuk kesekian kalinya hingga tetes terakhir, Ara memberanikan diri menoleh ke belakang punggungnya lagi. Ia memandang ke sepasang anak SMA yang masih duduk berhadapan dengan intensitas keseriusan yang jauh lebih tinggi dari beberapa menit sebelumnya, seolah dunia hanya milik mereka berdua saja saat ini, yang lain pada nge kost.
“Kalau lo belum suka sama gue juga nggak pa-pa kok, Ni. Yang penting gue pengen lo tahu kalau gue suka sama lo. Masalah lo suka atau nggak sama gue, lo bisa jawab sekarang, atau juga nanti. Senyaman lo aja.” ucap si cowok SMA itu dengan nada suara yang sangat tulus.
Ara tersenyum tipis, sebuah senyum melankolis yang penuh pengertian, sebelum Ara akhirnya membalikkan wajahnya lagi untuk menatap gelas minuman kosong di tangannya dengan pandangan gamang.
Mungkin seharusnya Ara juga begitu kali ya dulu? Seharusnya dulu Ara tabrak saja semua egonya dan keinginannya untuk dengan gamblang mengatakan apa yang ia rasakan untuk Ari. Menantang takdir daripada bersembunyi di balik diam. Sebelum ia akhirnya harus hidup dalam pertanyaan sederhana yang sialnya selalu terpatri kuat di kepala Ara, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian.
Sampai saat ini, di usianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun.
Namun dari semua kegamangan Ara, ada satu jawaban yang akhirnya, sebagai diri Ara sekarang yang sudah jauh lebih dewasa dan telah banyak belajar tentang pahit manisnya percintaan, Ara merasa pada akhirnya bisa menemukan jawabannya sekarang, tanpa harus bertemu lagi dengan Ari versi sekarang secara fisik untuk mengonfirmasi.
Di versi Ara muda, Ara mungkin tidak begitu punya banyak pengalaman akan cinta dan terlalu takut akan penolakan, hingga membuat Ara belum bisa memutuskan sendiri dengan mata kepalanya, apakah Ari suka dengan Ara juga, atau tidak.
Karena sekarang, di kafe tempat Ara menghabiskan waktu mengenang memori cinta monyetnya belasan tahun silam, Ara kini menemukan jawabannya sendiri. Jawaban dari versi Ara di masa sekarang. Masa yang lebih dewasa, lebih matang, lebih mengerti akan sebuah rasa tanpa harus menuntut jawaban dari sang empunya.
Dan semoga jawaban yang Ara temukan sendiri itu pun memang benar adanya. Atau setidaknya, pernah benar. Pernah ada.
Bahwa dulu, Ari pun juga menyukainya.
Sangat menyukai Ara.
Hanya saja, nggak ada satu pun dari mereka yang cukup berani buat mengutarakannya lebih dulu, mungkin takut merusak persahabatan yang sudah ada atau takut akan kebenaran yang bisa jadi akan terasa menyakitkan.
Satu kesimpulan itu entah kenapa membuat sudut bibir Ara tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tulus.
Ara menyesap kembali sisa rasa kopinya, sambil menatap macetnya jalanan Jakarta yang mulai bergerak perlahan di bawah lampu-lampu kota, dengan segala hiruk-pikuk serta berisiknya klakson kendaraan yang berbunyi bersahutan seolah sedang beradu vokal.
Dalam pikiran Ara, ia membiarkan benaknya kembali bertanya akan satu hal terakhir, yang kali ini dengan sadar Ara suarakan lewat bisikan halus yang hilang ditelan bisingnya klakson kendaraan di jalanan Ibukota.
“Ari apa kabarnya ya sekarang?”